SEXIEST MAN
"Apa yang kamu lihat?" Jungkook menghampiriku yang tengah duduk santai di sofa sambil memangku sebuah majalah. Gambar beberapa pria muda terpampang pada halaman yang terbuka.
"Tidak apa-apa," jawabku, hendak membalik halaman, tetapi pergerakanku ditahan oleh suamiku. Aku terkejut saat Jungkook mengambil majalah itu dari pangkuanku.
"Sexiest Men in The World 2018," bacanya. "Woah! Sekarang kamu jadi tante-tante yang doyan melihat keseksian pria muda, hah?"
Astaga!
Aku merebut majalah itu dari tangannya, menggulung majalah itu sampai membentuk silinder dan menghantamkannya ke lengan Jungkook. Dia mengaduh kesakitan. "Ya! Aku cuma melihat karena ini ada di majalah. Cuma kebetulan. Kenapa kamu mengataiku seperti itu?" tuturku tidak terima. Apa-apaan sih dia? Sama pria muda di majalah saja cemburu.
"Kebetulan apanya? Jelas-jelas kamu melihat-lihat pria-pria muda di majalah itu dengan saksama. Astaga! Padahal suamimu ini jelas-jelas pernah mendapat penghargaan pria terseksi versi majalah kampus."
Perkataan suamiku barusan berhasil mencungkil ingatanku. Aku masih ingat sedikit hari yang sangat membanggakan bagi seorang Jeon Jungkook—pria yang selalu mengaku bahwa dirinya tampan, keren, dan seksi. Hari ketika majalah kampus mengumumkan hasil voting tidak penting—voting pria paling seksi di kampus.
***
Aku baru tiba di fakultas ketika beberapa mahasiswi melirikku setelah membaca majalah kampus di tangan mereka. Aku berusaha mengabaikan tatapan-tatapan mereka, terus berjalan menuju ruang dosen. Hari ini aku harus bimbingan lagi.
Setelah keluar dari ruangan dosen, beberapa junior yang berdiri di depan kelas menyebut-nyebut nama Jungkook, majalah, dan seksi. Sepanjang menyusuri selasar, aku berusaha menebak-nebak apa hubungan tiga kata itu. Kenapa pacarku harus dikaitkan dengan kata "majalah" dan "seksi"? Apa dia....
Ponselku tahu-tahu berdering. Nama Jungkook tertera di layar. Baiklah. Mungkin dia akan menjelaskan apa hubungan antara namanya, "majalah" dan "seksi". Benar saja! Begitu kujawab panggilannya, dengan penuh semangat, dia berkata, "Junmi-ya, kau sudah mendengar kabar terbaru? Aku dapat penghargaan jadi pria paling seksi di kampus."
Tawanya membahana. Dia terdengar senang sekali mendapatkan penghargaan itu. Pria paling seksi di kampus. Ya, memang seharusnya dia senang. Dia kan selalu menyebut dirinya sebagai laki-laki tampan, keren, dan seksi.
"Oh begitu? Selamat, ya."
"Ya! Kenapa nada suaramu aneh begitu? Kau sakit?"
Bukan sakit, aku hanya kurang senang. Maksudku, aku senang karena Jungkook senang. Namun senang karena dia mendapatkan penghargaan seperti itu membuatku merasa—bagaimana mengatakan ini? Takut? Ya, sepertinya itu.
Aku tidak mau gadis-gadis lain tahu siapa Jungkook, seberapa tampan dan seksinya dia, dan lainnya. Aku tidak mau gadis-gadis lain mendekatinya, menarik perhatiannya, dan—ya, sesuatu terjadi pada hubungan kami yang baru sebentar.
Sejak awal mendengar namanya menjadi nominasi laki-laki paling seksi di kampus, aku ingin melayangkan protes. Paling tidak, protes pada Jungkook lantaran dia tampak baik-baik saja menjadi nominasi laki-laki paling seksi. Namun hal itu tidak pernah terjadi karena aku enggan menjelma menjadi gadis posesif meski kenyataannya seperti itu.
Sekarang... yang kutakutkan terjadi. Dia menjadi pemenang dan seluruh gadis di kampus semakin membicarakannya. Mungkin tidak lama lagi, dia akan menjadi bagian dari fantasi liar gadis-gadis di kampus ini. Oke, itu mengerikan.
"Junmi-ya, kenapa diam saja? Kau tidak senang?" Suara Jungkook membuyarkan lamunanku.
"Aku senang kalau kau senang." Sial! Aku tidak bisa benar-benar terdengar senang karena nada datarlah yang keluar dari mulutku.
"Baguslah kalau begitu."
Dia terdengar lega. Dia tidak peka, ya?
"Mm."
"Ya sudah. Aku cuma ingin memberi tahu itu. Bye."
Dia memutuskan panggilan begitu saja. Dia benar-benar hanya ingin bilang padaku bahwa dirinya adalah pria paling seksi seantero kampus. Seandainya dia tahu kalau penghargaan itu malah membuatku tidak nyaman. Apa tidak cukup kalau hanya aku saja yang bilang dia seksi? Kenapa harus butuh pengakuan dari sebagian besar gadis-gadis di kampus?
***
"Ada apa? Kenapa Appa dan Eomma ribut?" Taya yang baru turun dari lantai dua menghampiri kami.
"Kau tahu, Sayang, Eomma-mu sedang melihat-lihat pria muda paling seksi di majalah. Padahal Appa juga tidak kalah seksi dengan pria-pria itu saat muda."
Aku menatap Jungkook tidak percaya. "Kau mengadu seperti itu pada putrimu? Astaga!"
Taya duduk di lengan sofa tempat ayahnya duduk. "Wah! Itu penghinaan untuk Appa. Iya kan, Appa?" Tumben mereka akur.
"Tuh, kan? Nuna saja tahu."
Aku memutar bola mataku. "Terserah kalian saja," ujarku acuh tak acuh.
Baru beberapa langkah aku meninggalkan sofa, Taya berteriak, "Eomma! Eomma halangan?"
Sejenak terkejut, aku segera menengok ke sisi belakang tubuhku. Ada noda kemerahan di sana.
"Tunggu! Tunggu!" Kali ini Jungkook berseru lagi. "Jadi yang di Venesia itu gagal?"
Oh! Yang dia maksud pasti soal "berkebun". "Sepertinya begitu. Gagal panen." Aku tertawa kecil.
Tidak lama Taya menimpali, "Dan itu juga penghinaan untuk Appa, bukan? Appa tidak bisa bikin Eomma hamil lagi. Yes!" Tawa gadisku membahana.
Priaku menghela napas pasrah. "Terserah kalian saja."
=THE END
Gaje ceritanya hehehe. Maafkan. Ini kutulis tadi sore, sekali duduk, dan editan minim.
Btw, mau syer info lagi nih. Buat yang ngga punya acara pada 26-28 Desember nanti, gabung acara ini yuk
Registrasinya diperpanjang sampai 25 Desember. Selain belajar kepenulisan bareng Kak Jysa (penulis novel Sync), bakal ada games juga lho. Kalian juga bisa ngobrol2 bareng K-popers lainnya. Minat gabung? Cek OA Line (at)ezr0684a atau cek wall-ku saja.
Satu lagi, chapter JFS selanjutnya dipublis pada Januari 2019. Sampai jumpa tahun depan *berasa lama. Semoga tahun baru kalian menyenangkan. 😘
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro