Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

THE SECOND JEON JUNGKOOK

Aku bersenandung kecil sambil menepuk-nepuk pelan bokong jagoan kecilku untuk mengiringinya ke alam mimpi. Kelopak matanya pelan-pelan tertutup, meski mulutnya masih sibuk mengisap susu cokelat dari botolnya. Begitu kelopak matanya merapat, aku mengambil botol susu dari mulutnya. Kuperbaiki posisi tidurnya yang menghadap ke arahku, kemudian kembali melanjutkan tepukan-tepukan pelan di bokongnya.

Sekarang baru pukul delapan lewat tiga puluh menit. Sebenarnya, sedikit cepat dari waktu tidur Jeongsan biasanya, pukul sembilan malam. Namun, kurasa karena kegiatannya hari ini, energinya cukup terkuras. Hari ini adalah hari pertamanya mengikuti pelatihan taekwondo untuk anak-anak. Ini hasil pembicaraanku dengan ayahnya seminggu yang lalu. Jeongsan adalah anak laki-laki, dan kami berpikir bahwa cukup penting baginya untuk belajar beladiri sejak dini. Lagi pula, Jeongsan sangat antusias begitu tahu kami akan memasukkannya ke tempat latihan taekwondo.

"Nanti Jeongsan akan melawan monstel dengan julus-julus. Hyat ... hyat ..." Jeongsan bertingkah seolah sedang mengeluarkan jurus untuk mengalahkan monster.

Seperti biasa, Jeongsan akan bersemangat jika bisa melakukan sesuatu yang berkaitan dengan "mengalahkan monster".

Aku bersyukur, latihan pertama hari ini berlangsung dengan lancar. Jeongsan bisa mengikuti gerakan pelatihnya dengan baik. Ah, apa mungkin karena turunan dari ayahnya, ya? Bisa melakukan banyak hal dengan baik. Terlebih, dulu Jungkook juga pernah mengikuti pelatihan taekwondo.

Dia benar-benar mewarisi banyak hal dari ayahnya.

"Kenapa kau memandangi Jeongsan sambil senyum-senyum seperti itu?"

Kualihkan perhatianku dari Jeongsan dan kudapati Jungkook berjalan memutari tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya di sisi kosong di sebelah kanan Jeongsan usai menyambar ponselnya yang berada di atas meja kerjanya.

"Tidak," gumamku. "Aku hanya berpikir bahwa ... Jeongsan kadang-kadang terlihat sepertimu."

"Tentu saja begitu. Dia kan anakku," Jungkook menimpali. "Kalau dia malah terlihat seperti Seokjin Hyung atau Taehyung Hyung, itu baru mengherankan."

"Ya~!" Aku menegur. Mungkin, ia sedikit menyindir lantaran ketika pertama kali dia memperkenalkanku dengan teman-teman Bangtan-nya, aku banyak memuji Kim Seokjin dan Kim Taehyung.

"Aku benar, 'kan?" ulangnya. "Di mana-mana, buah jatuh tidak jauh dari pohon. Kalau Jeongsan tampan, itu karena aku tampan, bukan karena Seokjin Hyung dan Taehyung Hyung yang tampan."

Huu, mulai.

"Iya, iya. Aku tahu Jeongsan jadi tampan karena turunan darimu. Sekalian saja, Taya cantik karena turunan darimu juga."

"Doooh, jangan ngambek, dong, Sayang."

"Siapa yang ngambek? Dih!"

"Enghh~"

Kupikir, Jungkook akan membalas ucapanku, tetapi yang terdengar justru erangan Jeongsan. Aku lekas menepuk-nepuk kembali bokongnya, juga bersenandung pelan untuk membawanya ke dalam tidur yang lebih lelap.

"Sayang, kamu punya pulsa lebih, tidak? Aku mau transfer ke nomorku."

"Nomormu masuk masa tenggang?" Kujulurkan tanganku meraih ponsel yang berada di atas nakas di belakangku, lalu menyerahkannya pada Jungkook.

"Begitulah," Jungkook menyahut ketika menerima ponselku. "Uh, apa ini?" Tiba-tiba dia menunjukkan layar ponselku padaku. Oh, ya, foto yang kuedit saat bosan menunggu Jeongsan selesai latihan, kujadikan sebagai wallpaper.

"Hanya iseng," kataku. "Beberapa foto Jeongsan, secara tidak sengaja, mirip dengan beberapa fotomu. Aku sengaja membuatnya berdampingan dalam satu frame begitu. Banyak, kok. Masih ada di galeri kalau kau mau lihat."

Hanya terdengar dengkur halus dari Jeongsan untuk beberapa detik. Kurasa, Jungkook lebih dulu memindahkan sebagian pulsaku ke nomor ponselnya. Hingga, beberapa saat kemudian ...

"Uh? Jeongsan foto untuk apa di sini?"

Priaku menunjukkan layar yang menampilkan sebuah foto Jeongsan yang sedang mengenakan seragam berwarna merah marun. Di sebelahnya, ada foto Jungkook yang memakai jas dengan warna senada.

"Foto untuk buku murid di sekolahnya. Itu kan sudah sebulan yang lalu. Aku juga sudah memberitahukan itu padamu. Kau lupa?"

"Ya, sepertinya aku lupa," Jungkook menyahut acuh tak acuh. "Ah, ini jaket yang dikirimkan Namjoon Hyung, 'kan? Duh! Namjoon Hyung itu. Dulu dia memberikanku jaket motif kotak-kotak merah-hitam. Sekarang dia memberikan warna dan motif yang sama pada Jeongsan. Ckckck. Selera yang monoton sekali."

"Ya! Kau mana bisa berkata seperti itu? Warnanya bagus, kok. Cocok untukmu dan Jeongsan."

"Hah! Junghyun Hyung juga sama saja. Lagi-lagi memberikan hoodie warna biru untuk anakku."

Ah, dia pasti sedang melihat foto Jeongsan dan dirinya yang mengenakan hoodie berwarna biru. Tidak jauh berbeda dengan Namjoon, Junghyun tampaknya berpikir bahwa apa yang disukai Jungkook, juga akan disukai Jeongsan. Benar-benar penganut paham: buah jatuh tidak jauh dari pohon.

Ada banyak foto-foto Jeongsan yang kutemukan serupa dengan gesture atau pakaian ayahnya. Senyum Jeongsan yang menenangkan seperti senyum pria tiga puluh empat tahun di seberang sana. Dahi Jeongsan yang luas, sempurna menduplikat dahi ayahnya. Sampai ketampanan yang kurasa melebihi dari ketampanan ayahnya. Ah, entah bagaimana reaksi Jungkook jika aku mengatakan ini.

Yang jelas, Jeongsan itu seperti Jungkook yang kedua.

"Kau sengaja mendandani Jeongsan sepertiku?"

Jungkook memperlihatkan foto Jeongsan yang mengenakan kaus lengan panjang berwarna hitam, black ripped jeans, juga sepatu timberland. Gaya Jungkook kurang lebih seperti itu, dulu. Sekarang tidak jauh beda, sih. Hanya saja, sejak memasuki usia tiga puluh tahun, dia lebih senang memakai kemeja dengan lengan yang digulung hingga siku.

"Eum. Dia benar-benar terlihat sepertimu, 'kan?"

"Ya, dia tampan, keren, dan seksi."

Andai Jeongsan tidak ada di antara aku dan Jungkook saat ini, mungkin aku sudah memukul lengannya kuat-kuat. Aku merasa geli dia berkata bahwa Jeongsan seksi. Astaga, Jeon Jungkook. Anakmu ini baru berusia empat tahun.

Kuhela napas panjang untuk mengurangi kekesalanku. Lantas, kembali kupandangi wajah Jeongsan yang telah tertidur pulas. Wajah tidurnya terlihat damai dan meneduhkan. Seperti wajah tidur ayahnya.

"Jeon?" panggilku sembari membelai wajah Jeongsan dengan jari telunjukku.

"Hm?"

"Kalau besar nanti, aku ingin Jeongsan bisa sepertimu."

Jungkook yang tadi sibuk memandang layar ponselnya, kini menoleh padaku. Dengan senyum jail, dia berucap, "Yang tampan, keren, dan seksi, ya?"

Percayalah, rasanya aku ingin sekali memukul Jungkook karena mengucapkan tiga kata yang sejatinya menggambarkan dirinya, tetapi malah terdengar mengesalkan di telingaku.

"Ya, anggap saja begitu," tuturku pada akhirnya. "Ditambah menjadi pria yang rajin, bekerja keras, tidak mudah menyerah, dan ..."

Ada senyum lebar yang mengembang di wajah tampan suamiku. Oh, tentu saja begitu. Karena secara tidak langsung aku sudah memuji seperti apa dirinya.

"Dan?"

Ada nada penasaran terselip di ucapannya barusan. Hihi.

"Aku tidak mau memberitahumu. Aku mau tidur."

Aku merapikan selimut yang menutupi tubuhku dan tubuh Jeongsan, lalu memejamkan mata. Meski begitu, Jungkook tahu aku hanya berpura-pura tertidur.

"Ya~, sayang, dan apa? Kalimatmu tadi belum selesai."

Hihihi ... dia benar-benar penasaran.

"Jangan berisik, nanti Jeongsan bangun."

"Ish. Kalau begitu katakan kelanjutannya supaya aku tidak berisik lagi." Aku merasakan kakinya mengganggu kakiku di bawah sana. Dasar! Lebih baik tidak usah aku katakan. Biarkan dia penasaran.

"Hey, sayang, ayolah. Dan apa?"

"..."

"Cho Junmi?"

"..."

"Aish!" Aku mendengar dengus sebal. Kurasakan dia beranjak dari tempat tidur, lalu beberapa detik kemudian, lampu utama kamar dimatikan, disusul suara pintu yang ditutup.

Hihihi, dia pasti kesal sekali.

Ah, maafkan aku, Sayang. Aku sengaja tidak mengatakannya. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa reaksiku jika aku berkata bahwa kau ... ehm ... perkasa. Ups!

-THE END-

Sori kalo foto-fotonya agak-agak maksa :v

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro