Prolog
Hai hai selamat datang di Jayden New Version
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tolong tandai typo
Well, happy reading everyone
Hope you like it
❤❤❤
______________________________________
Afterlife by Avenged Sevenfold
______________________________________
I will make you never forget about me, couse a bad boy always does it better
—Jayden Wilder
______________________________________
Musim dingin
Summertown, 16 November
12.43 p.m.
Kepalaku berat seolah ada beban satu ton yang bersarang di sana. Walau demikian, kedua kakiku tetap berusaha menyeret langkah yang tak seimbang ke arah kendaraanku yang terparkir di depan pintu ganda gedung D’Black Casino and Pub milikku.
Tanganku terangkat secara otomatis untuk menutupi wajah ketika cahaya matahari musim dingin yang redup terasa menyengat, menyakiti mataku yang setengah terpejam. Aku mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dari ruangan remang ke hamparan cahaya tersebut.
“Boss, biar aku yang mengantarmu.” Aku mendengar suara pria berbicara padaku dengan aksen Inggris yang kental.
Kubalas, “Tidak perlu. Berikan saja kunci mobilku.”
“Tapi—”
“Berikan saja kunciku!” todongku. Senyum melekuk di bibirku yang kering begitu benda yang disebut kunci itu berada dalam genggamanku.
Kala kakiku telah mencapai pintu mobil hitam, aku membalik tubuh 180 derajat untuk melihatnya lagi dan memerintah, “Jangan ikuti aku.”
“Tapi itu terlalu berbahaya.”
“Sialan! Aku sedang ingin sendirian!” teriakku dengan suara yang jauh lebih berat dan dalam dari biasanya.
Tidak peduli lagi pada pria itu, aku membuka mobil dan menjatuhkan diri di kursi kemudi. Tanganku berusaha memasukkan kunci tetapi beberapa kali gagal. “Hah! Sialan!”
Butuh usaha keras hanya untuk bisa memasuki tahap menyalakan mobil. Perlahan tetapi pasti, aku mulai meluncur meninggalkan Sandford menuju Oxford.
Ya.
Ya.
Aku harus pergi ke Oxford untuk menemuinya. Hal yang semestinya kulakukan semenjak bertahun-tahun lalu tiba di Cambridge. Mungkin tepatnya setahun setelah aku meninggalkan Indonesia. Mungkin ia ada di sana. Mungkin.
Aku tahu ada yang tidak beres. Namun, ketika mencoba mengorek ketidakberesan itu, aku selalu gagal. Teruntuk kali ini, aku berjanji akan menemukannya.
Kaki kananku menginjak pedal gas lebih dalam sehingga laju sedan hitam menjadi lebih cepat. Semakin bergegas, maka aku akan semakin cepat tiba dan menemukannya.
Sangat disayangkan, lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah membuatkanku meradang. Oh ayolah. Aku warga negara baik yang mematuhi segala peraturan lalu lintas, walau pria tadi pastilah berpikir beberapa gelas bellini wiskey mempengaruhi kesadaranku. Namun, kupastikan ia keliru. Alkohol memang sudah sedikit merangkak naik mempengaruhi cara jalanku yang tidak seimbang, akan tetapi pikiranku masih tajam. Jadi, tanpa adanya keraguan, kaki kananku berusaha berpijak pada rem, seirama dengan tangan kanan yang memegang persneling.
Berhubung sepertinya tidak cukup waktu yang kuperoleh untuk menghentikan laju sedan ini melebihi zebra cross, aku menggunakan jalan pintas dengan cara menarik rem tangan sekencang-kencangnya.
Bunyi decitan ban yang beradu dengan aspal dan kerikil jalanan terdengar memekakan telinga serta semakin membuatku bertambah pusing. Pegangan kemudi dalam genggamanku terlepas satu, lalu benda itu berputar sendiri. Berikutnya bunyi klakson truk pengangkut kayu raksasa yang kulihat sekilas bergema menembus gendang telingaku.
Lalu, semuanya terjadi begitu cepat. Aku merasakan adanya goncangan luar biasa. Bantalan kantong udara mobil keluar menghantam wajahku. Mobilku terguling, kaca-kaca yang melapisinya pun pecah. Serpihan-serpihan kecilnya mengenai seluruh permukaan kulitku yang tidak terbalut pakaian. Aku juga merasakan serpihan kaca besar nan lancip menancap di dada kananku.
Tidak. Aku tidak boleh mati sekarang. Aku harus menemukannya lebih dulu dan bertanya alasan ia meninggalkanku tanpa kabar.
Aku berusaha bernapas dengan benar, tetapi sulit. Tidak lama kemudian suara sirine memenuhi pendengaranku. Posisiku yang terjepit membuatku tidak dapat bergerak untuk melihat yang terjadi. Pada waktu bersamaan, aku merasakan banyak darah yang mengalir di kepalaku, melewati wajah. Bagian paling terasa adalah dadaku. Rasanya basah. Udara musim dingin menjadikanku semakin menggigil.
Tidak. Aku benar-benar tidak boleh mati sekarang.
Mungkin Tuhan mengabulkan permintaanku sebab untuk beberapa waktu yang singkat, pendengaranku menangkap getaran suara para pria berteriak.
Berusaha membuka mata untuk melihat situasi, pandanganku yang sebelah kanan buram dan merah akibat darah yang tadinya mengalir di dahiku sudah masuk indra pengelihatanku.
Aku pasrah ketika regu tim penyelamat menarikku dari himpitan mobil lalu tubuhku melayang dan mendarat pada suatu permukaan empuk. Berbagai macam alat medis pun segera dipasang.
Aku memejam sesaat, menikmati rasa sakit yang seharusnya menyerang tubuh hingga tulang, tetapi nyatanya tak seberapa dibandingkan bagaimana rasa sakit di hatiku.
Lalu ... aku mendengar suaranya. Suara yang sangat kurindukan saat ia menyebut namaku.
“Jayden stay with me. Please …. Stay with me, Jayden Wilder.” (Jayden, tetaplah bersamaku. Tolong .... Tetaplah bersamaku, Jayden Wilder)
Aku ingin melihat pemilik suara itu. Jadi, sekuat tenaga kubuka kedua mata dengan susah payah. Usaha itu pun membuahkan hasil. Aku melihatnya meski hanya dengan salah satu pengelihatanku, berbalut pakaian serbaputih yang khas. Kendati mengenakan masker dengan stetoskop yang menggelantung di lehernya, tetapi aku bisa mengenalinya.
Sudah kukatakan aku akan menemukannya. Kini, aku menemukannya.
Mata bulat itu kelihatan berkaca-kaca dan tidak lama kemudian tetesan airnya tumpah di pipiku, sehingga membuatku berkedip. Aku ingin menghapus air mata itu tetapi tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak.
Jangan menangis, Melody-ku. Jangan menangis.
Aku ingin meneriakkan kalimat itu. Sayangnya, tiba-tiba kegelapan menyergap dan memerangkap. Tidak selang lama kemudian kesadaran mulai meninggalkankan tubuhku sepenuhnya.
Tuhan. Aku menemukannya. Terima kasih.
______________________________________
Thanks for reading this prolog buku kedua dari Je Me Series
Kalo yang belum paham bisa baca dulu buku yang pertama Bad Boy in the Mask
Jangan lupa vote, komen, add to library, share, dan rekomendasi ke seluruh media sosial yang kalian punya jika kalian suka ceritanya
Makasih juga yang masih bertahan baca karya saya
See you next chapter teman temin
With Love
Chacha Nobili
👻👻👻
Post : 20 September 2019
Repost : 7 Juni 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro