6. Berengsek!
Sepuluh panggilan tak terjawab dari Rayjen terpampang dalam notifikasi ponsel Jellion. Sementara Jellion sendiri tampak asik mengisap rokoknya sambil bergulir ke media sosial. Dia sama sekali tidak memedulikan berbagai pesan kasar dari Rayjen serta ibu tirinya.
"Lo yakin enggak mau balik? Udah malem ini," ucap William melihat jam tangannya. Pasalnya mereka sudah sangat lama berada di bar menemani Jellion minum-minum.
Jellion mendengkus kecil, asap rokoknya melayang malas ke udara, mengabur di antara lampu neon berwarna merah biru yang berkedip cepat di dalam bar. Musik berdentam begitu keras, membuat lantai bergetar. Setiap orang dalam bar berdansa di atas bom yang siap meledak kapan saja. William duduk di samping Jellion dengan raut wajah gelisah, melirik ke arah pintu keluar yang terus diisi oleh orang-orang berdandan glamor.
"Kalo lo mau cabut, cabut aja, Will," ujar Jellion sambil menyeruput sisa minumannya, tanpa mau pusing mengurusi William yang terus-menerus meminta pulang.
"Gue enggak mau lo mabok di sini, anjir. Mana si Sagara dari tadi enggak balik-balik lagi," gerutu William dengan wajah kesal. Tubuh bersandar kasar di sofa bar, tangan sibuk menggoyangkan pelan gelas berisi vodka yang dipesan.
Sementara Jellion, masih terpaku pada layar ponsel sendiri. Jari-jari tampak bergerak lincah menggulir halaman demi halaman media sosial. Notifikasi dari Rayjen berkedip lagi, kali ini dengan pesan berbunyi 'Balik sekarang atau saya seret! Jangan jadi anak pembangkang lagi. Luka di tubuhmu apa belum cukup menjadi bukti?!'
"Gue enggak minta lo buat nungguin sampai mabok, Will. Gue enggak apa-apa kalau ditinggal sendiri di sini," kata Jellion sambil mendongak menatap ke arah William.
William menghela napas panjang, rambut hitam yang semula disisir rapi kini berantakan karena tangannya terus-menerus menarik rambut setiap kali rasa cemas melanda. "Bukan gitu. Gue cuma…," Dia berhenti, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "enggak mau lo nyesel besok pagi."
Jellion menoleh, mata hitam pekatnya berkilat di bawah sorotan lampu. Senyum miring tersungging di wajah, menciptakan ekspresi yang entah menantang atau justru menyiratkan luka dalam yang tak pernah diungkap. "Nyese—" Kata-kata itu terpotong oleh suara notifikasi yang nyaring. Kali ini, panggilan video dari Rayjen. Wajah Jellion yang kemerahan karena alkohol terlihat menegang sejenak, kemudian dia menekan tombol 'abaikan' dengan keras, nyaris hampir memecahkan layar. Begitu pun seterusnya kala Rayjen kembali menghubungi.
Dentuman musik bertambah cepat, memacu adrenalin semua orang di sekitar mereka. Seorang pelayan dengan celemek merah membawa nampan berisi gelas-gelas penuh, berkelit lincah di antara kerumunan yang menari tanpa peduli. Satu per satu, lampu sorot menyorot wajah-wajah yang basah oleh keringat dan air mata kebahagiaan semu.
"Lo beneran enggak takut kalau nanti abang lo atau bokap lo nyusul ke sini, kan?" William menatap lembut, seperti seseorang yang tahu bahwa badai akan datang kalau sudah menyangkut masalah Jellion.
Jellion tertawa, suara serak yang hampir terdengar lelah. "Rayjen enggak akan bisa datang ke sini. Dia terlalu pengecut buat keluar malam cuma buat ngurusin gue." Jellion menyalakan rokok baru, asap putih menggulung keluar dari mulutnya yang tersenyum sinis.
William tidak yakin apakah dia harus lega atau malah semakin khawatir. Tepat saat dia hendak berbicara lagi, suara pintu besar di dekat bar berderit terbuka, bayangan seorang pria tinggi, berpakaian hitam beserta topi yang menutupi wajah, muncul di ambang pintu.
Jellion berhenti tertawa. Wajah berubah menjadi tegang mengenali siapa pria itu. Sementara William, laki-laki itu sudah lari entah kemana saat pria berpakaian hitam beserta topi datang menghampiri ke meja Jellion.
"Bagus! Tingkah kamu bisa bikin papa marah besar," ucap pria dengan setelah hitam itu, dia menangkat topinya agar tak terlalu menutupi kening. Menatap tajam ke arah Jellion yang setengah mabuk.
"Ah, tumben banget lo di sini. Gue pikir lo pengecut yang enggak berani nginjek kaki ke tempat laknat ini," tukas Jellion dengan sorot mata sayu, tetapi tajam ke arah Rayjen.
"Pulang sendiri atau mau diseret?" Rayjen tidak peduli, dia malah mengancam menawarkan pilihan untuk Jellion.
Jellion tersenyum sinis, membuang tatapan ke arah lain sebelum menatap malas ke arah Rayjen. Mulutnya hendak berbicara, tetapi Rayjen sudah lebih dulu menarik kasar kerah kemeja Jellion. Menyeret secara kasar tubuh kekar itu keluar dari bar. Orang-orang yang ada di bar serta luar pun mulai menaruh atensi mereka ke arah Rayjen yang menyeret paksa tubuh Jellion.
"Lepas, sialan!" Jellion menepis lengan kekar Rayjen, mendorong kasar tubuh pria itu agar menjauh darinya.
Jellion menatap penuh amarah, wajahnya memerah seperti tomat. Efek dari minuman serta rasa dendam pribadi yang mendominasi benak kala menatap wajah kakaknya sendiri.
Jellion ingin memprotes kepada Rayjen. Namun, sebelum dia membuka mulut, Rayjen lebih dulu meninju wajah Jellion dengan keras. Sehingga tubuh Jellion kehilangan keseimbangan, terjatuh ke tanah.
"Lo—"
Ucapan Jellion kembali tertelan saat Rayjen menarik paksa tubuhnya agar kembali berdiri. Detik ketiga, Rayjen kembali melayangkan pukulan mentah beberapa kali ke wajah Jellion. Sampai wajah itu babak belur penuh lebam.
"Berengek!" Rayjen membentak, merasa marah dengan apa yang sudah dia lakukan.
Cengkeraman di bahu terlepas, tetapi Rayjen masih memegang kedua bahu Jellion agar tak terjatuh. Mata menatap lekat ke wajah Jellion, yang tampak tersenyum tanpa arti. Membuat darah Rayjen terasa berdesir aneh.
"Kenapa berhenti?" Jellion bersuara dengan getir, wajah yang sudah babak belur terangkat menatap ke arah Rayjen. "Kenapa enggak dilanjutin sampai gue mati?"
Sontak saja Rayjen langsung melepaskan cengkeramannya di kedua bahu Jellion. Lidahnya kelu, bibir terasa kaku mendengar ucapan itu. Mata masih tertuju ke arah Jellion.
"Kenapa? Apa lo takut dituduh sebagai pembunuh kayak gue?" Jellion tertawa sinis, tawa yang terdengar pilu di telinga Rayjen.
"Apa lo enggak berani?" Tawa Jellion pecah, seperti meremehkan Rayjen. "Lo emang pengecut dari dulu, Ray. Lo enggak pantes disebut sebagai pewaris kalau kayak gini. Mungkin aja lo bakalan dibuang sama papa."
"Kamu mabuk," timpal Rayjen menarik lengan Jellion agar mengikutinya ke arah parkiran.
Namun, Jellion sudah lebih dulu menepis dengan kasar. Sorot mata menyiratkan benci dan amarah tertahan. Bibir bergetar seakan ingin mengucapkan kata yang menyakitkan untuk sang kakak, tetapi rasanya tidak bisa. Malah kembali tertelan.
"Jujur sama gue, Ray," tutur Jellion pelan, tangannya mengepal menahan gejolak emosi. Kesadaran hampir terkikis oleh pengaruh alkohol, dia berusaha mengendalikan diri. "Lo ini sebenarnya bukan kakak kandung gue, 'kan?"
"Enggak usah banyak bacot!" bentak Rayjen. "Apa susahnya sih pulang ke rumah, hah? Apa perlu dengan cara kekerasan supaya kamu bisa lebih sadar?" Rayjen melanjutkan dengan emosi mengebu-gebu.
Jellion menunduk, tertawa miris setelah mendengar kalimat itu. "Pulang? Ray, semenjak mama mati, gue enggak punya tempat buat pulang."
Hati Rayjen seperti ditusuk oleh ribuan benda tajam. Rasa bersalah menyelimuti benak saat melihat wajah Jellion yang pucat akibat pengaruh alkohol.
"Rumah yang harusnya jadi tempat paling nyaman, malah kayak neraka. Papa selalu nyakitin gue, si ular kobra selalu berisik, dan lo juga sama. Lo semua, yang ada si rumah itu, sama-sama kayak sampah dan busuknya buat gue. Gue muak Ray tinggal di sana, harusnya papa enggak usah pungut gue lagi. Harusnya mereka—"
'Plak!
Rayjen menampar keras wajah Jellion sampai meninggalkan kebas dan goresan di sudut bibir Jellion. Napasnya terengah-engah, rasa sabar sudah habis. Dia kesal melihat Jellion seperti itu.
"Anak pembawa sial sepertimu, harus banyak diberi pelajaran!"
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro