NUNA, ARE YOU OKAY?
Sore yang damai. Hanya ada aku di rumah bersama bunga-bunga yang sedang kusirami. Jungkook, Jeongsan, dan Jungwoo pergi ke game center. Biasa, anak laki-laki. Sementara itu, Taya sekitar setengah jam yang lalu pamit ingin ke mal bersama Chari. Sore yang sepi dan sunyi seperti ini nyaris tidak pernah kudapatkan lagi sejak resmi menjadi seorang ibu. Terlebih saat aku menjadi ibu dari tiga orang anak. Sore hari biasanya akan menjadi waktu yang superberisik sebab ketiga anakku berada di rumah. Apalagi ditambah ayah mereka. Ah, sudahlah. Yang jelas, kali ini aku mendapatkan suasana sore yang begitu kurindukan.
Deru kendaraan mengalihkan perhatianku. Motor merah muda yang dikendarai seorang gadis berjaket abu-abu memasuki halaman. Taya memarkir kendaraannya di depan pintu garasi, kemudian melangkah lebar menuju rumah. Helm merah muda yang melindungi kepalanya masih terpasang. Bahkan kacanya masih menutupi wajah.
"Taya?" Aku sengaja bersuara untuk memastikan manusia berjaket abu-abu yang hendak memasuki rumah adalah putriku, bukan orang lain yang sedang menyamar. Tidak ada sahutan yang kudapat membuatku meletakkan penyiram tanaman begitu saja di teras. Segera kususul dia ke dalam rumah.
"Jeon Taya, di kulkas ada puding," kataku, memberi tahu sekaligus mengetes.
"Nanti saja, Eomma," respons sosok yang tengah menapaki anak-anak tangga. Kuhela napas lega sebab suara yang terdengar memang suara putriku. Hanya... suara itu kedengaran serak.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku lagi, sedikit berteriak sebab gadisku sudah berada di ujung tangga.
Kepala yang masih dibungkus helm itu menggeleng.
Apa benar dia tidak apa-apa?
***
"Ya! Tembak! Mati kau, Jungwoo!"
"Hyung yang mati. Dor! Dor! Dor!"
Soreku yang damai kini resmi digantikan oleh suasana makan malam yang sangat berisik. Lantaran tadi mendapatkan banyak tiket hasil memenangkan game, Jeongsan dan Jungwoo membawa pulang pistol mainan yang mengeluarkan bunyi super berisik. Dan sekarang, mereka berdua malah bermain tembak-tembakan di antara orang-orang yang menyantap makanan. Biasanya, Taya akan menegur mereka sampai diam—sungguh! Aku nyaris tidak pernah menegur dua bocah laki-lakiku saat mereka ribut lantaran Taya akan senang hati melakukan hal itu. Namun malam ini, tidak ada teguran. Bahkan Jungkook seolah tidak mau repot menegur anak-anaknya, terlampau lahap menikmati supnya di sana. Ck!
"Jeongsan, Jungwoo, jangan berisik!" Kupandangi mereka berdua bergantian.
"Iya, Eomma." Hanya Jeongsan yang bersuara. Jungwoo yang duduk di sampingku lagsung menyantap makanannya tanpa berkata apa pun.
Aku mendengkus. Baru saja ingin lanjut makan, suara kursi yang didorong terdengar. Refleks membuat pandanganku bergeser ke asal suara.
"Aku sudah selesai." Aku tidak mendengar adanya kesenangan dalam nada suara Taya barusan. Nasinya di mangkuknya masih tersisa. Bahkan dia benar-benar tidak menyentuh sup ayam meskipun tadi aku sudah berkali-kali menawarkannya.
"Dia kenapa? Kok dari tadi diam terus?" tanya Jungkook. Dia malah lebih menyadari putrinya yang bersuara, alih-alih kedua putranya yang mulai berisik lagi dengan pistol mainan menyebalkan mereka itu.
Aku mengedikkan bahu. "Dari tadi sore dia begitu. Kau lihat matanya? Agak bengkak. Dia mungkin habis menangis."
"Menangis? Kenapa? Dia tidak cerita sesuatu padamu?"
Aku menggeleng.
Suamiku tersenyum datar. "Mungkin dia habis ulangan atau kuis dan nilainya turun dari ulangan atau kuis sebelumnya."
Aku tidak begitu yakin dengan pendapat Jungkook. Pagi tadi, dia baik-baik saja. Kalau memang karena nilainya yang buruk, seharusnya dari semalam dia murung. Namun, aku iyakan saja perkataan ayahnya. Aku tidak punya dugaan apa pun yang membuatnya suasana hati Taya buruk selain nilai yang turun.
***
"Kau mau ke mana?" Jungkook menahan tubuhku saat aku hendak menyingkirkan tangan kekarnya yang melingkari perutku sejak kami terlelap.
"Aku haus. Mau minum."
Jungkook menyingkirkan tangannya. Aku segera duduk di tepi tempat tidur, menyelipkan kakiku ke dalam sandal. Sejenak aku menengok ke belakang. Suamiku berbalik memunggungiku sambil memeluk guling.
Aku berjalan melintasi kamar yang minim penerangan. Aku sengaja tidak menyalakan lampu agar tidur suamiku tidak terganggu. Aku segera keluar dari kamar. Namun aku dikejutkan oleh keberadaan Taya di ruang keluarga.
"Sayang, kenapa tidak tidur?" tanyaku. Kualihkan pandanganku ke arah jam dinding. "Ini sudah jam satu malam lho. Tidak biasanya kamu begadang nonton televisi."
"Belum mengantuk, Eomma."
Astaga!
Aku memandangi gadisku, kemudian beranjak ke dapur untuk melepaskan dahagaku. Tidak lama, aku kembali dengan segelas susu cokelat hangat yang sengaja kubuatkan untuknya. Aku duduk di sampingnya, lalu bertanya, "Nonton apa?"
Itu hanya sebuah pertanyaan basa-basi. Sejujurnya, aku penasaran, apa yang terjadi padanya. Sepasang matanya itu tampak bengkak. Dia habis menangis. Aku yakin itu. Tapi masa sih karena nilainya yang kurang.
"Film," sahutnya datar. Gadisku sepertinya enggan menjelaskan film jenis apa yang sedang tayang di televisi.
"Apa kau ada masalah dengan Chaeri, hm?" tebakku.
Taya menengok cepat. Kedua matanya membola. Sedetik kemudian, dia menggeleng. "Aku dan Chaeri baik-baik saja, Eomma."
"Lalu, apa yang terjadi? Eomma lihat kamu tampak mengalami sesuatu yang... buruk. Apa nilaimu turun atau...?"
Gadisku menghela napas panjang. Kedua pundaknya melemas. Pandangannya matanya mengarah ke bawah, enggan menatapku. Jika mengeluarkan bahasa tubuh seperti ini, sudah bisa kupastikan memang ada yang menghuni pikirannya.
"Jisung Sunbae."
Well...
"Dia kenapa?"
Gadisku menarik bantal yang ada di sisinya, lantas menyandarkan punggung sempitnya. Matanya mengarah ke televisi seiring hela napas berat meluncur dari mulutnya.
"Dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?"
"Taya tidak tahu, Eomma." Kerutan perlahan lahir di dahiku. "Taya bingung."
"Bingung?" Kuubah posisi dudukku menghadapnya, bersiap menyimak sesuatu yang hendak dituturkannya.
Gadisku bilang, sore tadi dia dan Chaeri jalan-jalan ke mal. Kemudian, dia tidak sengaja melihat Jisung dengan perempuan yang tidak dikenalinya. Perempuan itu cantik, katanya. Dan Jisung tampak sangat akrab dengan perempuan itu. Setahu Taya, Jisung punya seorang adik laki-laki, jadi jelas perempauan itu bukan saudaranya. Aku sempat mengajaknya berpikir positif, mungkin perempuan itu sepupu Jisung. Namun gadisku segera menyergah. Dia bilang, sepupu Jisung tidak ada yang tinggal di Seoul. Ya, Taya-ku tahu tentang Jisung sampai sejauh itu.
Gadisku mengaku bahwa dia agak kesal melihat Jisung jalan dengan perempuan yang tidak dikenalnya. Namun, dia merasa tidak berhak untuk kesal. Toh! Selama ini, hubungannya dengan Jisung tidak lebih dari hubungan senior dengan juniornya. Atau ya... katakanlah teman dekat. Tapi bukan pacar! Sangat jelas bukan sebab ayah gadisku melarang.
"Taya... sebenarnya menganggap Jisung Sunbae itu apa, sih? Hanya senior, kan?" tanyaku begitu dia diam, tanda ceritanya selesai.
"Taya mengagumi Jisung Sunbae karena dia cerdas. Dia juga sangat baik. Memang sih waktu SMP, dia pernah mengirim surat cinta untuk Taya, tapi Eomma kan tahu sendiri, Taya hanya menganggapnya sebagai senior."
"Benar-benar hanya sebagai senior?"Aku menatap gadisku lamat-lamat.
"Entahlah." Dia mengedikkan bahunya. "Mungkin... teman dekat?" Ada kebingungan yang terselip dalam nada bicaranya.
Aku mengulum senyum. Merasa geli sendiri melihat tingkah gadisku. Ah, dia benar-benar sudah besar sekarang. "Kamu cemburu pada perempuan yang bersama Jisung?"
"Apa?" Taya membeliak. "Mustahil, Eomma. Taya dan Jisung Sunbae bukan pasangan kekasih. Taya dan Jisung Sunbae hanya berteman, tidak lebih. Eomma tahu Appa selalu—"
Kuletakkan jari telunjukku di depan mulut. "Pertanyaan Eomma sederhana Jeon Taya, apa kamu cemburu pada perempuan yang bersama Jisung?"
Kulihat gadisku menggigit bibirnya. Detik demi detik berlalu dalam rasa penasaran yang sejatinya membuatku hendak mendesak Taya untuk menjawab. Tapi, tidak! Gadisku... pasti sedang memikirkan jawaban terbaik yang... Ah. Aku melihat sebuah anggukan.
"Taya... sebenarnya suka sama Jisung Sunbae? Maksud Eomma, menyukainya lebih dari sekadar seorang senior yang cerdas, baik, dan dekat dengan Taya sejak dulu?"
Dan sebuah anggukan muncul lagi.
"Berarti memang Taya cemburu," kataku menyimpulkan. "Taya sepertinya bukan sekadar suka lagi pada Jisung Sunbae. Menurut Eomma, Taya... jatuh cinta pada Jisung Sunbae."
"Yang benar saja, Eomma?" Sifat degil gadisku rupanya masih bertahan.
"Kalau tidak begitu, Taya pasti akan biasa saja melihat Jisung dengan teman perempuannya."
Tahu-tahu gadisku menunduk.
"Kenapa, Sayang?"
Dia kembali menegakkan lehernya. Matanya menatapku dalam-dalam seolah berharap aku mampu memberinya jalan keluar. "Lalu, Taya harus bagaimana, Eomma?" Dan pertanyaannya barusan mempertegas semuanya.
"Kamu harus mengendalikannya, mengerti? Untuk saat ini, masih ada banyak hal yang harus kamu utamakan. Sekolah, belajar, meraih cita-cita. Eomma tidak akan melarangmu jatuh cinta pada Jisung. Tapi, seperti yang selalu Appa bilang, tidak ada hubungan yang lebih dari teman sebelum sekolahmu selesai. Perempuan cerdas tahu kapan harus memperjuangkan cita-citanya, dan kapan harus memperjuangkan cintanya. Mengerti?"
"Mengerti, Eomma."
Aku mengelus pipinya. Di satu sisi, aku senang mengetahui gadisku sudah benar-benar dewasa. Dia sedang merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di sisi lain, aku juga mengkhawatirkan keadaannya. Bagaimanapun, jatuh cinta untuk pertama kali pasti akan sedikit sulit untuk dikendalikan. Namun aku tetap berharap gadisku mengerti apa yang barusan kusampaikan padanya.
***
"Kenapa kau lama sekali?" Aku baru saja berbaring dan Jungkook tahu-tahu melingkarkan lengannya lagi pada pinggangku.
"Mengobrol dengan Nuna."
"Ha? Memangnya tadi Nuna belum tidur?" Nada suara setengah sadarnya sontak berubah terkejut. "Tumben. Ada apa? Apa ada hubungannya dengan nilainya yang turun?"
"Ini bukan tentang nilainya yang turun, Jeon-a. Sudahlah. Aku mengantuk. Mau tidur."
"Kalau begitu, tentang apa? Ya! Sayang, jangan tidur dulu." Jungkook mengguncang pundakku. "Katakan padaku, apa yang terjadi pada Nuna."
"Kalau kukatakan, nanti kau malah tidak bisa tidur," aku menyahut seraya menyingkirkan tangannya dari pundakku.
"Aku malah tidak bisa tidur kalau kau membuatku penasaran seperti ini. Ya! Ayolah, bangun sebentar dan ceritakan," desak suamiku. Kali ini dia menekan-nekan pipiku dengan jari telunjuknya. Sungguh! Dia tidak akan membiarkanku tidur kalau aku tidak bercerita.
Aku lantas berbalik menghadapnya. Pandangan kam bertemu.
"Jadi, Nuna kenapa?"
"Sebelum kuceritakan padamu, kau harus berjanji padaku, tidak akan menggangguku setelah ini. Aku mau tidur."
"Oke," responsnya ringan. "Jadi, apa?"
"Nuna cemburu melihat kakak kelasnya itu jalan dengan perempuan lain tadi sore."
"Tunggu! Untuk apa cemburu? Bukankah Nuna selalu bilang dia dan Jisung hanya teman. Tidak perlu ada rasa cemburu, bukan?"
Aku mendengkus pelan. "Ya, itu karena Nuna sebenarnya sudah jatuh cinta pada Jisung." Aku menunggu reaksinya. Tidak ada kata-kata yang terucap. "Kau baik-baik saja, Sayang?" Tidak ada sahutan. Terserahlah! "Aku sudah memberi tahu padamu, aku mau tidur sekarang."
Bergegas kuputar balik tubuhku memungginya. Dan baru beberapa menit setelah aku memejamkan mata, dari belakang terdengar suara, "Sayang, lakukan sesuatu. Aku terlalu kaget sampai tidak bisa tidur."
Tapi aku sengaja tidak merespons kata-katanya, pura-pura tidur. Biar Jungkook panik sendiri, anak gadisnya sedang jatuh cinta.
THE END
Halooo... Sudah lama sekali rasanya nggak update hehehe. Maaf ya. Bulan depan, mungkin udah bisa sedikit lebih sering. Doakan saja. Terima kasih sudah menunggu.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro