Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

5. Masalah Kalandra

Suasana malam di kota Jakarta tampak begitu padat. Banyak kendaraan berlalu-lalang dijalan raya sana. Aktivitas manusia yang tidak ada habisnya. Bintang bertaburan di langit mempercantik indahnya malam kota Jakarta. Menakjubkan sekali jika melihat bintang bersama sang kekasih sembari membahas masa depan bersama atau membahas apa saja setelah putus nanti.

"Ini malam minggu dan lo masih aja kerja? Ckck, ayolah nikmatin malam ini." Suara pemuda bersurai pirang—Kei berusaha membujuk sang sahabat—walaupun ucapannya tidak digubriskan sama sekali oleh pemuda dengan tampang datar sedang asik meracik kopi.

"Kalan, lo denger gue enggak sih?" Lagi dan lagi pemuda itu bertanya kepada sang sahabat—Kalandra.

Kalandra berbalik menghadap pemuda yang sudah merecoki dirinya bekerja. Ia berjalan mendekat sembari membawa segelas kopi pesanan pelanggan. Lalu menaruh segelas itu di atas meja yang membatasi mereka. Seperti meja bartender, segelas itu pun sudah diterima oleh pemesan yang sudah menunggu sedari tadi.

"Susah ya buat luluhin hati lo, ayolah ini malam minggu—"

"Terus?"

Ingin sekali Kei membuang Kalandra ke rawa-rawa. Menyebalkan jika sudah berbicara dengan si es balok seperti Kalandra. Jika saja bukan ancaman dari sang ketua, Kei juga sangatlah malas membujuk mati-matian sosok Kalandra.

"Kalan, sumpah! Gue udah kesel, gue daritadi ngomong panjang dikali lebar dikali tinggi, dan lo enggak ngedengerin sama sekali?" cerocos Kei layaknya seorang perempuan.

Kei berkacak pinggang mendapat respons tak baik dari Kalandra. Butuh ekstra kesabaraan banyak jika sudah berhadapan dengan sosok dingin dan datar seperti Kalandra.

"Lo bisa pergi, Kei," usir Kalandra, ia sama sekali tidak ingin diganggu sekarang. Ia butuh ketenangan ataupun kesibukan tersendiri.

Kei mengembuskan napas kasar ke sekian kalinya. Ia mengacak wajah dengan kasar, menatap Kalandra dengan tampang memelas. Mungkin saja Kalandra akan luluh atau kasihan melihat wajah tampannya seperti sekarang ini. Kei tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak berhasil mengajak Kalandra nongkrong bersama. Bisa saja ancaman besar itu terjadi. Ancaman yang akan merusak citranya sebagai seorang karyawan di salah satu pabrik.

Kalandra yang melihat tampang Kei seperti itu, memutarkan bola matanya ke arah lain. Malas jika sudah melihat tampang memelas itu, mau bagaimanapun juga Kei adalah sahabat sekaligus keluarga bagi Kalandra dalam dunia luarnya.

"Renal?" tanya Kalandra menatap malas Kei.

Dengan cepat Kei mengangguk sebagai balasannya. Membuat Kalandra malah menghadap ke arah dapur kembali dan membelakangi Kei.

"Ayolah, Kal! Ini demi gue, lo tahu 'kan kalo misalnya gue enggak bisa bawa lo nongkrong?" Kei memohon kepada Kalandra. Tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi agar Kalandra mau ikut bersama.

Kei sudah kehabisan stok kesabaran dan kata-kata demi membujuk Kalandra. Serta lima gelas kopi sudah ia habiskan demi berbicara dengan Kalandra walaupun dalam keadaan terpaksa.

"Gue bilang enggak ya enggak!" ketus Kalandra berbalik menghadap Kei dengan tatapan tajam.

Kei yang mendapat tatapan tajam dari Kalandra, menciut takut akan kemarahan Kalandra. Kei tahu bagaimana kejamnya pemuda datar itu saat sedang marah.

Kalandra berjalan mendekat sembari menatap tajam Kei. Tatapan seperti seseorang yang ingin menerkam si mangsa saja. Tenggorokan Kei terasa kering, jika sudah begini. Kei tidak bisa lari dari kemarahan Kalandra.

"Pengecut!"

Kalandra dan Kei menoleh ke arah sumber suara yang terdengar seperti hinaan. Kei mengembuskan napas lega. Melihat siapa yang berjalan mendekat, sedangkan Kalandra menatap nyalang ke arah orang tersebut.

Renal! Laki-laki itu merasa tidak tenang kalau satu jam Kei tidak mengajak Kalandra kembali nongkrong bersama demi membahas soal Kemal. Ya, Renal menyuruh Kei membujuk Kalandra nongkrong. Ia juga yang mengancam Kei, ancaman yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh Kei.

Dugaan Renal benar, Kei tidak bisa membujuk si es balok seperti Kalandra. Jika saja bukan keselamatan Kalandra, Renal sangat ogah menyuruh pemuda itu nongkrong, lalu membahas soal Kemal—musuh bebuyutan geng Champin.

"Ini kafe lo sendiri. Lo enggak bakal bangkrut walaupun lo tinggal bentar!"

Kalandra tersenyum sinis menanggapinya. Ia tidak suka bertele-tele, ia tahu jika Renal hanya berbasa-basi. Kalandra tahu topik apa yang akan mereka bicarakan setelah ini. Niat sekali Renal datang secara langsung untuk menemui dirinya.

Sebegitu pentingkah Kalandra dalam geng Champin? Jika iya, Kalandra akan merasa tersanjung akan hal itu.

"Langsung keintinya!" tukas Kalandra merasa waktunya terbuang banyak karena mereka berdua.

Renal terkekeh kecil, membuat Kei bergidik ngeri mendengar kekehan itu. Situasi mendadak mencekamkan, atmosfer di antara mereka berubah menjadi panas dan menegangkan. Kedua orang paling berbahaya di Champin sedang beradu argumen atau bertengkar membahas si Kemal. Satu menolak, dan yang satu memaksa.

"Intinya simpel yaitu lo kudu mau turutin apa kata gue."

Kalandra menatap tajam Renal, mereka saling menatap satu sama lain dengan melempar tatapan tajam. Keduanya tak akan ada yang bisa terkalahkan. Kalandra mengepalkan tangannya kuat-kuat. Napasnya memburu, menahan emosi mati-matian. Ia tidak ingin jika emosinya lepas kendali hanya karena Renal.

"Bodo amat!"

Setelah mengucapkan itu, Kalandra berjalan keluar dari balik meja bartender. Melempar celemek yang tadi dikenakan ke sembarang arah. Kalandra berjalan terburu-buru menghindari Renal.

Bukan Kalandra tidak ingin ikut nongkrong bersama, hanya saja ia masih membutuhkan waktu demi bisa menenangkan pikirannya mengingat nama Kemal. Banyak sekali masalah yang sedang Kalandra hadapi sekarang ini, masalah keluarga, dan sekarang ditambah dengan masalah terbesarnya yaitu Kemal—musuh bebuyutan Kalandra.

Baru saja akan mengapai pintu keluar, seorang gadis tidak sengaja menabrak tubuh Kalandra. Membuat Kalandra mendengkus kasar. Kalandra merasa jika hari ini ialah hari paling sial.

"Maaf," sesal orang tersebut menundukkan kepala.

Kalandra menatap siapa yang berani menghalangi jalannya. Kalandra merasa tidak asing dengan orang yang berdiri di hadapannya, seorang gadis. Kalandra mengenal betul siapa gadis yang ada di hadapannya. Nayla!

Merasa tidak ada jawaban dari orang yang tidak sengaja ditabraknya. Gadis itu mendongak menatap Kalandra. Sungguh ia terkejut menatap wajah Kalandra yang sedang menatap dirinya dengan tatapan begitu mengintimidasi.

"Kalandra?" panggil gadis itu tidak percaya. Beruntung sekali temannya—Jihan mengajak main malam minggu. 

Kalandra tak mengubriskannya, ia melangkahkan kaki keluar menghindari Nayla. Akan tetapi, gadis itu malah mencekal lengan Kalandra, membuat ia mencoba untuk bersabar menghadapi Nayla, mengingat Nayla seorang gadis.

"Apa?" tanya balik Kalandra dengan ketus sambil menepis cekalan tangan Nayla.

Gadis itu malah menggeleng kecil sebagai jawabannya, sungguh Kalandra emosi sekarang ini.

"Gadis aneh," gerutu Kalandra melangkahkan kaki keluar, masa bodo dengan Renal dan Kei yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

Renal dan Kei buru-buru menyusul Kalandra. Mereka tidak mau jika Kalandra kabur lagi, jika saja bukan membicarakan masalah penting. Renal tidak akan memaksa Kalandra seperti ini. Sedangkan Nayla masih mematung di tempat menatap kepergian Kalandra bersama dua pemuda yang lainnya.

"Liatin apa Nay?"

Nayla tersentak mendengar ucapan Jihan dan tepukan dibahunya. Nayla menoleh ke samping mendapati Jihan. Nayla kembali menatap ke depan sekilas, lalu berjalan masuk mencari tempat duduk.

"Nay, tadi lo liatin apaan sih?" tanya Jihan saat mereka sudah duduk di meja pilihan Nayla.

Seorang waitres datang ke meja mereka. Membuat pertanyaan Jihan tak digubriskan oleh Nayla. Keduanya memesan makanan dan minuman.

"Sekarang lo mainnya rahasia-rahasian, Nay," papar Jihan setelah barista itu pergi untuk mengambil pesanan mereka. Jihan merasa jika sekarang Nayla lebih memendam cerita sendiri.

Nayla menatap malas ke arah Jihan. Nayla juga merasakan jika ia memang sedang merahasiakan apa tujuannya mendekati Kalandra. Ia belum siap bercerita.

"Rahasia apaan?"

"Ya, rahasia. Sejak gue tanya lo kenapa pas waktu istirahat tea lo malah enggak jawab. Terus tadi gue tanya, lo juga nggak jawab."

Nayla mengembuskan napas pelan, ayolah Nayla bukannya tidak ingin menjawab. Hanya saja ia butuh waktu untuk memulai ceritanya. Baiklah, Nayla akan bercerita agar Jihan tidak merasa curiga.

"Tadi gue ketemu Kalandra," tutur Nayla, membuat Jihan membelalakkan mata terkejut.

"Apa! Serius lo?" tanya Jihan tak percaya. Perasaan tadi Jihan melangkah masuk ke dalam kafe, ia tidak melihat sosok Kalandra.

"Iya, dia kayak yang kesel gitu. Terus ada dua cowok lagi yang ngejar mereka."

"Siapa?"

Nayla mengedikkan bahu tidak tahu. "Mana gue tahu. Lo tanya aja sendiri ke orangnya."

"Kalo orangnya di sini, gue bakal tanya. Tapi masalahnya dia enggak ada."

"Bodo amat! Kita ke sini mau ngopi apa ngegosipin si Kalandra sih?" tanya Nayla dengan kesal.

Jihan cengegesan, membuat Nayla semakin kesal saja.

"Ya, ngopi. Sambil nungguin si cabe."

"Enggak intro," cibir Nayla.

Jihan mengerucutkan bibirnya, membuat Nayla merasa geli sendiri. Nayla tertawa melihat wajah sok sedih dari Jihan. Memang mereka sedang janjian dengan sahabat lama mereka, yaitu Virain.

Setelah menunggu lama, akhirnya pesanan mereka datang begitu juga dengan Virain. Teman SMP mereka dulu, gadis berkacamata tebal itulah julukan untuk Virain dari Nayla.

"Lama banget sih lo. Lo 'kan tahu kalo nunggu itu enggak enak," ucap Jihan.

"Kasian ya sama orang yang berharap sama orang yang enggak pasti," sambung Nayla menyindir Jihan. Virain yang berada di tengah-tengah mereka tertawa kecil melihat tingkah absurd sahabatnya. Sungguh kedua sahabatnya ini tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu.

TBC:
Menerima kritik dan saran.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro