Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 5

Selamat datang di chapter 5

Tinggalkan jejak dengam vote dan komen

Tolong tandai jika ada typo

Thanks

Well, happy reading everyone

Hope you like this

❤❤❤

______________________________________

Burning My Self Alive - Used

_____________________________________________

Apabila kau datang hanya berniat ingin menghancurkan seluruh hati serta hidupku,
selamat Berlian Melody, kau berhasil melakukannya dengan baik

—Jayden Wilder
_____________________________________________

Musim panas
Cambridge, 13 Juni
03.30 a.m.

Kegelapan dan oranye yang menggantung di langit serta hawa gerah musim panas menyambut kedatanganku di bandara Cambridge. Setelah menempuh perjalanan selama hampir 22 jam plus transit, akhirnya aku bisa meluruskan kaki yang terus-menerus ditekuk pada kursi pesawat yang sempit. Sambil berdiri mununduk dan menunggu para penumpang lain yang bejubel melewati deratan kursiku untuk turun, tanganku segera merogoh saku jin. Tidak tahan lagi ingin mengaktifkan ponsel untuk menelepon Melody.

Pada jarak perbedaan waktu Cambridge, aku menghitung serta mencocokkan pukul berapa di Jakarta sekarang. Menduga-duga apa yang dilakukan Melody pada jam 9.30 WIB. Sekarang sedang liburan, biasanya gadis itu menjadi putri tidur dadakan. Namun, aku bertaruh ia akan mengangkat teleponku. Selalu begitu.

Sangat disayangkan, taruhanku pada situasi meleset. Ponsel Melody tidak aktif dan secara otomatis tersambung ke layanan kotak suara. Aku pun bertanya-tanya ; apakah daya ponselnya habis dan ia lupa mengisinya? Atau Brian dan yang lain sedang menyitanya sebagai bentuk kejahilan di hari ulang tahun Melody?

Mungkin saja.

“Capek banget duduk terus,” keluh Tito mirip wanita cerewet dan manja.

Sembari menyimpan ponsel pada saku celana jin kembali, aku melihatnya berdiri di jalan sempit antara deretan tempat duduk kiri dan kanan. Dengan tangan merentang ke atas untuk meregangkan otot-otot, dilewati para penumpang yang sudah semakin jarang.

“Ayo, Boss,” ajaknya ketika sudah tidak ada lagi penumpang yang melewatinya. Kami pun keluar pesawat dan berjalan menuju bagian ban berjalan untuk mengantre bagasi sebelum ke bagian imigrasi.

“Gue paling males kalau nunggu bagasi,” keluh Tito lagi, tanpa melihatku sebab asyik bermain ponsel. Kuduga ia pasti bermain-main dengan para wanita. Cih! Dasar kadal buntung!

“Sama,” jawabku ringkas—malas—lalu netraku kembali fokus pada barang-barang yang mulai keluar berjajar di atas ban berjalan yang dikelilingi penumpang-penumpang lain.

Berhubung lama dan bosan, aku memilih merogoh dan mengambil ponsel kembali untuk menelepon salah satu kenalanku yang beberapa waktu berjanji memberiku anak anjing alaskan malamute berumur tiga bulan.

Anak anjing berbulu hitam, abu-abu tua, dan dominasi putih itu sendiri rencananya akan kuberikan pada Melody sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-17. Sayang sekali, di umur emasnya aku tidak bisa bersamanya karena kepentingan beasiswaku. Oleh karena itulah aku memberinya anak anjing tersebut untuk menemani sekaligus menjaganya selama aku menuntaskan pendidikan di Cambridge.

Dikarenakan butuh perantara untuk memberi kado itu pada yang berulang tahun, aku menelepon Jameka. Memintanya mengambil Max—nama anak anjing itu—ke rumah temanku yang sudah kuberitahu tadi dan mengurus sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun sebagai pelengkap kadoku.

Seperempat jam kemudian, koperku muncul. Jaraknya selang lima menit sebelum koper Tito. Usai mengurus imigrasi selama hampir lima belas menit, kami lantas menaiki taksi menuju Greengates Court—apartemen tempat tinggalku selama di Cambridge, sebab aku tidak suka tinggal di asrama kampus lantaran ramai.

Meski bangunanya hanya terdiri dari tiga lantai dan tidak seluas gedung-gedung apartemen lain, tetapi aku menyukai tempat itu karena selain dekat kampus, juga menawarkan privasi yang tinggi. Ngomong-ngomong, aku juga menyiapkan satu unit apartemen untuk Tito, letaknya tepat di sebelah apartemenku.

Well, selepas mandi, kubiarkan tubuhku ambruk di ranjang tunggal. Kedua mataku terpejam, tetapi tangan kananku memanjang ke arah nakas, meraba-raba permukannya untuk mengambil ponsel lalu mengutak-atik benda itu kembali.

Aku mendesah kasar karena sudah hampir dua jam, tetapi belum ada tanda-tanda ponsel Melody menyala. Jadi, kuputuskan untuk mengirimkan sebuah pesan.

Jayden :
Udah sampai apartemen, bales kalau udah baca
Miss you already ❤

Jet leg yang menyerang tubuhku habis-habisan membuatku meletakkan ponsel kembali ke nakas lalu tidur. Siapa tahu begitu bangun nanti, Melody sudah membalas pesan atau meneleponku.

Aku tidur lumayan lama, sekitar lima jam. Begitu bangun pukul sembilan pagi, hal yang pertama kali kulakukan selain menguap lebar dan merentangkan tangan untuk meregangkan otot-otot adalah mengecek alat komunikasi. Sayang sekali, kecewaan masih setia menghapus jejak-jejak harapanku. Tidak ada pemberitahuan baik pesan atau telepon dari Melody. Hanya ada sebuah surel masuk dari kampus yang memberi informasi tambahan untuk mahasiswa.

Jadi, aku kembali membuka pesan yang kukirim. Centangnya masih satu. Artinya ponsel Melody belum aktif. Mendapati kenyataan itu menjadikan lidahku berdecak dua kali beruturut-turut dalam waktu dua detik dan bertanya-tanya: ke mana perginya gadis itu?

Tidak biasanya ia begini. Apakah benar, ponselnya disita keluarganya sebagai kejahilan ulang tahun? Ataukah ia masih tidur?

Ngomong-ngomong soal ulang tahun, untuk menuntaskan rasa penasaranku akan kondisi kado yang kuberikan lewat perantara Jameka, aku beralih menelepon kakakku. Apa kau tahu bagaimana respons pertama yang kudapat darinya?

“Ngapain sih lo telepon-telepon gue malem-malem gini, Bambank? Kangen?” selorohnya, tepat ketika telepon baru saja tersambung. Suara kakakku serak khas orang bangun tidur.

Aku pun menjawab, “Najis.” Sambil menghitung mundur enam jam untuk mendapatkan waktu di Jakarta yang rupanya masih pukul tiga dini hari. Pantas saja Jameka menggerutu.

“Resek banget sih lo. Kagak tahu apa di sini baru jam tiga pagi buta? Dan lo ngerusak tidur cantik gue!”

Aku berguling ke kiri dan memindah ponsel di telinga kanan. “Cuma mau mastiin kondisi kado gue buat Mel.”

Erangan bak binatang buas dari Jameka menyelinap tanpa permisi ke indra pendengaranku. “Are you seriously righ now? Lo repot-repot bangunin gue cuma mau tanya soal itu? Kampret bener lo!”

“Iya. Bye.”

Kuakhiri panggilan telepon itu sebelum lebih banyak omelan yang keluar dari mulut pedas kakakku. Oh, ayolah, ia bukan Berlian Melody yang tetap menggemaskan meski sedang mengomel, menggerutu atau marah-marah dalam jangka waktu panjang. Yang pastinya tak akan pernah membuatku bosan mendengarkannya.

Astaga, memikirkannya saja sudah membuat senyumku mengembang sendiri dan rasa rindu pun menyelinap tanpa permisi. Namun, sebelum aku memutuskan untuk terjun ke alam mimpi dan memimpikannya sedang bersamaku, kugelengkan kepala untuk masuk ke alam nyata. Dan selagi menunggu Melody menghubungiku, aku memutuskan mempersiapkan apa saja syarat yang kurang untuk besok berdasarkan surel kampus.

Kata orang, kesibukan bisa membunuh waktu. Itulah yang kurasakan sekarang. Di saat sudah selesai menyiapkan berkas-berkas yang kubutuhkan, gulungan awan hitam dan cahaya bintang yang mewarnai langit sudah menerjang Cambridge.

Aku mengecek ponsel dan mendapati Berlian Melody sama sekali belum memberi kabar. Kuputukan untuk meneleponnya. Herannya kenapa selalu masuk kotak suara? Tidak kehabisan akal, aku menelepon Jameka untuk memastikan pesanku sudah tersampaikan atau belum. Dan kakakku menjawab sudah.

Tidak hanya itu, aku juga menelepon Brian, tetapi sahabatku berkata Melody sedang pergi girls day out bersama Bella. Berhubung tidak ingin mengganggu mereka, aku pun hanya meminta ia menyampaikan pesanku untuk adiknya supaya menghubungiku.

Kupikir, pesanku sudah cukup jelas dan Brian pasti akan menyampaikannya. Namun, kenapa Melody belum meneleponku hingga dua hari lamanya aku menunggu? Dan keanehan ini pun semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak? Dari dua hari, waktu berlalu menjadi seminggu sejak kedatanganku ke Cambridge, tetapi ponsel Melody selalu tidak aktif. Ke mana kira-kira perginya gadis itu? Kenapa tidak menghubungiku?

Telapak-telapak tanganku merangkak ke kepala dan menjambak rambutku, sebagai bentuk upaya menyalurkan frustasi. Sahabat-sahabatku yang berada di sekitarnya juga tidak bisa membantu sepenuhnya untuk memberi informasi tentang Melody.

Jadi, dikarenakan tidak tahan dengan keanehan ini, aku pun tidak bisa mencegah keinginan terbesarku membeli tiket penerbangan tercepat menuju Indonesia. Sayang sekali, kegiatan kampus yang semakin hari semakin padat menggagalkanku. Hingga harus membuatku berkali-kali menunda keinginan tersebut.

Musim dingin
Cambrigde, Desember
09.03 p.m.

Hampir enam bulan berlalu sejak Melody menghilang tanpa kabar dan tanpa tedeng aling-aling sebuah pertanda. Ataukah aku yang tidak peka terhadap tanda-tanda yang ditunjukkannya bahwa ia ingin menghilang dari hidupku?

Aku mulai tidak mengenali diriku sendiri dan hanya menjalankan rutinitas yang seharusnya kulakukan seperti biasa tanpa ada perasaan yang tertanam di hati. Hanya ada lubang menganga di sana. Kosong. Berharap gadis itu mengisinya sehingga tubuhku penuh oleh berbagai macam perasaan selayaknya aku mengenalnya dulu.

Kemarahan yang semula meletup-letup dalam diriku perlahan-lahan padam oleh rasa muak dan sakit hati yang tidak terobati sehingga membuatku kebal. Rambutku kubiarkan panjang sebahu, kumis dan janggutku juga kubiarkan tumbuh liar. Berkali-kali Tito menyuruhku bercukur, tetapi aku selalu mengabaikannya.

Suatu malam, aku memutuskan pergi ke bar Carpenters Arms yang berjarak hanya dua belas menit yang bisa ditempuh jalan kaki dari apartemen.

Hawa dingin yang menusuk-nusuk hingga ke tulang akhir Desember memberiku kesimpulan penduduk sekitar lebih memilih mendekam di dalam rumah untuk mencari kehangatan daripada berkeliaran di luar. Sambil merokok, aku dan Tito menyusuri jalanan agak sempit yang diapit bangunan-bangunan di kanan dan kirinya serta dipenuhi pernak-pernik Natal.

Ketika melewati jalan Bermuda Terrace, aku tidak sengaja mendengar seseorang merintih akibat pukulan yang bertubi-tubi. Langkahku memelan lalu berhenti secara otomatis untuk mendengarkan secara saksama.

Tito pun ikut berhenti. Kala ia akan membuka mulut, aku mengangkat sebelah tangan sebagai isyarat supaya ia diam. Tito memahaminya sambil mendekat lalu ikut celingukan. Di waktu bersamaan, kami menemukan sekelompok orang yang memukuli pria agak gemuk dan beruban. Dan aku tidak tahu bahwa pemandangan itu bisa memicu ide penyaluran kemarahanku atas menghilangnya Melody. Sama seperti saat kulampiaskan kemarahan yang tercipta akibat Allecio mengusirku dulu.

Bagai terkena sihir, tubuhku bergerak sendiri menerjang orang-orang yang memukuli pria tua itu secara membabi buta. Aku mendengar Tito berteriak, “Boss ... jangan ikut-ikutan urusan orang!”

Aku mengabaikannya untuk menghantam pipi pria berambut klimis yang hampir mencekik pria tua bersetelan jas itu. Sedangkan dua pria lainnya mulai menendangi punggungku dan berusaha menarikku dari pria yang dihajar tersebut.

“Bodoh amatlah! Gue bantuin lo aja!” teriak Tito lagi.

Aku tidak memperhatikan Tito sebab masih sibuk meninju atau menendang menggunakan jurus taekwondo lain untuk menyerang sekaligus bertahan dari pria-pria berbadan tegap tersebut. Sangat mengherankan keributan ini tidak membuat penduduk sekitar keluar untuk membantu pria tua tersebut. Padahal rumah-rumah di sekitar sini saling berdempetan.

Ketika aku dan Tito berhasil mengalahkan pria-pria pemukul itu, sambil menahan sakit, mereka pun kabur. Aku segera menuju pria tua bersetelan jas agak gemuk yang setengah duduk bersandar pagar kayu sambil memegangi perut.

Are you okey, Sir?” tanyaku. Bersama dengan Tito berusaha memapah beliau untuk berdiri.

Pria itu berusah menormalkan napas yang ngos-ngosan. Ada beberap luka di wajah beliau. Ada juga darah yang keluar dari hidung dan sudut bibir. Tangan gemuk itu terangkat, kupikir mencoba mengode kami bahwa beliau baik-baik saja.

Grazie, Figlio. A parte queste lievi ferite, sto bene.” (Terima kasih, Nak. Selain luka-luka ini, aku baik-baik saja.)

Aku sontak saling berpandangan dengan Tito. Seperti berbicara lewat isyarat tersebut bahwa kami sama sekali tidak mengerti bahasa pria ini.

“Posso prendere in prestito il tuo cellulare per un momento? Voglio chiamare qualcuno.” (Bolehkan aku meminjam ponselmu sebentar? Aku ingin menelepon seseorang.)

“I’m very sorry. Would you like to speak english, Sir?” tanyaku sekaligus meminta.

“Kau bukan orang Italia?” tanya pria itu yang akhirnya menggunakan bahasa Inggris berlogat asing. Sepertinya logat Italia.

“Setengah Italia, setengah Indonesia. Tapi tidak pernah belajar bahasa Italia sama sekali,” akuku. Cukup lucu bila aku mengungkap identitasku kepada orang asing. Terlebih, mengakui darah Italia-ku yang berasal dari si Tua Bangka itu. Aku membenci kenyataan tersebut.

Pria itu mengangguk lalu memandangku dan Tito secara bergantian dan bertanya, “Bolehkah aku meminjam ponsel sebentar? Aku ingin menghubungi seseorang untuk menjemputku.”

Tanpa pikir panjang, aku merogoh saku jin untuk mengambil ponsel kemudian memberikannya pada pria itu.

“Terima kasih,” kata beliau. Lantas mulai menelepon menggunakan bahasa Italia yang jelas tidak aku dan Tito pahami. Sekitar tiga puluh detik kemudian, beliau memberikan ponselku kembali dan mengatakan, “Akan ada yang menjemputku setelah ini. Terima kasih, aku janji akan membalasnya.”

Aku memanfaatkan situasi ini untuk menyalurkan amarahku yang terpendam selama hampir enam bulan. Karena itulah rasanya tidak sepatutnya aku mendapatkan ucapan terima kasih atau balas budi dari pria tua agak gemuk bersetelan jas ini. Jadi, aku pun menolak secara halus.

“Tidak perlu berterima kasih, Sir. Saya hanya—”

Sedan hitam yang berhenti di depan kami secara otomatis menghentikan omonganku. Orang-orang bersetelan hitam keluar menuju kami. Mereka berbicara dalam bahasa Italia pada pria tua tersebut secara pelan, tetapi penuh penekanan dan raut wajah datar sehingga memberiku kesimpulan jika mereka sedang kesal.

“Sampai jumpa,” kata beliau lantaran pergi dengan mobil tersebut.

Tito mulai mengoceh, “Boss, perasaan gue kagak enak. Kayaknya tuh orang tua bukan orang sembarangan.”

“Santai aja.” Aku berkata singkat. Mengabaikan luka-luka dan nyeri-nyeri bekas pukulan orang-orang tadi lalu melanjutkan perjalanan ke bar yang sempat tertunda bersama Tito.

Keesokan paginya, di saat aku bersiap kuliah, tiba-tiba interkom apartemenku berbunyi. Dengan malas, aku beranjak ke pintu depan untuk melihat dari monitor siapa tamu tersebut.

Rasa kejut segera memerangkapku begitu melihat pria tua yang tadi malam kutolong bersama seorang pria lain yang sama-sama mengenakan jaslah yang bertamu. Sambil membuka pengunci, aku mereka-reka dari mana beliau bisa menemukan apartemenku?

“Kau masih kuliah rupanya,” pungkas pria itu dalam bahasa Inggris berlogat Italia yang menjadi ciri khas beliau.

Aku pun semakin mengenyit heran. Dari mana pria itu tahu aku masih kuliah?

“Sebelumnya, boleh saya tanya, siapa nama Anda? Dari mana Anda tahu apartemen saya dan saya masih kuliah?”

Beliau merangkai seringai tipis. “Kau tidak mengenaliku?”

“Maaf sama sekali tidak, kecuali tadi malam,” jawabku datar, seperti biasa. Walau kerutan alisku masih terbentuk.

Pria itu menoleh ke rekannya yang lebih muda dari beliau dan tampak lebih tua dariku. “Alfred, berikan kartu namaku padanya,” titah pria itu. Dengan segera, pria yang dipanggil Alfred itu membuka tas kerja yang dibawanya lantaran mengulurkan kartu nama.

Kubaca kartu tersebut dan mendapati nama Benigno Davidde sebagai pengusaha kelab malam dan pemilik casino.

“Maaf, Nak. Semalam beberapa temanku mengikutimu sampai ke apartemen ini dan mencari tahu tentangmu, juga temanmu yang tadi malam.”

“Tapi kenapa?”

“Aku hanya ingin membalas budi,” jawab pria yang belum kupersilakan masuk tersebut.

“Tapi saya melakukannya bukan untuk meminta balas budi, Sir.” Aku bersumpah bisa melihat kedua alis tebal pria itu terangkat. Sedetik kemudian menoleh ke Alfred.

Well, begitu rupanya. Hm ... baiklah. Sepertinya aku datang di waktu yang salah. Sepertinya kau ada kelas pagi. Tapi, bagaimana pun terima kasih. Kalau suatu saat kau membutuhkan sesuatu, kau bisa menghubungiku kapan saja lewat pengacara pribadiku ini. Nomor telepon di kartu nama itu, nomor teleponnya.” Benigno menunjuk Alfred.

Di saat aku tidak tahu harus berbuat apa, pria itu lantaran pamit. Namun, samar-samar aku bisa mendengar Benigno berbisik, “Suruh Liam atau Specnter untuk mengawasinya. Siapa tahu dia suruhan klan Tiger untuk memata-matai klan kita swperti tadi malam.”

Klan Tiger? Klan kita?

Otakku seketika tersambung oleh ke beberapa kejadian janggal semalam. Mulai dari alasan Benigno dipukuli orang-orang berbadan tegap, orang-orang penghuni jalan Bermuda Terraso yang memilih menulikan pendengaran atas kejadian itu, lalu penyelidikannya padaku, dan sekarang kata-kala klan itu muncul.

Shit! Aku terlibat mafia Italia yang berada di Inggris.

______________________________________

Thanks for readong this chapter

Makasih juga yang uda vote, komen dan benerin typo

Kelen luar biasa

Well, apa temen2 udah ngerasa ada perbedaan Jayden yang versi lama sama versi baru ini?

Beberapa waktu lalu saya mikir keras soal Jayden di work ini. Kok rasanya kurang masuk akal gitu ya tiba-tiba Jayden bisa jadi ketua mafia. Terus hari-harinya sebagai ketua mafia juga menurut saya kurang mendetail. Jadi, saya melakukan beberapa riset soal mafia dunia nyata, entah itu dari buku atau film.

Nah, jadinya saya pengen bikin part gimana Jayden pertama kali terlibat sama mafia dan jadi ketua mafia.

Di sini saya juga ngasih tahu awal mula Jayden ketemu Alfred. Terus saya juga bahas Liam dan Spencter.

Alfred sebagai pengacara dari tokoh baru Benigno Davidde. Sebenernya tugas Alfred tuh semacam kayak penasihat gitu, biasanya kalau mafia-mafia nyebutnya consigliere. Tugasnya ngurusin sesuatu tentang hukum-hukum gitu deh. Bisa jadi nyuap hakim, polisi, parlemen, dan lain-lain.

Maaf kalau jadinya flat. Walau pun kayak gitu, ini demi menghindari plot hole di chapter-chapter berikutnya. Biar alurnya lebuh terarah dari Jayden versi lama.

Well, thanks udah baca bacotan. Semoga bermanfaat.

Bonus photo Melody 👻👻👻

Bang Jay kezeyengen saya gondrong

See you next chapter teman temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Post : 8 Oktober 2019
Repost : 23 September 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro