Chapter 34
Selamat datang di chapter 34
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo (biasanya suka hinggap sana sini)
Well, thanks
Happy reading everyone
Hope you like it
❤❤❤
______________________________________________
Trought the fire by Dragon Force
______________________________________________
How many patience that I should have to walk on this fighting?
—Jayden Wilder
______________________________________________
Musim dingin
Manchester, 14 Februari
10.0 a.m.
Survei selesai dalam seminggu penuh. Kami rapat awal bersama arsitek kondang dari New York bernama Gideon Ford dengan beberapa anggota timnya. Hasil usulan pun bervariasi.
Berdasarkan dari lokasi-lokasi yang kami amati, baik yang masih murni berupa tanah kosong atau adanya bangunan yang katanya sedang dijual, dari kacamata arsitek, Gideon mengusulkan baiknya kami mendirikan tempat hiburan seperti hotel dan resor, atau vila, atau cottage yang nantinya akan disandingkan dengan gedung kelab malam The Black Casino and Pub di tepi-tepi pantai wilayah bisnis kami atau di Amerika—sebagai tambahan promosi brand. Sedangkan di bagian kota yang padat penduduk—lebih sering mendapati bangunan yang telah didirikan dan sedang dijual—dibuat membangun apartemen.
Selama kami menunggu proses dikeluarkannya surat izin legal untuk mendirikan bangunan-bangunan tersebut beserta segala aspek perencangan lengkap dari Gideon bersama timnya, aku mengurusi Heratl. Berdiskusi bersama Jameka dan orang-orang penting tentang semua tetek-bengeknya melalui zoom meeting.
Mulai dari usulan desain interior baru dengan sentuhan khas Indonesia dari tim Gideon yang nantinya akan cocok untuk gedung-gedung baruku, bertanya-tanya soal HTI pada Zafi yang tidak bisa diharapkan menghasilkan kayu balangeran dalam waktu kurang dari enam bulan ini. Menyerempet soal penduduk yang sensitif apabila orang-orang kami mengurus pohon-pohon kami di sana. Akibat sengketa tanah dengan mereka yang dulu pernah dimenangkan oleh HTI Heratl.
Astaga, betapa bobroknya bisnis ini kalau kadang kupikir-pikir lagi. Makanya hampir gulung tikar. Selain pengelolaannya yang cacat dan dikorupsi untuk kepentingan pirbadi, ini pasti berkaitan dengan masyarakat setempat yang ikut andil mendoakan jelek-jelek untuk Heratl. Doa orang yang teraniaya ‘kan manjur.
Padahal bisnis ilegalku tak sampai begini sebab semua pihak—termasuk penduduk sekitar yang kami manfaatkan tenaganya—merasa mendapat komisi yang pantas—atau mereka tak berani macam-macam, entahlah. Jadi, tidak ada yang sakit hati sehingga melakukan aksi protes atau tindakan merugikan lain. Kalau ada yang mengusik pun, itu pasti ulah pebisnis lain alias klan lain sebab persaingan yang ketat.
Kami kesepakatan menggunakan playwood atau fiberboard dari berbagai macam kualiatas sebagai alternatif bahan baku perabot. Terbersit juga tentang pemanfaatan bahan alam seperti enceng gondok yang disulap pengrajin menjadi kombinasi pembuatan kursi kuat. Dan pemanfaatan anyaman bambu atau plastik berkualitas oke sebagai sentuhan orisinil Indonesia. Sebab selain bahan-bahan baku tersebut cepat diproduksi, harganya juga lumayan lebih ekonimis. Namun, nilai jual seninya lumayan tinggi.
Untuk urusan besi atau logam-logam serta hiasan lain sebagai kombinasi, tidak masalah. Ada beberapa pabrik pande besi yang bekerja sama dengan Heratl dari dulu hingga sekarang dan sepertinya tidak perlu dipikirkan lagi karena sudah sip.
Aku menyerahkan tugas mengecek kantin gratis pada Tito, Liam, dan Spencter bersama anggota lain. Dan setelah mendapat laporan bahwa semuanya berjalan lancar, akhirnya aku bisa meluruskan otot-ototku yang rasanya sudah bengkok-bengkok di ruanganku.
Pada detik di mana Alfred keluar ruanganku pasca memberikan notulesi rapat, ponselku bergetar di meja. Kulirik sekilas. Calon istriku. Cepat-cepat aku mengangkatnya dan memposisikan diri bersandar di punggung kursi kerja sambil memutarnya mengadap lanskap kota Manchester yang padat. Salju sudah tidak turun dan cuaca mulai sedikit akrab dengan kulit akibat sapaan cahaya matahari.
“Halo?” sapaku. Wajah Melody menari-nari dalam pikiranku.
“Jayden, aku ganggu nggak? Udah kelar belum rapatnya?” Nada dalam suaranya syarat akan rasa khawatir dan takut.
“Enggak, udah kelar kok, ini lagi istirahat di ruangan. Gimana penelitianmu?” tanyaku sambil mendongak menatap langit-langit.
Ngomong-ngomong, pencabutan cuti Melody disetujui. Jadi, ia melanjutkan penelitian untuk tesisnya yang sempat tertunda. Aku bersyukur, ia ada kesibukan di sini. Tidak asal ikut denganku lantaran bertindak manja atau ingin nempel-nempel mirip anak koala.
Kendatipun aku suka, tetapi membayangkan ia duduk termangu merana di apartemen tanpa melakukan apa pun selain menunggu kabarku yang sibuk sungguh mengganggu akal sehatku. Seperti pengakuannya pada acara ngambekku pasca lamaran yang sok romantisku di depan dua keluarga dan sahabat.
Hening beberapa detik sebelum Melody bersuara dengan ragu. “Sebenernya aku butuh bantuan dikit sih. Temen-temenku lagi pada sibuk sendiri-sendiri. Tapi, kalau kamunya juga nggak sibuk, Jayden.”
“Nggak ada kegiatan habis ini. Jadi, apa yang bisa kubantu?” bohongku.
Hei, walaupun jadwalku padat merayap mirip selebriti kejar tayang, tetapi kalau calon istriku membutuhkan bantuan, tentu dengan senang hati aku akan berusaha meluangkan waktu untuk melakukannya. Lagi pula, aku suka kalau Melody bergantung padaku. Aku merasa jadi super hero yang menyelamatkannya—walau itu hanya hal remeh-temeh.
Sebenarnya akibat kesibukan ini, aku belum bertemu dengan Melody lagi sejak mengantarnya ke apartemen. Jadi, rindu yang mengendap dalam dadaku telah menggebu-gebu. Sampai kadang suka berfantasi yang iya-iya tentang wanita itu. Memalukan memang. Dan tak punya adab. Namun, sejak kapan aku memikirkan adab?
“Oke, kalau kamu nggak lagi sibuk. Tapi, waktu istirahat makan siang aja kamu ke sininya. Aku nggak buru-buru kok.” Suara Melody sedikit jauh.
“Kuusahain sebelum makan siang, biar kita bisa makan siang bareng. See you there, Baby.” ucapku lalu memutus panggilan telepon dan beralih menekan interkom yang menghubungkanku pada Alfred. Untuk menanyakan jadwalku selanjutnya.
Beruntungnya kebohonganku pada Melody tadi berbuah manis. Tidak ada yang penting sekali sampai harus membuatku menyiksa diri di kursi kerja sampai larut malam.
Jadi, aku sangat bersyukur. Ini pasti kospirasi alam yang secara apik karena aku berjodoh dengan Melody. Ehe.
Musim dingin
Oxford, 14 Februari
11.53 a.m.
“Oh my God, look at you, Jayden.” Melody memekik sembari menutupi mulut menggunakan kedua telapak tangan ketika menghampiriku yang bersandar di pintu Rubicon dobel cabin hitamku. Akhirnya wanita itu muncul setelah kukatakan aku sudah di parkiran. Sesuai lokasi yang ia kirim lewat pesan tadi.
Menyertai gelengan dengan senyum geli, Melody mendekat untuk mengelus rambutku yang baru saja kusisir rapi dengan tatapan tidak percaya. Suit yang dari tadi melekat pada tubuhku juga sudah kulepas dan kuganti jaket hitam ber-hoodie. Dari celana bahan, aku beralih ke jin hitam dan mengganti pantofel mengilatku dengan dokmart kesayangan. Tidak lupa memegang sebendel proposal Heralt, aku menyulap penampilanku mirip anak kampus lagi.
Aku mendengar tawa kecil Melody masih mengudara di sekitar kami. “Kamu masih cocok jadi anak kuliahan, Jayden,” ucapnya setelah menurunkan tangan dari rambutku.
Yah ... sayang sekali. Padahal masih ingin dielus-elus. Ehe.
“Oh ya?” tanyaku singkat.
Aura keceriaannya menular. Meleburkan kepenatan. Sudah kukatakan pada diri sendiri bahwa menemui Melody merupakan obat mujarab bagi kesehatan rohaniku yang bolong-bolong. Kini, penuh kembali.
“Iya, kamu ‘kan ada unsur imut-imutnya, Jayden.”
Sumpah demi apa pun .... Kejantananku merasa tercoreng. Senyumku kontan berubah datar gaaaeess.
Halo? Aku? Imut? Sejak kapan? Tolong jelaskan, terangkan dan tunjukkan di mana letak keimutanku? Sebab seingatku, aku ini pria paling maskulin bin macho seantero jagat raya. Jangan sampai orang-orang yang mengikuti Bossnya pada jarak aman ini mendengar ocehan Melody. Bisa kacau reputasiku sebagai pimpinan klan Davidde yang tegas dan kejam dengan tatapan mematikan ala elang mengintai mangsa.
Wanita ini memang ada-ada saja. Semoga matanya sedang tidak bermasalah. Karena sejujurnya yang patut disebut imut itu adalah dirinya sendiri. Tingkah lakunya yang seperti ini pun termasuk.
Nah, kan ... gemasku pada Melody mulai kambuh berlebihan. Kalau sudah begini, ingin sekali kukarungi wanita itu dan kubawa pulang, lalu kuuyel-uyel sampai kami beranak pinak selusin seperti kucing.
Namun, ya sudah. Akan kubiarkan ia senang kali ini. Tidak tega merusak senyumnya yang bisa mencairkan hati paling beku sekalipun.
“Eh itu ngapain bawa-bawa proposal?”
“Buat gaya-gayan.”
“Dasar! Taroh aja di mobil terus ikut aku. Kita makan siang di sekitar sini aja dulu,” titah Melody lagi.
“Nggak naik mobilku?”
“Aku bawa sepeda dan udah sewa buat kamu juga. Yok, aku ajak kamu keliling kampusku naik sepeda.”
Tidak pernah kusangka sebelumnya bila bersepeda keliling universitas Oxford di penghujung musim dingin rupanya bisa semenyenangkan ini. Angin sejuk menggelitik wajahku dan membuat rileks. Beberapa kali Melody menyapa temannya. Dan ketika teman-teman wanitanya berbalik menyapaku, calon istriku menunjukku.
“Jangan kasih senyum! Awas ya kalau kamu bales senyum temen-temen cewekku! Cukup kasih lambaian singkat!”
God, she’s gorgeous. Jadi ingin segera beranak pinak dengannya. Haha ....
“Beres,” kataku, sebelum mengikutinya berbelok ke Pierre Victorie. Restoran Prancis yang ada di lingkup kampus ini dan menghajar beberapa menu klasik jempolan. Lalu ke tujuan utama ia meminta bantuanku hari ini.
Apa kau tahu bentuk bantuan macam apa yang Melody minta padaku?
Ia menggiringku ke laboratorium uji coba untuk membantunya mengurus nying-nying alias tikus-tikus penelitiannya!
“Kamu nggak takut sama tikus ‘kan, Jayden?” tanya wanita itu ketika kami sudah di ruang tersebut.
Seriously? Are you kidding me?
Aku justru heran karena ia tidak takut dengan tikus-tikus ini. Jadi, kuputuskan untuk menggodanya.
“Takut, makanya harus kamu peluk,” ucapku. Jangan harap kau mendengar nada manja seperti orang merajuk pada umumnya. Aku tidak akan pernah menggunakan nada menjijikkan seperti itu walau sedang dalam mode jadi buaya darat pada calon istriku seperti ini. Hanya nada datar serahi-hari.
“Ih! Nggak percaya!” usik Melody kemudian berjalan dan berhenti di depan rak-rak. “Nah, jadi ini semua tikus-tikus penelitianku.”
Ia menunjuk tikus-tikus putih dalam suatu wadah mirip kandang hamster berukuran tidak terlalu besar dan bawahnya diberi sekam secara terpisah pada rak-rak besi khusus untuk penelitian ini.
Kata Melody, penggunaan tikus sebagai hewan uji coba juga ada aturannya. Tidak boleh sembarangan asal memiliki ide menggunakan tikus-tikus ini. Penelitian haruslah meminimalkan penggunakan hewan-hewan uji coba.
Tergantung penelitian yang dilakukan. Apabila penelitian tentang rasa sakit pada fisik, bisa menggunakan robot sebagai tolak ukur objek. Namun, untuk jenis penelitian pengembangan mikroorganisme—entah bakteri, virus, kapang, jamur, parasit darah, atau sel kanker—terpaksa menggunakan hewan coba. Itu pun harus seminimal mungkin. Bahkan sebagian besar kampus menerapkan sidang kode etik untuk persetujuan penggunaan hewan coba. Dan Melody sudah melakukannya beberapa waktu lalu.
Kembali ke tikus-tikus ini. Semuanya dikelompokkan menurut berat badan, jenis kelamin dan umur karena akan disuntik dengan virus, bakteri, atau sel kanker dengan takaran berbeda lalu di-eutanasia[15]. Setelahnya baru diambil organ tempat penyerangan kuman biakan tadi lalu diamati hasilnya di bawah mikroskop.
Entahlah, aku juga kurang paham. Saat ini yang kulakukan hanya melihat-lihat ruang penelitian yang hanya ada kami berdua karena sudah agak sore dan beralih mengamati tikus-tikus dalam kandang pasca penjelasan prosedur penelitian Melody padaku.
“Tolong bantu aku ngambilin sisa badannya tikus mati yang masih di kandang. Aku tinggal ke Indonesia dan ngurus berkas kemarin tikusnya ada yang sampai beranak-pinak terus nggak ada asupan makanan. Jadi makan anak mereka sendiri,” terang Melody sambil menyerahkan sarung tangan karet warna biru dan korentang.
“Kok bisa?”
“Mereka ‘kan kanibal, Jayden. Well, yok mari kita kerja sebelum sore banget! Eh kamu nggak ngerasa bau? Kalau bau pakai aja masker ini,” tukas Melody lagi lalu menyerahkan satu masker medis warna senada dengan sarung tangan karet yang sudah kupakai.
Aku pun membantu Melody mengambil sisa-sisa tubuh tikus putih yang mati, mengganti sekam-sekamnya, memberi pakan, dan minum semua hewan penelitian itu disertai obrolan-obrolan ringan.
“Kenapa nggak pakai kelinci?” tanyaku iseng karena teringat kata ‘kelinci percobaan.’
Melody yang sedang memungut potongan kepala anak tikus mati menggunakan korentang pun menghentikan aktifitasnya untuk menatapku. “Nggak tega lihat mukanya kalau entar harus di-eutanasia.” Lalu lanjut meletakkan kepala tikus mati tersebut dalam kantong plastik yang nantinya akan dibuang.
Aku mengangguk paham sebagai bentuk jawaban. “Heran kamu berani megang tikus,” gumamku sambil memegang ekor salah satu tikus putih hidup dan mengangkatnya ke atas. Mengamatinya.
“Awalnya juga takut, Jayden. Tapi terpaksa buat penelitian. Siapa lagi yang ngerjain penelitianku kalau bukan aku sendiri ‘kan? Ini masih mending. Dulu waktu praktikum bedah mayat manusia, muka ancurnya sampai kebayang-bayang terus. Ada mungkin semingguan lebih aku nggak doyan makan gara-gara itu. Terus jadi kagetan gara-gara ngerasa horor di mana-mana. Tapi lama-lama juga biasa kok,” papar Melody tanpa menoleh ke arahku yang masih memainkan tikus tersebut.
“Belum lagi praktek pakai bakteri, virus dan lain-lain, makanya kalau masih kuliah nggak boleh—” Melody refleks berhenti, mematung dan tidak melanjutkan topik pembicaraan tersebut. Seolah baru menyadari sesuatu.
Setelah meletakkan tikus itu kembali dalam kandangnya, aku pun bertanya, “Nggak boleh apa?”
“Kita kelarin ini dulu terus ke apartementku,” ucap Melody serius dan menambah kecepatan kinerhanya.
Aku pun penasaran. Kenapa rasanya tiba-tiba suasananya jadi serius? Bukankah tadi hanya obrolan ringan?
Aku terus memperhatikan pergerakan Melody yang cekatan mengurus semua tikus sampai selesai. Kemudian ia mengajakku cuci tangan dan memakai hand sanitizer tanpa berbicara apa pun lagi hingga naik mobilku dan tiba di apartemen wanita itu.
“Kenapa? Nggak boleh apa?” desakku lantaran sudah sangat penasaran. Jengah dengan keheningan yang ia ciptakan di antara kami.
“Mandi dulu, Jayden. Baru kita ngobrol,” kilahnya. Berjalan ke kamar. Sementara aku tidak diperbolehkan ikut. Harus duduk di ruang tamu.
“Ngobrol dulu,” desakku. Ketika Melody mengulurkan handuk bersih bin wangi yang kuduga hasil perburuannya dari lemari kamar tadi padaku, kutarik tangannya untuk duduk di sampingku. “Ada apa?”
“Mandi dulu, kita abis dari lab uji coba, banyak kuman. Please.”
Apabila sudah muncul kata permohonan, artinya pembicaraan kami akan benar-benar serius. Akhirnya pun aku mengalah. Daripada mengulur waktu mendesak bahasan obrolan ini yang tak kunjung mendapat jawaban, lebih baik cepat mandi dan mengganti semua baju yang kupakai tadi dengan jumper Alan Walker-ku yang dulu pernah kupinjamkan Melody. Jumlahnya ada tiga. Sekarang, sudah lengkap dikembalikan padaku.
Rampung mandi, ganti Melody membasuh badan. Dan aku menunggunya sambil tiduran di kasurnya. Tidak lama kemudian wanita itu muncul. Sudah mengganti semua pakaiannya dengan kaus oblong panjang merah marun dan hot pants lalu ikut duduk di kasur.
“Rebahan sini,” ucapku sambil menepuk kasurnya agar ia ikut berbaring di sampingku. Sehingga bisa memulai orbolan.
Sebenarnya hatiku waswas dari tadi, tetapi mencoba bersikap biasa saja alias datar-datar saja.
Setelah Melody ikut bergabung di sampingku, ia refleks memelukku. “Jayden ...,” panggilnya lemah.
“Hm?” Kubalas pelukannya dan kuciumi puncak kepalanya.
“Sebenarnya aku baru ingat tadi pas di lab. Lagi megang tikus-tikus itu. Terus mikir sepanjang jalan sampai kelar mandi. Terus ... aku makin bingung.”
“Apa sih? Nggak usah muter-muter gitu.”
“Em ... boleh kita tunda pernikahan kita sampai tahun depan?”
Ha?
Dasar tikus-tikus sialan! Kenapa jadi mereka yang membuat Melody seperti ini? Apa hubungannya?
_______________
[15] praktik pencabutan nyawa manusia atau hewan dengan cara meminimalisir rasa sakit. Biasanya menggunakan senyawa kimia cair yang mematikan lewat pembuluh vena. Penyuntikannya pun mulai dari dosis minimal, semakin lama semakin menambah dosisnya hingga taraf mematikan.
_____________________________________________
Well makasih yang masih setia nunggu bang Jay
Makasih juga yang uda vote dan komen
Bonus photo Mel nya Bang Jay
Bonus fotonya bang Jay lagi
See you next chapter teman temin
With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻
Post : 19 Februari 2020
Repost : 30 November 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro