Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

4. Luka (1)

Muak berada satu atap dengan siluman ular, Jellion nekat pergi ke kampus dengan wajah babak belur. Lebih baik ditatap ingin tahu oleh orang lain, daripada terus berdiam diri di rumah yang harus mendengarkan keluhan Harumi yang ingin sekali dipanggil ibu olehnya.

Perih di sekujur tubuh masih saja terasa. Sebab, luka semalam yang didapat belum selesai diobati. Sesekali Jellion meringis kesakitan menahan gesekan kemeja di tubuhnya. 

Tepukan kasar di punggung membuat Jellion memejamkan mata menahan rasa perih. Menoleh dengan tatapan tajam sambil mengumpat, "Sialan!"

"Bisa enggak sih lo, kalau mau nyapa enggak usah nepuk punggung gue," gerutu Jellion penuh penekanan.

Pelaku yang menepuk kasar punggung Jellion hanya menampilkan deretan gigi, dalam sekejap wajahnya berubah menjadi khawatir menyadari betapa babak belurnya wajah Jellion.

"Lo abis dipukulin sama siapa?" Sagara menatap penasaran, tangan siap menyentuh sudut bibir yang robek. Serta goresan horizontal di pipi Jellion. Namun, dengan cepat Jellion menepis tangan Sagara dengan kasar.

"Diem lo!" Jellion menatap tajam menghindari sentuhan Sagara di wajahnya. "Enggak usah kepo!"

Sagara menghela napas pelan. Sudah biasa mendapati kesinisan dari Jellion. Padahal dia itu sebenarnya peduli, serta merasa kasihan kepada Jellion. Hanya saja setiap perhatian kecil yang Sagara curahkan kepada Jellion, hanya berakhir sia-sia.

"Serius, jir. Itu muka lo kenapa? Terus kenapa jalan lo bungkuk gitu?" Sagara masih penasaran. Dia akan terus bertanya sampai pertanyaan yang dilontarkan memiliki jawabannya.

Jellion tak memedulikan, dia melanjutkan langkahnya menuju ruang kesehatan yang berada di lantai dua. Sagara yang merasa Jellion memiliki hutang jawaban pun mengikuti dari belakang.

Laki-laki berambut hitam comma hair itu terus saja menatap Jellion, sedangkan Jellion menatap dengan sinis. Membuat Sagara menghela napas kasar. "Jangan galak-galak, Li. Ntar jodoh lo tua lho," kelakar Sagara.

"Ngaco lo!"

"Seriusan. Sepupu gue galak orangnya, malah nikah sama janda tua," sahut Sagara seolah-olah meyakinkan bahwa ucapannya itu benar.

Jellion menggeleng pelan, berusaha tak memedulikan apa yang diucapkan oleh Sagara. Langkah keduanya mengarah ke lift, menunggu lift sampai terbuka, lalu memasuki lift menuju lantai dua.

Lift terbuka di lantai dua, Jellion melangkah menuju ruang kesehatan yang letaknya berada di ujung lorong dekat ruang kelas B230. Tubuh berusaha menahan rasa perih dengan mengerutkan dahi.

Sesampai di ruang kesehatan, mata Jellion mengedar ke setiap sudut ruangan. Tak ada siapapun selain dia dan Sagara. Kesempatan bagus untuk mengobati lukanya sendiri. Jellion berbalik mengunci pintu dari dalam, lalu membuka kemejanya menjadi bertelanjang dada agar memudahkan untuk mengoleskan obat di luka lebamnya.

"Wih, perut lo bagus juga, Li," komentar Sagara dengan mata berbinar menatap perut Jellion yang atletis sekali.

Sontak saja Jellion langsung menutupi perutnya dengan kemeja. Menatap tajam ke arah Sagara. "Gar, gue masih normal ya. Jangan coba-coba naksir sama gue," tukas Jellion dengan penuh penekanan.

"Yeh, kamfret! Gue juga normal kali." Sagara langsung memalingkan wajah, duduk di atas brankar, mata kembali mengawasi Jellion yang berusaha mengoleskan obat ke arah luka di sekujur tubuh.

Sagara memiringkan kepala sedikit, mata menyipit melihat berbagai luka di sekujur tubuh Jellion. Dia melangkah mendekati sahabatnya itu, memegangi berbagai luka cambuk di punggung Jellion. Melihatnya saja sudah membuat Sagara bergidik ngeri sekaligus perih, apalagi mendapatinya.

"Li, lo enggak kesakitan apa sama luka ini?" Sagara bertanya, menunggu jawaban dari Jellion yang seketika berhenti mengoleskan obat ke arah luka lebam yang ada di perut kirinya.

Kalau dibilang kesakitan, Jellion merasa sangat kesakitan. Saking sakitnya, dia selalu berdoa agar cepat mati. Doa yang selalu sama di saat keluarga yang dulu merangkulnya, kini sudah berpaling.

"Sakit," balas Jellion lirih.

Sagara tak lagi berbicara. Dia mengambil alih obat yang berupa salep dari tangan Jellion secara kasar. Sagara tahu kalau dia tidak merebut secara kasar, maka Jellion akan menolak untuk dibantu diobati. Dengan telaten dia mengolesi salep itu ke arah luka memar yang berada di punggung tegap Jellion.

Jellion meringis merasakan olesan itu mendarat di lukanya. Perih dan ngilu dia rasakan, dia sampai memejamkan mata demi meredakan rasa sakitnya.

"Li, lo enggak ada niatan kabur dari keluarga lo sendiri?" Lama saling berdiam, seakan hanyut mengobati luka Jellion. Akhirnya Sagara kembali bertanya, kali ini dia benar-benar ingin tahu jawabannya.

Setelah selesai diobati, Jellion memakai kembali kemejanya. Membalikkan tubuh ke arah Sagara, mata menatap ke arah depan dinding yang terdapat gambar berbagai anatomi manusia.

Jellion bingung harus menjawab apa. Kabur? Sudah dari dulu dia ingin sekali kabur, jauh dari jangkauan sang papa. Namun, dia tidak bisa, setiap kali dia menjauh, pria paruh baya itu akan selalu menemukannya dan membawa dia kembali ke rumah. Percuma Jellion lari dari rumah, kecuali Kailos benar-benar sudah muak dengannya, baru Jellion bisa lari dari sana.

"Luka lo sembuhnya bakalan lama, Li. Kalau lo kena pukul lagi, bakalan parah sih. Lo beneran enggak mau kabur dari bokap lo?"

Jellion menatap Sagara dengan lekat. Sebaris senyum tipis terbingkai di wajah. "Gue mesti kabur kemana, Gar? Setiap gue lari, dia selalu bisa temuin gue."

"Tapi gue kasihan lihat lo yang selalu dapet luka kayak gini."

"Ini enggak seberapa, Gar. Thanks, udah khawatir sama gue."

"Enggak seberapa gimana coba?" Ssgara menatap tajam sambil menyugarkan rambut ke belakang. "Ini udah parah. Malah luka yang lo dapet, bisa bikin bokap lo di penjara. Harusnya lo laporin aja bokap lo."

"Kalau ngomong mah bisa, Gar. Masalahnya gue enggak punya kuasa yang dipunya sama bokap gue. Bukannya berhasil di penjara, malah gue yang kena getahnya," ujar Jellion sambil tertawa sumbang. Dia jadi teringat bagaimana dulu bisa berakhir di balik jeruji besi.

Sagara menghela napas kasar. Dia tidak bisa berbuat apa pun selain menatap kasihan dan iba kepada Jellion. Kalau saja dia terlahir sebagai anak orang yang benar-benar kaya, memiliki banyak uang, dan kuasa. Mungkin dia akan membantu Jellion terbebas dari genggaman Kailos.

"Udahlah, enggak usah sok sedih lo. Biasanya enggak pernah peduli juga." Jellion menepuk pelan bahu Sagara. Memutar kunci ruang kesehatan, hingga pintu terbuka. Lalu keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Sagara yang berjalan beriringan. 

"Gue sakit hati sama ucapan lo, Li." Sagara merajuk, padahal selama ini dia yang paling peduli kepada sahabat-sahabatnya. "Gue udah anggap lo lebih dari sahabat. Dan selama ini apa yang gue ucapin ke lo, itu benar-benar kepedulian gue."

Langkah Jellion berhenti, sedangkan Sagara tidak; terus berjalan meninggalkan Jellion yang berdiri mematung di tempat. Dia mencoba mencerna kalimat dari Sagara dengan seksama. "Gue sendiri juga enggak tahu Gar, kepedulian orang lain tuh bentuknya kayak gimana," gumamnya.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro