Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

12. Buktikan kepada Papa

Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Kalandra baru saja sampai di kosannya. Setelah dari rumah Nayla, ia sengaja singgah terlebih dulu ke kafenya yang sebentar lagi akan ditutup karena kasus penembak minggu lalu.

Sepertinya Kalandra harus mempersiapkan bisnis lain demi bisa mempertahankan hidup. Selama keluar dari rumah Regalion, ia tidak pernah mengambil sepeser uang dari sang Papa. Bahkan, ia sering menolak uang tersebut. Selagi bisa, kenapa harus meminta? Kata-kata itulah selalu melekat dalam diri Kalandra.

Alis Kalandra berkerut menyadari ada seorang tamu di depan kosannya malam-malam. Kerutan itu mengedur tatkala mengenali siapa yang datang bertamu. Kalandra menatap sinis, pria paruh baya itu.

"Ngapain ke sini?" tanya sinis Kalandra.

Bayu—papa Kalandra tersenyum tipis. Sang putra kesayangan sudah berubah semenjak Janvi—sang istri pergi jauh. Andaikan saja dulu ia tidak membuat kesalahan, mungkin keluarganya sudah hidup dengan bahagia. Takdir Allah memang selalu membingungkan.

"Memangnya tidak boleh seorang ayah menjenguk putranya?" Bayu tersenyum tipis menatap Kalandra dengan penuh arti. Jujur saja, ia sangat merindukan sosok Kalandra yang ceria dan selalu berbagi cerita.

Bukan Kalandra yang sekarang, selalu tampak dingin, datar, dan ketus setiap Bayu mengajaknya bicara.

"Saya enggak punya waktu," ucap apatis Kalandra seraya memutarkan knop pintu kosannya.

Baru saja ingin melangkah masuk. Bahunya dipegang pelan oleh Bayu, membuat langkah ingin masuk tertunda.

"Papa mohon. Bicara sebentar saja sama Papa." Bayu memohon kepada Kalandra. Rasa rindu untuk sang putra kian membelenggu, ia ingin menghabiskan waktu sedikit saja dengan Kalandra.

Kalandra berbalik, berjalan melewati Bayu. Lalu duduk di kursi panjang yang memang tersedia di depan kosan. Bayu ikut duduk di samping Kalandra. Hening. Suasana hening menyelimuti keduanya.

"Kenapa kamu nolak undangan syukuran kepulangan Kenzio?" tanya Bayu memecahkan keheningan.

Kalandra tersenyum kecut, ia sudah menduganya sejak awal. Obrolan mereka akan membahas seputar Kenzio saja atau membahas kenapa ia membenci keluarga sendiri. Menyebalkan.

"Saya yakin sebelum Anda bertanya hal itu, Anda sudah tau apa jawabannya," timpal Kalandra acuh.

"Masih benci?"

"Benci?" ulang Kalandra seraya terkekeh kecil, mendengar kekehan itu membuat ulu hati Bayu tersentil. "Baguslah, jika sudah tau. Saya membenci Anda yang sudah menentelantarkan anak-istri, saya membenci keluarga Regalion yang sekarang, dan siapa itu namanya ... ah ya, Kenzio." Kalandra melanjutkan ucapannya seraya menatap lurus ke depan.

"Kenapa kamu membenci mereka? Padahal mereka juga keluargamu," tutur Bayu. Kali ini ia hanya ingin berbicara berdua saja dengan Kalandra, mendengar keluh kesah sang putra.

"Kenapa? Anda bilang kenapa?" Kalandra naik darah, ia menatap penuh permusuhan ke arah Bayu.

"Gara-gara mereka, hubungan Anda dengan istri sah diambang kehancuran, seorang anak yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang harus merasakan hancur mengetahui sang Papa sudah tidak peduli dengan keluarga sendiri. Anda pasti tau soal ini atau mungkin Anda sengaja melupakannya? Baiklah, akan saya ingatkan kembali ...." Kalandra menggantung ucapannya. Ia kembali membuang tatapannya ke arah depan. Muak, itulah yang dirasakan oleh Kalandra saat menatap wajah sang Papa.

"... Ke mana sosok suami idaman, di saat sang istri sah sedang sakit? Ke mana sang Papa di saat seorang anak sedang membutuhkan bahu untuk bersandar dan tempat sebagai tiang penguat dikehancurannya?" Kalandra tersenyum kecut mengingat sekelebat masa lalunya.

"Dan ke mana sosok kepala keluarga yang sering dibangga-banggakan di hadapan semua orang oleh istri sendiri? Dulu, saya beruntung bisa lahir di tengah-tengah keluarga Regalion, tetapi keberutungan itu berubah menjadi kesialan."

"Miris, di saat sang istri sedang sakit-sakitan. Sang suami malah asik-asikan berdua bersama wanita lain. Tepat, saat istri frustasi dan mengakhiri semuanya. Sang suami malah menuduh dan menyalahkan anak kandung sendiri." Kalandra tersenyum getir mengingat memori masa lalu itu, di mana sang Mama mengakhiri hidupnya di depan Kalandra sendiri dan sang Papa yang menjebloskan dirinya ke penjara. 

"Memang itu faktanya, sidik jarimu terdapat di bukti tersebut," ucap Bayu membela diri.

Kalandra tertawa sinis, "Fakta bisa aja diubah jadi opini!" Kalandra menyentak.

"Jaga nada bicaramu, aku ini Papamu," geram Bayu.

"Papa? Maaf," jeda Kalandra menatap penuh permusuhan ke arah Bayu. "Sejak kapan saya punya Papa tukang selingkuh dan main kasar kepada istri sendiri? Bagi saya Papa udah meninggal sejak dulu." Kalandra mengucapkan kalimat itu dengan tenang, tetapi mampu menusuk hati Bayu.

Mendengar ucapan Kalandra, hati Bayu terasa sesak. Sedih rasanya mendengar seorang anak berkata seperti itu di depan dirinya sendiri. Bayu sangat menyesal, merasa tidak berguna mendidik salah satu putranya.

"Kamu begitu berbeda dengan Kenzio," ujar Bayu menunduk lesu, lebih tepatnya menyesal.

"Kenapa harus disamakan? Saya berbeda, Kenzio pintar, penurut, dan Kalandra bodoh, pembangkang!" bentak Kalandra seraya tersenyum kecut. Lagi-lagi selalu Kenzio, Kalandra sangat muak mendengar nama itu.

"Papa tidak berkata seperti itu. Jika kamu tidak ingin Papa sebut anak bodoh, tidak berguna, dan pembangkang. Maka, Papa ingin kamu bisa membuktikan, bahwa kamu bisa menjadi lebih baik daripada Kenzio. Lebih tepatnya agar Papa tidak membandingkan dirimu lagi. Kamu tahu alasan Papa kembali menyekolahkanmu?"

"Tahu. Demi masa depan," ketus Kalandra. "Pergilah waktu saya terbuang sia-sia."

Kalandra berlalu meninggalkan Bayu yang masih bergeming. Ia menutup kasar pintu kosan. Mendapat perlakuan tak mengenakan dari sang anak membuat Bayu memejamkan mata sekilas. Ia sudah kehilangan sosok Kalandra kecil yang selalu ceria dan banyak tingkah.

***

Kalandra kembali ke sekolah seperti biasa, tetapi kali ini sedikit berbeda. Bukan Kalandra yang selalu membuat onar, tetapi kini hanya sosok pemuda yang berusaha bersikap menjadi anak baik-baik.

Ia ingin melunasi hutang nilai kepada seluruh guru mata pelajaran di kelas. Kalandra juga sudah banyak tertinggal materi, ia tidak ingin menunda lagi. Mengingat ujian nasional sebentar lagi akan terlaksana.

Kalandra mengiyakan tantangan sang papa yang meminta ia membuktikan bahwa Kalandra juga bisa. Ia bukan anak bodoh dan tidak berguna. Muak rasanya diremehkan dan dianggap seperti itu oleh papa sendiri. Sekarang waktunya Kalandra menunjukan kepada sang papa, bahwa sang mama tidak sia-sia mendidiknya dan bisa mendapatkan prestasi di sekolah, minimal nilai ujian bagus.

Seluruh kelas dua belas mulai mengeluh mengenai tugas yang semakin hari, semakin menumpuk, tidak hanya tugas individu. Tugas kelompok dan praktik pun sama. Membuat otak para siswa/wi kelas dua belas ingin meledak. Bayangkan saja, tugas lama saja belum kelar dikerjakan. Kini para guru malah semakin menambahkan tugas.

Suasana kantin tampak ramai saat jam istirahat tiba. Tempat pelarian Kalandra untuk mengerjakan tugas sosiologi, ia ingin menebus nilai sosiologi yang kosong. Aktivitas kantin, tidak membuat Kalandra terganggu sama sekali. Ia begitu tenang mengerjakan tugasnya.

Sesuai ucapan Rio, pemuda itu memberi Kalandra laptop baru. Awalnya Kalandra menolak, tetapi Rio tetap bersikeras memaksa agar ia menerima laptop tersebut.  Dengan terpaksa Kalandra menerima laptop pemberian pemuda itu.

Keputusan dan niat ia sudah bulat. Bahwa ia akan membuktikan kepada sang papa jika ia juga bisa. Tidak hanya Kenzio saja yang mampu. Mengingat obrolan kemarin malam membuat Kalandra tersenyum kecut, sang papa belum bisa mempercayai Kalandra kembali. Dengan senang hati, ia akan mewujudkan bukti itu.

"Minum dulu, serius amat," ucap Nayla seraya menyodorkan air mineral kepada Kalandra. Tanpa meminta izin, Nayla mengambil duduk di samping Kalandra.

Kalandra terlalu fokus dengan layar monitornya smapai tidak mendengar Nayla. Ia terkelonjak kaget saat mendapati Nayla sudah duduk di sampingnya.

Senyum manis di bibir Nayla membuat Kalandra salah fokus. Takut akan dosa karena menatap lekat yang bukan mahramnya. Ia kembali memfokuskan diri menatap layar monitor, menyibukan diri membuat makalah sosiologi. Merasa diacuhkan, bibir Nayla mengerucut beberapa centi ke depan.

"Lo udah enggak apa-apa?" tanya Kalandra tanpa mengalihkan tatapannya dari layar monitor laptop.

"Kalo aku enggak baik-baik aja. Aku enggak akan ada di sini," ketus Nayla, memainkan air mineral yang ada di atas meja.

"O, jangan mainin air minum kayak gitu. Ntar airnya nggak enak," ujar Kalandra mengetahui gelagat Nayla. Tatapan Kalandra masih terfokus ke layar monitor laptop, enggan berkontak mata langsung dengan gadis itu.

Nayla melirik sekilas ke arah Kalandra yang masih sibuk dengan berbagai kertas dan layar monitor laptop. Rasa kesal merasuk dalam benak, niat hati ingin mengajak ngobrol berlama-lama dengan pemuda itu. Ia mendapat respon cuek.

"Mau aku bantu?" tawar Nayla seraya tersenyum semanis mungkin.

"Enggak. Lo anak Ipa, mana ngerti soal sosiologi," tolak Kalandra. Ia tidak ingin merepotkan Nayla. Lagi pula jurusan mereka berbeda.

"Yeh ... begini juga pernah belajar sosiologi waktu SMP," ucap Naya dengan rasa penuh percaya diri.

"Enggak nanya."

"Kan cuma bercerita," jelas Nayla merasa kesal.

Tatapan Kalandra tertuju ke arah Nayla yang sedang menopang dagu sembari melamun. Kalandra tidak tahu apa yang sedang dilamunkan oleh gadis itu.

"Jangan melamun, ntar kerasukan," ucap Kalandra memperingati.

Nayla menatap Kalandra penuh arti. Pertama kali, ia mendengar Kalandra berbicara banyak kepadanya. Rasa hangat menyelimuti benak, mendapatkan lampu hijau dari Kalandra demi bisa mendapatkan lentera pertemanan.

"Kenapa?" tanya Kalandra menyadarkan Nayla dari lamunannya.

"Enggak apa-apa, cuma bahagia aja. Pertama kali, sosok Kalandra yang dingin, ketus, dan datar, berbicara banyak," ungkap Nayla seraya menatap penuh arti.

Kalandra terdiam. Ucapan gadis itu ada benarnya, ia sudah banyak berbicara. Pertama kali berbicara sebanyak itu kepada seorang gadis lagi. Sungguh Kalandra tidak percaya kepada dirinya sendiri, kenapa bisa jadi seperti ini?

"Saran aku sih, kamu cocok jadi cerewet. Dibandingkan dengan wajah datar dan berbicara singkat," ucap Nayla membuyarkan lamunan Kalandra.

"Kenapa begitu?" tanya Kalandra memicingkan matanya menatap Nayla.

"Karena kalo kamu cerewet, kadar ketampananmu bertambah," kekeh Nayla sembari menahan malu. Ia yang mengatakan, ia juga yang merasa malu. Entah kenapa hanya kalimat itu yang sedang ada dalam benak Nayla.

Kalandra tak merespon, ia menatap lekat Nayla membuat yang ditatap merasa gugup. Suasana kantin yang ramai, tidak menganggu mereka yang sedang tatap-bertatap.

"Jangan liatin sampe segitunya, nanti naksir lagi," kata Nayla berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"Yang ada lo yang naksir duluan," balas Kalandra dengan tenang.

Pipi Nayla memanas mendengarnya. Jika boleh jujur, ia memang sudah naksir kepada Kalandra sejak pertemuan di pinggir jalan waktu itu. Akan tetapi, Nayla belum bisa memastikan betul perasaannya sendiri.

"Mau bermain tantangan?" tanya Nayla memecahkan keheningan yang sempat tercipta.

"Gue suka tantangan."

"Bagus, ini tantangan mudah dan membawa berkah buat kita---"

"Apa tantangannya?" potong Kalandra cepat.

"Tantangannya, siapa yang bisa meraih juara umum di semester nanti dan lulus dengan nilai terbaik. Maka dia pememangnya dan si pemenang harus memberitahukan sebuah rahasia masa lalu, entah masa lalu kelam ataupun bahagia. Bagaimana kamu bersedia?" Nayla sengaja memaparkan tantangan tersebut. Ia hanya ingin membantu Kalandra sembuh dari luka masa lalu.

Nayla bisa melihat kilat ambisi di balik manik mata hitam pekat itu saat mendengar kata tantangan, tetapi kilat ambisi itu meredup saat mendengar bahwa si pemenang harus menceritakan masa lalunya. Nayla tahu jika Kalandra memiliki niat untuk berubah. Namun, pemuda itu belum bisa melepas masa lalu kelamnya.

"Masa lalu biarlah berlalu, nggak perlu diungkit. Apa lagi diceritakan lagi," ucap Kalandra dengan nada dingin. Tangannya mengepal kuat, mendengar maksud dari tantangan itu.

"Justru itu, Kalan. Aku pengen liat kamu hidup tanpa bayang-bayang masa lalu." Nayla bersikeras menjelaskan maksud dari tantangan itu.

"Kenapa harus masa lalu?" tanya Kalandra seraya menatap kembali Nayla dengan sorot mata datar. 

"Karena masa lalu, kita tidak bisa memulai kehidupan baru. Rasa sakit yang didapat dari masa lalu dan hanya dipendam sendiri akan membuat sesak saja. Bahkan, membuat kita terlalu larut dalam masa lalu itu. Nah, walaupun kita masih dibayangi oleh masa lalu, maka dari itu kita mesti melawannya. Kita bisa melawannya bersama, kamu hanya butuh teman cerita." Nayla menatap dalam netra hitam pekat milik Kalandra.

Satu hal yang Nayla temukan dalam manik mata hitam pekat itu ialah keteduhan. Begitu meneduhkan, tetapi keteduhan itu tertutupi oleh kemisteriusan dan sorot mata dingin.

"Gue enggak perlu temen buat berbagi cerita masa lalu gue!"

Nayla tersentak, ia mengembuskan napas pelan. "Aku tahu, enggak semua orang bisa dipercaya. Akan tetapi, kamu boleh percaya sama aku."

"Aku juga memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan, bahkan sampai ingin mengakhiri hidup. Akan tetapi, setelah bercerita kepada Mama. Rasa kerapuhan, rasa ingin mati, sirna begitu saja. Setelah mendengar kata-kata motivasi dan nasehat dari Mama," lanjut Nayla.

"Masa lalu kita beda, enggak ada yang sama!" sentak Kalandra, tatapan Kalandra kembali tertuju ke arah layar monitor.

Nayla tersenyum tipis, ia sudah menduga bahwa Kalandra masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Tidak hanya pemuda itu saja yang hidup dengan bayang-bayang masa lalu, Nayla juga sama. Bahkan, masa lalu yang sempat ia kubur mati-matian. Kembali menghantui saat mantan kekasihnya berusaha melecehkan. Ujian Allah belum berakhir, ini cobaan lagi dari Allah untuk Nayla. Tetap bertawakal, berikhtiar, dan beribadah kepada Allah. Maka masa lalu dan bayangan penuh dengan rasa sesak itu sirna perlahan. Tips cara Nayla hidup tanpa rasa takut akan masa lalu.

"Gue udah kasih lo lentera temen, bukan berarti lo seenaknya mau ngorek informasi tentang masa lalu gue!" tukas Kalandra. Nada bicara Kalandra terdengar dingin di indra pendengar Nayla.

Rahang milik pemuda itu mengeras, ia mencoba menahan gejolak amarah dalam benak. Kalandra tahu, orang lain hanya ingin tahu ceritanya saja. Tanpa ingin membantu.

Nayla tersenyum penuh arti. Jadi, Kalandra sudah menganggap ia sebagai teman? Dan memberi lentera teman untuk Nayla? Sungguh Nayla merasa bahagia untuk itu. 

"Terserah padamu, lain kali aku akan ceritakan bagaimana masa laluku. Jadi, bagaimana apa kamu menerima tantangan itu?" tanya Nayla mengalihkan pembicaraan. Ia berharap Kalandra mau menerimanya.

"Gue pikirkan dulu, lo bisa pergi!"

Merasa terusir dan suasana hati Kalandra sedang tidak baik. Nayla memilih berlalu ke kelas tanpa mengucapkan satu kata pun, ia takut jika pemuda itu akan marah lagi. Sepeninggalan Nayla, Kalandra menimang sekaligus mencerna setiap kalimat tersebut.

"Gue bukan hidup dalam bayang-bayang masa lalu, cuma gue lagi berusaha nutupin kerapuhan dan rasa sakit atas masa lalu itu, Nay," gumam Kalandra.

Tbc:
Menerima krisar.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro