Chapter 38
Selamat datang di chapter 38
Makasih bagi yang masih nungguin bang Jay up
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo (sukanya gentayangan)
Happy reading everyone
Hope you like it
❤❤❤
_____________________________________________
Nemesis by Cradle of Filth
______________________________________________
Who cares?
All I want is you as soon as possible
—Jayden Wilder
______________________________________________
Musim semi
Summertown, 15 Maret
18.01 p.m.
Selesai makan, Melody berinisiatif mencuci gelas yang kami gunakan untuk minum di mesin pencuci alat makan. Sedangkan untuk makan, kami tetap menggunakan kotak kertas sebagai tempatnya dan sumpit bambu yang kami dapat dari take away. Prkatis, mudah dan tinggal buang ke tong sampah kalau sudah tidak ada urusan dengan itu.
Aku yang tidak membantu Melody perlahan mendekatnya, mulai melancarkan aksi merecoki wanita itu. Aku berdiri di belakang tubuh feminin yang setengah berjongkok dengan tangan menekan-nekan tombol mesin. Ketika ia berdiri tegak, lengan-lenganku bergerak melingkari pinggangnya. Menempel mirip keong di tepi sawah.
Seperti biasa, aku memanjakan indra pembauku untuk mencuri semua aroma vanila itu. Mengisi setiap ruas paru-paruku hingga penuh oleh Melody. Membawa untaian-untaian rambut lurusnya ke belakang telinga sehingga aku bisa mengecup pundak dan lehernya secara takzim.
Gelombang kejut kecil menyerang Melody begitu cepat. Aku juga mendengarnya mereguk saliva sekali. Meski demikian, ia bersikap normal dengan memegangi lengan-lenganku yang kembali melingkari perut ratanya.
“Baru tahu kamu bisa nyuci piring.”
“Eh? Iya, ini ‘kan mesin. Tinggal taruh terus pencet-pencet. And voilà .... Jadi bersih sendiri,” balasnya sembari menoleh, tetapi iris gelap milik wanita itu tertuju pada mesin di bagian kabinet bawah sink.
“Berarti udah siap jadi istriku tiga bulan lagi dong?” Sekali lagi aku bergelayut manja.
Kuarahkan lagi sebagian rambut Melody yang sempat menjutai ke pundak kanannya untuk memudahkanku mengecup tengkuk wanita itu yang masih terbalut kemeja. Jaket denimnya sudah dilepas dan digantung di dekat pintu masuk penthouse.
“Ya?” bujukku. Sembari terus menekan bibir dan hidungku yang mulai kurambatkan ke bawah telinga Melody.
“Ternyata kamu ngasih pujian ada maunya, ya?” Pegangan Melody di lengan-lenganku mengetat dan ia mendongakak, seolah memberiku akses. Meski mulutnya tak lepas dari gerutuan. “Manja banget ih! Manipulatif juga!”
Bukannya menjawab. Aku justru semakin menelusuri lehernya secara perlahan. Menekuri kelembutan dan kehalusan kulitnya yang harum. Napas berat pendek yang dihasilkan Melody membuatku senang dan mengira bisa membuatnya luluh dengan cara seperti ini.
Rupanya, dugaanku keliru. Alarm mesin pencuci piring yang tiba-tiba berbunyi menjadikan Melody berdiri tegak dan meloloskan diri dariku. Kemudian melanjutkan pekerjaannya memindah gelas-gelas kami ke kabinet khusus tempat meletakkan gelas.
Sedangkan aku? Jiwaku sontak merasa gersang dan tanpa tedeng aling-aling, desau angin gurun yang membawa debu panas serta kerap menyeret gulungan jerami melintasi benakku. Lengkap dengan suara kuda cowboy yang tertawa. Suaranya melengking, seolah-olah memang benar ditujukan padaku. Menertawakanku.
Apa-apaan ini? Melody mengabaikanku? Begitu? Dan apakah aku langsung putus asa? Oh! Jelas tidak.
“Ya?” Telah kembali ke alam nyata, aku membujuknya lagi dengan memeluknya seperti tadi.
Apabila dulu ia bisa merecoki aku dengan memintaku menggendongnya di punggung, lalu secara praktis ikut ke mana-mana mirip anak dan induk koala, aku juga bisa menjelma jadi keong sawah, atau cicak atau apa pun—kecuali panu—yang ibaratnya bisa menempel.
Apalagi keberangkatan dan kesibukanku ke Brooklyn besok sampai beberapa hari ke depan menjadikan kami tidak jumpa dalam beberapa waktu. Jadi, aku harus segera memastikannya. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Lagipula, sekali-sekali manja dengan calon istri tidak apa-apa, bukan?
“Ya? Besok aku ke Brooklyn—”
“Iya, aku udah tahu. Nanya Alfred tadi siang,” potong Melody.
Sialan!
Ingatkan aku untuk memotong lidah Alfed agar tidak seenak jidatnya membocorkan informasi pada Melody saat aku belum mengatakannya sendiri pada calon istriku.
Dasar lancang!
“Lain kali nanya langsung ke orangnya. Nggak usah nanya ke Alfred!” ucapku datar. Melipir pergi ke kamar mandi. Berencana mengguyur seluruh tubuh agar segar. Akan tetapi tiba-tiba Melody berlari dan memelukku dari belakang. Aku pun terkesiap dan refleks menghentikan langkah.
“Jangan marah, Jayden. Maaf. Lain aku langsung tanya kamu. Aku cuma mau ngasih surprise tadi.”
Oke, Melody menang. Selalu menang. Dan aku selalu lemah dengannya.
Aku sudah pernah bilang kalau menjadi CEO Heratl itu tidak enak, bukan? Seperti saat ini contohnya. Baru saja aku akan bermanja-manja pada Melody lantaran wanita itu melunak, telepon yang berurusan dengan pekerjaan masuk.
Melalui Alfred, divisi engeenering melapor ada beberapa kendala mengenai sistem. Aku pun terpaksa meminta izin Melody ke ruang kerja—dan ia mengikutiku—untuk segera membuka mac book dan membaca beberapa surel yang masuk berkaitan dengan itu.
Sibuk dengan pekerjaan, sepertinya Melody merasa terabaikan. Diam-diam aku meliriknya. Ia tiduran di sofa depan meja kerjaku sambil menatapku dengan wajah cemberut. Kelakuannya pun aneh-aneh untuk mendapatkan perhatianku. Mulanya, ia hanya memanggil-manggil namaku dengan suara dilembut-lembutkan. Berhubung tidak mendapat respons dariku, ia meninggikan intonasi.
“Jayden sombong ih!”
Aku hanya tersenyum tipis dan berusaha mengumpulkan konsenentrasi kembali ke layar laptop. Sayang seribu sayang, sekitar lima menit kemudian, ketahanan yang kumilik perlahan melebur.
Maka, kugeserlah pandangan ke wanita itu dan mendapatinya sedang mengangkat kedua kaki lalu menggerakannya mirip mengayuh sepeda sambil berhitung, “Satu ... dua ... Jayden sibuk. Tiga ... empat ... aku dicuekin. Lima ... enam ... apanya yang want to spending that time with you?”
Astaga. Bisa tidak, sedetik saja Berlian Melody tidak menggemaskan? Duh! Jadi ingin menggigit bibirnya yang menggerutu plus mengerucut mirip paruh bebek itu. Sayanganya, aku harus menahan diri untuk mengurus permasalahan enggenering pada laptopku sebab Alfred sedang tidak bisa mengerjakannya. Pria itu menjemput Lih dan Max di bandara.
Ketika sedang khidmat ke layar, tiba-tiba aku mendapat lemparan bantal sofa dari Melody. Tepat mengenai dadaku. Aku semakin menarik kedua sudut bibir ke atas membentuk garis cekung dan memutuskan untuk memangku bantal tersebut. Yang berarti kembali mengabaikan calon istriku yang merajuk. Karena sedikit lagi pekerjaanku ini akan selesai. Sedikit lagi. Aku janji, sedikit lagi.
Aku kembali memelototi layar dan menggerakkan jari-jemariku di atas papan ketik. Tidak sampai tiga menit kemudian, Melody yang menggantikan bantal sofa yang kupangku, mengejutkanku. Posisinya menghadapku. Dengan lengan-lengan yang melingkar di leher dan kepalanya bersandar pada dadaku yang langsung mendapat spot jantung.
“Mau di sini aja. Aku nggak ganggu kok. Janji,” gumamnya.
Dasar calon instriku!
Setelah meng-klik icon ‘send’ pada halaman surel, aku beranjak dari tempatku duduk dan membawa Melody ke luar ruang kerja.
Saatnya menjalankan rencana B .... Pikirku riang disertai smirk smile andalan.
O, o .... Jaga pikiranmu sampai di situ, kawan. Kau salah apabila mengira aku akan membuat Melody memberiku calon penerus sekarang juga. Itu memang ide yang brilian dan jenius. Namun, tidak, maksudku, belum untuk saat ini.
Sudah pernah kukatakan bahwa aku bukan orang suci yang belum pernah beradu keringat secara dewasa dengan seorang wanita. Teruntuk kali, pengecualian. Bersama Berlian Melody, pikiranku bukan melulu tentang bagaimana membuatnya menjeritkan namaku dengan cara seksi atau sebaliknya. Bersamanya, aku seperti melihat masa depan yang cerah.
Jadi, tidak hanya kegiatan biologis ala orang dewasa yang ada dalam batok kepalaku kalau menyangkut soal Melody. Apa sudah pernah kukatakan bahwa bersama wanita itu aku jadi merasa punya adab khusus uuntuk hal intim? Kendati nyatanya akulah yang membuatnya jadi nakal padaku.
Memang, saat Melody tanpa permisi duduk di pangkuanku dengan posisi berhadap-hadapan, aku sedikit terpicu. Dalam perjalanan keluar dari ruang kerja pun, aku tak tahan untuk tidak mempersembahkan bibirku untuk menyecapi bibirnya dengan sangat lembut, tidak tergesa-gesa dan intens. Seperti menyalurkan seluruh perasaanku saat ini padanya.
Kulihat Melody-ku memejam menikamti ciuman kami. Ketika tiba di suatu ruangan yang memang menjadi tujuanku, aku melepas ciuman dan mendudukkan wanita itu di sofa bundar besar yang terletak di pojok. Dan ia pun membuka mata.
Aku duduk berjongkok di depannya, memperhatikan Melody yang menggerakkan kepala dan kedua netranya ke seluruh ruangan ini. Menyusuri rak-rak bagian atas, tempat piringan musik beserta alat pemutarnya berjejer rapi. Bergeser ke kanan, ada gitar bass dan saxophone yang kugantung sejajar. Ada juga gitar listrik pada standing-nya, piano, lengkap dengan sound system kecil dan beberapa potret musisi terkenal idolaku menempel di sisi kanan dinding studio musik mini tidak kedap suara dalam penthouse-ku ini.
Ruang di mana kadang aku menghabiskan waktu untuk menenangkan diri dengan mendengarkan lagu-lagu kesukaanku atau hanya sekedar menyalurkan hobi bermusik.
Ada satu hal dalam studio ini yang membuat Melody sangat terkesima. Yakni potret wajah wanita itu ketika masih berumur enam belas tahun sedang tersenyum yang memenuhi seluruh bagian dinding depan sofa. Bentuknya mozaik, hanya terdiri dari warna kuning dan hitam.
Jadi, apabila duduk di sofa yang sekarang diduduki Melody, siapa pun bisa puas menatap potret itu.
Suatu malam, aku pernah berdiam diri di sofa budar tersebut. Membiarkan Jimi Hendrix menemaniku dengan sekaleng cola. Memelihat senyum Melody pada potret sersebut. Semakin lama kupandang, rasa rindu kian membuncah. Menggedok-gedor rusukku dengan kenyataan bahwa Melody akan menikahi Zain Malik KW.
Jadi, aku melempar potret tersebut menggunakan kaleng soda dalam genggamanku. Isinya yang masih cukup banyak mengakibatkan sisi rambut pada potretnya terpercik cola dan akhirnya menjadi noda kecokelatan. Mungkin maid lupa atau terlewat membersihkannya. Atau memang tidak tahu caranya supaya potretnya tidak rusak.
Sekarang, mendapati wanita yang menjadi latar belakang seluruh dinding depan sofa ruangan ini sedang berada di sini, bersamaku, membuatku bahagia dan tenang.
Mata Melody berbinar dan refleks menutupi mulut menggunakan kedua telapak tangan sambil mengatakan, “I’m speechless. Baru tahu ada fotoku segede ini di penthouse-mu. Padahal udah beberapa kali nginep di sini.” Kemudian ia memicingkan mata karena mendapati sesuatu. “Tapi kok rambutku ada cokelat-cokelatnya?”
“Itu namanya improvisasi seni.”
Tidak mungkin aku bilang itu bekas cola, bukan?
Good job, Jay! Aku memuji kepintaranku dalam mengutarakan alasan.
Melody mencebik dengan raut wajah bingung. Untuk mengalihkan itu, kuajak ia berdiri sambil menunjuk alat-alat musik di ruangan ini lalu mengatakan, “Choose one. I will play it for you.”
Syukurlah, ia teralihkan dengan berbalik tanya. “Can you play them all?”.
“Yes, but not at the same time.”
“Ya iyalah Jayden, Oon!” hardiknya sambil memutar bola mata malas.
Seulas senyum tipis tersungging di bibirku kemudian mengangguk. “Your Jayden is multi-tanlented,” kataku bangga sambil menepuk dada seperti dulu saat menyanyikan lagu Bed of Roses-nya Bon Jovi di tengah tarian gila kami di apertemen. Pasca kedatangan mama tiri tersayang bernama rubah fucking licik. (Baca Bad Boy in the Mask chapter 12)
“Jangankan main musik, bikin perutmu melendung aja bisa, kalau nggak percaya aku buktiin sekarang,” tambahku sambil smirk smile.
Melody sontak memukul lenganku kencang. “Jayden kumat.”
Aku pura-pura mengaduh.
Well, ya. Tebakanmu benar. Aku bisa memainkan semua alat musik yang ada di ruangan ini. Kau tidak lupa, bukan? Dulu sekali aku pernah kursus berbagai jenis alat musik untuk mengambil hati papa? Dan hasilnya luar biasa! Tidak berguna! Namun, setelah kupikir lagi, bermusik itu seperti menyalurkan rasa. Jadi, aku menikmatinya. Dan perhatian papa kudapat dengan cara berbeda.
Aku ingat saat kursus bermain gitar. Semua jenis gitar kucoba satu per satu. Mulai dari dasar-dasar kunci gitar hingga lanjutan bermain bass dan melody. Dan yang paling sulit memang bermain melody. Anehnya justru karena itulah aku merasa tertantang, sehingga membuatku paling semangat mempelajarinya.
Sekitar dua tahun kemudian, pelajaran berbagai tekniknya membuahkan hasil. Aku merasa bisa menakhlukkan melody dan merasa sangat menyukainya. Bahkan ketika SMA, aku punya kelompok band sendiri. Dan ternyata my future wife’s name is the most musical instrument that I love. Mengejutkan.
Calon istriku mulai mengitari ruangan. Aku sibuk menyetel sound system, mengatur bass, volume dan lain-lain. Sebab yakin Melody akan memilih gitar listrik. Dulu saat berada di pesta pernikahan om Baldwin dan tante Amanda, ia memintaku memainkan melody gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Mungkin saja sekarang keinginannya masih sama. (Baca Bad Boy in the Mask chapter 39)
Alih-alih memilih gitar listrik, aku malah kaget ketika mendengar sebuah tuts piano ditekan beberapa kali membentuk sebuah nada dan Melody yang melakukannya. Aku bahkan tidak sadar ketika ia sudah duduk di kursi depan alat musik tersebut dan menyetel setiap detailnya.
Aku mendekatinya dan bertanya, “Bisa main piano?”
“Dikit,” jawabnya sambil menolehku.
“Coba mainin satu lagu,” pintaku.
Ada sedikit keraguan di wajah manis tersebut. “Aku cuma bisa lagu klasik. Bukan metal-metal kayak kesukaanmu.”
“Nggak apa-apa,” jawabku santai sembari mengambil duduk di sofa bundar.
Ketika Melody mulai menekan tuts piano membentuk nada Spring Waltz milik Frederic Chopin, aku berdiri lagi untuk mengambil gitar listrikku dari standing-nya, mencolokkan kabel pada sound system, mengaturnya sekali lagi dan mulai memetik senar-senar gitar tersebut menggunakan pick sehingga menciptakan nada yang sama. Namun, versiku lebih mengarah pada rock musik.
Melody yang mendengar petikan gitarku pun berhenti menekan tuts untuk melihatku sambil tertawa geli. “Jayden ...,” panggilnya seirama dengan menggeleng demi gelengkan.
Tanpa menghentikan permainan gitar, aku menunjuk tuts piano di depan Melody menggunakan dagu, mengodenya untuk lanjut bermain.
Lima menit kemudian, wanita itu mengakhiri dengan kunci D dan menekan tuts-tuts itu lebih lama. Sedangkan aku mengakhirinya dengan kunci yang sama plus memainkan handle untuk menaik-turunkan nada.
Suara tepuk tangan terdengar dari Melody yang sudah berdiri di depan sofa bundar tempat aku duduk. Setelah meletakkan gitar listrik pada tempatnya, aku mendongak menatap wanita itu. “Mainmu bagus.”
“Masih perlu banyak belajar,” jawabnya. “Tahu nggak kamu kalau udah main melody gitar itu kerennya nambah berkali-kali lipat,” imbuh wanita itu dengan wajah malu-malu.
“Oh ya?” tanyaku dengan nada datar sambil menarik tubuhnya agar menempel pada tubuhku.
Melody menunduk untuk menatapku sembari membawa telapak-telapak tangannya pada kedua sisi pundakku. “Iya,” jawabnya ringkas lantas mengalungkan tangannya di leherku.
Tarikan sudut bibir sebelah kanan membentuk smirk smile tak bisa kutahan-tahan lagi. “So, do you wanna marry me three months latter?”
“Jadi kamu nyogok aku pakai ini tadi?” Melody berbalik tanya diselingi senyuman segar yang terakit di bibir merah mudanya. Rambut panjangnya menjuntai hampir mengenai wajahku. Jadi, aku menyematkannya ke telinga.
Ya, ya, inilah rencana B-ku.
“Berhasil nggak? Atau perlu satu lagu lagi?”
“Kamu ngotot banget ya Jayden?”
“Berapa lagu lagi biar lebih keren? Biar kamu nikahin aku tiga bulan lagi?” todongku, menghiraukan pertanyaannya.
Namun, Melody kembali mengulangnya. “Kamu ngotot banget ya, Jayden?”
“Iya,” jawabku tanpa pikir panjang, karena memang kenyataannya seperti itu.
“Gimana sama kado ulang tahunmu? Padahal aku pengin banget ngasih kado itu.”
“Who cares? All I want is you as soo as posiible.”
Untuk beberapa saat, kami saling berpandangan. Mungkin, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku sibuk menerka jawaban yang akan Melody berikan. Di lain sisi kening yang berketut seperti itu mungkin salah satu cara Melody sedang mempertimbangkan hal itu.
Baru saja wanita tersebut membuka mulut akan menjawab, suara dentangan bel penthouseku berbunyi.
Ck! Siapa itu? Mengganggu orang aja!
______________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks juga yang udah vote dan komen, atau benerin typo
Kelen liar biasa
Btw, ada yang kangen si Mel? Uda lumayan gedhe lho adek ini di kehidupan nyata 😁
Siapa yang kangen sama Jaydennya Chacha Prima?
See you next chapter teman-temin
Keep healty, sosial distance, pray for Us and don’t forget to washing your hand
With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻
Post : 22 Maret 2020
Repost : 6 Desember 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro