28. Kalandra Jadi Budak Cinta
"Cobaan apa ini? Lagi-lagi rasa sesak merasuk dalam benak. Hati ini seakan-akan menolak Nayla menjauh."
Kalandra Bayu Regalion.
***
Pikiran Kalandra tampak kacau. Sejak obrolan tadi siang di lapangan. Kalandra memilih mampir ke markas Champin, menenangkan pikiran sejenak. Asap rokok mengepul tatkala Kalandra menyesapnya. Rokok, sudah menjadi candu bagi Kalandra apabila sedang dalam keadaan kacau.
Kei yang sedari tadi melihat gelagat aneh dari Kalandra hanya diam, ia enggan bertanya kepada Kalandra. Jika ia bertanya saat suasana hati laki-laki itu buruk, maka wajahnya akan dipenuhi oleh lebam biru.
"Kenapa di saat hati menginginkan dia, justru Allah malah menyuruh dia pergi?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Kalandra. Orlan yang sedang meneguk air tersedak, Jaka yang tadinya sibuk dengan game mendongak menatap Kalandra hingga membuat dirinya mendapat AFK, dan Kei pun sama---menatap Kalandra tanpa berkedip sedikit pun.
"Hah?"
"Apa?"
"Gue enggak salah dengerkan?"
Kalandra mengalihkan pandangannya ke arah tiga laki-laki yang ada di depannya. Ia tak suka jika suasana ketenangannya diganggu oleh suara bisik-bisik tidak jelas. Orlan, Jaka, dan Kei meneguk saliva susah payah mendapati tatapan tajam dari Kalandra.
"Ngomong apa lo tadi? Berisik banget!"
"Kenapa di saat hati menginginkan dia, justru Allah malah menyuruh dia pergi? Karena ini namanya ujian dan ini juga yang dinamakan cinta."
Suara Renal berhasil menyelamatkan ketiga laki-laki itu. Kalandra menoleh ke arah Renal sekilas, lalu menyesap rokoknya kembali. Sementara Renal duduk di sebelah Kalandra seraya mengulas senyum. Entah kenapa ia merasa geli sendiri melihat Kalandra yang sekarang.
"Jatuh cinta?" Kei bertanya dengan lantang, tak peduli dengan tatapan tajam milik Kalandra.
"Kalandra bucin?"
"Wadidaw, ini mah harus ditulis dalam sejarah Champin," sahut Orlan seraya terkekeh.
Kalandra berdecak kesal, ia bangun dari duduknya. Membuang puntung rokok ke asbak, merapikan jaket berserta tasnya. Renal yakin jika Kalandra sedang menghindari berbagai pertanyaan dari anak-anak Champin.
"Mau ke mana lo?" tanya Renal.
"Mau ketemu teman bisnis," balas acuh Kalandra seraya berlalu meninggalkan markas Champin.
***
Tidak membutuhkan waktu yang lama, motor Kalandra berhenti di parkiran kafe pinggiran kota. Ia memang memiliki janji dengan seseorang di kafe bookis.
Langkah kaki Kalandra membawanya masuk ke dalam, menghampiri seorang pria paruh baya di meja dekat jendela sana. Sebelumnya, Kalandra sudah mengenal pria paruh baya itu.
"Kamu membutuhkan bantuan apa lagi, Nak?"
Baru saja Kalandra duduk, suara bariton penuh ketegasan menyambutnya. Suara tegas yang sama persis seperti sang papa. Kalandra mengulas senyum tipis menatap lawan bicaranya.
"Saya membutuhkan pekerjaan, Pak Wira," ucap Kalandra the point.
Kalandra memang sedang membutuhkan pekerjaan sekarang. Membutuhkan uang demi bisa melunasi hutang gaji para karyawan kafenya. Uang tabungan pun tidak cukup melunasi gaji karyawan.
"Berita tentang kafemu ditutup, itu benar?"
Kalandra mengangguk kaku, menatap pria paruh baya di depannya. Pria yang sudah membantu Kalandra membangun sebuah kafe. Lagi, lagi ia sangat membutuhkan bantuan Pak Wira.
Kenapa tidak meminta bantuan sang papa? Kalandra akan menjawabnya, ia enggan dan merasa tak pantas meminta bantuan kepada sang papa. Ia terlalu munafik sekadar meminta pertolongan kepada sang papa.
"Pekerjaan apa pun kamu mau dan menerima?"
"Apa pun, yang penting halal," tutur Kalandra.
Pak Wira merasa bangga jika memiliki putra pekerja keras seperti Kalandra. Walaupun Kalandra pernah terjerat kasus pembunuhan, tetapi sifat pekerja kerasnya membuat Pak Wira merasa bangga. Ditambah sopan dan berakhlak menurut Pak Wira, ia menjadi kagum melihat sosok Kalandra.
"Saya hanya memiliki bisnis tentang masker spirulina tiens. Saya sangat menyayangkan kafe kamu ditutup Kalandra," ucap Pak Wira.
"Masker spirulina? Apa manfaatnya?" Kalandra merasa asing dengan kalimat yang dipaparkan oleh Pak Wira.
Pak Wira mengambil sebotol berisi kapsul masker dari balik tas kecil yang ia bawa. Menaruh botol itu di atas meja, lalu menatap Kalandra sekilas.
"Manfaat masker spirulina tiens ini, bisa mengencangkan kulit wajah sehingga keriput dan garis halus akan berkurang dan jadi lebih segar, menghaluskan kulit serta melembabkan kulit wajah yang kusam dan kasar, memudarkan noda bekas jerawat dan menghilangkan komedo agar tidak balik lagi, mengecilkan pori-pori kulit. Kamu yakin ingin berjualan seperti ini? Menurut saya kamu lebih cocok meracik kopi daripada berjualan seperti ini," jelas Pak Wira, membuat Kalandra terkekeh kecil mendengar kalimat terakhir Pak Wira.
Pak Wira ada benarnya, Kalandra lebih cocok meracik kopi daripada berjualan masker seperti ini. Ia juga tidak memiliki jalan lain, selain menerima tawaran Pak Wira. Jika mencari pekerjaan yang cocok, mungkin Kalandra tidak akan diterima karena latar belakangnya seorang napi.
"Insya Allah, Pak. Akan saya coba," balas Kalandra sesopan mungkin.
Pak Wira meneguk kopi hitam pesanannya, tatapannya tertuju ke luar jendela. Menyaksikan padatnya jalanan kota saat menjelang sore hari.
"Maaf, Pak. Untuk penghasilannya, berapa ya?" Kalandra bertanya dengan ragu-ragu.
"Tergantung, berapa botol yang bisa kamu jual. Jika tidak ada satu pun yang terjual, kamu hanya mendapat upah kecil."
Kalandra mengangguk mengerti. Ternyata berbisnis seperti ini sangat menyulitkan. Jika ia tidak bisa menjual per kapsul atau salah satu botol, mungkin ia tak akan bisa makan. Menumpang makan di Renal saja, Kalandra merasa malu.
Jika ia meminta kepada sang papa, maka Tara---ibu tirinya akan terus mengejeknya. Sedari dulu wanita itu tidak menyukai Kalandra.
"Jadi, bagaimana? Kamu menerima atau tidak?" Pak Wira bertanya kembali, ia bisa melihat gurat keraguan dibalik netra Kalandra.
"Apa saya bisa memikirkannya terlebih dulu, Pak?" Kalandra meminta mengulur waktu pada Pak Wira, ia merasa kurang cocok dengan bisnis yang tengah ia sepakati.
Pak Wira mengulas senyum kecil, ia paham maksud dari Kalandra. Laki-laki muda itu masih ragu dengan bisnis seperti ini.
"Saya memiliki saran untukmu, Kalan," kata Pak Wira, membuat Kalandra langsung mendongak menatap Pak Wira.
"Saran apa?" Kalandra mengernyitkan dahi, menunggu apa yang akan disarankan oleh Pak Wira.
"Buka saja warung kopi kecil di sekitar pinggir jalan, kamu lebih cocok meracik berbagai variasi kopi daripada berbisnis seperti ini. Mengingat kopi, saya jadi merindukan kopi buatanmu, Kalan."
Sudut bibir Kalandra melengkung membentuk senyuman kecil menanggapi ucapan Pak Wira. Sebenarnya, Kalandra juga memikirkan dan mempertimbangkan saran itu sebelum menyetujui bisnis masker spirulina ini.
Kalandra masih memikirkan modalnya untuk membangun sebuah warung, modal untuk membeli bahan rempah-rempah demi bisa membuat kopi. Kopi yang Kalandra buat, berasal dari racikan alami dan bahan rempah-rempah. Ia juga tidak tahu, bagaimana awalnya bisa menyukai berbagai jenis kopi. Tidak hanya kopi, Kalandra juga sangat menyukai memasak.
"Kalau begitu, saya pamit. Jika kamu sudah memikirkannya, hubungi saya." Pak Wira membereskan kembali botol spirulina ke dalam tas kecil, lalu bangun dari duduknya seraya menatap Kalandra.
"Saya permisi, Nak Kalan. Assalamualaikum," kata Pak Wira berpamitan kepada Kalandra.
"Wa’alaikumsalam," balas Kalandra dengan pelan seraya menatap punggung lebar milik Pak Wira yang berjalan menjauh keluar dari kafe.
Kalandra memijat pelipisnya, bingung harus mencari uang ke mana lagi demi bisa memenuhi kebutuhan pokok di kosan. Uang tabungannya saja sudah mentok diangka satu juta, itu juga belum cukup untuk mengganti rugi gaji karyawan yang pernah bekerja di kafenya dulu. Kalandra merasa memiliki hutang kepada mereka, karena kejadian kasus penembakan itu. Membuat mereka harus berhenti bekerja, karena kafe ditutup oleh pihak polisi.
Selama tidak memiliki uang. Kalandra hanya menumpang kepada Renal. Ingin meminta kepada sang papa, ia tak memiliki akses izin oleh sang ibu tiri. Kalandra tidak ingin melihat mereka berdua bertengkar hanya gara-gara dirinya.
"Ya Allah, tolong hamba," gumam Kalandra, pasrah akan keadaan hidupnya.
***
Suasana kantin tampak ramai di jam istirahat pertama. Kelas X, XI, sudah mulai masuk ke sekolah setelah menghabiskan waktu belajar di rumah seminggu yang lalu.
Kalandra sengaja bergabung bersama sahabat-sahabat Rio, membicarakan apa rencana mereka setelah lulus dari SMA nanti. Sepertinya, Kalandra tidak tertarik dengan topik apa yang mereka bicarakan.
Beban pikirannya semakin hari semakin bertambah, ia juga harus mempersiapkan diri untuk bertanding di MMA melawan Kemal. Strategi sudah dipersiapkan oleh Renal---sang kakak angkat demi bisa menjebak Kemal si ketua gangster.
Entah kenapa pandangan Kalandra selalu tertuju ke arah Leo, sejak mereka berencana makan di kantin. Tatapan Kalandra tak pernah lepas dari Leo. Tidak biasanya Leo yang Kalandra lihat rapi menjadi kuyu dengan kantung mata, dan mata memerah. Ditambah sering banyak diam, bahkan tak menjawab lelucon dari Amar.
"Kal, Kalandra," panggil Amar seraya memegang bahu Kalandra sekilas.
Kalandra tersentak, menatap penuh tanda tanya ke arah Amar. Ia memang tidak mendengarkan sedikit pun topik yang sedang dibahas oleh mereka. Pikiran Kalandra berkelana jauh.
"Gimana?" Amar bertanya meminta pendapat kepada Kalandra tentang rencana mereka setelah mendapatkan gelar lulus dari SMA.
Alis Kalandra berkerut, ia bingung dengan pertanyaan yang Amar ajukan. Pandangan Kalandra tertuju ke arah Rio, meminta jawaban dari sang sepupu.
"Amar nanya ke lo. Gimana menurut lo, kalo kita semua habis lulus SMA bisa kuliah di kampus yang sama. Lalu waktu liburan kita dipakai muncak bareng," jelas Rio.
Kalandra ber-oh ria, ia tidak tahu apa rencananya setelah lulus dari SMA. Jika yang lain sudah merencanakan dan mempersiapkan rencana apa setelah lulus SMA nanti, berbeda dengan Kalandra yang masih berleha-leha, bingung akan rencana apa yang akan ia lakukan nanti.
"Insya Allah," balas Kalandra dengan pasrah.
"Gue liat-liat dari tadi, lo kayak yang enggak bersemangat gitu. Ada apaan?" Filzan bertanya kepada Kalandra, ia merasa ada yang aneh dari sikap Kalandra.
"Gue emang gini kali," alibi Kalandra seraya mengulas senyum tipis setipis garis horizontal.
"Gue tahu lo cuek bebek sama dingin, tapi lo kayak yang enggak bersemangat. Beda sama yang waktu pertama kali kita kenalan." Filzan berkata jujur, dulu awalnya Rio mengenalkan mereka. Filzan bisa menilai bahwa Kalandra merupakan sosok laki-laki penuh dengan semangat. Itu yang ia tangkap dari sikap Kalandra kepada sahabat-sahabatnya.
"Perasaan lo kali," kata Kalandra, tatapannya kembali tertuju ke arah Leo.
Rasa penasaran menggelayuti benak melihat kantung mata dan juga mata memerah dari Leo. Sepertinya ada masalah yang tidak beres dari laki-laki itu. Entah kenapa Kalandra jadi berpikiran buruk mengenai Leo, ditambah dengan rasa curiga.
Tak ingin terlalu larut mencurigai Leo, sorot mata Kalandra tanpa tidak sengaja tertuju ke arah bangku kantin di depannya. Sudut bibir tertarik ke atas membentuk senyuman kecil, tak ada yang sadar bahwa sekarang Kalandra sedang tersenyum menatap sosok orang yang selalu menghantui pikirannya akhir-akhir ini.
Entah setan apa yang merasuki diri Kalandra sampai ia berani berjalan menghampiri di mana Nayla sedang duduk bersama Jihan. Nayla yang sibuk dengan gawai, belum menyadari kehadiran Kalandra di sampingnya.
"Kalo mau makan tuh jangan kebanyakan main gadget, kasian makanannya nanti nangis," ucap Kalandra dengan nada tenang.
Tubuh Nayla menegang, ia tampak terkejut mendengar suara Kalandra. Ia menoleh mendapati Kalandra sudah duduk di sampingnya seraya mengulas senyum tipis, sangat tipis. Dengan cepat, Nayla kembali memalingkan wajahnya. Lalu, memilih meninggalkan Jihan di kantin. Lagi, lagi, Nayla menghindari Kalandra.
Jika boleh jujur, Nayla juga merasakan hal aneh jika menjauh dan selalu menghindari Kalandra. Hatinya merasa tak tega melakukan itu, ia sudah terlanjur menyimpan rasa kepada Kalandra. Sejak pertemuan mereka di pinggir jalan dulu, Nayla sudah benar-benar jatuh ke dalam pesona Kalandra.
Nayla sudah tak kuat, pergi menghindari Kalandra. Bersikap tak peduli, padahal hatinya begitu peduli dengan Kalandra. Ia juga tidak bisa menolak perintah sang ayah, ia takut sang ayah merasa kecewa karena anak gadisnya tak mau menuruti perintah sang ayah.
Kalandra menatap punggung Nayla yang sudah menjauh di depan mata, sudut bibir tertarik ke atas membentuk senyum tipis. Pandangan Kalandra tertuju ke arah makanan Nayla yang belum tersentuh sama sekali oleh Nayla.
"Cobaan apa ini? Lagi-lagi rasa sesak merasuk dalam benak. Hati ini seakan-akan menolak Nayla menjauh," batin Kalandra.
"Lo ada masalah sama Nayla?" Rio yang sedari tadi memperhatikan menghampiri Kalandra, lalu mengambil posisi duduk di samping Jihan.
Amar, Filzan, dan Leo ikut bergabung di meja Jihan. Mereka menatap Kalandra dengan raut penasaran, kepo akan hubungan Kalandra dengan Nayla.
Sementara Kalandra hanya mengulas senyum tipis, ia juga tidak tahu kenapa Nayla tiba-tiba menjauhinya. Entahlah, apakah Kalandra memiliki salah sehingga membuat Nayla menjauh atau bagaimana? Ia tidak terlalu paham dengan perasaannya sendiri.
"Ji, lo tahu kenapa Nayla menjauh?" Kali ini Rio bertanya kepada Jihan, siapa tahi saja Nayla sudah menceritakan masalahnya kepada Jihan.
Jihan bergeming sekejap, menimang pertanyaan Rio. Apakah ia harus memberitahu kebenarannya atau memilih bungkam? Nayla sudah bercerita kepada dirinya. Jihan jadi merasa tidak tega melihat Nayla menjadi pendiam dan jarang merespons leluconnya.
"Ayah Nayla enggak suka ngeliat Kak Kalan deket sama dia. Karena sang ayah, Nayla berusaha menghindari Kak Kalan," ucap Jihan pasrah jika Nayla marah kepadanya, karena sudah memberitahu kebenarannya.
Kalandra tidak terkejut dengan kebenaran itu, bahkan ia mengulas senyum tipis. Ia sadar, kenapa ayah Nayla tidak menyukai dirinya, pasti karena masa lalu Kalandra.
"Kenapa ayah Nayla enggak suka sama Kalandra?" Amar menimbrung, ia jadi penasaran kenapa ayah Nayla tidak menyukai Kalandra. Jika dilihat-lihat, Kalandra merupakan seorang pemuda yang baik.
"Karena, ayah Nayla tahu bahwa Kak Kalan mantan napi," kata Jihan menatap takut ke arah Kalandra, ia takut jika laki-laki itu akan tersinggung.
Amar menatap wajah Kalandra yang tampak tenang, setenang air mengalir. Tak ada rasa khawatir bahkan marah saat mendengar kebenaran kenapa Nayla menjauh. Hanya ada senyum tipis tercetak di bibir Kalandra, membuat Amar menjadi bergidik ngeri saja.
"Susah kalo berhubungan sama keluarga yang melihat latar belakang masa lalu kita mah," ucap Kalandra seraya mengulas senyum kecut.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro