Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

IS TAYA FALLING IN LOVE? (JUNGKOOK'S POV)

Rumah tampak begitu sepi dari depan ketika kuparkir motorku di garasi sepulang bekerja. Biasanya, sore-sore seperti ini, Taya akan bermain bersama beberapa anak tetangga di halaman rumah. Orang-orang rumah ke mana, hm?

Masuk melalui pintu garasi, aku berjalan ke dalam rumah, tembus ke ruang tengah. Suasananya sama, sepi. Televisi bahkan tidak dinyalakan. Ini aneh. Istri dan anak-anakku ke mana, sih? Apa mungkin ada di rumah tetangga?

Ah, ya, mungkin mereka ada di salah satu rumah tetangga.

Seraya melonggarkan dasi dan melepas kancing kemeja berwarna biru muda yang kukenakan, aku mengayunkan kedua tungkaiku menuju kamar. Betapa terkejutnya aku ketika ...

"Loh? Taya sedang apa?"

... kutemukan gadis kecilku berdiri di depan meja rias, lengkap dengan tangan kanannya memegang lipstick milik ibunya. Aku bahkan menemukan warna yang serupa dengan warna lipstick, terpoles di bibir mungilnya. Tidak hanya itu, kedua alis putriku tampak lebih hitam dari biasanya. Apa dia baru saja memakai pensil alis, hah?

Buru-buru menyembunyikan lipstick di balik tubuh mungilnya, gadisku nampak terkejut dengan kehadiranku. "Taya ... Taya cuma memakai lipstick Eomma, Appa."

"Ey, jangan main-main dengan barang-barang Eomma, ya? Taya tahu, kan, seperti apa Eomma kalau marah?"

Gadisku mengangguk. "Iya. Seperti nenek sihir."

"Itu Taya tahu. Eomma kalau marah, terlihat seperti nenek sihir yang sangat jahat. Jadi, Taya tidak boleh mengganggu barang-barang Eomma, oke?"

Lagi, ia mengangguk.

"Omong-omong, Eomma di mana, Sayang? Adik Jeongsan juga."

"Eomma dan adik Jeongsan pergi ke rumah Lee Ajumma, Appa. Katanya, ada penjual alat-alat memasak di sana."

Ah, iya, aku baru ingat kalau semalam kau memperlihatkan brosur produk alat memasak. Mungkin kau pergi melihat demo memasak menggunakan alat itu. Hah, kuharap begitu kau pulang, kau tidak membawa kabar buruk.

Ingin menyicil panci lagi!

@

Aku nyaris tenggelam dalam sebuah buku yang sedang kubaca ketika kau masuk ke dalam kamar. Duduk di depan meja rias, membersihkan wajahmu dengan cairan pembersih yang ada di sana.

"Aneh! Kenapa lipstick-ku bentuknya seperti ini?"

Sejenak kutengok kau yang bersuara, mengomentari bentuk lipstick-mu yang tidak karuan.

"Kenapa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari deretan kalimat di dalam buku.

"Ini. Bentuk lipstick-ku jadi aneh. Malah ..., kelihatannya berkurang. Padahal, aku kan tidak pernah memakai lipstick selama seminggu ini," adumu.

Kututup buku, kemudian melihatmu dari balik kacamata bening yang masih bertengger di hidungku, mendapatimu telah menghadap ke arahku. Ah, itu pasti karena ulah Taya.

"Tidak mungkin kau yang memakai lipstick-ku, kan?"

"Enak saja!" tukasku. "Aku akan memberitahumu siapa, tapi kau tidak boleh marah, oke?"

Kulihat kau mengangguk.

"Taya yang memakai lipstick-mu. Aku menemukan dia sedang memakai lipstick-mu saat pulang kerja tadi. Dia juga memakai pensil alismu," jelasku. "Taya sepertinya ... sudah mulai belajar menjadi perempuan."

"Dia, kan, memang perempuan!"

"Maksudku, dia seperti gadis remaja yang sedang menyukai seseorang dan berusaha untuk tampil cantik!"

Kau tertawa samar. "Kau tahu apa dengan gadis remaja? Kau, kan, laki-laki. Ada banyak alasan anak perempuan suka dengan make-up dan memang seharusnya ... anak perempuan itu tahu bagaimana cara merias wajah. Paling tidak, dasarnya!" ujarmu seraya mengelapkan selembar kapas ke permukaan wajahmu.

"Iya, iya," gumamku pasrah.

Aku baru hendak membaca bukuku ketika kau berkata, "Oh, ya, tadi ibu guru Taya meneleponku. Katanya, Taya bilang ke gurunya kalau mulai besok, dia ingin berangkat dan pulang memakai jasa bis sekolah."

"Bis sekolah?" tanyaku memastikan.

"Iya. Aku juga sudah menanyakan hal ini padanya dan Taya bilang, dia memang ingin berangkat dan pulang menggunakan bis sekolah."

"Kok tiba-tiba begitu?"

Kau yang berjalan ke tempat tidur, hanya menggedikkan kedua bahumu. "Mungkin dia tidak mau lagi di antara memakai motor."

"Kau menyindir?" Aku merasa tersinggung. Memang apa salahnya mengendarai motor?

"Tidak," sahutmu. "Oh, ya, Sayang," tanpa kutahu alasannya, tahu-tahu kau merubah intonasi suaramu menjadi begitu mesra, "tadi ada demo memasak di rumah Nyonya Lee."

Oke ... sepertinya, aku akan mendengar kabar buruk.

"Ada wajan yang bagus sekali. Bisa dipakai menggoreng tanpa menggunakan minyak, lho, Sayang. Terus, bisa mengukus tanpa memakai air. Hebatnya lagi, wajan itu bisa dipakai membuat nasi goreng langsung dari beras, lho, Sayang. Dari beras, bukan nasi."

Halah!

Segara kubuka bukuku dan kembali membacanya.

Hah, aku tahu ujung dari adegan ini.

"Lalu, untuk apa kau memberitahuku?" tanyaku, pura-pura tidak tahu.

"Eum ... boleh, ya, aku menyicil wajan itu dengan sisa uang bulanan?"

See? Sudah kuduga!

"Tidak! Kau tidak boleh menyicil dan membeli peralatan masak yang mahal!" tegasku.

"Tapi, alatnya bagus, lho, Sayang." Kau menarik-narik lengan kiriku, berupaya untuk membujuk.

"No!"

"Sayang~"

"Aku tidak mengizinkanmu, Cho Junmi!"

"Malam ini dapat jatah, deh~"

"Tidak!"

"Kuberi dua ronde!"

Duh! Jarang-jarang kau menawari seperti itu, tapi ...

"Pokoknya, tidak!" Kututup bukuku dengan keras, sengaja untuk mendukung ucapanku agar meninggalkan kesan tegas. "Sudah kubilang, tidak ada cicilan wajan, panci atau apa pun itu. Kalau uang bulanan masih ada sisa, aku tidak mau tahu, kau harus memasukkannya ke rekening tabungan kita. Kau harus ingat, kita punya dua orang anak yang harus disekolahkan. Kita juga berencana untuk membeli mobil," uraiku. "Baru juga dua bulan lalu, cicilan alat pembakarmu lunas, kan? Pokoknya, tahun ini, aku tidak mau ada cicilan alat-alat memasak."

Kau melepas lenganku dari genggamanmu agak kasar. Kudengar kau mendengus keras, lalu bergerak cepat beranjak dari tempat tidur.

"Dasar hidung besar pelit!"

Huh! Dasar nenek sihir!

@

"Eomma~, bekal Taya mana?" Gadis kecilku berteriak ketika ia baru saja selesai memasukkan buku pelajarannya—buku menggambar, buku mengenal huruf dan angka, dan buku mewarnai—ke dalam tas. Berdiri di dekat meja makan sambil membawa tas merah mudanya, ingin memasukkan kotak bekalnya di sana.

Sembari menikmati dua potong roti bakar dan secangkir kopi, kudengar kau menyahut, "Tunggu sebentar. Taya sarapan dulu dengan Appa."

"Bis sekolah akan datang sebentar lagi, Eomma."

"Iya, iya. Yoo Sonsaengnim sudah memberitahu Eomma, bis sekolah akan datang menjemputmu sekitar jam tujuh," kau menyahut.

Kulihat gadis kecilku meletakkan tasnya di salah satu kursi kosong, lantas ia duduk di kursi kosong yang berhadapan denganku. Diminumnya susu cokelat di gelas plastik berwarna merah muda miliknya, kemudian mulai menggigit roti bakar dengan keju di dalamnya—menu sarapan kesukaannya.

"Taya," panggilku, memandang gadis kecil yang pagi ini mengenakan seragam berwarna kuning dan rambut yang dikuncir ekor kuda.

"Iya, Appa?"

"Taya kenapa ingin berangkat ke sekolah naik bis? Taya sudah bosan berangkat dengan Appa?"

"Taya ingin berangkat bersama teman-teman Taya, Appa," sahutnya polos.

"Teman Taya banyak yang naik bis sekolah?"

Gadisku mengangguk.

Kuhela napas, lantas kembali melanjutkan sarapanku.

Sekitar beberapa menit kemudian, Taya telah menandaskan susu cokelatnya dan roti bakarnya. Kotak bekal berisi nasi, nugget ayam dan beberapa potong kecil wortel rebus pun telah masuk ke dalam tasnya. Hah, kau ini, sudah tahu Taya tidak suka wortel, masih saja memasukkan sayuran itu ke dalam bekalnya.

"Taya, bis sekolahnya sudah datang, Sayang."

Jeon Taya yang menyempatkan diri menonton serial kartun sembari menunggu bis jemputannya datang, segera berlari ke dapur untuk mengambil tasnya begitu mendengar teriakanmu.

"Ya! Ya! Kamu belum pamit pada Appa dan Eomma," tegur ketika Taya nampaknya sangat bersemangat ingin segera berangkat menaiki bis sekolah, nyaris lupa pamit kepada kedua orang tuanya.

"Appa, Taya pergi dulu."

"Belajar yang baik di sekolah, ya. Dengarkan penjelasan Yoo Sonsaengnim dengan baik." Kurundukkan tubuhku agar gadis kecilku bisa mencium kedua pipiku seperti hal yang biasa ia lakukan sebelum beranjak ke dalam sekolah saat aku mengantarnya.

"Iya, Appa."

Melihat Taya-ku yang tampak semangat untuk berangkat sekolah bersama teman-temannya, bukan bersama orang tuanya membuatku tersadar satu hal. "Taya sudah besar, ya?"

"Dia sebentar lagi masuk sekolah dasar, tentu saja dia sudah besar," timpalmu, duduk di sebelahku, bersama Jeongsan yang tengah kau suapi bubur.

"Tidak terasa, ya. Dia sudah mau masuk sekolah dasar, sebentar lagi menjadi remaja, lalu menjadi wanita, menikah dan mempunyai anak," gumamku. Aku juga tidak tahu kenapa aku sampai terbawa perasaan seperti ini. "Kuharap, aku masih hidup saat melihat Taya punya anak."

"Kalau begitu, jangan jadi Appa yang kejam dan galak kalau ada laki-laki yang mendekati putrimu supaya Taya bisa cepat menikah dan kau bisa menggendong anaknya."

Aku menoleh ke arahmu. Omongan macam apa yang barusan itu? Justru sebagai Appa, aku harus memastikan Taya jatuh ke tangan laki-laki yang tepat.

"Oh, ya, aku lupa mengatakan ini semalam," ujarmu.

Tentu saja kau lupa. Semalam, yang ada di kepalamu hanya panci cicilan itu. Ck!

"Ara Eonni cerita kalau selama beberapa hari ini, setiap dia menjemput Taya, Taya selalu ditemani anak laki-laki."

Kedua mataku membulat sempurna. "Ditemani anak laki-laki? Siapa?"

Seraya mengelap bubur yang berada di sekitar mulut Jeongsan, kau menjawab, "Entahlah. Mungkin teman sekelasnya."

"Apa ... jangan-jangan, dugaanku semalam benar!" seruku, heboh sendiri.

"Dugaan apa?"

"Taya menyukai teman laki-lakinya. Taya mencoba belajar merias wajah, mungkin untuk menarik perhatian temannya itu. Lalu, dia memilih untuk naik bis sekolah supaya dia bisa bersama dengan anak laki-laki yang dikatakan Ara Nuna!"

'PLETAK!'

"Ah! Kenapa kau memukul kepalaku?"

"Karena kau berpikir terlalu jauh, Jeon Jungkook!" ujarmu. "Taya itu seorang gadis yang baru berusia lima tahun, bukan gadis remaja berusia lima belas tahun. Mana mungkin dia berpikir seperti itu?"

"Tapi, bisa jadi, kan?"

"Aish! Sudahlah! Lebih baik kau segera berangkat ke kantor saja! Sekarang hampir setengah delapan, tahu!"

Aku harus menyelidiki ini!

Polisi Jeon sepertinya akan beraksi kembali!

@

Kumulai penyelidikanku setelah makan malam. Ketika Jeongsan berdiri di depan televisi, di dalam baby walker-nya dan asik memirsa tayangan kartun untuk bayi di salah satu channel luar negeri, aku masuk ke dalam kamar Taya. Kutemukan gadisku sedang duduk di lantai, sedang menulis sesuatu di atas buku tulisnya.

"Ada tugas dari Yoo Sonsaengnim, Sayang?" tanyaku, duduk di dekatnya.

Memalingkan wajah dari bukunya, Taya melihat ke arah dan berkata, "Iya, Appa. Menulis alfabet."

Aku mengangguk. "Oh, ya, bagaimana tadi naik bis sekolah? Menyenangkan?"

"Iya, Appa," riang Taya. "Waktu berangkat sekolah, Taya dan teman-teman menyanyi-nyanyi di dalam bis bersama ibu guru. Pulangnya juga, Appa."

Lagi, aku mengangguk. Gadisku kembali menekuni tugasnya. Sejujurnya, aku ingin langsung bertanya tentang siapa anak laki-laki yang dikatakan Ara Nuna, tapi—duh! Taya akan mengerti, tidak, ya?

"Eung ..., Sayang?"

"Iya, Appa?"

"Appa dengar dari Ara Imo," gumamku, membuat jeda, "beberapa hari ini, saat Ara Imo menjemput Taya, katanya ... Taya menunggu ditemani seorang teman, ya?"

Gadisku menatapku untuk beberapa detik. Ada dua kemungkinan di sini. Pertama, mungkin dia terkejut aku tahu tentang temannya itu. Kedua, mungkin dia tidak mengerti dengan pertanyaanku.

"Iya, Appa," sahut Taya. "Namanya Jiwoo Oppa."

"Oppa?" Salah satu alisku terangkat.

Taya mengangguk lagi. "Jiwoo Oppa siswa kelas satu SD yang tinggal di blok sebelah Appa."

Ah, ya, aku ingat sekolah Taya satu kompleks dengan sebuah sekolah dasar. Hmm ..., jadi, Jiwoo itu anak SD yang tinggal di blok sebelah? Ya, ya. Nanti akan kuselidiki anak laki-laki itu. Aku masih harus menyelidiki Taya.

"Lalu, Taya menyukai Jiwoo Oppa?"

"Ha?" Gadisku terkejut dengan pertanyaanku.

"Taya belajar memakai lipstick dan ingin berangkat ke sekolah mengendarai bis karena ingin bersama Jiwoo Oppa, kan?"

Lagi-lagi Taya menatapku dan aku masih memiliki dua kemungkinan di sini. Dia kaget karena aku tahu perasaannya atau ... dia tidak mengerti pertanyaanku.

"Taya ingin naik bis sekolah karena ingin bersama teman-teman, Appa. Teman-teman Taya bukan Jiwoo Oppa saja. Ada Eunra, ada Cheonsa, ada Hansol, ada banyak, Appa."

"Eh?"

"Taya belajar memakai lipstick karena ... karena Taya ingin menjadi model, Appa."

"Model?"

Taya mengangguk cepat. "Taya ingin seperti Jiwoo Oppa. Dia model di majalah anak-anak, Appa. Jiwoo Oppa pernah memperlihatkan foto-fotonya pada Taya, Appa. Memakai baju bagus, difoto, jalan-jalan di panggung. Taya ingin seperti itu Appa," tuturnya.

Aku sukses terdiam sempurna. Rupanya, Taya-ku telah menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik. Menjadi seorang model. Aigoo, Taya-ku benar-benar sudah besar.

Kuhela napas panjang. Penyelidikanku berakhir dan tidak ada sesuatu yang buruk sepertinya.

"Baiklah. Kalau Taya ingin jadi model, Appa akan mendukung Taya. Tapi, Taya harus tetap rajin belajar, oke?"

"Oke, Appa!"

"Satu lagi."

"Ya?"

"Kalau nanti Taya menyukai teman laki-laki ...," kutatap lekat-lekat kedua mata gadisku, "Taya harus memberitahu Appa, oke? Tidak boleh ada rahasia di antara Taya dan Appa."

"Kenapa?" tanyanya polos.

"Karena Appa ingin memastikan laki-laki yang Princess Taya sukai adalah seorang pangeran yang baik hati."

-THE END-

Jangan lupa follow, vote dan komen, ya. Kalau bisa, kalian juga kasi saran, dong, untuk seri FF ini selanjutnya. Tbvh, aku merasa hampir kehabisan ide untuk meneruskan FF ini. So, please, yang baca, tinggalkan komentar, sekalian kasi saran gitu. Siapa tahu ada saran dari kalian yang bisa memicu ide untuk membuat FF ini lebih menarik, gitu. Hehehe.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro