Chapter 32
Selamat datang di chapter 32
Halo, numpang promosi ya. Dominic masih PO gaes, bagi yang belum pesan, yok buruan pesan ya. Bagi yang beli dan dikirim ke luar Indonesia, temen-temen bisa pesan di toko buku online : tokotmindo, linibuku dan bukulengkap ya, kepoin aja instagramnya 😉
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo (biasanya suka nyebar kek sesuatu yg lagi viral gitu lho guys)
Well, happy reading everyone
Hope you like it
BTW, WARNING YA! INI BUKAN LAGI 18+ TAPI UDAH 21+ SIH MENURUT SAYA
JADI, BAGI YANG BELUM CUKUP UMUR, JANGAN DIBACA, BAGI YANG TIDAK SUKA SILAKAN DISKIP! OKE? 😘
❤❤❤
______________________________________________
I want you out by Halloween
_____________________________________________
Not only you—bad boy—can did it better, but also me
—Berlian Melody
_____________________________________________
Jakarta, 28 Januari
20.45 WIB
“Dasar!” hardik Melody. Pelafalannya berupa bisikan diselingi senyuman. Sebelum akhirnya memejam, menjatuhkan tas jinjing, berjinjit sembari mendongak lalu mengalungkan lengan-lengannya pada leherku untuk menerima sambaran bibirku.
Gelombang kejut bagai aliran listrik berarus ramah menciptakan sentakan kecil yang menyenangkan di tubuhku. Memicu degup jantungku untuk berdetak lebih kencang. Aku selalu menyukai sensasi ini. Sensasi yang tidak permah kudapatkan dari wanita mana pun selain Berlian Melody.
“Kalau aku nolak, kamu bakal ngambek lagi nggak?” tanya Melody di sela-sela ciuman kami.
“Nggak yakin kamu bisa nolak,” bisikku tepat di depan bibirnya, sebelum menautkan diri kembali. Kebahagiaan memenuhi diriku ketika Melody membalasnya.
Sayang sekali, hanya sekejab sebab ia berucap lagi. “Sama, aku juga nggak yakin bisa nolak kamu,” bisiknya. Kami lantas tersenyum geli.
Sekali lagi, aku menunduk, kembali mendekatkan wajah untuk memagut bibir Melody. Mengawalinya dengan ritme pelan. Aku tidak ingin tergesa-gesa. Sengaja menikmati, menekuri dan menggodanya. Kala ia menyambut dengan suka cita, aku menjelajahinya lebih dalam. Baru secara perlahan meningkatkan intensitasnya.
Kupikir setelah mencicipi sedikit hidangan pembuka istimewa ini, rinduku bisa terobati dan kami bisa pergi ke restoran kesukaan Melody akibat cacing-cacing di perutku mulai berdemo minta makan. Namun, ketika napas tubuh dalam rengkuhanku memberat dan satu lenguhan erotis pelan lolos dari bibir merah muda itu diiringi gerakan pinggulnya, aku tahu, hidangan pembuka ini tidaklah cukup bagiku. Desahan yang seakan membelai daun telingaku dan gerakan profokatif itu menjadi pemicu semangatku untuk melanjutkan ke menu utama.
“Still hungry. Want to eat my main course too,” bisikku di antara jeda ciuman kami.
Pupil wanita itu membesar, tetapi kelopaknya sayu dan bibirnya yang membengkak hasil kinerjaku masih mengukir senyum. “Dasar! Gitu sempet-sempetnya jadi kekanakan kayak tadi. Sini, biar aku ajarin gimana jadi dewasa,” ucapnya tegas. Bertolak belakang dengan wajahnya yang malu-malu.
Kunaikkan alis pertanda super exited. “Then, teach me.”
Tidak butuh waktu bergulir barang sedetik pun, Melody mendorongku agar aku duduk di sofa. Perlahan ia merangkak naik lalu duduk ke atas pangkuanku. Tangan-tangan lentiknya mendarat di kedua pipiku, berusaha mendekatkan wajah untuk menempelkan bibirnya pada bibirku. Hanya sedetik, lalu bicara. “Open your mouth, Baby.”
Bukannya menuruti kata-kata Melody, aku malah menjauhkan wajah untuk mengudarakan tawa. Aku tahu, aku pasti menyinggung perasaannya yang mungkin sudah berusaha keras mengesampingkan rasa rikuh untuk mengatakan hal tersebut. Tertanda dari wajah merah wanita itu yang kini cemberut, tangan-tangannya otomatis dilipat ke dada.
She’s cute bay the way.
“Jayden! Oneng! Pura-pura polos kek! Nyebelin banget,” protes wanita itu yang rupanya masih enggan turun dari pangkuanku. Juga enggan merenggangkan jepitan tungkai-tungkai tanpa sepatu hak tingginya di pinggangku.
“Hahaha ... sorry, coba ulangi lagi,” pintaku lantas berdeham, berusaha menghilangkan tawaku yang sudah berbaur di udara malam, berupaya serius selagi mendekatkan diri kembali.
Namun, apa yang kudapatkan?
“Udah nggak mood,” jawabnya sambil memalingkan wajah.
“Oh ya?” tanyaku tak percaya. Untuk membuktikan dugaan tersebut, aku meraih wajah cemberut wanita itu, berikutnya melabuhkan bibirku pada bibirnya. Aku menggoda bagian bawahnya dengan isapan pelan. Dan pertahanan Melody runtuh sehingga aku menerobosnya dengan mudah. Mulanya pelan, lambat laun aku semakin mempercepat ritme ciuman kami.
“Cu ... rang ...,” tukasnya sembari menahan desahan. Ia mendongak dan sedikit memelengkungkan punggung ke belakang akibat salah satu telapak tangan besarku mendarat di tubuh bagian depannya yang menonjol. Sementara tangan yang lain mendarat pada pantatnya. Kutekan dan kupijit pelan bagian-bagian badat beda tempat itu.
Aku melepas tanganku dari pantatnya untuk menyingkirkan rambut Melody yang menutupi leher, kemudian meloloskan kancing kemeja bagian kerahnya. Kuselisik agar tidak mengahalangiku kala mengukir tanda kepemilikanku di sana.
Ia meloloskan lenguhan erotis lagi ketika aku mengisap lalu menggigit kecil kulit leher mulusnya. Dan mengulanginya di tempat lain, semakin lama semakin turun.
Sejenak, aku menghentikan kegiatan lidah dan gigiku yang beradu dengan leher Melody guna membuka satu per satu kancing kemejanya secara tergesa-gesa. Ia membantuku meloloskan pakaian tersebut dari lengan-lenganya. Ia juga memberi bonus bantuan melepas branya.
Dan aku semakin berdebar, melihatnya dengan tatapan memuja setelah tubuh molek bagian atasnya tidak terhalang apa pun. Dari wajah merah merona Melody, kedua netraku berpindah pada keindahan yang terekspos di depanku. Lalu meraih salah satunya dan mengusapnya secara perlahan.
“Cantik,” pujiku dengan binar mata kagum. Memang benar adanya alias tidak mengada-ngada. Suaraku pun memberat dan serak. Tidak perlu kujelaskan lagi bila aku sedang dibakar api gairah sekarang.
Melody kembali mengeluarkan nyanyian erotis ketika salah satu keindahannya beradu dengan indra pengecapku. Kuisap kuat dan kugelincirkan gigi-gigiku untuk menyiksa puncaknya yang mengeras. Tanda ia sama bergairahnya denganku. Ia menelusupkan jari-jemarinya di antara rambutku, lalu menekannya seolah memberiku akses tak terbatas untuk mengelola aset-aset indahnya.
“Jayden .... Oh!”
Desahan demi desahan hasil kinerjaku membelai-belai runguku. Aku beralih ke bibir manisnya, kemudian berdiri. Tungkai-tungkai Melody yang masih melingkari pinggangku otomatis mengencang saat aku membawanya ke kamar dan meletakkannya di kasur secara perlahan. Ia lantas membantuku melepas setelan suit hingga shirthless.
Melody menekuri bekas luka di dadaku akibat kecelakaan dulu. Dan aku bergegas kembali bekerja untuk menghasilkan nyanyian erotis merdunya. Ia meraih punggungku dan mencengram bagian yang jauh dari luka tembak kuat-kuat, sehingga posisiku kini menjulang di atasnya. Maka, aku meraup bibir manis itu lagi dengan tangan bergerilya ke mana-mana.
Aku menurunkan ciumanku, menekuni setiap inci demi inci tubuh dalam kuasaku. Hingga berhenti pada celana bahannya. Sekali lagi aku berdiri tegak menggunakan kedua lutut sebagai tumpuan guna melepas penghalang tersebut. Tanpa mengalihkan tatapanku dari Melody yang dadanya naik-turun dan aku memperhatikan bagaimana cara ia menggigit kuku telunjuknya. Tampak seksi dengan rambut agak berantakan, seolah menunggu apa yang akan kulakukan padanya.
Celana kain itu sudah teronggok di karpet bawah kasur. Menyisakan celana dalam marun dengan pinggiran berpita. Baru kusadari itu sepasang dengan branya yang tertinggal di ruang tamu. She’s different. But in a good side. Dibandingkan ketika umurnya masih enam belas tahun, ia mengenakan celana dalam motif lucu, bukan motif menggoda seperti ini.
Ah, gadisku kini sudah dewasa.
Aku tersenyum hangat ketika membuka kaki-kakinya menggunakan lututku lalu menunduk untuk melabuhkan jari tengahku pada inti lipatan tubuhnya yang basah. Menggoda wilayah sensitif yang masih ada penghalang kain itu sambil terus berkarya di dadanya.
Aku sengaja berlama-lama menggodanya agar ia memohon. Aku suka melakukannya. Hanya untuk mendengarnya memanggil namaku dengan cara seksi.
Desahan demi desahan terus-menerus dikumandangkan Melody. Elusan tangan-tangannya pun berpindah-pindah. Dari punggungku yang bertato sayap malaikat, ke otot bisepku. Kemudian berpindah membelai rambutku, disertai panggilan namaku di antara nada-nada erotis hasil pita suaranya.
“Jayden ... please ....”
Aku menyelipkan senyuman ketika mendengarnya memohon. Berpindah dari dada yang penuh tandaku untuk mengecupi rahangnya. “Please what?”
“Touch me ... there ....”
“Where?” godaku. Padahal aku tahu di mana letak sentuhan yang ia maksud dan inginkan.
Tangan Melody membimbing tanganku melesak di balik celana dalamnya. Aku menatap pupil matanya yang kian membesar dan kelopaknya yang kian sayu sembari merakit smirk smile andalanku. Selanjutnya kusentak penutup terakhirnya hingga lepas.
“How if I touch yours using my tounge?” tawarku dengan bisikan makin serak, disertai sentuhan lembut dengan gerakan lambat tetapi teratur. Kelembapannya membantuku meluncur dengan mudah. “Hm?” tanyaku lagi sembari menciumi daun telinga wanita itu.
Aku mendengar napasnya semakin memburu. Lehernya naik turun tanda menelan ludah, cengkramannya pada punggungku juga semakin mengerat. Tanda aku berhasil menaikkan gairahnya.
Kemudian di tengah desahan ia mengangguk. “Please ... what do you waiting for? You gonna make me crazy Jayden, please ....”
Aku tersenyum penuh kemenangan. Kutegakkan badan untuk melihat wajah penuh gairahnya, barulah melebarkan kaki-kaki Melody dan aku melakukan tawaranku. Mengkombinasikan gerakan indra pengecap dan peraba hingga tubuhnya menangang, terpelanting, bergetar dan mendongak ke atas sambil menekan kepalaku lebih kuat.
Mungkin napasnya sempat tertahan ketika ia memejamkan mata dengan bibir mendesah hebat disertai jeritan namaku saat mencapai pelepasan. Detik berikutnya tubuh penuh keringat itu melemas bersama napas memburu.
Aku menjulang ke atasnya lagi untuk mencium pipi merah Melody. Ketika tatapan mata kami berserobok, ia membuka mulut. “Jayden, I want you, so please ...,” bisiknya sambil menggigit bibir bawah. Sexy and cute at the same time.
Shit!
Aku tahu, milikku bahkan sudah tidak sabar ingin menenggelamkan diri dalam kehangatan yang ditawarkan Melody. Anehnya, di saat seperti ini kewarasanku malah bekerja normal, tidak seperti tadi kala bersikap kekanakaan. Jadi, yang kulakukan adalah mencium bibirnya terlebih dulu sebelum mengatakan, “Look, I want you so badly too.”
Aku membimbing tangannya agar menyentuh milikku yang masih bertahan dengan desakan celana setelan. “Tapi, sabar ya, Baby. Belum waktunya, tunggu sampai kita nikah dulu.”
Aku tahu ia kecewa, mungkin sekaligus malu. Itu terlihat jelas dari tatapan matanya. Mungkin ia sudah sangat mengesampingkan rasa rikuhnya seperti tadi untuk mengatakan ini. Dan aku malah menolaknya lagi. Namun, setelah tampak berpikir selama beberapa saat, akhirnya Melody mengangguk, tanda menyetujui kalimatku.
“Kalau gitu boleh gantian aku yang nyenengin kamu?” tanyanya sambil tersenyum hangat, matanya masih sayu, pupilnya masih membesar dan wajahnya juga masih merah dengan peluh membanjiri pelipisnya.
Dan aku menaikkan kedua alis tanda menunggu penjelasan lebih lanjut.
“You know, semester tiga aku mempelajari anatomi genetalia cowok ama cewek. Jadi, aku dituntut hafal di mana letak saraf-saraf sensitif punya cowok juga,” terang Melody sembari membalik posisi. Sekarang ia yang berada di atasku. Duduk di pangkuanku.
“So, Jayden, not only you—bad boy—can did it better, but also me,” imbuhnya sebelum meraih kepala ikat pinggangku, lalu melepasnya dengan ganas.
Aku terkejut sekaligus takjub. Tak menyangka Melody akan seberani ini sampai melepas semua kain yang masih melekat di seluruh tubuhku. Termasuk Calvin Klein, pantofel dan kedua kaus kakiku.
Melody memulai dari menciumi leherku secara lembut—letak daerah sensitifku. Menyertainya dengan gerakan tangan di daguku, turun ke dada, sebelum akhirnya berhenti di tempat yang tepat. Kemudiam menunjukkan apa yang dipelajarinya, pasca ia melepas cincin mama dan meletakkannya di nakas.
Dan tak kusangka, ia begitu terampil. Ya, mau tak mau aku mengeram nikmat. Bahkan, apa yang dilakukannya, melebihi ekspektasiku.
“Holy shit!” umpatku pelan. “Dari mana kamu belajar pakai mulut juga, Baby?” Aku menggigit jempol tanganku sementara tangan yang lain memegangi rambutnya yang kukumpulkan menyerupai kucir.
Melody berhenti sejenak dan mendongak untuk menatapku. “Don’t worry, just womens’s talk. Just take your time, Baby.”
Women’s talk? Yang seperti apa? Pikiranku ingin menggali bayangan women’s talk yang dikatakan Melody, tetapi benakku benar-benar lumpuh akibat kegiatan calon istriku.
Alright, I’ll take my time.
“Gimana kalau kita delivery aja?” usul Melody. Jari-jemarinya menelusuri lengan bahuku ketika kami saling menenggelamkan tubuh polos kami dalam selimut dan saling berhadap-hadapan pasca kegiatan dewasa—yang tak benar-benar cukup dewasa—kami usai.
(Anggep aja di jari manisnya ada tato melody yes)
“Boleh,” jawabku singkat karena mulai mengantuk.
Kata Melody, itu akibat hormon endrofrin yang bekerja pasca pelepasan. Dapat menimbulkan perasaan euforia, kesenangan, serta menenangkan sehingga dapat menjadikan kita rileks dan mengantuk.
“Aku mau pesen bubur kepiting, kamu mau pesen apa?” tanyanya lagi. Jari telunjuk Melody perpindah menyusuri hidungku. Ngomong-ngomong, ia sudah mengenakan cincin mama lagi usai kami membersihkan diri.
“Samain aja. Bay the way, jam berapa sekarang?” Aku menangkap tangannya lalu kucium sebentar. Kulihat ia tersenyum dengan pipi masih semerah tadi. Lalu ia melihat jam dinding di kamar.
“Jam setengah sepuluh,” jawabnya. Kemudian bangkit, menutupi kedua dadanya menggunakan selimut.
“Nggak kerasa.”
“Kamu sih maunya selalu bikin aku teriak-teriak lebih dari sekali,” ucapnya dengan wajah malu-malu.
Kemana tadi wanita pemberani yang membuatku ... ekhm ... mencapai puncak pelepasan hormon endofrin?
Aku tersenyum. “Suka ‘kan?” Sambil meraih tubuhnya agar kembali rebahan.
Ia pun protes. “Lepas dulu, aku mau ambil HP di meja depan buat pesen makanan. Laper nih. Takut keburu jam last order.”
“Tinggal aja selimutnya, ngapain dibawa-bawa?” godaku ketika melihatnya turun dari kasur. Kesulitan berjalan sambil membawa selimut. Dan otomatis meninggalkanku yang masih polos ini.
“Entar kamu pengin lagi,” teriaknya. Suara Melody jauh karena sudah berada di luar kamar.
Aku menggeleng, dengan malas memungut boxer yang tercecer di karpet lalu memakainya ketika medengar suara Melody berteriak, “Kak Jameka?”
Aku langsung menghembuskan napas dan menghampiri mereka.
Kulihat kakakku memegang kartu kunci apartemenku memelotot. Tatapannya pun berpindah-pindah. Dari Melody yang masih terlilit selimut dan memegangi ponsel. Kemudian Jameka melihat boxer-ku.
“Lo udah praktekin women’s talk tadi, Dear Mel?” tanya Jameka dengan senyum miring.
Oh, jadi kakakku yang mengajari Melody. Hmm ....
“Yah. Sorry kalau gue ganggu kalian yang lagi nananina ya,” imbuh Jameka dengan nada datar seperti biasa sama sepertiku.
“Iya. Thanks women’s talk-nya. Calon bini gue hebat berkat lo,” jawabku datar. Sedangkan Melody menggeleng dengan wajah bertambah merah.
“Eh enggak kok, Kak Jame. Eh maksudnya kami—”
Kuraih pinggangnya sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya dan aku berbisik, “Pakai baju di kamar.”
Setelah mengangguk dan tersenyum hambar, ia berkata pada Jameka. “Ekhm, gue ke kamar dulu ya, Kak,” ucapnya salah tingkah sambil memungut kemeja dan branya yang kubuang sembarangan tadi lalu kembali ke kamar. Meninggalkan kami.
“Hahaha ... lucu banget lihat muka salting calon bini lo, Jay. Ya udah kalau gitu gue pergi dulu.”
“Lah ngapain lo ke sini?” tanyaku heran.
“Mau ngecek calon adek ipar gue aja. Kali aja dia nangis lagi gara-gara galau nungguin lo. Ternyata udah baikan. Ya udah gue cabut dulu.”
“Tunggu bentar, Mel nangis? Kapan?”
Jameka memutar tubuhnya kembali. “Ck, lo tuh bego apa gimana sih, Bambang? Tadi siang, Mel ke ruangan gue sambil mewek gara-gara lo suruh pulang, bego banget sih lo! Udah ngambek nggak jelas penyebabnya apaan, disamperin bukannya seneng malah ngusir. Ya udah gue ajarin cara jinakin lo di women’s talk tadi.” Wajah Jameka lantas berganti geli. “Hahaha .... nggak nyangka beneran dipraktekin. Polos bener dia, Jay.”
“Eh, jangan ngajarin Mel yang enggak-enggak lagi! Harusnya ‘kan gue yang ngajarin calon bini gue! Kenapa jadi lo? Gue aja kagak pernah lihat atau denger lo pacaran. Malah ngajarin. Sok pro!”
“Emang harus ya, gue punya cowok terus lapor lo? Ogah! Pro atau enggak, bukan urusan lo juga!”
“Urusan lo, urusan gue!”
“Bodo amat! Ya udah, gue cabut. Bye!”
Sementara Jameka pergi, aku kembali ke kamar dan duduk di kasur bersama Melody yang sudah berpakaian lengkap sambil menggigiti kukunya.
“Baby, lain kali kalau dikasih tahu atau diajarin Jameka yang enggak-enggak, nggak usah didengerin atau langsung ditelan mentah-mentah juga. Oke?”
“Emangnya kenapa, Jayden? Tadi, aku salah ya?”
“Bukannya salah. Tapi buat hal kayak gitu, aku aja yang ngajarin semuanya.”
“Oh, oke.”
______________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo
Kelen luar biasa
Gimana chapter ini?
Nggak kedjang-kedjang kan?
Well, bonus photo Mel-nya bang Jay
Dan bang Jay-nya chacha 😝😝
See you next chapter teman temin
With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻
Post : 11 Februari 2020
Repost : 26 November 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro