SICK (JK'S POV)
"Ayo, makan, Jeongsan. Setelah ini kamu harus minum obat."
Keluarga kita sedang makan malam, tetapi kali ini sedikit berbeda. Maksudku, posisi duduk di meja makan. Kau yang biasanya berada di sampingku, kini digantikan oleh Taya. Kau berada di sebelah Jeongsan saat ini, membujuk Jeon kecil kita untuk makan.
Jeongsan menutup mulutnya sambil menggeleng.
"Jeongsan tidak boleh begitu. Mau cepat sembuh, kan? Jeongsan harus makan dulu, baru minum obat."
Jeongsan sakit hari ini. Sejak pagi, dia bilang kepalanya sakit. Sampai saat ini pun, kepalanya, katanya, masih sakit. Kita sama-sama tidak tahu apa penyebabnya. Jeongsan jarang main di luar beberapa hari terakhir. Jelas, bukan cuaca penyebabnya. Jeongsan juga masih kecil. Dia tidak mungkin sakit kepala karena banyak berpikir. Mungkin dia memang hanya sakit kepala saja.
"Jeongsan, dengarkan kata Eomma," tegurku.
Dengan pasrah, Jeongsan menurunkan tangan yang menutup mulut mungilnya. Kau lekas memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Jeongsan mengunyah dengan pelan, tampak tidak berselera. Padahal, malam ini kau sengaja memasak makanan kesukaannya. Katamu, siang tadi Jeongsan juga susah diajak makan.
Sepuluh menit berlalu. Jeongsan hanya menghabiskan setengah dari porsi yang kau sediakan untuknya. Aku sedang menyantap buah ketika kau sekali lagi berusaha membujuknya untuk minum obat.
"Buka mulutmu, Jeongsan."
Jeongsan menggeleng.
"Ya! Kalau kau tidak membuka mulut, bagaimana kau bisa minum obat? Jeongsan mau sembuh atau tidak?" Nada suaramu meninggi. Jeongsan terlihat ingin menangis.
Setelah meminum obatnya, kau memintaku menemani Jeongsan lantaran kau baru mau makan malam. Aku jadi teringat saat aku masih kecil dulu. Eomma juga selalu telat makan saat aku sakit sebab dia harus mengurusku lebih dulu.
Aku menggendong Jeongsan menuju ruang tengah, meminta kakak perempuannya untuk memutarkan salah satu kaset Power Ranger koleksi Jeongsan. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga Jeon, Jeongsan berkata, "Jeongsan tidak mau nonton langel, Appa."
Aku kaget.
Serius?
"Terus, Jeongsan mau apa? Tidur?"
Putra dalam gendonganku mengangguk.
Aku membawanya masuk ke kamarnya, membaringkannya di tempat tidur. Sebelumnya, aku meminta Taya untuk membuatkan susu untuk adiknya. Tidak lama, aku turut berbaring, berhadapan dengan Jeongsan, menemaninya hingga terlelap.
"Appa?"
Aku sedang menepuk-nepuk bokongnya pelan ketika ia memanggilku.
"Ya?"
"Eum ... kepala Jeongsan masih sakit, Appa."
"Iya. Obat yang Jeongsan minum tadi sedang bekerja di dalam tubuh Jeongsan. Sekarang Jeongsan tidur, ya. Tutup matanya."
Alih-alih menuruti apa yang kuucapkan, Jeon kecil kita malah berkata, "Jeongsan tidak sembuh kalau hanya minum obat, Appa. Jeongsan akan sembuh kalau Jeongsan punya mainan langel yang kita lihat di mall waktu itu."
Aku mulai menyadari sesuatu.
"Jadi, Jeongsan sebenarnya tidak sakit?"
"Jeongsan sakit, Appa. Kepala Jeongsan sakit."
"Tapi, kalau dibelikan mainan, tidak akan sakit lagi?"
"Iya, Appa."
Aku mengusap wajahku. Ya Tuhan.
Jadi, dia masih memikirkan mainan yang waktu itu?
Beberapa waktu lalu, aku, kau, dan Jeongsan pergi ke mall. Di sana, Jeongsan melihat sebuah mainan ranger yang terlihat keren. Dia meminta dibelikan mainan tersebut saat itu. Namun, kau melarangnya sebab Jeongsan sudah punya banyak mainan. Lagi pula, Jeongsan akan segera bersekolah di taman kanak-kanak. Peralatan sekolah—walaupun itu masih bergambar ranger—jauh lebih penting dibanding mainan ranger.
Namun, tampaknya, putra kita tidak mengerti.
"Jeongsan mau dibelikan mainan itu?"
"Iya, Appa. Habis itu, Jeongsan janji tidak akan sakit lagi."
Astaga!
Anakku yang satu ini benar-benar tidak bisa ditebak.
***
"Jadi, Jeongsan sakit kepala karena memikirkan mainan yang tidak kita belikan untuknya waktu itu?"
Kau naik ke tempat tidur usai mengganti pakaian dan menyisir rambutmu. Mendengar ceritaku, kau pun merespons dengan nada heran, juga sedikit terkejut.
"Iya. Dia sangat menginginkan mainan itu, kau tahu. Dia sampai berjanji tidak akan sakit lagi setelahnya."
Kau tertawa kecil sembari memperbaiki posisi tubuhmu di dalam selimut. "Persis seperti kamu dulu."
"Persis apanya? Memangnya aku pernah pura-pura sakit untuk minta mainan."
"Eomonim pernah menceritakan itu padaku. Kau sampai tidak masuk sekolah dua hari hanya karena ingin dibelikan miniatur Ironman. Eomonim tidak mungkin bohong."
Aish! Eomma!
"Jadi, bagaimana? Dibelikan saja?"
"Jangan!" serumu. "Nanti dia terbiasa pura-pura sakit untuk memenuhi keinginannya."
"Jadi?"
"Sebaiknya ajar dia menabung dan membeli mainan itu dengan tabungannya."
"Jeongsan mungkin sudah besar jika harus menunggu tabungannya cukup. Bahkan, mungkin dia sudah tidak menginginkan mainan itu lagi."
Sekali lagi sebuah gelak samar lolos dari mulutmu. "Nanti kita bantu. Sekarang bukan waktu yang tepat untu membeli mainan baru, kau tahu. Sekarang pergantian tahun ajaran baru."
"Benar juga. Ah, kau memang pandai."
"Iya, dong. Istri siapa dulu."
Aku tertawa. "Ya, ya. Istri Jeon Jungkook memang pandai." Aku mencubit hidungmu, manja. "Omong-omong, bolehkah aku meminta jatahku malam ini? Sudah hampir seminggu kau tidak memberikannya."
Kau malah menggulingkan tubuhmu hingga memunggungiku sambil berkata, "Tidak boleh."
"Tapi, ini sudah hampir satu minggu!"
"Siapa suruh kau 'memperkosaku' minggu lalu. Ini hukuman untukmu!"
Hukuman, katamu. Aku melakukan hal kasar itu karena kau tidak mau bicara padaku. Astaga!
"Nanti aku sakit kepala seperti Jeongsan kalau tidak mau memberikannya. Ayolah." Aku baru mencolek bokongmu sekali, kau langsung menampik tanganku.
"Jangan berisik. Aku mau tidur."
"Astaga! Sayang, kau tega melihat aku 'main' sendiri?"
"..."
"Junmi?"
"..."
"Kau benar-benar sudah tidur, hah?"
"..."
"Junmi, kepalaku mulai sakit. Ya! Cho Junmi."
"Kalau begitu tidurlah."
"Aku benar-benar akan sakit kepala kalau kita tidak 'berkebun' malam ini, Junmi."
"Kau benar-benar akan sakit kepala kalau kau tidak tidur sekarang, Jeon-a. Besok pagi kau harus ke Busan menemani Direktur Bang, ingat?"
"Jadi, aku benar-benar tidak mendapat jatahku malam ini?"
"Setelah kau pulang dari Busan, baru kuberi."
"YAAA!!! Itu masih tiga hari lagi."
-the end.
Saya hampir lupa update. Saya ingat ini hari Jumat, tapi sama sekali ga kepikiran kalo ini waktunya seri baru JFS dipublish wkwk. Terlalu seneng kedatangan "anak pertama" kkk.
Open PO sampai 31 Maret ya. Harga 48K. Untuk pemesanan, silakan hubungi salah satu kontak di bawah ini.
LiNE: @ellunar (pake @)
WA / SMS : 089685309651
Sori ngiklan wkwk.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro