Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 36

Selamat datang di chapter 36

Well, tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai juga jika ada typo yang suka banget gentayangan sana sini

Well, happy reading everyone

Hope you like it

❤❤❤

_____________________________________________

When the sky comes looking for you by Motorhead

______________________________________________

Jangan pikir
hanya wanita saja yang bisa rumit
Pria juga bisa
Keliahatannya saja yang santai

Jayden Wilder

_______________________________________________

Musim dingin
Summertown, 27 Februari
06.00 a.m.

Pukul enam pagi, alarm rutin menendang-nendang gendang telingaku supaya bangun. Setelah hampir seharian keliling wilayah bisnis klan Davidde, makan malam bersama Melody lalu aku mengawasi ke The Black Casino and Pub hingga hampir dini hari dan akhirnya limbung di kasur penthouse Summertown, sekarang badanku pegal-pegal.

Namun, aku harus ke gedung The Black Casino and Pub Manchester untuk rapat pagi. Membahas perkembangan perizinan tanah dan pendirian bangunan. Walau harus berat hati meningalkan kasur empuk yang masih melambai-lambai minta dibelai karena jablay, rutinnitas mandi pagi harulah terlaksana.

Ponselku berdering ketika sedang merapikan dasi di depan cermin. Aku meliriknya sekilas, lalu bergegas menjawab telepon.

“Morning ...,” sapa suara alto feminin di seberang. Keceriaanya membelai telinga kendati masih serak. Kutebak ia pasti baru bangun tidur.

Morning,” jawabku singkat sambil tersenyum. Meskipun tahu ia tidak bisa melihat senyumku. Namun, entahlah, aku hanya senang mendengar suaranya. Lumayan meningkatkan semangatku untuk bekerja.

Kudengar ia menguap. “Baru bangun?” tanyaku sambil berjalan menuruni anak tangga pasca memakai pantofel hitam mengilatku menuju dapur.

“Ya, aku langsung nelepon kamu,” jawab Melody. “Jangan lupa sarapan, Jayden.”

“Gimana mau sarapan? Kamunya nggak ada.”

“Mau ke tempatku dulu, terus sarapan bareng?” tawar wanita itu tidak paham maksud jenis sarapan yang kuinginkan.

Aku tersenyum lebih lebar sambil memasukkan dua roti ke alat pemanggang. “Enggak, takut telat. Hari ini aku beneran harus rapat ke Manchester, Baby.”

Di ujung sambungan, Melody tertawa renyah. “Ya ... ya ... aku paham. Ya udah, semangat kerjanya. Aku juga mau siap-siap ke kampus. Sekalian sarapan di deket sini. Telepon aku kalau udah nggak sibuk, ya? Bye.”

Tepat setelah Melody-ku menutup telepon, suara dentingan alat pemanggang roti berbunyi. Aku mengambil penjepit untuk rotiku yang matang cokelat keemasan sempurna kemudian meletakkannya di piring dan mengolesinya nuttela agak banyak. Tidak lupa mengambil susu tinggi protein dan rendah lemak, maka sarapanku sudah siap santap.

Aku melakukan semua itu sendirian karena di penthouse ini sendirian. Para maid yang bekerja di sini sengaja kuminta untuk datang setelah aku berangkat bekerja. Lalu pulang saat aku sudah datang agar memiliki privasi.

Sedangkan niatan membawa Melody tinggal ke sini pasti tidak mungkin. Selian masih nomaden, aku tidak ingin jam kerjaku terganggu, lalai dan akhirnya misi ajaib om Baldwin gagal karena lupa waktu akibat terlalu asyik menyentuhnya.

Lima menit setelah sarapanku ludes, Alfred datang bersama Tito menjemputku dan kami pun berangkat. Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam kemudian langsung rapat mengenai perizinan. Berhubung langkah awal sudah jalan, aku memutuskan untuk survei ke lokasi-lokasi calon bangunan di Inggris.

Survei sendiri membutuhkan waktu lebih dari waktu yang diperkirakan lantaran lokasi yang berbeda-beda. Ada sekitar lima lokasi yang aku kunjungi dalam sehari ini. Sangat memakan waktu. Belum lagi ketika Jameka menelepon untuk membahas masalah Heratl yang juga butuh perhatianku.

“Soal lini yang di sana gimana? Kayaknya bobrok deh. Mending dilibas aja, terus tanahnya dijual buat nambah-nambah modal bahan baku. Serius ya ini, gue nyari-nyari bahan baku dari bahan-bahan yang kita sepakati kemarin, dapetnya minim banget. Orang-orang nggak bisa ngasih janji dalam waktu dekat. Kita kekurangan bahan baku, Jay,” terang Jameka pada telepon kami sekitar jam empat sore. Saat aku dan rombonganku menuju Stratford Upon Avon—lokasi terakhir yang akan kami survei hari ini.

Sebelum menanggapi kalimat Jameka, aku menghitung mundur tujuh jam untuk menentukan waktu di Indonesia. Dan mendapati pukul sepuluh malam di sana. “Tumben lo telopon malem?”

“Kenapa emang?” tanya Jameka bernada sama sepertiku. Aku membayangkan wajah datarnya saat mengatakannya, yang menurun ke aku.

“Biasanya kan lo udah tidur jam segini,” kataku logis.

“Heh, Bambang! Sejak kapan lo ngurusin jam tidur gue? Kita lagi bahas perusahaan papa oi,” omelnya, seakan berupaya menutupi ketidakbiasaannya itu dengan menyadarkan kembali tujuan utamanya meneleponku.

“Ck, iya,” decakku. “Besok adain rapat bahas kerja sama ama perusahaan lain. Terus adain rapat juga buat milih bahan baku alternatif lain lagi. Usahain pilih bahan baku buat smart furniture yang ramah lingkungan. Jangan sampai eksploitasi alam juga. Inget, kita masih belum damai sama orang-orang yang tinggal deket HTI,” ucapku sambil mengecek beberapa perusahaan yang mungkin akan cocok kerja sama dengan Heratl di tablet.

“Sebenernya papa ngasih saran kita jalin kerja sama ama Utama Raya. Perusahaannya pak Davis Eclipster. Tapi sekarang anaknya yang pegang perusahaan itu,” jawab Jameka serius.

Aku segera mencari tahu tentang Davis Eclipster di internet sebelum menjawab kakakku. Biasanya Alfred yang kuminta melakukannya, tetapi karena sekarang posisinya ia sedang menyetir, jadi tidak mungkin bisa.

“Itu perusahaan Paper and Pulp. Hubungannya ama Heratl apa?”

“Kata Papa, minta tolong dikenalin orang yang bisa ngirim bambu cepet. Kan alternatif bahan baku kertas ya bisa bambu juga. Kemarin kita udah dapet ide itu dan kebetulan orang-orang pengrajinnya nggak bisa cepet. Kali aja perusahaan itu mau ngasih tahu gitu. Kenalan papa juga kok. Kapan hari malah udah telepon-teleponan.”

Aku diam untuk berpikir sebentar. “Coba aja saran papa, kantornya yang paling deket di daerah Kemang, lo bisa kan ngurus ini sama tim lain?”

“Kata papa anaknya lagi ngurus perusahaan di Brooklyn baru-baru ini. Jadi, yang di Kemang dipegang adeknya. Heh Bambang! Kalau gue ke sono, siapa yang ngurus Heratl di sini? Emangnya lo masih sibuk di Inggris? Jangan bilang lo sibuk nanina mulu ama si Mel?”

Ck! Dasar kakak kampret! Lagi mode serius malah membahas nananina. Apa tidak langsung berkenalana ke sana pikiranku?

Duh, jadi rindu Melody.

Konsentrasi, Jay! Konsentrasi! Setahun lagi. Setelah itu langsung gas saja!

Aku membesar-besarkan hatiku.

Ngomong-ngomong. Kenapa rasanya lama sekali setahun itu?

”Sialan! Bahas kerjaan woi! Melenceng otak lo!” desisku kesal. Siapa tadi yang mengingatkan tentang pembicaraan perusahaan papa? Kenapa jadi merembet ke nananina?

Pandanganku memang tertuju pada satu arah. Nenunduk menatap layar tablet. Namun, aku masih bisa merasakan Tito dan Alfred yang diam-diam cengengesan sambil melirikku dari kaca spion tengah. Ini pasti karena suara Jameka yang kelewat keras.

“Kalian masih ingin bisa mendengar ‘kan? Fokus saja ke jalan!” titahku pada dua makhluk yang duduk di depan sebelum beralih ke telepon Jameka lagi yang juga ikut tertawa.

“Ya udah entar gue telepon papa dulu, baru mutusin buat ke Brooklyn apa nggak. Soal lini di sini, gue beneran lupa ngasih tahu. Tuh gedung cuma omong kosong doang, belum kesampaian. Oh ya, kantor-kantor lini yang beneran bobrok jual cepet aja. Duitnya bagi-bagi ke modal sama pesangon pegawai. Ini kita kepaksa banget. Duit pribadi gue beneran mau abis,” tukasku kemudian menutup sambungan telepon.

Musim semi
Summertown, 3 Maret
19.00 p.m.

Belakangan ini aku dan Melody sama-sama sibuk. Aku sibuk mengurus kerjaan dan Melody sibuk kuliah plus mengurus penelitian. Jadilah kami jarang bertemu. Namun, komunikasi tetap kami lakukan.

Bukan alay bin lebay seperti zaman -zaman labil yang ke mana-mana harus lapor dulu. Namun, jenis komunikasi yang lebih mengarah pada pengertian dengan jenis kegiatan yang akan kami lakukan. Bukan menuntut tidak memperbolehkan ini itu karena ego. Sudah bukan zamannya.

Sembari menunggu kabar dari Utamaraya dan lini-lini bobrok yang dijual, aku dan Melody pergi kencan di tengah jadwal yang sedikit longgar.

“Udah siap?” Aku bertanya lantaran melihat Melody keluar kamar apartemen.

Dress satin silver longgar dibawah lutut yang dibalut jaket kulit hitam, pantyhose hitam, dokmart hitam, tas selempang kecil silver, rambut yang digerai dengan ujung diikalkan serta mekap tipis membuat wanita itu sempurna.

Sedangkan aku sendiri mengenakan pakaian serbahitam juga. Kurang lebih mirip dengan Melody.

“Let’s go,” ajaknya lalu mengulurkan tangan untuk menggamit lenganku yang tidak memegangi rokok.

Sembari berjalan beriringan, aku menyedot lintingan tembakau itu sedikit lama sebelum menancapkan bagian ujungnya yang terbakar di salah satu tong sampah. Kemudian merogoh saku jin hitamku untuk mengambil kunci Rubicon dobel cabin hitamku.

Setelah menyantap olahan kambing di restoran Italia El Ricón sebagai makan malam, lalu menonton film di Odeon St George, aku mengajak Melody ke The Black Casino and Pub Summertown. Janji yang baru bisa kutepati.

“Aku bakalan diminta ID card nggak?” tanya Melody sambil menggosok-gosok telapak tangan untuk menciptakan kehangatan ketika turun dari mobil yang kuparkir khusus.

Salju memang sudah lenyap sepenuhnya. Tunas-tunas tanaman mulai muncul. Musim perlahan berganti. Matahari pun sudah kerap menyapa. Namun, bukan berarti udara kontan menghangat. Awal pergantian musim kadang-kadang masih membawa desau angin dingin.

Dua mobil yang mengikutiku berisi orang-orang klan sudah memarkir mobil mereka juga. Tanpa sepengetahuan Melody, melalui tatapan mata dan telengan kepala sedikit, kuisyaratkan mereka supaya pergi sebab di kelab ini tak perlu penjaan lagi.

“Kamu sama Boss-nya. Nggak perlu ID Card,” jawabku sembari melingkarkan tangan di pinggangnya. Secara fisik membentuk sikap posesif supaya semua orang tahu bahwa Melidy adalah milikku.

“Habisnya dulu itu aku susah banget masuk sini. Penjaga-penjagamu ngirain aku anak SMA. Kayaknya mekapku kurang tebel.”

Kami melewati penjaga yang memberi hormat padaku. Kubimbing Melody masuk gedung dan langsung berbelok ke lift khusus sehingga kami tidak perlu bersinanggungan dengan orang-orang yang berjudi di lantai bawah.

“Mereka cuma ngerjain tugasnya,” balasku logis. “Dan kamu nggak perlu mekap tebel.”

“Iya sih, tapi di mana-mana selalu kayak gitu. Di Heratl juga waktu itu kayak gitu. Kalau nggak mekap tebel pasti dikiranya aku bocah ingusan,” gerutunya dengan mulut manyun. Namun, berbubah mengernyit ketika kami tiba di kelab.

“Jangan diambil hati. Ambil segi positifnya. Kamu awet muda.” Melody pun mempererat gamitan lenganku dan tersenyum malu-malu. Aku yakin kalau lampu di lantai ini terang benderang, pipinya pasti bersemu merah.

“Ngomong-ngomong, banyak asap rokok sama bau alkohol gini. Bilang kalau nggak kuat ya?”

“Iya, beres.”

Kuajak Melody duduk di kursi bar yang tinggi. Ada Tito yang menggoda seorang wanita, dan Dahlia yang merokok serta berpenampilan berbeda di depan Spencter yang meracik minuman. Berhubung wanita berdarah Inggris tersebut adalah mata-mata kami, ia jadi hidup bagai bunglon. Berubah-ubah sesuai habitatnya. Dan walau pun perubahan tersebut habis-habisan, kami selalu bisa mengenalinya. Semoga klan lain atau orang yang kami ingin mata-matai, tidak.

“Eh, Mel? Tumben lo ke sini?” sapa Tito. Tubuhnya dihadapkan kami, tetapi tidak sampai membelakangi wanita pirang buruannya yang duduk di sampingnya.

“Nggak usah nyapa-nyapa calon bini gue,” balasku datar. Baru akan menghadap Spencter, tetapi rupanya masih perlu mendengar obrolan pria bertato banyak tersebut.

“Ya elah, si Boss. Baru calon loh ini ya. Posesifnya udah level akut. Gimana entar kalau udah jadi bini?” keluh pria itu lantaran melihat Melody yang mengikik. “Hati-hati, Mel. Lo bakalan disekap di kamar terus, kagak diboleh keluar,” usik Tito sebelum melepas tawa ejekannya.

“To, kerja, To. Jangan tebar benih mulu!”

“Loh, kan harus ada penyemangat. Gini-gini gue kerja kali, Boss.”

“Serah lo, dah.”

Aku menggeleng dan beralih ke Spencter. Lalu mengenalkan pria pada Melody. Aku sengaja tidak mengenalkan Dahlia ke calon istriku sebab tak ingin wanita itu sampai terendus keberadaanya sebagai salah satu anggota klan Davidde. Aku memperlakukannya sebagai pengunjung yang tak saling kenal.

“Mau minum apa? Aku pesenin yang nggak beralkohol ya?” tawarku pada Melody yang melihat-lihat jajaran botol minuman keras di belakang Spencter.

Walau Melody sangat menggemaskan kalau mabuk, tetapi tidak untuk malam ini atau malam-malam yang lain. Aku boleh saja rusak, pernah jadi pemabuk karena depresi berat dan bersyukur sudah bisa lepas dari jeratan minuman itu, tetapi jangan Melody.

“Emang ada yang nggak beralkohol, Jayden?”

“Ada, Mel. Belut semburnya si Boss,” sahut Tito. Ada dorongan kuat untuk melempar kursi yang kududuki ke wajahnya yang tidak budiman. Namun, tidak akan kubiarkan diriku melakukannya dan membuat pengunjungku tidak nyaman oleh keributan. Dan berakhir menilai jelek The Black Casino and Bar.

Aku melihat pria itu dengan tatapan datar, secara isyarat menyuruhnya untuk diam atau pergi sebelum kesabaranku benar-benar habis. Lalu fisikku mengambil alih pikiranku untuk kursi-kursi ini melayang ke wajahnya.

Sementara Melody menahan senyum menggunakan tangan. Aku menduga karena wanita itu mengeri maksud lawakan cap kecap Tito. Berbeda dengan saat ia masih remaja dulu. Benar-benar polos, tak mengerti apa pun. Tito yang menyerempet hal-hal mesum hanya ditanggapinya dengan pelongoan, atau kalau tidak, ujung-ujungnya akan ditanyakan padaku jikalau ada kesempatakan kami berduaan.

“Eh, tapi itu juga bisa bikin mabuk sih, Mel. Iya, ‘kan?” sahut Tito lagi.

Aku praktis geram. Mulut Tito ini memang perlu dilakban. “To ...,” panggilku kalem, tetapi penuh penekanan. Walau demikian, suaraku bisa mengalahkan musik yang lebih mendominasi.

Tito akhurnya meringis dan mengacungkan minumannya pada kami lantas menyeruputnya sebelum beralih ke wanita berpakaian minim di sebelahnya.

Aku pun kembali fokus pada Melody. “Ada mocktail. Kalau mau cocktail entar aku minta ilangin vodca-nya.”

“Ada nggak minuman alkohol yang seger banget, nggak pahit gitu? Aku mau.”

“Baby, jangan.”

“Mumpung di sini ... aku mau nyoba-nyoba. Yang alkoholnya paling rendah aja. Segelas aja, jadi nggak bikin mabuk. Lagian ada kamu yang jagain aku. Kalau aku mabuk.” Ia merajuk. Membuatku antara gemas ingin mencumbunya di atas meja bar yang tinggi atau meninju bajingan-bajingan yang tak henti-hentinya melirik calon istriku.

Berhubung sifat posesifku lebih mendominasi, jadi, aku memberi instruksi Spencter untuk meracik segelas wassai hangat.

Melody pun membelakak senang ketika menerima gelas miliknya yang baru saja diletakkan Spencter. Katanya, “Wah, aku baru tahu kalau miras juga ada yang hangat.”

“Itu bir khas Inggris.”

Wanita itu tidak menjawab sebab  mencicipi minuman tersebut.

Namun, salah besar aku mengizinkan Melody minum wassail. Tiap orang memiliki toleransi alkohol masing-masing dan calon istriku termasuk yang tidak terlalu bisa menoleransinya. Laku dengan bodohnya aku termakan rayuan manjanya sehingga mengizinkan Melody menghaniskan gelas ketiganya.

Akibatnya? Melody sedikit mabuk. Ia yang tertawa riang menarikku ke lantai dansa. Dan aku tidak pernah membayangkan calon istriku ini meliuk-liukkan tubuhnya di depanku walau dengan gerakan kaku-kaku. Ia juga berusaha menciumku yang hanya berdiri memegangi pinggulnya.

Ini tidak bisa kubiarkan. Sudah kukatakan bahwa boleh saja aku rusak. Boleh saja pekerjaanku kotor. Namun, jangan Melody. Aku menyadari bawha aku tidak bisa menunggu sampai setahun untuk menjadikannya istri. Aku harus menikahi wanita ini secepatnya supaya bisa menjadi orang yang paling berhak membimbingnya ke yang baik-baik saja. Bukannya ikut rusak bersamaku.

Aku harus mencari jalan keluarnya.

Namun, aku mendekatkan bibirku ke pelipisnya untuk berkata, “Ini terakhir kalinya kamu mabuk. Seterusnya jangan. Well, kayaknya kamu butuh penghilang mabuk. Mau pulang ke penthouse-ku?”

“Lucunya aku lupa apa obat mabuk, Jayden.”

“Jangan khawatir. Aku punya yang ampuh banget.” Aku menjauhkan wajah untuk memberi salah satu kedipan mata.

_______________________________________________

Teman, thanks for reading this chapter

Thanks juga yang uda jadi pembaca aktif dengan meluangkan waktu dengan vote dan komen

Siapa di sini yang kangen Mel?

Atau kangen Jayden mungkin?

See you next chapter teman - temin

With Love
©®Chacha Nobili

👻👻👻

Post : 13 Maret 2020
Respost : 2 Desember 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro