Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 49

Selamat datang di chapter 49

Numpang promosi dulu yaaakkkk

Siapa di sini yang belum punya Bad Boy in the Mask?

Masih bisa dipesan ya gaeeesss. Caranya chat aja nomor ini ya : 081333602659

Btw tau nggak perbedaan antara BBITM yang di WP sama yang cetak?

Bedanya nih :

1. Dikemas dalam bahasa yang lebih baik, menurut EYD yang sesuai KBBI dan PEUBI
2. Karekter Mel semakin kuat
3. Tentunya ada beberapa adegan tambahan dalam versi cetaknya.

Yang mau berteman di ig, dipersilahkan yes. Jangan sungkan-sungkan minta follow back. Jangan kaget juga kalo saya alay bin lebay bikin story ignya 😂😂

Well, jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote dan komen di chapter ini

Tandai jika ada typo juga yes

Thanks

WARNING 21+ ONLY!
TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN BIN MENGERIKAN YANG TIDAK COCOK UNTUK DIBACA SEMUA ORANG!
MOHON KEBIJAKSANAANNYA DALAM MEMBACA YA

Once again, thanks

Happy reading everyone

Hope you like this

❤❤❤

_____________________________________________
Off the Heezay by Bring Me the Horizon

______________________________________________

Be careful who you trust,
even the devil was once an angel

Michael Corleone (The Godfather)

______________________________________________

Musim panas

London, 9 Juni
(H-3 Wedding day)
00.20 a.m.

Kata Melody, selera filmku itu aneh. Laga, triller dan politik. Ha! Ia harus melihat sendiri bagaimana calon suaminya ini menerapkan beberapa teori hasil dari film-film yang ditontonnya. Maksudku, aku bercanda. Tidak mungkin aku melakukan semua itu kalau Melody melihat.

Contohnya, kendati berangkat ke London bersama Liam dan Spencter serta dua orang klan Davidde lain, kami mengendarai mobil masing-masing dengan jarak tertentu. Mobil-mobil kami juga menggunakan plat nomor plasu dan bukan kendaraan yang menjadi ciri khas kami sehari-hari. Pun, pakaian yang kami kenakan ; menyesuaikan tempat. Agar klan Donzalo tidak menyadari keberadaan kami yang ingin menyelinap dan memburu mereka.

Menurut dua orang klan kami yang menyamar, Cavez Donzalo masih di Phonox dan dikelilingi beberapa anak buahnya. Tentu ia tidak ingin mengambil risiko diserang orang, sama sepertiku.

Sedangkan Dahlia sudah bersiap memasuki kelab setelah insect spy drone berbentuk nyamuk yang terhubung dengan tabletku dan Liam siap dioperasikan Liam. Rencananya, nyamuk itu akan ikut dengan Spencter yang sebentar lagi juga menyusul. Dahlia harus semurni mungkin dari alat-alat penyadap seperti ini. Kecuali hands free.

Aku sendiri sekarang tengah mengenakan kaus hitam pendek dengan lengan digulung menjadi jangkis, jin senada lengkap dengan dokmart-ku agar terlihat menyatu sebagai pengunjung kelab di musim panas, tetapi tidak masuk. Mengawasi Dahlia dan Spencter gantian masuk kelab dari parkiran mobil sambil merokok.

Bedebah itu sedang bersama Dahlia di kursi bar. Spencter melapor melalui hands free.

Aku lantas memerintah Liam. “Arahkan nyamuknya ke mereka supaya kita bisa mendengarkan obrolan mereka.”

Mulanya, sangat susah memilah serta memilih suara Dahlia dan bedebah itu karena musik yang keras. Beruntungnya, dibantu dengan hasil video di tablet, lama-lama pendengaranku mulai beradaptasi.

Sayang sekali wanita cantik seperti dirimu patah hati malam ini. Suara bedebah itu terdengar sedikit jelas. “Bagaimana kalau kau kutemani minum?

Aku segera berkata. “Jangan sampai kau mabuk, Dahlia.”

Aku rasa, tempat ini terlalu berisik. Aku membutuhkan tempat tenang untuk menumpahkan semua sakit hatiku. Aku anggap Dahlia paham perkataanku.

Bagaimana kalau kau mampir ke tempatku?

Aku kembali berkata, “Jangan ke markasnya. Giring ke hotel Four Seasons kalau bisa. Usahakan semua anak buahnya tidak mengikutimu.”

Apa di tempatmu ramai? Aku benar-benar butuh ketenangan. Ah, sebaiknya aku pulang saja. Kau tahu, kepalaku sudah mulai pusing. Sepertinya aku sudah mulai sedikit mabuk.

Akan kuantar kau pulang, Miss, tawar bedebah itu.

Aku takut merepotkanmu.

Tidak, aku tidak ada kerjaan malam ini.

Dari tablet, aku melihat Dahlia dan Cavez beranjak dari kursi bar. Sebelum mereka mencapai pintu keluar, Cavez membisikkan sesutu pada orang yang kuduga sebagai anak buahnya.

Aku pun bicara pada Dahlia. “Bilang kau tidak nyaman pergi dengan orang lain.”

Dengan setelan wajah polos, Dahlia bertanya pada Cavez. “Apa temanmu itu akan ikut kita?”

“Well—”

“Aku jadi semakin tidak nyaman,” potong Dahlia.

Baiklah. Akan kuminta mereka meninggalkan kita.”

Gotcha!

Aku menarik satu sudut bibir ke atas membentuk smirk smile. “Let’s play the game.”

Aku mengendarai Audi warna tembaga dengan kecepatan di bawah standar, jauh di belakang mobil bedebah Cavez bersama Dahlia. Posisi Liam dan Spencter berada di depan. Memang sengaja kuperintahkan lebih dulu tiba di hotel agar tidak begitu terlihat kalau sedang membuntuti seseorang.

Ini merupakan awal dari caraku menghakimi bedebah Cavez yang ternyata merupakan pelaku penembak Alfred. Aku membayangkan pasca menghajarnya sampai babak belur, kabel lampu kamar hotel kulilitkan di lehernya. Kutarik kuat-kuat sampai bedebah itu mendelik. Ketika akan kehabisan napas, akan kulepaskan. Akan kuulangi sampai ia pingsan.

Nah, akan kugunakan kesempatan itu untuk menyeret tubuhnya yang kutelanjangi. Supaya tidak bisa lolos, tentu aku membutuhkan rantai besi berduri untuk mengikat kedua tangan, kedua kaki dan lehernya. Akan kubangunkan ia dengan mencabuti kuku-kukunya sampai habis.

Mungkin di musim panas ini ia membutuhkan mandi di bak yang penuh es batu selama berjam-jam. Setelahnya pindah ke air mendidih secara langsung.

Aku membayangkan kulitnya yang sobek dan melepuh lantaran suhu dingin dan panas yang bercampur menjadi satu. Ah, bisa kubayangkan juga kukopek daging-daging lengannya hanya dengan menggunakan garpu. Tulang-belulangnya pasti akan terlihat mengagumkan. Kemudian akan kusiram tulang-tulang itu menggunakan air keras.

Aku pasti akan bahagia menyaksikan bedebah itu menjerit, tetapi tidak ada yang menolong. Tubuhnya akan membusuk sampai ia tak bisa menampung rasa sakit dan akhirnya meregang nyawa. Well, penggiling daging besar di kantin gratisku sepertinya ide terbaik untuk menghancurkan tubuhnya, kemudian akan kuberikan anjing liar. Jejak Cavez Donzalo akan hilang sama sekali.

Bravo!

Smirk smile andalanku terakit begitu saja membayangkan serangkaian ide brilian tersebut dan tidak sabar mengeksekusinya.

Di tengah perjalanan, Liam memberi kabar bawah ia dan Spencer telah memesan satu kamar untuk memata-matai bedebah itu dengan peralatan seadanya berupa laptop, hands free dan sekoper baju. Sedangkan nyamuk dan remot drone sudah diterbangkan lebih dulu tanpa bersentuhan dengan detector. Dan kami merancang remotnya menyerupai stick game.  Sebab penjagaan hotel bintang lima tersebut lumayan ketat. Jadi, aku menyuruh mereka tidak perlu membawa senjata api jenis apapun sehingga kami tidak perlu memicu kecurigaan.

Selang beberapa menit, aku semakin memelankan kendaraanku. Sengaja membiarkan Dahlia mengambil perannya merayu bedebah itu untuk masuk dan memesan kamar di hotel Four Seansons.

Lima menit kemudian, ketika mendapat laporan dari Dahlia bahwa ia dan bedebah itu sudah mendapatkan kamar, aku baru tiba. Tanpa banyak lagak langsung menyambar ransel berisi pakaian yang sudah kusiapkan, ponsel pribadi bernomor Indonesia dan sekotak rokok lengkap beserta pematiknya. Dengan kata lain, aku menyamar sebagai turis dengan paspor palsu.

Ketika melewati detector hotel, aku sengaja mengobrol dengan petugasnya agar tidak terlalu memeriksa pasporku ; bertanya tentang objek wisata di Inggris menggunakan aksen Amerika agar terlihat meyakinkan, kemudian memesan kamar di lantai yang sama dengan Dahlia dan Spencter.

Liam dan Spencter memesan minuman yang paling direkomendasikan hotel untuk alasan teman kerja. Dahlia pun memesan jenis minuman yang sama, tetapi dengan kata berbelit-belit dulu. Mengobrol dengan bedebah Cavez untuk menyetujui ide minuman serupa. Begitu pula denganku yang berpura-pura sebagai turis, sangat awam soal minuman Inggris, sehingga meminta minuman rekomendasi. Dengan begitu, harapan kami pelayan hotel akan mengantarkan minuman ke kamar kami sekaligus lantaran berada di lantai yang sama. Dengan waktu yang relatif sama.

Rencana kedua pun berjalan lancar. Pelayan jasa kamar datang ke kamar Liam dan Spencter dulu sesuai urutan pemesan, lalu mereka membuatnya pingsan. Berikutnya, Spencter mengambil peran penyamaran sebagai pelayan untuk mengantar minuman ke kamar Dahlia.

Aku menunggu laporan Spencter mengenai pemberian duplikat kartu kunci dari Dahlia sehingga aku bisa masuk kamar wanita itu tanpa sepengetahuan Cavez.

Selama beberapa saat, gantian pintu kamarku yang diketuk dan Spencter yang masih mengenakan pakaian pelayan, memberikan minuman beserta kartu kunci tersebut. Pada saat Spencter keluar dari kamarku dan pura-pura kembali ke elevator khusus pekerja hotel, Liam meretas CCTV menggunakan drone nyamuk lebah sehingga Spencter bisa kembali ke kamar Liam.

Aku pun mulai bersiap beraksi. Sayangnya, tepat ketika kakiku baru akan keluar kamar, terdengar suara Cavez bertanya pada Dahlia. “Apa itu di telingamu?

Aku mengurungkan niat menarik gagang pintu.

Dahlia mengelak, “Hands free. Bukankah tadi kau sudah melihatku meletakkannya di detector?”

Dan kau memakainya lagi? Kau pikir aku sebodoh itu? Kau memata-mataiku? Jangan katakan kau anak buah Wilder sialan itu?

Lalu satu hantaman kencang terdengar dari hands free. Entah suara Dahlia yang memukul Cavez atau sebaliknya. Jadi, aku segera ke sana dan mendapati Dahlia sedang menjepit kepala bedebah itu menggunakan kedua pahanya, tetapi secepat kilat Cavez dapat mengelak. Dalam waktu yang bersamaan, Liam menanyakan bagaimana tindakan yang harus diambil melalui hands free.

Ini menjadi semakin tak terkendali. Suara kegaduhan semakin terdengar keras. Benda-benda dalam kamar itu juga menjadi sasaran Dahlia dan Cavez yang saling beradu kekuatan. Termasuk beberapa pecahan lampu hias dan kabel telepon yang tercabut.

Rencana kami pun berantakan.

Hold on!Aku berteriak pada Dahlia, tetapi tidak begitu keras. Masih berdiri di depan meja kopi kecil kamarnya, hanya memandangi dua orang beradu jotos sambil memutar otak.

Berhubung takut mengganggu penghuni lain, aku kembali ke kamarku dan memerintah Spencter mengambil rokok lengkap dengan korek api. Sedangkan drone nyamuk haruslah menghalangi kinerja CCTV sehingga Spencter bisa bertingkah seperti orang bodoh yang menyulut lintingan tembakau tersebut tepat di bawah alarm kebakaran yang berada di koridor.

Saat asapnya mengenai detector api di langit-langit, semua alarm menyala dan keran yang berada di tiap kamar serta koridor otomatis terbuka. Liam kuperintah menghentikan peretasan dan mengembalikan CCTV seperti sedia kala kemudian kuberi tugas mengarahkan orang-orang yang berhamburan keluar menuju tangga darurat.

Setelahnya, Spencter kuminta membangunkan pelayan yang sudah dikembalikan bajunya dan mendoktrin otak pria itu dengan pingsan akibat kaget mendapati alarm kebakaran berbunyi. Sementara aku mengurusi bedebah Cavez tanpa memedulikan air bagai hujan yang mengguyur seluruh tubuhku dalam kamar mereka.

Mulanya, kulepas cekikan Cavez pada leher Dahlia. Aku melihat wanita itu sekilas terbatuk dan menggelepak di lantai. Kemudian aku mendengar bedebah itu berteriak di tengah bisingnya suara jeritan orang-orang, hujan dan alarm kebakaran. “Seharusnya aku sudah bisa menduganya kalau itu kau!”

Ketika pria itu berusaha mengambil ponsel di nakas, aku meraih badan agak buncitnya dan meninjunya tepat mengenai pipi kiri.

Bukannya kesakitan, bedebah itu malah semakin brutal. Ia pun berhasil memukul wajahku beberapa kali sampai pembuluh darah dalam hidungku pecah dan menjadikanku mimisan.

Inginnya kuacuhkan itu, tetapi tendangan di perutku yang secara tiba-tiba membuatku terhuyung ke belakang. Dengan aku mengatur keseimbangan badanku kembali. Lalu berdiri dan balas nenendang perut buncit bedah itu hingga ia tersungkur ke lantai. Sebelum ia berhasil bangun, secepat kilat aku menjulang di atas ketua klan Donzalo tersebut, mencengkram bajunya yang sudah berantakan dan memukulinya membabi buta.

“Ini untuk anggota klanku yang kau fitnah mengambil jatah wilayahmu!” Aku meneriakinya demikian.

Kudaratkan satu pukulan keras di pipi kirinya.

“Ini untuk anak buahmu yang memata-matai kantin gratisku!”

Kudaratkan satu kupulan keras lagi di mata kirinya.

“Ini untuk anak buahmu yang mengacaukan pembangun gedung-gedung baruku!”

Kudaratkan satu kupulan keras lagi di hidungnya sampai bunyi retakan. Darah kontan mengucur seketika.

“Yang mengacaukan barang-barangku di pihak bea cukai!”

Kudaratkan satu kupulan keras lagi di pipi kirinya.

“Dan ini ....” Aku menghetikan absen serentetan kalimat penyebab semua bisnisku terhambat karena mataku sudah mulai memanas dan berkedip cepat untuk menghalau rintik-rintik air deras dari keran langit-langit. Kepalaku berdenyut. Seluruh emosiku rasanya memuncak. Namun, tidak menghentikan tinjuku pada wajah babak belur di bawahku, sebab mengingat Alfred.

“Dan ini ....” Sekali lagi aku menghentikan kalimat sekaligus gerakan memukulku untuk berdiri kemudian menginjak perut bedebah itu berulang kali dan sekeras yang kubisa.

“INI UNTUK ALFRED!”

Kuinjak lagi perut buncit itu keras-keras.

“INI UNTUK ALFRED!”

Kuinjak lagi perut buncit itu keras-keras.

“INI JUGA UNTUK ALFRED!”

Kuinjak lagi perut buncit itu keras-keras.

Piss off!”

Kuinjak lagi perut buncit itu keras-keras.

“AKU BILANG INI UNTUK ALFRED!”

Kuinjak lagi perut buncit itu keras-keras.

“KAU MEMBUNUHNYA! KAU MEMBUNUH KELUARGAKU! KAU HARUS MEMBAYARNYA DENGAN NYAWAMU!”

Kuinjak lagi.

“DASAR SIALAN! MASIH UNTUNG KUTEMBAK KAKIMU WAKTU ITU! TAPI KAU MALAH MEMINTA LEBIH!”

Kuinjak sekali lagi.

“RASAKAN INI, SIALAN!”

Aku mengulangi kakiku menginjak perut Cavez.

Dahlia yang sedari tadi sudah tergelepak di lantai dengan wajah tak kalah babak belur dari Cavez bersusah payah bangkit dan berupaya menarikku. “Boss, hentikan. Kau bisa membunuhnya!”

“BIAR DIA MEMBUSUK DI NERAKA!”

Aku masih setia meminjak perut Cavez.

“AKU MEMANG AKAN MENYIKSA SAMPAI DIA MEMOHON SENDIRI UNTUK MATI!” Aku masih berteriak dan menendangi perut buncit itu.

“BOSS ... HENTIKAN, INI SUDAH CUKUP! AKU MENDENGAR ADA BEBERAPA AMBULAN, PEMADAM KEBAKARAN DAN MOBIL POLISI YANG DATANG. JANGAN BERULAH!” teriak Dahlia.

“INI MASIH BELUM CUKUP! DIA MEMBUNUH ALFRED! AKU JUGA AKAN MEMBUNUHNYA! AKU SUDAH BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHNYA!” Aku mulai kesetanan.

“Boss ... pernikahanmu, Boss ... ingat pernikahanmu! Ini sudah ganti hari,itu berarti kurang tiga hari lagi. Kita cukup ambil risiko sampai di sini!” Dahlia meneriakku lagi sambil menahan tanganku.

Melody ....

Aku refleks menghentikan tendanganku. Dengan napas masih terengah, aku memandangi bedebah itu yang terbatuk-batuk dan menyemburkan darah dari mulutnya. Tangan-tanganku yang semula mengepal perlahan merenggang. Beberapa saat kemudian hujan yang bersumber dari keran langit-langit kamar berhenti. Amarahku juga perlahan turun.

Selewat beberapa detik, bedebah itu tertawa keras seperti orang tidak waras. “Hahaha ... kau tahu, Wilder? Wanita selalu membuat pria terlihat lemah. Padahal mereka hanya alat pemuas nafsu. Aku tidak percaya, kau menikah hanya untuk memenuhi kebutuhan seksmu. Bukankan menyewa wanita seperti dia lebih efisien? Tidak perlu komitmen yang memusingkan.”

Amarahku kontan tersulut lagi, sekali lagi aku memukuli wajahnya dengan membabi buta. Sementara Dahlia terlihat kembali tersungkur karena menahan sakit di bagian lengannya yang terluka.

Setelah yakin bedebah ini benar-benar lunglai, aku berniat mengambil kabel telepon yang putus dan mencekiknya seperti bayanganku tadi, lalu menyelesaikan yang harus kuselesaikan. Sayang sekali tidak terlaksana.

Semua terjadi begitu cepat hingga aku tidak diberi kesempatan untuk berpikir, mencerna dan memasang sikap defensif ketika Dahlia berteriak, “Awas, Boss!”

Dan bedebah itu berhasil menusuk pinggangku menggunakan pecahan lampu kamar. Kemudian dengan cepat mencabutnya dan ditusukkan ke dada atasku, tepat ketika beberapa polisi masuk kamar ini bersama Erlang Eclipster.

Erlang Eclipster? Apa yang ia lakukan di sini dan membawa polisi?

_______________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote dan komen

Bonus foto calon istrinya abang Jay (Yang nggak diakui)

Eh, ini yang diakui

Bonus juga foto abang Jay

See you teman temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Post : 14 September 2020
Repost : 18 Desember 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro