Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

7. Mimpi Buruk


Keringat dingin membasahi kening. Napasnya tak beraturan, posisi tidur pun terlihat tak nyaman. Ia terlihat ketakutan. Mulutnya berkomat-kamit mengucapakan kata tolong. Merasa sesak napas, ia membuka mata. Mengerjapkan mata sekaligus menetralisir intensitas cahaya di sekitar.

Kening laki-laki itu sudah dibasahi oleh keringat dingin. Tangannya terulur mengusap wajah dengan kasar. Ia terlihat kusut, gelisah, dan takut.

"Mimpi itu lagi?" tanyanya pada diri sendiri.

Bola matanya beralih ke arah lain, memandang sekitar kamar. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tidak seperti biasa ia bangun kesiangan apalagi di hari minggu. Seharusnya hari ini ia bangun terlebih pagi agar bisa menghabiskan waktu di kafe, menggantikan jam kerja yang terganggu tadi malam.

Kalandra turun dari ranjang, melangkah memasuki kamar mandi. Ia harus segera pergi ke kafe, menyibukkan diri di sana. Daripada masih di kosan dan tidak memiliki kerjaan apa pun. Lebih baik menyibukkan diri membuat kopi, agar pikirannya bisa teralihkan.

***

Suasana kafe milik Kalandra lumayan ramai di hari minggu pagi. Banyak orang sedang menikmati hari weekend mereka. Kalandra melihat sepasang kekasih yang sedang menikmati kopi mereka, seorang teman yang sedang menongkrong, dan masih banyak lagi.

Tidak sia-sia Kalandra membangun kafe dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Terkadang Kalandra selalu tersenyum tipis, melihat usahanya bisa berhasil membangun bisnis sendiri tanpa campur tangan sang papa. Namun, kenapa usahanya dulu, ingin menyatukan sang papa dan mama sangat sulit? Bahkan, usaha Kalandra malah berujung sia-sia.

Kini Kalandra mulai paham, seseorang yang sudah termakan pesona wanita lain akan sulit disadarkan dan disatukan kembali dengan wanita pertama yang pernah mengisi hatinya.

"Tuan muda."

Kalandra menoleh mendengar seseorang memanggilnya dengan embel-embel 'tuan muda', ia mengkerutkan dahi melihat pria paruh baya berdiri di belakangnya.

Ia kenal betul siapa yang menyebut dirinya sebagai tuan muda, pelayan sang papa. Bukan-bukan pelayan, melainkan orang terpercaya dari keluarga Regalion.

"Ada apa?" tanya Kalandra menatap dingin ke arah pria tersebut.

"Tuan besar meminta saya untuk jemput tuan muda kembali ke rumah," ucap pria paruh baya dengan sopan.

Raut wajah Kalandra seketika berubah menjadi masam. Kalandra menatap dingin ke arah pria paruh baya itu. Ternyata sang papa tidak menyerah membujuk Kalandra agar mau tinggal bersamanya lagi. Mau dibujuk sampai kapanpun, Kalandra tidak sudi tinggal bersama di rumah itu lagi. Terlalu banyak luka dan kenangan buruk dalam rumah itu.

"Pergilah, bilang pada Tuan Besarmu itu. Kalandra tidak bisa datang, dia sibuk. Dan satu lagi, jangan panggil saya Tuan Muda, panggil Kalandra udah cukup." Kalandra berbalik badan membelakangi pria paruh baya yang pernah mengasuhnya sejak kecil, Pak Ahmad--nama pria paruh baya itu.

"Tuan Besar sudah berusaha menghubungi Tuan Muda. Akan tetapi, Tuan tidak menjawabnya. Jadi, beliau meminta saya untuk menjemput Tuan," bujuk Ahmad sekali lagi, ia harus bisa membawa Kalandra. Jika tidak, maka Bayu akan begitu murka.

"Sudah saya katakan, pergilah. Saya sedang sibuk, dan panggil saya Kalandra!!"

Ahmad mengulas senyum tipis, ternyata anak majikannya belum berubah sama sekali. Ia sangat kenal betul bagaimana keras kepalanya seorang Kalandra. Lalu ketidaksukaan anak itu dengan panggilan 'Tuan Muda'. Ahmad merasa kasihan melihat kehidupan seorang Kalandra dulu. Seorang anak yang seharusnya mendapatkan cinta dan kasih sayang, malab harus menelan pil pahit saat itu.

Ahmad tahu betul bagaimana masa lalu keluarga Regalion, ia juga sudah begitu lama berjasa kepada keluarga Regalion.

Ada banyak luka dan kerapuhan dibalik mata tajam bak elang milik Kalandra. Pemuda beriris mata hitam pekat itu berusaha menyembunyikan semua lukanya. Kalandra tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain, Ahmad tahu itu. Prihatin dan iba, itulah yang selalu Ahmad pancarkan saat melihat sosok Kalandra.

"Kenzio akan pulang," ujar Ahmad terpaksa mengatakan hal yang sejujurnya. Alasan dibalik dirinya menbujuk Kalandra pulang. Ia tahu, Kalandra sangat membeci saudara tirinya itu. Kenzio, pemuda yang sudah merebut apa yang dimiliki oleh Kalandra.

Kalandra terdiam, tatapannya tertuju lurus ke depan. Seulas senyum kecut terbingkai di bibir. Sudah lima belas tahun, akhirnya saudara tiri Kalandra pulang juga dari sekolah asrama di Inggris.

Terkadang, ia merasa iri dengan Kenzio, kasih sayang dari sang papa selalu didapatkan oleh Kenzio. Bahkan, sang papa sama sekali tidak menawarkan atau bertanya sedikit saja tentang apa keinginan Kalandra. Sama sekali tidak. Sang papa terlalu peduli dan perhatian kepada istri kedua dan anak hasil perselingkuhannya—Kenzio, hingga melupakan Kalandra.

"Tuan Besar mengundangmu di acara syukuran kepulangan Kenzio."

"Pergi atau enyahlah kau dari dunia ini!"

Suara Kalandra terdengar penuh penegasan. Nada bicara yang sama sekali tidak ingin dibantah. Ahmad yang menyadari perubahan raut wajah dan suara Kalandra. Segera angkat kaki dari sana. Ahmad tidak mau ambil risiko menanggung kemarahan Kalandra.

Kalandra memejamkan mata, sekelebat bayangan masa lalu terlintas begitu saja. Masa lalu yang begitu pahit dan memilukan. Jika mengingatnya membuat Kalandra merasa sesak. Mati-matian ia berusaha melupakan dan mengubur masa lalu itu. Namun, Tuhan seakan-akan tidak mengizinkannya untuk hidup dengan tenang tanpa masa lalu. Masa lalu buruk dan memilukan itu selalu muncul.

Kenzio dan wanita iblis itu selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi Kalandra? Ia harus menderita karena mereka. Di saat Kenzio belajar di sekolah dan disayang oleh sang papa, sedangkan Kalandra harus mendekam di penjara akibat tuduhan pembunuhan. Jika kalian berpikir kenapa Kalandra tidak membela diri atau melawan? Kalandra juga ingin melakukan itu, tetapi ia sadar. Hal itu percuma saja, hasilnya tetap sama. Kalandra akan terpenjara, terpenjara oleh luka, terpenjara oleh kesepian, meski Kalandra tetep berada di rumah itu.

Tangan Kalandra mengepal kuat, membuat kuku-kuku jarinya memutih. Deru napas tak beraturan, terlihat sedang menahan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Ia berusaha meredakan emosi dan juga meredakan rasa sesak di hati. Sudah lima belas tahun berlalu, rasa sesak dan sakit hati belum juga sirna. Rasa benci dan rasa ingin menghabisi orang yang sudah membuat sang mama pergi jauh, semakin berkobar penuh semangat.

Kalandra memegang ujung meja pantry, tak peduli dengan suara barista kafe yang menanyakan keadaannya saat ini. Pikiran Kalandra berkelana, rasa sesak di dada semakin membuatnya tersiksa.

Suara keributan dan pecahan gelas membuat Kalandra mendongakkan kepala menatap ke arah sumber suara, dan rasa sesak itu perlahan hilang begitu saja. Seorang laki-laki dewasa bertubuh kekar tengah memarahi salah satu pelayan perempuan yang tengah menangis karena terkena marah akibat kinerja kerjanya kurang bagus. Sorot mata Kalandra tidak tertarik dengan kemarahan laki-laki itu.

Sorot matanya lebih tertarik ke arah seorang gadis yang berusaha membela si pelayan perempuan.

“Dia sudah meminta maaf, kenapa kau malah memarahinya? Lagi pula dia tidak sengaja,” ucap gadis bersurai hitam sebahu yang memiliki iris mata kecokelatan.

Laki-laki yang sedari tadi marah-marah tidak jelas mendengkus kesal. Segara ia angkat kaki dari kafe, daripada menjadi bahan pertontonan. Gadis bersurai hitam sebahu memegang bahu  pelayan perempuan guna menenangkannya.

"P-pak ...," gagap pelayan perempuan tatkala iris matanya tak sengaja menatap Kalandra yang sudah berdiri di hadapannya.

"Kembali bekerja dan bereskan pecahan gelas ini," ucap Kalandra dengan nada seperti biasa, datar.

"Pak? Apa tadi aku tidak salah dengar?" Gadis bersurai hitam sebahu tampak terkejut dengan ucapan si pelayan, memanggil Kalandra dengan sebutan 'pak'.

"I–iya, d–dia Bos kami di sini," ujar pelayan perempuan itu. Lalu pergi mengambil pengki dan segera membereskan kekacauan tadi.

Sementara Kalandra sudah keluar dari kafe, tak lupa juga dengan Nayla yang mengekori Kalandra dari belakang seperti anak ayam.

Kalandra tiba-tiba berhenti didekat parkiran, membuat Nayla menubruk punggung Kalandra. Gadis itu berusaha mengejar langkah kaki Kalandra yang begitu cepat. Sehingga ia tidak tahu jika pemuda itu berhenti tiba-tiba.

"Kalo mau berhenti tuh bilang dulu, hidungku sakit," keluh Nayla seraya mengusap hidungnya yang terasa sakit.

"Ngapain ikutin gue?" tanya Kalandra ketus.

"Tadi ...."

"Karyawan gue!" sentak Kalandra mengetahui raut wajah Nayla yang ingin tahu akan kejadian tadi.

"Terus kamu dipanggil sebutan, Pak? Padahal usia kamu sama dia lebih tua dia, 'kan?" Nayla tampak berpikir seraya membandingkan usia Kalandra dengan pelayan perempuan tadi.

"Nggak penting," sahut Kalandra seraya berlalu. Akan tetapi, Nayla menghadang jalan Kalandra dengan cara merentangkan tangan.

"Kenapa sih kalo aku berbicara sama kamu. Kamu jawabnya ketus mulu, memangnya aku punya salah?" tanya Nayla menatap penuh arti ke arah Kalandra.

Kalandra mendekat, membuat Nayla mundur satu langkah. "Lo salah! Karena lo berusaha deketin gue demi bisa dapet lentera temen, bukan?"

Mulut Nayla terbuka sedikit mendengar ucapan itu. Lagi-lagi penolakan, padahal niatnya baik; berteman. Nayla melipat kedua tangannya di depan dada, membuang tatapan ke arah lain demi bisa menutupi rasa gugup.

"K–kata siapa? Aku udah pernah bilang, enggak salahkan jalin hubungan pertemanan? Lagi pula kita satu sekolah," ucap Nayla terbata-bata.

"Gue enggak butuh temen," cetus Kalandra.

"Ish ... nyebelin. Harusnya kamu tuh bersyukur karena seorang gadis cantik dan manis kayak aku mau temennan sama kamu, mencoba merangkul kamu," ujar Nayla dengan penuh percaya diri. Ia tidak tahu setan apa yang sedang merasuki dirinya sampai bisa berkata seperti itu.

"Cantik dan manis enggak bisa jamin apa pun. Itu sama aja murahan!"

Apa, apa tadi? Murahan? Berani sekali pemuda datar dan dingin seperti yang ada di hadapan Nayla berkata seperti itu? Padahal Nayla sudah berusaha berbicara dengan baik. Rasanya ingin sekali ia mencakar wajah tampan dan arogan Kalandra.

"Apa? Mau nyakar?" Tantang Kalandra mengetahui raut wajah Nayla yang sedang geram dan juga tangan yang seperti ingin menerkam seorang mangsa.

"Sabar, Nayla, sabar. Allah lagi menguji kamu," tutur Nayla menasihati diri sendiri.

Kalandra tak peduli, membuang waktu saja berbicara dengan Nayla. Kalandra melanjutkan langkah kakinya, tetapi baru saja selangkah. Tangannya sudah ditarik oleh Nayla, dengan terpaksa Kalandra menghadap kembali ke arah Nayla.

"Hei, aku belum selesai. Berani sekali kamu mengatakan aku murahan, aku ini gadis baik-baik. Aku ingin berteman denganmu, aku juga tahu kamu enggak akan suka," cerocos Nayla tanpa henti.

Baru saja Kalandra ingin membalas, Nayla malah semakin berbicara terus. Seakan-akan tidak mengizinkan Kalandra berbicara satu kata pun. Pemuda itu hanya menjadi pendengar saja, entah kenapa rasa aneh tiba-tiba bergejolak di hati saat melihat mulut Nayla yang berkomat-kamit berbicara terus-menerus.

Tak ingin terjebak, Kalandra membuang tatapannya ke arah lain. Tanpa tidak sengaja sorot matanya menangkap seorang laki-laki memakai masker dan topi, Kalandra mengenalinya. Itu anak buah Kemal, laki-laki misterius itu berdiri di balik pohon besar tak jauh dari Kalandra berdiri.

Bukan keberadaan anak buah Kemal yang membuat Kalandra terkejut, tetapi sebuah pistol yang mengarah ke dirinya. Bukan, bukan ke arahnya, tetapi Nayla, mengingat posisi Nayla berdiri di depan. Ekor mata Kalandra melirik bergantian ke arah senjata dan Nayla yang masih berbicara.

Pelatuk pistol itu sudah tertarik dan dilepaskan. Membuat suara tembakan terdengar nyaring di depan parkiran. Untung saja sebelum pelatuk itu melesat, Kalandra dengan sigap menarik Nayla ke dalam pelukannya dan berguling bersama demi menghindari tembakan tersebut. Selanjutnya, ia menarik Nayla bersembunyi dibalik tembok besar di sana. Orang-orang di dalam kafe yang mendengar suara tembakan berlarian keluar.

Sementara Nayla, ia berusaha mencerna kejadian beberapa menit yang lalu. Apakah itu mimpi? Ia mengenggam erat jaket milik Kalandra, demi bisa meredakan rasa takutnya. Sungguh Nayla sangat takut mendengar suara tembakan, ini seperti di sebuah film action saja. Kalandra yang berusaha membaca situasi keadaan, apakah aman atau tidak.

Nyatanya anak buah Kemal masih berada di sekitar kafe. Kalandra yang baru sadar akan kehadiran Nayla, berusaha menenangkan. Tangannya terulur mengusap punggung gadis itu.

"Tenang, enggak terjadi apa-apa," ucap Kalandra tidak terdengar lembut melainkan datar bagi Nayla.

"A–apakah tadi ... ada yang berusaha melenyapkan kita?" tanya Nayla seraya menatap Kalandra dengan mata sembab.

Wajah Nayla sudah sembab oleh air mata akibat terlalu kalut dengan ketakutan. Baru kali ini, Nayla merasa takut yang luar biasa. Ia berpikir, apakah itu musuh bisnis dari sang ayah yang melakukannya untuk balas dendam atau orang lain? Sungguh Nayla takut.

"Ssttt ... jangan bilang apa pun, lo bawa mobil?" tanya Kalandra menjauhkan tubuh Nayla dari tubuhnya. Bisa khilaf Kalandra kalau masih berada sedeket itu bersama Nayla.

"Aku enggak bisa bawa mobil, hiks ... b–bisanya se–sepeda," ucap Nayla sesegukan. Tangannya terulur menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir.

Kalandra menepuk keningnya pelan. Ingin sekali ia mengumpat. Dalam situasi bahaya seperti ini, gadis aneh yang bernama Nayla berusaha membuat lelucon? Sangat bodoh!

"Jangan ngelawak," timpal Kalandra.

"Siapa yang ngelawak? Aku jujur, aku enggak bisa bawa mobil, motor, kecuali sepeda."

Kepala Kalandra menyembul sedikit ke arah di mana anak buah Kemal berkumpul. Matanya membulat melihat polisi berada di depan kafenya. Siapa yang memanggil polisi? Apakah orang-orang yang ada di dalam kafenya? Sialan!

"Gue yang manggil polisi." Suara bariton yang Kalandra kenal menggema di indra pendengar.

Kalandra menoleh ke arah depan, mendapati Renal berdiri di hadapannya. Renal mengulurkan tangan, membantu ia bangun dari posisi duduk. Ia menerima uluran tangan itu.

"Lo tau, 'kan? Apa akibatnya setelah ini?" tanya Kalandra seraya menatap datar wajah Renal.

Nayla yang melihat mereka bercakap, segera bangun dari duduknya. Menatap keduanya secara bergantian. Akrab, itulah yang Nayla lihat dari kedua pemuda itu.

"Kalian adik kakak?" tanya Nayla akhirnya setelah beberapa menit berdiam melihat mereka berbicara. Entahlah Nayla tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya.

Tatapan Renal tertuju ke arah Nayla, senyum tipis tercetak di bibir Renal. Ia baru menyadari, ada orang lain bersama Kalandra. "Iya, gue kakaknya Kalandra."

"Wah, kakak. Baru tahu Kalandra punya Kakak. Kalo boleh tau namanya siapa, Kak?"

"Renal," balas Renal.

"Mending lo anterin dia pulang dulu, kasian matanya sembab gitu," ucap Renal kepada Kalandra.

Kalandra tak membalas. Ia menarik tangan Nayla tanpa izin, membawa Nayla ke arah  di mana motor matic-nya terpakir. Sesampai di depan motor, Kalandra memberi Nayla helm dengan mulut terkatup.

Tidak ingin membantah dan merasa takut melihat raut wajah Kalandra yang terlihat sedang menahan marah, Nayla mengiyakan Kalandra mengantarnya pulang.

TBC:
Menerima kritik dan saran.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro