4. Teman Berandal Kalandra
"Mereka bukan orang asing atau berandal, tetapi bagiku mereka ialah keluargaku."
Kalandra Regalion.
***
"Nayla ...!" teriakan cempreng milik Jihan memekakan telinga Nayla.
Nayla terkejut mendengar teriakan gadis itu. Tidak bisakah Jihan tidak berteriak? Nayla tidak tuli, ia masih bisa mendengar dengan jelas.
Nayla sudah sampai di kelas lima menit yang lalu, hanya saja Bu Gita guru mata pelajaran kimia sedang rapat mendiskusikan tentang lomba olimpiade nanti. Jadi, Nayla memanfaatkan waktu kosong itu untuk bersantai atau mencari tahu ada apa dengan perasaan sendiri dan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan lentera teman dari Kalandra.
"Apa sih? Berisik tahu." Nayla merasa kesal. Lamunan tentang sosok Kalandra buyar begitu saja gara-gara Jihan.
"Abisnya lo dipanggil dari tadi enggak nyaut, mikirin apaan sih? Utang? Atau beras di rumah lo habis?" celetuk Jihan tak ada habisnya memberi Nayla berbagai pertanyaan.
"Enggak ada yang lagi gue pikirin," elak Nayla dengan ketus.
"Lah, gue ngeliatnya lo kayak yang ngelamun. Oh ya, tadi istirahat lo ke mana?" tanya Jihan memincingkan mata dengan curiga menatap Nayla.
Mulut Nayla terkatup, bingung harus menjawab apa. Jika berkata jujur, mungkin Jihan akan melarangnya untuk dekat dengan Kalandra atau bisa saja Jihan setuju jika ia dekat dengan Kalandra.
Membuat ia menggelengkan kepala memikirkan hal itu. Jihan yang melihat sikap aneh dari Nayla menempelkan punggung tangannya di kening Nayla.
Nayla merasakan sesuatu di kening, membuat alis Nayla berkerut mengetahui Jihan menempelkan punggung tangannya di kening. Segera mungkin ia menepis tangan Jihan.
"Apaan sih lo!" tukas Nayla. Sungguh Jihan sangat menguji kesabarannya sekarang.
"Ya, siapa tahu aja lo demam. Atau kemasukan setan gitu."
"Lo yang kemasukan!" ketus Nayla.
"Jawab gue, lo tadi istirahat kemana? Gue nyari lo tahu, sampe ke perpustakaan, kantin, semua gue cariin. Sampe ke lobang buaya juga gue tadi nyariin," cerocos Jihan tanpa henti. Membuat Nayla jenggah, dengan terpaksa Nayla pindah tempat duduk ke belakang.
Pusing kepalanya jika terus mendengar ocehan tidak ada gunanya dari mulut Jihan. Untung saja Nayla sayang Jihan sebagai seorang sahabat. Jika tidak ... Entahlah apa yang akan terjadi.
"Ihh ... Nayla ...!" teriak Jihan melihat Nayla pindah tempat duduk.
Jihan merasa kesal kepada Nayla, orang ia nanya baik-baik. Eh, Nayla malah tidak mendengarkan.
"Untung, Sayang. Kalo enggak, gue bikin lo jadi perkedel." Nayla tidak peduli dengan ucapan Jihan, sudah biasa sahabatnya seperti itu. Gila!
***
Seperti biasa, sepulang sekolah Nayla memilih jalan kaki daripada harus menunggu jemputan sang sopir ataupun menaiki kendaraan umum. Lagipula bagi Nayla jarak rumah dengan sekolah cukup dekat. Hanya memerlukan waktu lima puluh menit untuk sampai. Hari ini Nayla pulang terlambat lagi, ia memiliki kepentingan di ruang jurnalistik organisasi estrakulikuler yang diminati oleh Nayla.
Nayla mengulas senyum kecil mengingat wajah datar dari Kalandra, bahkan penolakan agar Nayla menjauh dari pemuda itu. Juga mengingat bagaimana sikap Kalandra pada dirinya saat ia memberikan sebotol teh pucuk.
Nayla ingat betul kapan kejadian itu terjadi, persis seperti sekarang ini. Nayla sedang berjalan kaki lalu tanpa tidak sengaja sorot mata Nayla menangkap sosok Kalandra di seberang sana.
Wajah yang kusut tetapi tidak mengurangi ketampanan Kalandra. Dengan keberanian dan tekad kuat, ia berjalan menghampiri Kalandra di sana sembari membawa sebotol teh pucuk yang dibeli, lalu menyodorkan teh pucuk itu ke hadapan pemuda itu.
Nayla jadi tersenyum sendiri mengingat hal itu. Ia merasa jika ini deja-vu, merasakan hal yang sama. Sungguh tidak habis pikir, Nayla jadi sangat berlebihan seperti ini. Niat hatinya cuma penasaran dengan sosok Kalandra dan ingin berteman dengan pemuda itu. Justru membuat ia terjebak dengan perasaannya sendiri, perasaan aneh yang juga tidak diketahui oleh dirinya sendiri.
"Apa mungkin aku jatuh cinta sama Kalandra? Enggak mungkin, cuma mengangumi doang enggak lebih." Nayla bermonolog sendiri.
***
"Assalamu'alaikum," ucap Nayla sedikit berteriak memasuki rumah minimalis seperti orang kaya sebelumnya, sederhana tetapi terlihat elegan. Tidak terlihat kecil ataupun besar, sederhana.
"Wa'alaikumsalam, udah pulang Nay?" tanya wanita paruh baya berhijab berwarna tosca, menghampiri Nayla yang sedang berdiri di ruang tamu.
Nayla menyalami tangan sang mama dengan takzim.
"Bentar-bentar," ucap Regina—mama Nayla, menghentikan langkah kaki sang anak sebentar.
Langkah Nayla terhenti, lalu moneleh menatap sang mama dengan tatapan bertanya-tanya.
Regina menangkup wajah Nayla, lalu mengkerutkan dahi saat melihat wajah bahagia terpancar dari wajah Nayla.
"Bahagia banget, ada apa nih?" tanya Regina penasaran dengan wajah bahagia sekaligus senyum kecil dari bibir Nayla.
"Enggak ada yang bahagia, Ma. Nayla ke kamar dulu ya," pamit Nayla buru-buru pergi dari hadapan Regina.
Tidak ada yang berbahagia kini hanya kebingunganlah menyelimuti benak Nayla.
***
"Tumben lo ikutan nongkrong, biasanya suka nolak!" Seorang pemuda bersurai cepak menyindir Kalandra yang baru saja duduk di sofa single berukuran sedang.
Kalandra tak mengubriskan ucapan temannya itu. Ia lebih memilih mengeluarkan sebatang rokok dari balik jaket kulit. Kemudian menyalakan ujung putung rokok itu dan menyesap dalam rokok tersebut. Memang benar, ia jarang sekali nongkrong bersama teman berandalannya.
Sepulang sekolah tadi, ia lebih memilih berkumpul dengan teman berandalan daripada harus balik ke kosan yang sepi. Butuh suasana baru agar bisa menghibur dirinya sendiri. Hari-hari yang tengah dijalani tampak sepi. Ia tidak memiliki teman di sekolah, mereka tidak ada yang mau dan berani berteman dengan Kalandra.
Kalandra juga tidak mau mempermasalahkan hal itu. Ia hanya memiliki teman di satu geng atau komunitas—dunia luarnya. Dunia yang sudah membawa Kalandra keluar dari keterpurukan walaupun tak sepenuhnya keluar. Semacam geng motor, atau si biang onar yang meresahkan warga. Kalandra sudah nyaman berteman dengan mereka, daripada berteman dengan teman sekolah.
Jika dilihat-lihat. Sangat jauh berbeda, seolah-olah teman satu geng atau komunitasnya sendiri bisa memahami bagaimana Kalandra dan menjadikan Kalandra sebagai salah satu orang yang paling disegani, sedangkan teman sekolah, hanya memanfaatkan kepopuleritasan Kalandra saja.
Kalandra nyaman berteman dengan mereka. Baginya mereka bukanlah seorang berandal, melainkan keluarga. Mereka menunjukan kesolidaritasan, kebersamaan, dan susah senang bersama. Mungkin di mata orang lain Kalandra dan teman-temannya adalah seorang anak berandalan. Akan tetapi, yang mereka lihat salah, belum tentu kebenarannya.
Saat sedang asik menikmati sepuntung rokok. Seorang pemuda bertubuh gempal berlari terengah-engah, seperti orang sehabis dikejar oleh setan. Hal tersebut tidak membuat Kalandra menoleh menatap siapa yang datang, ia tetap bergeming dengan posisinya.
"Gah–Wat ...," ucap pemuda itu berusaha mengatur napasnya agar tetap normal, ia terlalu lama berlari agar sampai di base camp Champin.
"Gawat apaan?" tanya pemuda yang menyindir Kalandra tadi, panggil saja Orlan. Si biang sindir seperti perempuan.
"Jangan ngasih info yang enggak ada gunanya, Bay!" sahut pemuda yang lebih tua dari mereka, Bang Renal. Si ketua atau tertua dari geng atau komunitas mereka.
Pemuda bertubuh gempal yang bernama Bayu atau sering disapa Bay itu mengembuskan napas panjang menatap teman-temannya.
"Serius ini penting banget. Lo inget anak buah si Kemal yang ngelawan Kalandra waktu di MMA dulu?" Wajah Bay terlihat serius memperhatikan satu persatu wajah temannya dengan sekilas.
Tatapan Renal tertuju pada Kalandra saat ingatannya terlintas kepada kejadian dua tahun yang lalu. Renal melihat Kalandra tetap bergeming sambil menikmati rokoknya, terlihat sangat santuy!
"Lo enggak takut?" tanya Renal menatap intens Kalandra.
Kalandra mengubah posisi duduknya mencari posisi tempat yang nyaman, setelah menemukan posisi nyamannya. Ia mematikan rokok sudah mengecil itu.
"Enggak!" Kalandra membalas tatapan Renal yang begitu mengintimidasi. Suasana di dalam base camp terasa mencekamkan! Di saat semua anggota Champin menunduk patuh dan takut kepada Renal sebagai si ketua dan tertua. Justru Kalandra malah sebaliknya, ia merasa tidak takut dan berani melawan. Bahkan, anggota Champin sempat mengira jika Kalandra dan Renal adalah saudara kandung, tetapi nyatanya mereka bukanlah saudara.
Mereka hanya kebetulan saling mengenal, saat Renal melihat Kalandra menghabisi preman di depan minimarket untuk menolong ibu-ibu.
Melihat wajah sangar, dingin, datar dari Kalandra membuat Renal berniat mengajak Kalandra bergabung dengan geng-nya atau komunitas, Champin namanya.
Renal tersenyum tipis, ia mengakui jika Kalandra tidak pernah takut dengan siapa pun. Bahkan, Kalandra juga tidak pernah takut akan kematian sekalipun!
"Rupanya kita melupakan sesuatu," kata Renal mengulas senyum mengerikan bagi Bay dan yang lainnya.
"Lupa apaan, Bang?" Pemuda yang berada didekat Orlan dan sedari tadi hanya menyimak ikut bertanya. Siapa tahu ia tertinggal info atau melupakan sesuatu. Panggil saja Kei, si lelet tetapi anehnya ia bisa meng-hack data dan situs bisnis orang lain. Aneh! Si lemot yang cerdas.
"Si dingin ini tidak pernah takut dengan siapa pun! Sulit dikalahkan," cibir Renal membuat Kalandra menatap malas ke arah laki-laki itu.
Kalandra beranjak dari duduk dan melangkah keluar dari sana. Menghindari arah pembicaraan Renal. Baru saja lima langkah untuk bisa mencapai pintu, suara Renal menghentikan langkah kaki Kalandra.
"Mau ke mana?"
"Peduli apa lo?"
"Abang, sebagai abang!"
"Nyari mangsa buat nuntasin hasrat gue!"
Renal tahu apa maksud dari ucapan Kalandra, ia membiarkan Kalandra pergi. Renal hanya bisa menatap punggung Kalandra menjauh dari base camp.
Kalandra mengendarai motor matic membelah jalanan kota, entah ia akan mencari mangsa di mana? Agar bisa menuntaskan hasrat darah, yang sukarela menyerahkan tubuhnya untuk Kalandra bunuh. Atau yang sudah bosan hidup, maka dengan senang hati ia akan membantu mengabulkan kematiannya itu.
"Suatu saat nanti, lo bakal ngerasain ketakutan. Entah takut kehilangan atau takut akan satu hal," gumam Renal, melihat motor Kalandra yang sudah menghilang di depan mata.
TBC:
Tau tidak nyambung, karena nulisnya tanpa outline:)
Menerima kritik dan saran.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro