Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

WHAT'S WRONG WITH MR. JEON?

"Sayang, ayo bangun." Aku mengguncang pelan tubuh priaku ketika masih mendapatinya terlelap, padahal jarum jam telah menunjuk pukul tujuh. "Ya! Kau harus ke kantor. Ini hari Senin lho."

Alih-alih bangun, Jungkook malah memutar tubuhnya memunggungiku. Satu tangannya meraba-raba selimut. Begitu menemukan ujungnya, dia menarik lembaran kain tebal berwarna cokelat itu hingga menutupi tubuh bagian atasnya yang polos. "Aku masih mau tidur, Junmi."

Aku mendengkus. Mungkin dia masih lelah lantaran semalam baru tiba dari penerbangan Singapura-Korea. "Ya sudah. Sepuluh menit lagi bangun, ya."

Aku lantas meninggalkan kamar, kemudian bergerak ke dapur untuk memastikan anak-anak sedang menyantap sarapan mereka. "Jungwoo, sarapan dulu. Nanti saja mainnya." Aku menyambar dua mainan plastik yang berada di tangan anak bungsuku.

"Eomma, Appa belum bangun?" tanya Jungwoo menyadari aku bergabung di meja makan tanpa ayahnya, padahal tadi aku bilang ingin membangunkan si Tuan Jeon itu.

Seraya mengolesi lembaran rotiku dengan selain cokelat, aku menyahut, "Appa masih lelah. Mungkin akan terlambat pergi ke kantor."

"Heee? Terus aku berangkat sama Nuna lagi?"

"Memangnya kenapa kalau berangkat denganku, hah?" Taya bersuara dengan nada yang membuat adik bungsunya memanyunkan bibir. Menurut pengakuan Jungwoo, kakak perempuannya ini suka mengomel setiap kali memboncengnya ke sekolah. Hah! Aku sungguh tidak mengerti, Taya ini kenapa senang sekali mengomel? Turunan dari siapa coba?

"Iya. Jungwoo berangkat dengan Nuna. Nuna, jangan omeli adik Jungwoo, oke?"

"Siapa yang mengomel? Aku tidak mengomelinya."

"Cih! Dasar nenek sihir tukang bohong," celetuk Jeongsan.

Lalu, keributan di meja sarapan kembali terjadi untuk kesekian kalinya. Hah! Anak-anak ini.

***

Setelah anak-anak berangkat, aku masuk ke rumah. Dering ponsel Jungkook membuatku melangkah menuju kamar. Priaku masih terlelap di atas tempat tidurnya. Entah benar-benar tidak mendengar suara teleponnya atau pura-pura tidak dengar. Deringnya berhenti sejenak saat aku tiba di kamar, kemudian berdering lagi sedetik berikutnya. Nama "Bona" tertera di layar saat kutengok layar ponselnya.

"Sayang, sekretarismu menelepon." Aku membangunkan priaku lagi.

Jungkook menggeliat, mengerang. Bukannya bangun dan mengambil ponsel yang kuletakkan di dekat telinganya, dia malah memeluk pinggangku.

"Ya! Ayo, bangun, Sayang. Ini sudah setengah delapan. Kau harus berangkat ke kantor," ujarku seraya melepaskan tangannya. Lalu, ponselnya berdering lagi. Masih dari Bona. "Tuh! Sekretarismu menelepon. Cepat bangun."

Priaku mengambil posisi duduk. Kupikir dia akan meninggalkan tempat tidur. Namun, dia malah menyandarkan kepalanya pada pundakku, sedangkan kedua tangannya melingkar pada pinggangku. Aish!

"Ya! Bona menelepon!" Aku sedikit membentak.

Setengah sadar, dia berucap, "Bilang padanya, aku sedang tidak ingin masuk kantor."

Ha?

"Ya! Mana bisa begitu? Kau lelah atau kenapa?"

Jungkook tidak merespons. Malah keasyikan terlelap di pundakku. Sementara itu, ponselnya terus berdering, mendesak untuk dijawab. Tidak punya pilihan, terpaksa aku yang menjawab panggilan dari Bona.

"Maaf ya, Bona, hari Jungkook tidak bisa masuk. Dia...." Aku sengaja menggerakkan pundak tempat priaku menyandarkan kepalanya. Dia terbangun, menatapku penuh tanya. Jadi sengaja kuperdengarkan lagi pertanyaanku pada sekretarisnya, "Jungkook tidak masuk hari ini karena...?"

"Bilang kalau aku sakit," bisik Jungkook.

Kujauhkan ponsel dari mulutku agar gadis di seberang tidak mendengar apa yang hendak kukatakan pada bosnya. "Kau sakit apa?" tanyaku, segera menyentuh dahi dan pipinya. Suhunya normal-normal saja.

"Sudah... bilang saja kalau aku sakit." Jungkook berkata demikian tanpa menyingkirkan kepalanya dari pundakku.

Kuputar kedua bola mataku, kemudian merapatkan kembali ponselnya pada telingaku. "Maaf ya, Bona, Jungkook sedang kurang enak badan. Kenapa? Ada sesuatu yang penting?"

Tidak lama, Bona mengatakan bahwa dia ingin memastikan bosnya tersebut masuk kantor hari ini atau tidak. Ada beberapa dokumen penting yang harus Jungkook tandatangani segera. Namun Jeon Manajernim saat ini malah membuat pekerjaannya semakin sulit. Gadis itu berkata dia akan mengirimkan dokumen-dokumen penting tersebut ke rumah melalui sopir perusahaan.

"Ya! Lekas bangun. Kau harus menandatangani dokumen yang dikirim Bona."

Jungkook benar-benar menguji kesabaranku pagi ini. Alih-alih mengindahkan perkataanku, dia malah berbaring. Bagus jika dia berbaring sendiri, tapi tangannya yang melingkar di pinggangku membuat tubuhku turut berbaring juga. Lebih dari itu, dia mengunci pahaku dengan tungkainya, lengannya melintang di atas dadaku, lengkap dengan wajahnya yang dengan amat sengaja di dekatkan pada ceruk leherku.

"Ya! Kau ini apa-apaan sih? Lepaskan. Aku harus menjemur cucian."

"Sekarang cucian lebih penting daripada suamimu?" Dia malah semakin mempererat pelukannya.

"Bukan begitu."

"Kalau begitu temani aku berbaring. Biarkan aku memelukmu sampai sopir perusahaan datang."

"Tapi, Jeon—"

"Kau mau membiarkanku memeluk guling lagi setelah seminggu aku memeluk guling di kamar hotel di Singapura. Tega sekali."

Rahangku seakan jatuh mendengar alasan konyolnya.Hah! Tuan Jeon yang sedang manja seringkali membuatku kesal. Untung sayang.

***

Setelah mengagetkanku dengan sikap manjanya, Tuan Jeon membuatku terkejut lagi karena pagi ini dia jadi rajin sekali membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah. Dia memintaku untuk bersantai, menonton acara gosip, drama atau apalah terserah. Lantas dia yang mengambil alih pekerjaan menjemur pakaian dan mencuci piring bekas sarapan.

Apa kepalanya terbentur sesuatu saat berada di Singapura?

Aku bisa mencium aroma sampo dan sabun cair yang masih menempel pada tubuhku yang dihiasi oleh titik-titik air saat keluar dari kamar mandi. Mandi di bawah pukul sembilan, itu hal yang sangat jarang terjadi sejak aku memiliki anak—mandi setelah bercinta tidak dihitung.

"Ya! Kenapa tidak menungguku?" Aku terkesiap oleh suara berat itu. Kutemukan Jungkook duduk di tepi tempat tidur.

"Kau kan sibuk menandatangani dokumen," responsku. "Sopirmu mana? Sudah pulang?"

"Iya," katanya. "Sini, biar kubantu menyeka rambutmu." Dia menepuk sisi kosong yang baru saja ia ciptakan di antara kedua pahanya setelah ia menggeser posisi duduknya ke belakang.

"Kau aneh hari ini." Aku mengucapkan itu tanpa basa-basi saat aku duduk di antara kedua pahanya. Menikmati seka lembutnya pada rambutku.

"Aneh bagaimana?"

"Pura-pura sakit sampai tidak masuk kantor dan malah membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Kau jadi baik sekali hari ini. Ada apa?"

Aku mendengar kekehannya di dekat telinga kananku. "Memangnya salah kalau aku ingin membantumu?"

"Tidak salah. Tapi kau membuatku berpikir yang aneh-aneh."

"Maksudmu?" Dia menghentikan kegiatannya, lalu menyandarkan dagunya pada pundakku. Aku menoleh padanya sehingga wajah kami nyaris bertemu.

"Mungkin saja kau selingkuh di Singapura. Lalu kau merasa bersalah. Lantas kau melakukan ini untuk mengurangi rasa bersalah yang kau rasakan." Bisa saja seperti itu, kan? Aku pernah membaca salah satu artikel di internet bahwa laki-laki terkadang berperilaku sangat baik setelah diam-diam melakukan kesalahan besar terhadap pasangannya.

Alih-alih pembelaan diri, yang kudengar malah tawa yang menggelegar. "Besok-besok, kau jadi pembuat skenario drama saja. Imajinasimu keterlaluan sekali."

Aku memiringkan tubuh agar wajah kami berhadapan. "Lalu apa? Kau tidak mungkin tiba-tiba baik seperti ini, kan?"

Hela napasnya terasa samar-samar diujung hidungku. Sepasang manik hitam miliknya memerangkap atensiku dalam sekejap. Sorotnya seakan menyampaikan sesuatu, pun gurat yang terlukis pada wajahnya. Sayang, untuk kali ini, aku tidak mengerti.

"Aku bertemu dengan seorang kakek di Singapura. Dia menginap di hotel yang sama denganku," katanya.

"Dan?"

Priaku pun menceritakan perihal kakek yang ia temui. Kakek itu dulunya bekerja di sebuah perusahaan di Singapura. Dia memiliki seorang istri, tapi tidak memiliki seorang anak. Awalnya, kehidupan kakek dan istrinya baik-baik saja. Namun setelah kakek naik jabatan menjadi seorang manajer di perusahaan, hubungannya dengan sang istri pelan-pelan merenggang lantaran sang kakek selalu sibuk. Dia menghabiskan banyak waktunya untuk kerja, kerja, dan kerja.

Suatu hari dia dan istrinya bertengkar. Kakek tidak mengerti mengapa istrinya meminta berpisah. Padahal, kakek bekerja keras, banting tulang, sepanjang waktu berada di kantor demi mencari uang untuk membahagiakan istrinya. Untuk membelikan apapun yang istrinya inginkan. Lantas, istri sang kakek mengatakan alasannya meminta berpisah.

"Apa?" Sejak tadi aku tenggelam dalam ceritanya.

Priaku mengembuskan napas perlahan. Tatapannya yang berangsur-angsur sendu membuatku penasaran. "Karena sang kakek tidak pernah berada di sisi istrinya. Kakek terus bekerja di kantor, ke luar negeri, ke mana pun. Tapi dia jarang sekali menghabiskan waktu bersama istrinya."

Aku bisa mengerti perasaan istri sang kakek. Aku sering merasakannya, terutama saat Jungkook ke luar negeri. Uang, perhiasan, barang-barang mewah, aku tidak memungkiri, aku akan bahagia jika mendapatkan itu. Namun apa gunanya memiliki itu semua ketika aku merasa sendiri, tidak dilindungi, tidak punya sandaran, juga tidak punya telinga untuk mendengar keluh-kesahku? Seperti istri sang kakek, aku butuh waktu yang lebih banyak dengan suamiku.

Tapi, aku masih belum bisa menangkap hubungan sikap baik Jungkook dengan sikap sang kakek.

"Bulan depan, kita liburan, ya. Berdua," katanya tiba-tiba.

"Hanya berdua?"

"Kau tidak perlu mencemaskan anak-anak," katanya seakan tahu apa yang berada di benakku. "Aku akan bicara pada Ara Nuna atau Kyuhyun Hyung. Bagaimana? Mau kan?" Matanya memandangku penuh harap.

Aku menghela napas, kemudian mengangguk pelan. "Selama kamu yang mau menyiapkan semuanya, aku tinggal berangkat, baiklah."

Kedua lengannya tahu-tahu melingkari tubuhku—yang baru aku sadari, sejak tadi aku hanya handukan. "Kau tenang saja. Aku akan membuatmu merasakan kembali yang namanya bulan madu."

Well.

=THE END

A/n: buat yang selalu nagih scene2 romantis Papa Jeon dan Mama Junmi, itu yaaa. Next masih ada lagi kok.

Btw, untuk part selanjutnya update tanggal 10 Desember. Yang udah baca dari awal, pasti udah tahu ada apa pada tanggal 10 Desember.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro