Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 37

Selamat datang di chapter 37

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (biasanya suka lari sana sini)

Thanks

Happy reading and happy weekend

Hope you like it

❤❤❤

_____________________________________________

Bohemian Rhapsody by Queen

_____________________________________________

I wanna have many times to see you and spending that time with you as long as we can do

Jayden Wilder
______________________________________________

Musim semi
Summertown, 3 Maret
22.05 p.m.

Dengan kalimat yang sebenarnya bermakna harfiah, tetapi karena ditambahkan bumbu konotatif dalam tindakan, aku sukses memancing rasa penasaran Melody. Sehingga berhasil menggiring wanita mabuk tersebut keluar dari kelab malamku yang sudah kutitipkan pada Liam dan yang lainnya.

Dalam perjalanan ke penthouse, ia muntah di lantai mobilku. Lalu jatuh tertidur di jok mobil anggota klan lain yang mengikutiku—yang terpaksa kupinjam—pasca membersihkan mulutnya menggunakan air mineral.

Karena fakta inilah hatiku tercubit. Membayangkan Tito yang selalu mengurusku setiap kali aku mabuk. Tak kenal tempat dan waktu. Jadi, kuputuskan untuk membiarkan pria itu main-main dengan wanita malam ini sesukanya. Asal tidak lupa dengan pekerjaannya.

Keesokan paginya, Melody mengeluh panjang tentang kepalanya yang pusing dan perutnya yang pengar. Dan aku semakin menggodanya dengan sindiran-sindiran supaya ia kapok tak mabuk lagi. Beruntungnya calon istriku menurut meski menyuguhkan mulut paruh bebek.

Hendak membicarakan negosiasi tanggal pernikahan kami, Alfred dan Tito terburu datang menjemputku. Dan kami pun kembali sibuk dengan urusan masing-masing hingga seminggu lamanya.

Puncaknya ketika Alfred membuat janji temu dengan CEO Utama Raya bernama Erlang Eclipster di Brooklyn dalam tiga hari ke depan. Itu artinya aku harus berangkat ke sana besok lusa. Dan aku belum memberitahu Melody, karena—lagi-lagi—jadwal kami padat mirip es batu di freezer.

Kalau boleh jujur, menjadi CEO Heratl bukanlah gairahku. Memang benar aku berusaha memperbaiki perusahaan tersebut secara tahap demi tahap, tetapi aku lebih suka bekerja sebagai pemimpin bisnis-bisnis yang kuwarisi dari Benigno Davidde.

Maka dari itu, setelah misi ini rampung dan aku bisa menikahi Melody, jabatan mentereng bagi sebagian besar orang tersebut akan kuserahkan pada Jameka. Kendati wanita, tetapi kakakku mumpuni untuk mengambil alihnya.

Mengenai rencana besok lusa, aku menelepon Lih menggunakan nomor Indonesia (ponsel pribadi khususku) untuk meminta sedikit bantuan.

“Ya, Boss?” tanya pria itu begitu sambungan teleponku aktif.

“Tolong bawa Max ke sini. Entar gue yang ngasih tahu Brian kalau lo mau dateng ke rumahnya buat ngambil Max,” titahku pada Lih.

Sedikit informasi, berhubung Bella sedang hamil, om Baldwin dan tante Amanda tak memperbolehkan mereka tinggal di rumah mereka sendiri. Jadi, mereka tinggal sementara di rumah om Baldwin.

“Max siapa, Boss?”

Ck! Aku memjamkan mata sambil memijit pelipis lantaran mendengar Lih bertanya demikian.

“Anjing alaskan malmute-nya Mel. Jangan lupa cek kesehatannya ke dokter hewan dulu buat minta surat keterangan sehat. Biar bisa dibawa terbang ke sini. Buruan, Lih. Tiket dan lain-lain udah disiapin Alfred. Lo tinggal ke sini bawa si Max.”

“Oh, oke, Boss,” jawabnya menyangupi. Kala akan memutus sambungan telepon, Lih memastikan lagi dengan bertanya, “Jadi gue ke sana beneran nih?”

“Iya, serahin basecamp ama temen-temen yang lain.”

Sambungan Lih kuputus, lalu kualihkan ke Brian.

“Ngapain sih lo bawa-bawa si Max ke sana? Kan udah ada lo yang jagain adek gue,” tanya calon bapak satu ini pasca kuterangkan maksud Lih akan datang ke rumah om Baldwin.

“Mau gue tinggal ke Brooklyn besok lusa. Biar adek lo dijagain Max.”

“Anak buah lo yang di sana kan banyak tuh. Ngapain repot-repot ngangkut anjing, Bro?” tanya Brian yang selalu mengira teman-teman basecamp-ku banyak yang ikut bekerja denganku di sini. Namun, sudah kupastikan ia tidak mengetahui bisnis-bisnis hitamku.

Brian bersuara lagi. “Jangan bilang, lo takut anak buah lo naksir adek gue? Hahaha ... sorry, Bro. Adek gue emang cantik, imut, plus gemesin dan anehnya demen ama laki macem lo.”

“Ya, serah lo, Bri.”

Musim semi
Summertown, 12 Maret
17.03 p.m.

Jarang sekali aku sudah tiba di penthouse sore hari dan aku mendapatkan kelonggaran itu hari ini. Mulanya, aku ingin ke apartemen Melody dulu dan merebahkan diri di kasur dengan tebaran aroma khas wanita itu. Mungkin, aku bisa memanjakan paru-paruku ddngan itu sembari menunggu pemiliknya pulang.

Namun, karena Lih dan Max sudah berangkat dan akan datang hari ini, jadi kuputuskan untuk menunggu mereka sambil duduk bersandar pada sofa penthuse-ku. Lalu tiba-tiba Melody menelpon.

“Jayden, udah pulangkah?”

“Baru mau telepon. Iya, udah pulang. Ini baru sampai,” jawabku sembari melepas suit, menyisakan kemeja hitam dan vest senada. Kemudian melonggarkan lilitan dasi saat mendengar suara dentangan bel penthouse-ku. Yang kuasumsikan sebagai Lih dan Max.

“Tunggu bentar, Baby. Ada tamu,” tambahku lagi. Dengan malas, beranjak untuk membuka pintu dan terkejut dibuatnya.

Bagaimana tidak? Bukan Lih dan Max yang datang. Melainkan Berlian Melody-ku yang masih menempelkan ponsel di telinga sambil mengembangkan senyum ceria. Aku suka. Aku cinta. Aku rindu.

“Hai ...,” sapa wanita itu lantas menurunkan ponsel.

Kemeja putih berlarik biru muda dalam balutan jaket denim yang dipadukan dengan rok plisket hitam longgar semata kaki dan sniker putih, serta tas di punggungnya membuat wanita itu menawan. Dan masih segar seperti biasanya.

Aku pun tersenyum dan ikut menurunkan ponsel yang masih kutempelkan di telinga pasca memutus sambungan. “Hai juga,” balasku.

Diangkatnya tangan kanan yang menenteng plastik yang mencetak buram kotak di dalamnya—kelihatan seperti makanan. “Aku bawa makanan. Ayo kita makan bareng, Jayden,” ucapnya. Membenarkan asumsiku.

Ia lantas berjalan selangkah, berjinjit, tangannya yang penuh tak menghalanginya terlentang untuk memeluk tubuhku. Ketika lengan-lengannya merangkak naik membentuk kalung di leherku, mendongak, lantas mendekatakan wajah, kuputuskan untuk sedikit menggodanya dengan menautkan tangan-tanganku ke belakang, lalu ikut mendongak dan bersiul. Hasilnya ia gagal menciumku.

“Jaaayydennn!” protesnya manja.

Diletakannya kantong plastik berisi makanan dan ponsel di rak setinggi pinggang, sebelah tempat kami berdiri. Kemudian berjalan mendekatiku untuk mengulangi niatnya mencium bibirku. Dan aku masih menggodanya.

“Jayyden ... oon!” Dalam posisi tangan masih melingkar di leherku, ia berusaha berjinjit lagi, bahkan melompat-lompat untuk menciumku. Aku pun masih senang menggodanya sambil terus bersiul menahan tawa.

Astaga ia sangat menggemaskan. Wajah kesalnya karena tidak berhasil menciumku, semacam menjadi obat lelah.

“Ya udah kalau nggak mau kucium! Aku mau makan chiken katsu ini sendirian!” pekiknya kemudian menyerah.

Ketika Melody melepas kalungan tangannya di leherku, kugendong wanita ini yang refleks mengalungkan tangan ke leherku kembali, dan melilitkan tungkai-tungkainya pada pinggangku, berpegangan agar tidak jatuh sambil protes, “Jayden! Kamu oon dan nyebel—hmp!”

Tidak akan kubiarkan Melody menyelesaikan kalimat itu. Jadi, aku membungkamnya. Bukan hanya sekadar sebuah kecupan untuk menghentikan protesnya. Namun, ciuman yang sudah sampai tahap menjelajah hingga ia tidak berkutik. Dan lambat laun membalas serta menikmati ciumanku dengan memejamkan mata dan mengusap-usap wajah serta rambutku.

“Aku apa?” tanyaku pura-pura bodoh setelah melepas ciuman kami.

“Hah?” Melody berbalik tany. Nadanya yang semula kesal jadi seperti orang bingung.

Aku lantas bertanya-tanya: apakah aku sejago itu sampai membuat Melody lupa dengan kekesalannya barusan? Haha ....

Well, reaksi orang jatuh cinta mode on itu bermacam-macam. Ada yang tidak bisa membedakan benar atau salah,  hitam atau putih alias buta warna, ada juga yang kembali labil seperti remaja ingusan sepertiku.

Bila kemarin kami ngobrol ala orang dewasa. Sekarang aku berencana merajuk seperti bayi yang merengek minta dibelikan cokelat, lantaran ingin meminta negosiasi tanggal pernikahan. Dengan mengekorinya ke mana-mana. Sebagai bentuk usaha membujuknya agar mau menikahiku tepat setelah penelitiannya selesai. Kalau semuanya lancar, itu berarti sekitar tiga bulan lagi termasuk misi ajaib om Baldwin. Semoga.

Aku tidak peduli tentang betapa berharganya kado ulang tahunku nanti, jika nyatanya segera memiliki wanitaku seutuhnya dalam suatu ikatan pernikahan jauh lebih berharga. Hanya Berlian Melody yang sanggup membuat Jayden Wilder kelimpungan dan labil seperti ini.

Kami duduk di meja makan, menghajar chiken katsu hasil buah tangannya, dengan aku yang berhimpitan dengannya. “Kelar penelitian, ya? Aku bantu kalau perlu, biar cepet,” pintaku masih enggan membentuk jarak di antara kami.

“Jayden, aku lagi makan nih. Geseran dikit dong,” usirnya. Mempertegas dengan merentangkan tangan kiri yang tidak memegang sumpit. Supaya aku bergeser. “Lagian jadwalmu kan padet. Mana bisa bantuin aku? Aku juga rencananya mau jadi volunteer di rumah sakit.”

Sekarang, mungkin wajah sangarku makin gahar. “Ck, kenapa malah—hngk!”

Melody tiba-tiba menyuapkan sepotong ayam ke mulutku agar aku tidak terus-menerus ngedumel. “Dimakan ya. Aku lihat-lihat kamu tambah kurus loh. Abis makan kita ngobrol lagi. Kalau lagi makan gini, ngobrolnya yang ringan-ringan aja," ucapnya diselingi tawa kecil.

Terpaksa kukunyah ayam itu sampai lembut lalu kutelan. Beralih menatap makananku sendiri yang masih utuh. Memikirkan tentang kegiatan volunteer-nya, kuambil sumpit dan makan makanan itu cepat-cepat sampai cegukan. Bukannya membantu mengambilkan minuman atau semacamnya, Melody malah tertawa melihat tingkah konyolku.

“Ambilin min—hik—um, tol—hik—long—hik."

“Hahaha ... kamu lucu banget .... Jarang-jarang bisa lihat kamu cegukan kayak gini. Makanya, kalau makan tuh pelan-pelan, Jayden,” ceramah Melody sembari mengulurkan segelas air mineral padaku. “Perhatiin aku sebelum minun,” tambahnya.

Tanganku yang tadinya sudah terulur hendak mengambil gelas yang disodorkan Melody pun seketika turun. Sambil cegukan, aku memperhatikannya.

“Pertama kamu minum terus simpen dalam mulut dulu, sambil tahan napas kamu telen pelan-pelan air mineralnya. Sambil tegak minumnya, biar saluran napas sama saluran makanan di tenggorokan jalannya lurus.”

Aku mempraktekkan apa yang diucapkan Melody. “Eh, langsung ilang?” tanyaku polos dan wanita itu menghadiahiku senyum puas sebelum menjelaskan lebih detail.

Katanya, jenis cegukanku ini karena terlalu cepat menelan makanan. Jadi, banyak udara yang ikut masuk dalam tenggorokan sehingga membentur pita suara dan menimbulkan bunyi ‘hik’ akibat dari otot diafragma dalam tubuhku yang berkontraksi.

Tujuan menelan air secara pelan-pelan untuk menstimulasi tenggorokan agar cegukan berhenti. Sedangkan menahan napas juga dapat meningkatkan kadar karbondioksida dalam darah yang juga dapat menghentikan cegukan. Jadi, menurutnya, mengkombinasikan kedua cara tersebut bisa lebih cepat menghentikan cegukan.

Sudah terbukti.

Godverdomme, yang penting udah berhenti,” kataku. “Ngomong-ngomong, kenapa malah pengin jadi volunteer? Bukannya aku udah bilang konsen aja sama penelitian dan tesis?” Pertanyaan yang satu ini tidak bisa ditahan begitu saja.

“Biar sering dapet jam terbang. Biar nggak kaku-kaku lagi waktu megang pasien kalau udah kerja beneran. Emang sih aku udah internshio dua tahun sebelum ambil spesialis. Tapi nggak megang pasien lama tuh takutnya lupa semua,” jawabnya dengan tenang sambil kembali menyomot sepotong ayam.

“Yakin nggak ganggu penelitian sama bikin tesis?”

Setelah minum air mineral, Melody menghadapku dan menyentuh lenganku dengan lembut. “Kalau ganggu, aku pasti berenti. Aku tahu batas kok, Jayden. Jadi, nggak usah khawatir. Lagian dokter Maggy juga udah tahu kapan aku nggak bisa diganggu waktu penelitian,” terangnya.

“Dokter Maggy?”

“Iya. Dokter Meggy Force. Doktermu waktu koma dulu. Lupakah?”

“Kamu mau jadi volunteer di rumah sakit itu lagi?” Tanpa sadar, nada suaraku sedikit naik. Melody pun mengehntikan kegiatannya mengambil nasi menggunakan sumpit untuk melihatku lagi.

“Iya, soalnya itu yang paling deket kampus sama apartemen.”

Mantan tunangan pecundangnya si Khareem Khareem itu sudah pindah kan? Sudah tidak bekerja di sana kan?

Seakan bisa membaca pikiranku, Melody kembali menyentuh lengan kananku sambil mengatakan, “Tenang, udah nggak ada di sana kok. Lagian kalau ada pun, aku juga nggak bakalan jadi volunteer di sana. Selain jaga perasaanmu, aku juga takut kamu bakalan ngamuk kayak waktu itu. Tahu nggak kalau kamu ngamuk tuh nyeremin banget?”

Ah Melody-ku ... selalu bisa mmenenangkanku. Namun, ada hal lain yang sebenarnya sedikit kupermasalahkan.

“Jadi boleh ‘kan?”

“Nggak, fokus aja sama penelitian, tesis, dan kita. I hope you understand.

Aku hanya tidak ingin waktu dengannya berkurang. Bayangkan saja jika aku sibuk, Melody juga sibuk, dan akhirnya kami jarang bertemu, jarang komukasi, dan boom! Isi sendiri, aku tidak mau mengatakan yang itu.

Apa aku egois kalau memiliki pendapat seperti itu? Tentu tidak, bukan? Ia tadi bertanya bin meminta izin. Apakah aku salah bila tidak memberikannya alias menolaknya? Sekarang coba kau ibaratkan saja dirimu berada di posisiku. Tentu kau mungkin akan mengambil langkah seperti yang kuambil.

Aku tahu mungkin Melody kecewa. Dapat terbaca jelas dari wajahnya yang ditundukkan. Kemudian melanjutkan makan hingga habis tanpa membahas lebih lanjut mengenai apa pun.

Tidak tahan dengan keheningan yang tercipa, aku kembali bersuara. “I’m sorry, I have to do this for us. I wanna have many times to see you and spending that time with you as long as we can do.” (Aku minta maaf, aku harus melakukan ini untuk kita. Aku ingin memiliki banyak wantu untuk melihatmu dan menghabiskan waktu selama yang kita bisa lakukan)

Aku mengucapkan gerbong-gerbong kalimat itu dengan tatapan intens, dengan jenis suara berat dan dalam. Melody pasti tahu dan hafal, apabila menggunakan nada seperti itu, tandanya aku sedang tidak main-main.

Aku melakukan ini bukan hanya serta merta cemburu semata terhadap pria berdarah Arab mantan tuangan pecundangnya—seandainya masih bekerja di rumah sakit itu. Namun, untuk hubungan kami. Dan aku sangat bersyukur ketika Melody menarik bibirnya membentuk seulas senyum hangat dengan mata berkaca-kaca lalu mengangguk. Saat itulah kuletakkan sumpit untuk mengusap puncak kepalanya.

Suasana meja makan hangat kembali. Namu, tidak serta merta pikiranku tenang begitu saja. Aku khawatir Melody akan melakukan hal lain. Tidakan lain, atau memiliki pemikiran unik lain. Seperti mabuk, rencana menjadi volunteer, setelahnya apa lagi? Berecana tinggal di bulan supaya bisa meneliti sekaligus mengobati alien yang sakit? Tetnu saja tidak akan kubiarkan.

Aku tdiak ingin ada yang lain lagi. Maka dari itu, aku harus meyakinkannya untuk memajukan tanggal pernikahan kami.

Setelah ini, aku akan meneruskan rencana merecoki Melody ke mana-mana dan menerornya dengan pertanyaan yang sama sampai wanita itu lelah, dan akhirnya menyerah dengan mengiyakan rajukanku untuk menikahku tiga bulan lagi.

Kalau rencana tersebut tidak berhasi, terpaksa aku akan menggunakan rencana B.

O o .... Seringai dari wajahku muncul seketika kala membayangkan rencana B tersebut.

_____________________________________________

Sebenernya guys saya tuh sayang banget ama cerita ini tapi keknya bentar lagi mau masalah puncak terus tamat 😥

Uda gitu aja curol saya

Thanks for reading this chapter

Makasih juga yang uda jadi pembaca aktif dengan vote dan komen

This is Melody nya bang Jay

Kalo ini bang Jay nya chachaprima

See you next chapter teman temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Post : 14 Maret 2020
Repost : 4 Desember 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro