Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

26. Maafkan Kalandra, Pa

Bangunan rumah bergaya arsitektur Belanda terlihat terbengkalai, ilalang tumbuh besar di sekitar halaman bangunan rumah itu. Lampu yang seharusnya menerangi, malah terlihat begitu remang. Gerbang besi sudah berkarat terdengar berdenyit nyaring tatkala Kalandra mendorongnya dengan kasar. Netra hitam pekat milik Kalandra menggelap marah menatap pintu depan rumah itu. Kilatan amarah tertahan tercetak jelas di balik netranya.

Langkah kakinya berhenti di depan pintu masuk, jemarinya terkepal kuat. Napasnya memburu menandakan bahwa ia begitu marah. Sudah cukup ia bersabar, sekarang tak ada yang bisa menghalanginya memberi pelajaran kepada orang yang sudah membuat ia tampak begitu marah.

Kalandra mundur selangkah, dengan langkah cepat ia mendobrak pintu rumah itu dengan keras tatkala kakinya mengentak, sungguh malang nasib pintu rumah milik orang yang selama ini Kalandra musuhi.

"Kemal!" teriak Kalandra seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah itu.

Enam orang anggota Pandoker yang tadinya sedang bermain kartu remi terkejut mendengar dobrakkan pintu sekaligus teriakan Kalandra. Mereka tak percaya bahwa laki-laki---musuh bebuyutan Pandoker---datang ke markas mereka pada malam hari.

Tanpa menyuruh perintah, keenam anggota Pandoker mengepung jalan Kalandra yang sudah memasuki rumah. Bagi Kalandra bangunan ini tak layak disebut sebagai rumah, lebih cocok dikatakan bangunan yang sudah terbengkalai. Banyak debu dan sampah snack berserakan di mana-mana. Tak hanya sampah snack, figuran menakutkan terpajang di dinding, dan juga berbagai barang senjata api terpajang di almari hias.

"Woho, rupanya anak Champin cari mati sendiri!" Salah seorang dari mereka berucap dengan nada meremehkan.

Kalandra mendelik tak suka, alarm waspada menggema dalam otak Kalandra. Ia menatap satu per satu dari keenam laki-laki berbadan kekar itu dengan sorot mata penuh dengan kewaspadaan.

"Gue enggak ada urusan sama lo semua. Panggil bos bajingan lo itu, gue mau ketemu!" teriak Kalandra, ia menatap tak bersahabat ke arah keenam laki-laki itu.

"Urusan lo sama bos kita, juga jadi urusan kita. Sok jadi jagoan lo datang ke sini," ucap salah satu laki-laki berkepala botak menatap tajam ke arah Kalandra.

Tidak ingin membuang waktu, keenam laki-laki itu menghajar Kalandra. Untung saja, Kalandra sigap menghindari pukulan dari laki-laki botak dan juga laki-laki bersurai pitak. Pertarungan antara Kalandra dan keenam laki-laki berbadan kekar itu tak bisa dihindari.

Berbagai tangkisan dan bogeman Kalandra daratkan kepada keenam laki-laki itu. Laki-laki botak yang kebetulan berdiri di belakang Kalandra memukul tengkuk leher Kalandra dengan balok kayu, membuat tubuh Kalandra terhuyung ke depan.

Kalandra memegang tengkuknya, mencoba mengumpulkan kesadaran. Kuku-kuku jarinya memutih, netra hitam miliknya semakin menggelap marah.

"Argh ...!" Kalandra memukuli mereka dengan brutal, hingga babak belur.

Emosi kian membara, kilatan amarah penuh terpancar dari netra hitam Kalandra. Merasa kewalahan, salah satu dari mereka mengeluarkan senjata berupa pisau. Sorot mata Kalandra tertuju ke arah pisau itu, seulas senyum mengerikan tercetak di bibir Kalandra. Senyum iblis yang membangkitkan sisi gelapnya telah bangun kembali.

Laki-laki berkumis yang sedang memegang pisau, mengayunkan pisau itu dengan cepat ke arah perut Kalandra. Dengan sigap, Kalandra mencekal lengan laki-laki itu. Memutarkan tangan milik laki-laki itu dengan kuat, hingga membuat laki-laki berkumis itu mengaduh kesakitan. Kalandra memelintir tangan itu dan mematahkannya. Lalu menendang perut laki-laki berkumis itu hingga tersungkur.

Mereka yang melihat temannya sudah terjatuh dan terlihat tak berdaya, memilih berlari masuk ke dalam rumah itu. Mereka sadar diri, mereka masih menyayangi nyawanya sendiri.

"Bangsat semua lo!" teriak Kalandra melihat ketiga laki-laki berbadan kekar itu lari kabur, ia menyeka basah di sudut bibir, lalu melihatnya sekilas. Darah, lagi-lagi berdarah.

Suara tepukan tangan seseorang yang berasal dari dalam membuat amarah yang tadinya sempat mereda kembali bangkit membara. Kalandra menatap penuh permusuhan ke arah orang itu. Ia yakin bahwa tepukan tangan itu sebagai simbol meremehkan.

"Wow, kejutan paling indah. Seorang Kalandra yang dijuluki singa, datang sendiri ke markas Pandoker tanpa anggota Champin. Keren!" Suara bariton milik Kemal menggema dalam ruangan tampak temaram itu, ucapan Kemal terdengar seperti sindiran di telinga Kalandra.

"Pengecut! Urusan lo sama gue, bukan sama bokap gue!"

Kemal mengulas senyum sinis, berdiri dengan gagah di depan Kalandra seraya melipat tangan di depan dada.

Kalandra sengaja datang menemui Kemal untuk membalas apa yang sudah Kemal lakukan kepada sang papa sampai masuk ke rumah sakit.

"Lebih pengecut mana? Lo yang menghindar tantangan gue atau gue yang menyakiti bokap lo sampe masuk rumah sakit?" Kemal membalas tatapan Kalandra tak kalah tajam. Senyum iblis tercetak di bibir Kemal.

Kalandra menarik kerah jaket milik Kemal, menatap penuh kebencian ke arah Kemal. Kilatan amarah tercetak jelas dibalik netra itu.

"Lo enggak tahu yang sebenernya. Kalo lo tahu, mungkin lo juga bakalan ngelakuin yang sama kayak gue. Bukannya ini yang lo mau? Ngeliat orang yang udah menyakiti nyokap lo menderita,?" Kemal bertanya dengan tampang tak berdosa, seulas senyum menyeringai terlukis di bibirnya.

"Sebencinya gue sama bokap gue sendiri, gue enggak akan pernah menyakiti dia," desis Kalandra seraya melepaskan cengkeramannya di kerah jaket Kemal.

"Sekali lagi kalo lo menyakiti bokap gue dan adik gue---“

"Apa? Apa yang bakal lo lakuin?" Kemal bertanya dengan suara yang keras, menatap remeh ke arah Kalandra.

"Kematian!"

Kemal tertawa meremehkan, ia merasa jika ucapan Kalandra sama halnya dengan lelucon. Merasa puas tertawa, Kemal mengubah kembali ekspresi wajahnya menjadi datar.

"Gue enggak takut! Asal lo tahu aja, gue bakal bales apa yang lo lakuin ke David," ujar Kemal, kalimat terakhir itu terdengar menyedihkan bagi Kemal.

"Itu bukan gara-gara gue, itu udah kehendak dari Allah."

"Enggak usah sok suci!"

"Siapa yang sok suci, bangsat!"

"Jaga mulut lo! Lo sekarang lagi ada di wilayah kekuasaan gue, ini bukan markas Champin! Sekalinya lo buka mulut yang enggak enak didenger, nyawa lo yang jadi taruhan di sini!" Kemal menatap nyalang ke arah Kalandra, ingin sekali ia memukuli wajah itu sampai babak belur. Hanya saja ia menunggu waktu yang tepat demi bisa menyalurkan rasa dendamnya.

Kalandra berkacak pinggang, membalas tatapan Kemal tak kalah tajam. Sudut bibir Kalandra melengkung membentuk senyuman licik. Ia tidak akan pernah takut kepada siapa pun, terkecuali Sang Pencipta.

"O ya? Gue enggak peduli!"

"Gue kasihan sama lo, udah disakiti. Sekarang, malah dibego-begoin sama bokap sendiri," sindir Kemal.

Suara tamparan terdengar menggema di ruangan itu. Pipi Kemal terasa terbakar, ia memegangi pipi yang ditampar oleh Kalandra. Menatap penuh amarah ke arah orang yang sudah berani menampar dirinya di rumah sendiri.

Dengan sigap, Kemal melayangkan bogeman mentah ke wajah Kalandra. Kalandra yang belum siap apa-apa, terkena bogeman itu. Hidungnya tampak mengeluarkan darah segar, ia mendongak menatap Kemal dengan penuh kilatan amarah.

"Sialan!"

Kalandra membalas Kemal, memukul laki-laki itu dengan brutal. Kemal juga sama, ia tidak ingin kalah dari Kalandra. Pertarungan sengit terjadi begitu saja, beberapa anggota Pandoker yang mendengar pertarungan itu hanya diam menonton tanpa memiliki niat ingin membantu.

'Brak!

Tubuh Kalandra tersungkur mengenai meja kayu hingga meja itu hancur tak tersisa, rasa nyeri dan perih ia rasakan didekat tangan dan juga punggung. Susah payah, Kalandra bangun. Berjalan bertatih-tatih sembari memegangi tangannya yang kemungkinan berdarah akibat terkena sayatan pisau milik Kemal. Ya, Kemal menggunakan pisau tatkala pertarungan mereka terjadi tadi.

"Pergi! Gue lepasin lo sekarang, tapi kalo di MMA nanti. Gue enggak bakal lepasin lo." Kemal berucap dengan nada dingin, ia berusaha mengendalikan emosinya.

"Satu lagi," cegah Kemal, sebelum Kalandra benar-benar pergi dari ruang kekuasaannya.

Kalandra yang baru saja akan menggapai pintu, berhenti seketika mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Kemal.

"Tanyain ke bokap lo langsung, apa yang sebenarnya terjadi. Asal lo tahu aja, gue enggak serendahan kayak Kevin yang melibatkan orang lain ke dalam masalah gue sendiri!"

Kalandra berlalu dengan cepat meninggalkan rumah itu dengan keadaan penuh luka. Susah payah, ia menaiki motornya. Sebelum meng-starter, netranya terpejam sekilas guna meredakan rasa nyeri di sekitar tangan. Darah kembali turun dari hidung Kalandra, dengan cepat ia menyeka kasar darah itu. Melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

***

Pintu ruangan nomor 305 terbuka dengan kasar, membuat, tiga orang yang berada di dalam ruangan itu terlonjak kaget. Salah satu dari mereka menatap tak suka ke arah si pelaku yang membuka pintu dengan kasar.

"Jangan membuat kegaduhan di rumah sakit!"

"Siapa yang duluan membuat masalah? Kemal atau Anda?"

Kalandra berjalan menghampiri brankar, di mana sang papa terbaring dengan alat infus di tangan. Ia menatap penuh rasa penasaran ke arah Bayu, ia juga tak memedulikan tatapan tak suka dari sang ibu tiri. Urusannya sekarang hanya dengan sang papa, bukan wanita iblis itu.

Kalandra sengaja datang mengunjungi Bayu di rumah sakit, ia mendapat kabar dari Kenzio bahwa sang papa dilarikan ke rumah sakit. Motif yang menyebabkan Bayu masuk rumah sakit ialah bertengkar dengan Kemal.

"Tentu saja ini semua gara-gara kamu. Coba aja kamu enggak jadi anak berandal, mungkin papamu tidak ada di sini." Tara---ibu tiri Kalandra membalas dengan ketus.

"Jawab dengan jujur," kata Kalandra, tak memedulikan sang ibu tiri.

Bayu memejamkan mata sekilas, lalu menatap wajah Kalandra yang dipenuhi oleh luka.

"Sebaiknya, kakak obati dulu lukanya. Nanti infeksi," timbrung Kenzio merasa khawatir melihat keadaan sang kakak.

"Jawab Tuan Bayu Regalion!" teriak Kalandra dalam ruangan itu.

Tara menatap tak percaya ke arah Kalandra, begitu juga dengan Kenzio. Sementara, Bayu hanya mengulas senyum tipis. Ia sudah terbiasa mendengar teriakan yang terlontar dari mulut Kalandra. Dulu, mereka sering bertengkar dan berujung saling memaki, jadi hal seperti ini sudah biasa bagi dirinya. Terkadang juga ia merasakan sakit hati melihat sang putra kesayangan berani melawan dirinya.

"Papa yang memulai, karena papa ingin membalas kepada dia yang sudah menuduh kamu mengedarkan narkoba," ucap Bayu dengan jujur.

Berita tentang kafe milik Kalandra ditutup dan ditemukannya barang haram itu, terdengar sampai telinga Bayu. Pria paruh baya itu juga tahu siapa dalang dibalik penutupan kafe dan kenapa barang haram itu bisa ada di kafe milik Kalandra. Kemal! Musuh bebuyutan sang anak sendiri. Bayu memang sengaja mengerahkan beberapa bodyguard untuk mencari tahu dan mengirimi ia foto siapa itu Kemal. Tidak hanya itu, ia juga yang menyelesaikan kasus Kalandra dengan sebuah jaminan yang tinggi.

Bayu memang yang memulai duluan pertengkaran dengan Kemal, memancing emosi dari laki-laki itu. Kejadiannya, saat ia pulang dari kantor dan akan menuju rumah. Bola matanya tak sengaja melihat Kemal sedang mengendarai motor di jalan, merasa itu adalah kesempatan untuk membalas.

Bayu berpikir menghentikan Kemal, sampai di situlah terjadinya pertarungan antara Kemal dan beberapa bodyguard Bayu dan juga Bayu sendiri. Kemudian, berujung dirinya masuk rumah sakit akibat sayatan didekat bahu serta penyakit yang dideritanya sejak lama kambuh kembali.

"Saya ucapkan terima kasih, karena Anda saya terbebas dari kasus narkoba itu. Akan tetapi, saya merasa tidak suka jika Anda mencampuri urusan saya," papar Kalandra.

"Papa minta maaf, papa enggak akan ikut campur sama masalah kamu lagi. Papa percaya kalo kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri."


Kalandra berlalu dari ruangan itu dengan cepat. Bahkan, ia tak memedulikan ucapan Bayu yang meminta dirinya agar mengobati lukanya terlebih dulu. Ia juga menghindari Kenzio yang berusaha menghentikannya.

"Maafkan Kalandra, Pa ...."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro