Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

JEALOUSY [2]

“Taya, kenapa wortelnya tidak dimakan?” protesmu ketika kita sedang makan malam dan Taya beranjak dari bangkunya setelah menghabiskan nasi dan sepotong dada ayam goreng, namun menyisakan wortel di tepi piringnya.

“Taya tidak suka, Eomma,” Taya menyahut.

“Ck! Habiskan, dong, Sayang.”

“Tapi, Eomma—”

Anak gadisku merengut, memasang wajah terpaksa, bahkan nyaris kembali duduk di kursi yang berhadapan denganku saat aku berkata, “Biar aku yang habiskan.”

Taya langsung meninggalkan dapur begitu aku menyelamatkannya dari perintahmu. Namun, berbeda dari biasanya, kau malah diam saja. Sebelumnya, kau selalu protes ‘Kenapa kau selalu mengambil jatah sayur Taya? Dia itu harus banyak makan sayur!’

“Kau tidak marah, aku mengambil jatah sayur Taya lagi?” tanyaku, memandangmu yang duduk di kursi di sebelah kursi tempat Taya duduk sebelumnya.

“…”

Hanya suara sendokmu yang menyentuh mangkuk sup yang tertangkap oleh indera pendengaranku. Pun, kulihat mimik wajahmu masih nampak kaku, kesal dan marah. Hah, ini semua karena ulah mereka.

Iya, mereka.

Siapa lagi kalau bukan hyung-hyung-ku di Bangtan?

Taehyung Hyung mem-posting sebuah foto lama, foto diriku yang terlihat … ehm … mesra dengan seorang perempuan teman sekelasku dulu, melalui grup di salah satu aplikasi chatting di ponselku. Lalu, hyung-hyung yang lain pun mulai memberi komentar untuk menggodaku.

‘Ciyeee, Jungkook Oppa, mana, nih? Yang dulu menjadi teristimewa sudah kembali dari Jepang, lho.’

‘Jungkook-a, kemarin aku bertemu dengannya tanpa sengaja di Myeong-dong. Astaga! Dia tambah cantik.’

‘Hati-hati, nanti ada kasus Cinta Lama Bersemi Kembali.’

‘Kapan kau mau menemuinya lagi, Jungkook-a? Kalian sudah bertahun-tahun tidak bertemu.’

‘Iya, Kook-a. Kapan kau akan bertemu dengannya, hm? Kau pasti ingin bertemu dengannya lagi, kan?’

‘Kookie, kalau kau mau menemuinya, jangan sampai dia tahu kau sudah punya dua orang anak … hahahahaha.’

‘Ya! Ya! Kook-a, tadi aku juga sempat bertemu, bahkan berbicara dengannya. Dia mencarimu. Dia menitip salam untukmu.'

‘CIYEEEEEE!!! YANG DAPAT SALAM. EHEUM!’

Dasar mereka itu mulut kompor!

Mereka benar-benar berniat untuk menggodaku—tepatnya, sengaja membuatku terjebak dalam masalah lantaran mereka tahu kau tipe wanita seperti apa.

Wanita pencemburu.

Sangat!

Dan sialnya, kau melihat foto itu, juga membaca segala komentar-komentar yang kuyakin membuat dadamu bergemuruh sebab sekarang … kau tidak mau bicara denganku. Kau marah. Dan, para hyung-ku sungguh berhasil membuatku berada di dalam kesulitan. Kesulitan besar!

Bahkan, mereka semakin menumpahkan komentar yang membuat semakin kesal karena mereka—entah bagaimana caranya—bisa tahu kalau aku bertemu dengan perempuan itu.

‘CIYEEE~ TADI ADA YANG KETEMUAN, TAPI TIDAK CERITA PADA KAMI.’

‘Iya. Aku juga melihat mereka di café yang dulu.’

‘Uhuhuhuhu, hati-hati, ya. Nanti ada bunga-bunga cinta bermekaran.’

Sialan!

Kau lebih dulu menyelesaikan makan malammu. Lekas beranjak dari dapur setelah kau meletakkan peralatan makan malammu di dalam bak cuci piring. Tanpa mengatakan apa-apa, tanpa membagi satu lirikan, kau meninggalkanku di meja makan. Sendirian.

@

Aku sudah selesai makan. Sedang melangkah ke ruang keluarga saat kudengar gelak Jeongsan begitu riang. Setibanya di ruang keluarga, kulihat kau dan Taya sedang bermain tangkap bola, tapi itu sungguh membuat Jeongsan terhibur di dalam baby walker-nya. Kedua mata bulatnya kerap mengikuti arah ke mana bola berwarna merah itu dilempar.

Tawa khas bayi itu terdengar lagi kala bola yang dilempar Taya ke arahmu, malah mengenai wajahmu.

“Yaah, kepala Eomma kena,” gumammu.

Kau balas melempar bola ke arah Taya dan gadis kecil itu sengaja membiarkan bola mengenai wajahnya, ingin membuat adiknya tertawa lebih keras. Dan, berhasil! Tidak hanya tertawa, namun Jeongsan pun melompat-lompat antusias sambil bertepuk tangan.

“Eomma, seperti Adik Jeongsan senang sekali kalau wajah Taya terkena bola,” kata Taya, tertawa kecil.

“Mungkin kita juga harus membiarkan wajah Jeongsan terkena bola,” tuturmu.

Berdiri mengamati kalian dari jauh, kulihat kau melempar pelan bola merah itu ke wajah Jeongsan. Tawanya terdengar lebih keras dari sebelumnya, begitu juga lompatan-lompatan antusiasnya. Paling tidak, dia berada di dalam baby walker-nya sehingga dia aman walau dia banyak bergerak.

Beberapa menit mengamati kalian bertiga bermain, aku pun terusik. “Appa juga mau ikut main, boleh, ya?” kataku, seketika mengambil tempat di sebelahmu.

Belum cukup tiga detik aku duduk, kau malah berdiri dan berkata, “Taya main sama Adik Jeongsan, ya? Eomma mau mencuci piring.”

“Aku sudah mencuci piring,” kataku cepat.

Kau melirik ke arahku sekilas—HANYA SEKILAS, lalu kau berucap lagi, “Eomma, mau ke kamar sebentar.”

Kau bangkit dari dudukmu, mengayunkan kedua tungkaimu meninggalkan aku, Taya dan Jeongsan. Aish! Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama. Aku tidak suka jika diperlakukan seperti ini.

“Taya, Taya temani Adik Jeongsan bermain, ya? Appa mau ke kamar juga,” ujarku, menyusulmu masuk ke kamar.

@

“Kenapa kau ke sini?” tanyamu yang tengah duduk meluruskan kedua kakimu di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku parenting, namun menjeda kegiatanmu sejenak kala aku datang.

“Memangnya aku tidak boleh masuk ke sini? Kamar ini kan kamarku juga,” jawabku, menghampiri, duduk di tepi tempat tidur di dekat kakimu.

Kudengar kau mengembuskan napas keras dari hidungmu. Tidak lama, kulihat gerak-gerik yang menunjukkan kau hendak beranjak dari kamar ini.

“Kau mau ke mana?” tanyaku, meraih pergelangan tangan kirimu, berdiri untuk mencegahmu meninggalkanku.

Alih-alih menjawab, kau malah berkata dengan nada tak suka, “Ish! Apa yang kaulakukan? Lepaskan!”

Kau mencoba menghentakkan tanganmu agar peganganku terlepas, tapi tidak semudah itu. “Kita harus bicara.”

Kau lantas memposisikan tubuhmu menghadapku. Bisa kulihat mimik wajahmu masih melukiskan kemarahan, juga sorot matamu yang memancarkan kekesalan yang memenuhi benakmu. “Apa yang ingin kau bicarakan? Kau mau bilang kau tidak sengaja bertemu dengan perempuan itu di café?”

“Memang seperti itu, Junmi. Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat aku ingin bertemu dengan seorang rekan bisnis perusahaan di café.”

“Bohong! Pasti kau memang sengaja ingin bertemu dengannya di café itu, kan? Kudengar, dulunya kalian sering datang ke café itu. Wah! Wah! Aku tidak menyangka ternyata kau punya banyak teman perempuan yang cantik di masa lalu. Beberapa bulan yang lalu, Park Sewon. Beberapa hari yang lalu, gadis itu. Besok-besok siapa lagi?” uraimu dengan nada sarkastis.

“Ya! Mereka hanya masa lalu, Junmi-ya.”

“Mereka memang masa lalu, tapi siapa yang tahu kalau kau …,” tercipta jeda sejenak, kemudian kau melanjutkan denga nada pelan, “kau masih menyukai salah satu dari mereka?”

“Astaga!” Aku ternganga. “Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Bagaimana mungkin aku masih menyukai salah satu dari mereka?”

“Ya, mungkin saja. Toh, kau masih bertemu dengan mereka. Kau masih beberapa kali berkomunikasi dengan mereka. Kau—”

“Jadi, kau ingin aku memutuskan segala komunikasiku dengan mereka?” tanyaku, agak tidak percaya dengan kalimat yang barusan kudengar.

Kau tidak menjawab, namun kuartikan itu sebagai iya.

“Ya! Aku tidak mungkin bersikap seperti itu. Mereka temanku, dari dulu sampai sekarang, mereka baik padaku. Aku tidak punya alasan untuk menjauhi mereka.”

“Terserah! Lakukan sesukamu saja!”

Kau menghentakkan tanganmu dan kali ini kau berhasil melepaskan peganganku darimu. Dengan langkah lebar dan tegas, kau berjalan ke arah pintu, tapi lagi-lagi aku mengejarmu, menarik tanganmu agak keras sampai kau berbalik menghadapku.

“Kau mau apa lagi, hah? Aku sudah mengatakan kalau—”

Secepat kilat kukunci bibirmu dengan sebuah ciuman. Kau berontak, memukul dadaku dengan satu tanganmu yang masih bebas agar aku melepas ciuman itu. Alih-alih melepasmu, kugerakkan tanganku yang satu lagi untuk memegang tanganmu, menguncinya kedua tanganmu di balik punggungmu. Bibirmu terkatup rapat, tidak membalas ciumanku, melarangku menjelajah di dalam rongga mulutmu.

Kulepas ciumanku dan kita segera saling berebut oksigen.

“A-apa yang kau—”

“Tolong, percayalah padaku. Sekarang, mereka hanya teman-temanku. Perempuan itu hanya temanku. Aku tidak punya perasaan apa-apa lagi pada mereka. Semua perasaan cintaku, sayangku, sudah aku berikan semuanya padamu. Jadi, tolong…,” kutundukkan kepalaku agar dahiku merapat pada dahimu, lantas berbisik lirih, “percaya padaku dan jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku sendiri, paham?”

“Tapi—”

“I love you. I love you so much.”

Lantas, kukecup dahimu, kedua matamu, ujung hidungmu dan … bibirmu, tentu saja. Setelahnya, kupeluk tubuh mungilmu dan berbisik, “Jangan perlakukan aku seperti kau tidak mau mengenalku lagi, hm? Aku tidak suka itu.”

Dan, kurasakan kepalamu mengangguk dalam pelukanku.

“Maafkan aku. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku takut.”

“Tidak ada yang perlu kautakutkan. Aku tidak akan pernah pergi darimu.”

Sekali lagi kukecup dahimu, kedua matamu, ujung hidungmu dan … tentu saja bibir merah seperti buah cherry itu tak boleh ketinggalan. Kali ini aku beruntung sebab kau membalasnya dan—

“Ya! Ya! Jeongsan-a, jangan ke sana! Ish!”

Secepat mungkin, kita saling melepaskan diri satu sama lain, bersamaan melihat ke arah pintu dan nampak Taya sedang menahan baby walker Jeongsan agar tidak bergerak ke arah kita. Tunggu, sejak kapan anak-anak berada di depan pintu kamar yang ... terbuka?

“Taya, apa tadi kau melihat apa yang Appa dan Eomma lakukan?” tanyamu cepat.

Sial! Jangan bilang kalau gadis kecil itu melihat yang barusan.

Jantungku berdegub kencang menanti jawaban Taya. Please, Taya, jangan bilang kalau kau—

“Tadi Appa dan Eomma seperti Pangeran dan Tuan Putri di film Princess, kan?”

Oh, God.

-THE END-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro