Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

23. Ada apa dengan Kalandra?

Kalandra meninju samsak dengan rasa penuh emosi. Beban pikiran Kalandra semakin hari semakin bertambah. Ia tampak kacau. Tiga hari terakhir ini pikirannya selalu tertuju ke arah ucapan Kenzio dan juga ancaman dari Kevin, laki-laki dewasa itu tidak akan tinggal diam saja. Mengingat sang adiknya sedang berada dibalik jeruji besi. Ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki dendam.

Belum lagi tentang Nayla, gadis yang sudah berhasil membuat Kalandra memikirkannya setiap saat. Gadis itu mengaku bahwa ada sekolompok laki-laki dewasa selalu menguntit dirinya. Hal itu membuat beban pikiran Kalandra semakin bertambah. Ia tidak ingin melibatkan orang lain ke dalam masalahnya sendiri, apa lagi orang tersebut sampai disakiti oleh musuhnya sendiri.

Netra itu mengelap tatkala kalimat Kevin dan ejekan dari sekelompok Pandoker terngiang-ngiang. Dua hari yang lalu, Kalandra tidak sengaja bertemu dengan mereka. Pertarungan antara Kalandra dan lima orang anggota Pandoker terjadi.

"Gue baru tahu, ternyata seorang Kalandra kembali sekolah setelah berhasil membunuh nyokapnya sendiri. Bahkan, dia terlihat seperti anjing penurut kepada papanya. Jika iya, maka dia juga akan menurut kepada si cabe Nayla--mantan Januar," sindir Kevin sembari mengulas senyum smirk. Lima orang anggota Pandoker yang berada ditengah-tengah mereka, tertawa. Bagi mereka kalimat itu terdengar seperti lelucon.

Tangan Kalandra terkepal kuat, ia kembali meninju samsak itu dengan keras. Seperti orang kerasukan, berulang kali ia meninju samsak itu. Membayangkan bahwa yang ia tinju itu wajah Kevin. Tak peduli dengan rasa keram di tangan akibat tidak memakai sarung tinju. Netra itu tampak memerah menandakan bahwa ia sedang menahan amarahnya, peluh Kalandra membasahi pelipis. Ia tampak sangat kacau dan frustrasi.

Kei dan Jaka merasa enggan menegur Kalandra. Mereka takut melihat Kalandra seperti setan. Mereka takut, kalau amarah itu malah terlampiaskan kepada mereka. Sejak sore sepulang sekolah, Kalandra memang tampak seperti sedang memiliki beban masalah.

Mereka membiarkan Kalandra menyalurkan amarahnya kepada samsak itu. Selain menjadi tempat diskusi dan nongkrong, base camp Champin memiliki fasilitas olahraga ala kadarnya, terdapat samsak dan teman tinju sejenisnya. 

"Gue kok ngerasa kalo tuh anak lagi ada masalah, nggak biasanya dia kayak gini," ucap pelan Jaka seraya menatap Kalandra yang masih meninju samsak itu.

Kei menoleh sekilas ke arah Jaka, lalu tatapan itu tertuju ke arah Renal. Tertua dan pimpinan Champin itu tampak menikmati kopi hitamnya seraya menatap Kalandra di seberang sana.

"Bang, lo ngerasain apa yang Jaka bilang?" Kei bertanya seraya menatap Renal penuh ingin tahu.

Renal menyesap kopinya, menaruh gelas kecil itu di meja samping. Tatapan Renal tak lepas dari Kalandra di sana. Jaka benar, Kalandra memang sedang memiliki beban masalah.

"Mungkin aja," balas Renal sekena.

Sebenarnya ia tahu jika Kalandra sedang mengalami masalah dengan Kevin--teman seperjuangan Kemal--musuh bebuyutan. Renal ingat kapan Kalandra dan kedua laki-laki itu bermusuhan, bahkan saling mengibarkan bendera perang.

Dulu, Kalandra tidak sengaja melapor kepada polisi karena melihat Kevin sedang melakukan transaksi narkoba. Kalandra yang masih anak SMP, tidak tahu bahwa ia sedang di dalam bahaya, karena sudah melapor si gengster dari Pandoker. Renal yakin, dendam Kevin bukan karena Kalandra melapor ke polisi waktu itu, melainkan ia tidak terima jika Januar--sang adik masuk penjara, ia ingin membalaskan dendam Januar.

Soal Kemal? Renal masih ingat betul bagaimana Kalandra menghajar adiknya Kemal--David. Mendengar sang adik dipukuli oleh Kalandra membuat Kemal murka, tidak hanya memukuli David. Kalandra juga kembali melaporkan bahwa Kemal merupakan seorang gengster dan bandar narkoba.

Hal itu membuat Kemal membenci Kalandra, bahkan dia meminta David memancing emosi Kalandra. Kemal tahu, jika seseorang yang sedang dilanda oleh emosi akan kalah dalam pertarungan, sehingga David berani menghina mama Kalandra. Mendengar hinaan itu membuat Kalandra emosi dan menantang bertarung di atas ring dengan mengikuti ajang turnamen one pride MMA tahun lalu. Ingatan itu masih membekas di otak Renal.

"Musuh dia terlalu bahaya," gumam Renal seraya menyesap kopinya.

Kei dan Jaka masih bisa mendengar gumaman itu. Mereka berdua berpikir keras siapa musuh Kalandra yang lain, soal Kemal? Mereka sudah tahu bahwa pimpinan Pandoker itu begitu berbahaya, tetapi mustahil jika Kalandra takut kepadanya.

"Dia lagi berperang sama hati dan pikirannya, sang hati berkata bahwa dia harus melindungi orang terdekatnya karena mereka nggak salah apa-apa. Di sisi lain, dia bingung harus berbuat apa, karena dia tahu bahwa sekali dia bertindak gegabah. Maka orang terdekat yang lainnya akan terluka," ucap Renal dengan tenang.

Kalandra sudah merasa lelah, ia meninju samsak itu untuk yang terakhir kali. Lalu beralih meninju bingkai kaca di sampingnya dengan keras. Napasnya memburu, sungguh keadaannya tampak kalut dengan emosi. Ia membenci berada di situasi seperti ini. Netra Kalandra menatap ke arah bingkai yang sudah retak, bahkan darah menetes dari jemari Kalandra.

Kei tidak tega melihat keadaan sang sahabat seperti ini, walaupun umur mereka beda satu tahun. Kei tetap menganggap Kalandra sebagai saudaranya sendiri. Ingin sekali ia menghampiri Kalandra, merangkul, dan membicarakan jalan keluar dari masalah itu. Akan tetapi, ia sadar, jika ia datang mendekat maka nyawanya akan dalam bahaya. Kalandra akan melampiaskan rasa marahnya jika seseorang datang mendekat dan mengacaukannya.

Renal menatap dingin ke arah Kalandra yanh sedang bersandar di dinding sembari mengusap wajahnya dengan kasar, pemuda itu tidak memedulikan luka di jemarinya. Bahkan, Kalandra tidak menyadari jika ia, Kei, dan Jaka sedang memerhatikan dirinya sedari tadi. Netra
Renal membulat tatkala bola matanya menangkap kehadiran Nayla di seberang sana mendekati Kalandra

Ia menoleh ke arah Kei dan Jaka dengan tatapan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan kedua laki-laki itu.

"Jam berapa sekarang?" tanya Renal sembari menaruh gelas kopinya kembali.

"Jam setengah delapan malam, Kalandra sudah terlalu lama di sini." Jaka menyahut, tentu saja Jaka tahu. Sebelum Kalandra datang, ia sudah terlebih dulu di base camp.

"Kenapa Nayla datang ke sini? Malam-malam lagi, bukannya mereka lagi mempersiapkan ujian ya?" Kei membuka suara, otaknya bertanya-tanya.

"Siapa yang ngasih tahu Nayla, kalo Kalandra ada di sini?" tanya Renal lagi. Setahu Renal, Nayla tidak mengetahui alamat base camp tempat Kalandra menongkrong.

"Gue yang kasih tahu," timbrung Rio berdiri di samping Jaka.

"Dia khawatir sama Kalandra, karena sejak tiga hari terakhir ini sikap Kalandra aneh." Rio menjelaskan, ia tahu jika Renal memiliki pertanyaan.

Dugaan Nayla benar, jika Kalandra sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Lihatlah, pemuda itu tampak kacau. Seragam sekolah sudah kusut dan penuh dengan noda. Bola mata Nayla tertuju ke arah luka di jemari Kalandra.

Nayla memegang tangan Kalandra, melihat luka itu dengan seksama. Kebetulan saja, Nayla selalu membawa obat merah dalam tas kecilnya.

"Kamu terluka," ucap Nayla, ia menyuruh Kalandra duduk di lantai agar ia bisa mengobati luka itu.

Kalandra menurut saja, ia sudah lelah. Lelah berperang dengan hati dan pikiranya, lelah menyalurkan amarahnya ke samsak itu. Nayla mengobati luka itu dengan telanten, sesekali meniup luka itu tatkala memdengar ringisan dari Kalandra. Setelah memberi obat merah, Nayla mengambil saputangan berbahan katun. Lalu menyampirkan saputangan itu di jemari Kalandra guna menutupi luka itu.

"Jangan lukain diri sendiri kalo lagi ada masalah," tutur Nayla lembut seraya menatap wajah Kalandra yang dipenuhi oleh peluh.

"Ke sini sama siapa?" Kalandra mengalihkan pembicaraan, membalas tatapan Nayla. Lalu tatapan itu tertuju ke arah seberang sana, mendapati Rio sedang mengobrol bersama Kei, Jaka, dan juga Renal.

"Rio?" Nayla mengangguk mengiyakan.

"Aku khawatir, jadi aku ingin bertemu sama kamu," papar Nayla dengan jujur.

"Gue lebih khawatir kalo orang yang ikutin lo malah nyelakain lo." Kalandra menatap tangannya yang terbalut oleh spautangan milik Nayla.

Seulas senyum kecil terbingai di bibir, ia merasa senang jika Kalandra mengkhawatirkannya. Dua hari yang lalu, Nayla memang bercerita bahwa ia sedang diikuti oleh sekelompok orang asing.

"Mereka nggak bakal nyelekain aku, ada Allah yang bakal jagain aku."

Kalandra mendongak menatap Nayla penuh arti, "Allah memang maha tahu dan siap menolong hambanya. Lo mesti hati-hati lagi, karena setiap bencana nggak bakal ada yang tahu."

Nayla mengulas senyum mendengarnya, ia memasukan obat merah ke dalam tasnya kembali. Melempar tatapan ke arah lain.

"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Nayla kembali menatap Kalandra.

"Apa?"

"Kenapa setiap orang jika sedang marah selalu melampiaskan ke dirinya sendiri? Bahkan sampai terluka, kenapa tidak berbagi masalah itu kepada Allah?" tanya Nayla.

Kalandra terdiam. Ia sudah melakukan apa yang diucapkan oleh Nayla. Berkeluh kesah kepada Allah, memohon pertolongannya. Namun, tetap saja rasa emosi masih ada dalam diri.

"Kenapa cewek kalo lagi khawatir suka nekat?" Bukannya menjawab, Kalandra malah balik bertanya.

Membuat Nayla gelagapan mendengar pertanyaan itu. Ia juga tidak tahu kenapa melakukan hal nekat seperti ini.

"Ya ... 'kan khawatir," kata Nayla sekena. Sebenarnya ia juga tidak tahu kenapa bisa senekat ini.

"Sudah malam, mau gue anter balik?" Kalandra menawari, mengantarkan Nayla pulang.

"Aku baru sampai, masa disuruh pulang?"

"Sudah malam, Nay. Besok harus mengikuti nilai praktekkan?" Kalandra tahu bahwa mereka hanya memiliki waktu sebentar, apa lagi tiga hari terakhir ini mereka disibukan oleh mengejar nilai praktek.

"Ck, tetapi aku ...." Nayla merasa malu ingin mengatakan yang sesungguhnya.

"Aku? Aku apa?" Alis Kalandra berkerut mendengar kalimat menggantung dari Nayla.

"Lapar," cicit Nayla pelan, berharap Kalandra tak mendengarnya.

"Lapar? Lo belum makan?" Nayla menggeleng pelan saat Kalandra bertanya.

"Kenapa?"

"Aku selalu kepikiran sama kamu, aku khawatir. Jadi, aku nggak ingat makan."

"Kenapa mesti mikirin gue?" Entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja.

Nayla merasa gugup sekarang, ia merutuki ucapannya tadi. Seharusnya ia tidak berkata sejujur itu, sungguh ia tidak memiliki alasan lain.

"Kenapa mesti mikirin gue?" Kalandra mengulang pertanyaannya seraya menatap wajah gadis itu dengan intens.

"K-karena ...." Nayla menggantung ucapannya, bingung harus menjawab apa. "Karena aku peduli sama kamu, aku suka sama kamu," lanjut batin Nayla.

Tbc:
Menerima krisar.

Ingat, saya langsung publish tanpa dibaca terlebih dulu. Mohon maklumi apabila ada typo.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro