Chapter 29
Selamat datang di chapter 29
Well, tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo (suka gentayangan) mau pun susunan kalimat bahasa Inggris yg salah
Thanks
Selamat membaca
Semoga suka
❤❤❤
_____________________________________________
Tear by Bullet My Valentine
_____________________________________________
Apabila ada seorang pria berharga diri tinggi rela merendah diri demi seorang wanita, percayalah, dia sedang dalam mode sangat serius
—Jayden Wilder
______________________________________________
Jakarta, 21 Februari
16.50 WIB
Tidak ada seorang pun yang bersuara di meja makan. Kegiatan mengunyah, alat makan yang beradu dengan piring, semuanya berhenti. Kecuali, desau angin senja, gumaman bayi Karina, dan mocktail yang disedot hingga tak bersisa oleh om Baldwin dengan santainya. Orang-orang fokus menyasarkan pandangan ke arahku dan pria paruh baya bernetra mirip bulan sabit itu secara bergantian.
Sebagai upaya memecah keheningan, aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu—apa saja, tetapi gagal. Pita suaraku mendadak tidak bisa bergetar seperti semestinya dalam menghasilkan huruf-huruf yang menyusun kalimat. Napas beratku pun terembus begitu saja. Bergabung dengan udara sore yang sejuk. Entah kenapa aku lebih memilih menunduk—tepatnya—mengarahkan kedua iris pada sandal hitamku yang tidak bertali.
Tak sampai satu detik berada di posisi ini, kudengar pergerakan dari sampingku. Melody menderap dengan langkah cepat. Kulihat rambut ikalnya yang digerai bergerak-gerak di punggungnya hingga tubuh ramping berbalut kaos abu-abu plos dan jin hitam panjang serta sepatu kets itu mencapai sebelah kiri kursi yang om Baldwin duduki.
Lih, yang duduk di samping pria paruh baya itu berdiri dan memberikan kursinya pada Melody. Kemudian ayah dan anak tersebut terlibat adu cakap dalam mode bisik-bisik, sehingga telingaku tidak bisa menjangkau suara-suara mereka. Seolah sengaja membiarkan pikiranku berkelana untuk mereka-reka isi dialog-dialog tersebut.
Hei, mana mungkin aku bisa? Demi Neptunus! Aku bukan cenayang atau dukun!
Dan dengan tololnya, aku hanya mengamati bagaimana Melody mengerutkan kedua alisnya yang rapi. Sesekali tangan-tangan lentik itu bergerak-gerak di udara. Sedangkan om Baldwin berwajah sama seriusnya dengan sang putri. Hingga untuk beberapa waktu yang singkat, akhirnya mereka berhenti adu argumen. Pertanda keputusan sudah ditetapkan.
Dilihat dari raut wajah yang semakin ditekuk, Melody pasti kalah berdebat. Berlawanan dengan om Baldwin yang tersenyum cerah, seolah puas, tetapi garis bibir itu syarat menyembunyikan sesuatu.
Aku jadi penasaran. Kira-kira apakah itu? Firasatku mengatakan keputusan tetap seperti di awal tadi ; om Bladwin tidak merestui kami.
Mengesampingkan rasa campur aduk dalam dada dan semrawutnya pikiran, aku memindah bobot tubuh ke sana untuk membantu Melody. Layaknya gantleman yang tidak akan pernah mengizinkan wanitanya bertarung sendirian—hal yang semestinya kulakukan sejak tadi. Kamilah yang menjalani hubungan ini. Jadi, sudah sepatutnya kami mengatasi hal ini bersama-sama.
Ketika aku mengusir Tito menggunakan kode tangan lalu menduduki kursinya yang berada di sebelah Melody, Om Baldwin yang meletakkan gelas di meja menatapku sejurus. Berikutnya, aku menumpu siku-sikuku pada lutut, mencondongkan tubuh sedikit dan secara lantang mengatakan, “Om, saya beneran serius pengin nikah sama Mel, tolong kasih kami restu.”
Netra sipit pria itu lebih disipitkan lagi sampai menyerupai garis lurus tebal. Dengan senyum tipis yang disunggingkan, beliau menjawab, “Ok, Om bakalan kasih izin kalian nikah.”
Oh! Tentu saja aku tidak akan cepat merasa lega atau senang lebih dulu. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Selalu ada syarat yang berlaku atau konsekuensi yang harus ditanggung untuk mendapatkan sesuatu. Apalagi yang krusial seperti ini. Jadi, aku menaikkan kedua alis, secara fisik bertanya sekaligus menantang om Baldwin.
Sangat beruntung, pria itu tahu maksudku, sehingga dengan senang hati melanjutkan, “Tapi, kalahin Om maen PES dulu!”
Semua penghuni meja makan sontak tertawa. Berbagai komentar dilempar sana-sini. Suara denting-denting alat makan juga memenuhi pendengaran. Semua orang tampak kembali pada aktifitas masing-masing. Kecuali aku, Melody dan om Baldwin yang masih menampilkan raut wajah dan posisi yang sama.
“Apa, Om?” Akhirnya aku bertanya untuk memastikan ; takut pendengaranku keliru menangkap maksud pria tua tersebut.
“Kamu boleh nikah sama Mel, tapi harus ngalahin Om main PES dulu.”
Apakah aku sudah boleh merasa lega sebab syarat yang diajukan om Badwin jauh dari pikiran negatifku yang menduga-duga akan mendapatkan tantangan sulit? Jujur saja, aku sempat berpikir akan ditantang harus lari marathon dari bumi ke bulan, berhadapan dengan singa di padang savana, melawan buaya nganga di sungai amazon, mencari jerami di tumpukan jarum, lalu belajar menyulam untuk membuat topi rajut Max, dan lain sebagainya. Namun, siapa sangka restuku akan diberi hanya setelah berhasil mengalahkan om Baldwin bermain PES? Yang benar saja!
Aku berdecak dan mendekngus. “Om lupa pernah saya kalahin waktu taruhan ke Paris dulu?” Aku mengingatkan. Bukannya tidak suka dengan tantangan mudah ini, bukan pula meminta yang sulit-sulit. Namun, ayolah, kalau hanya hal sepele begini menurutku tidak perlu. Langsung saja beri kami restu.
Kedua pupil mata om Baldwin bergerak ke kiri lalu ke atas dan melihatku lagi. “Om sengaja ngalah waktu itu biar Mel nggak kasihan. Masa baru pacaran masa udah jauh-jauhan. Tapi kali ini Om bakalan bener-bener maennya,” sinis beliau sambil melipat kedua tangan di dada dan mencibir. Tante Amada yang berada di samping sang suami pun menyuguhkan wajah sama persis. Memang dua sejoli ini. Hmmm ....
“Oke, saya berani, Om, sekarang kalau perlu,” balasku, ingin membungkam cibiran orang-orang.
Hanya bermain PES. Siapa yang takut?
Namun, Brian segera protes, “Jangan sekarang, Jay. Gue laper. Makan-makan dulu. Urusan PES bisa ‘kan, abis makan?”
Rampung makan—yang tak benar-benar bisa kunikmati, aku menggiring semua orang masuk mansion menuju sayap kiri. Tempat di mana ruang bermain zaman kecilku berada. Luasnya kira-kira tujuh meter kali tujuh meter. Cukup untuk menampung semua orang.
Kata papa tadi, tempat itu tidak banyak direnovasi. Dindingnya masih sama, hanya perabotan saja yang diganti menyesuaikan zaman dan gaya Heratl. Mainanku yang rusak pun diganti, sedangkan yang tidak dibiarkan dan ditata di rak-rak.
Menurut cerita papa, beliau mengganti PES-ku semata-mata untuk mengobati kerinduan masa kecilku. Satu keuntungan yang kumiliki sebab tak perlu repot-repot ke rumah om Baldwin untuk bertarung gim tersebut.
Ketika masuk, kami disuguhkan warna dinding seperti pelangi. Ada mobil-mobilan, baik yang menggunakan remot maupun tidak. Dari ukuran kecil sampai bisa ditumpangi anak umur sepuluh tahun. Ada motor mini, kereta api, miniatur Batman kesukaanku yang ditata rapi di rak tinggi yang menjulang, memenuhi salah satu dinding ruangan. Ada juga perosotan warna merah lengkap dengan mandi bola berpagar plastik warna-warni di bawahnya, pedang King Arthur, tembak-tembakan, bola basket beserta tiang keranjang, bola rugbi, juga bola sepak.
Di sudut ruangan ada kasur mini bentuk mobil animasi Lightening McQueen. Dulu kadang aku sering ketiduran di situ saat lelah bermain. Sekarang kasur yang selalu di bersihkan para maid selama aku tidak ada itu digunakan Karina untuk mendudukkaan bayinya. Ia juga memberikan beberapa mainanku.
Sementara di tengah ruangan ada karpet bentuk pollar bear di bawah sofa kulit krem melingkar—tempat duduk favorit mama ketika menemaniku bermain. Dan yang paling penting, ada TV sangat besar dan PES terbaru hasil perburuan papa di pameran Hi Tech mal terdekat beberapa bulan lalu.
Jendela besar bertralis ruang ini menghadap taman bunga. Jadi, sangat sedap dipandang mata.
Ngomong-ngomong, ruang bermainku ini masih tidak apa-apanya dibandingkan dengan ruang bermain milik Jameka di sebelah. Sebenarnya bukan tujuan papa membuatkan kami ruang bermain terpisah, itu hanya sebagai tempat meletakkan mainan saja agar tidak tercampur antara mainan anak laki-laki dan anak perempuan. Toh kami dulu sering main bersama di mana pun sesuka hati.
“Wah, ini semua mainan lo, Boss?” tanya Tito. Kepalanya berputar ke kanan dan kiri, mengamati segala interior yang ada. Tampaknya bukan Tito saja yang terkagum-kagum melihat ruang bermainku, tetapi semuanya. Dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
For Your Information, Brian kini berdiri di tengah-tengah untuk menjelaskan tata cara serta peraturan bermain. Pertama-tama, ia menunjuk Melody. “Dek, lo ‘kan jadi taruhannya nih, jadi lo nggak boleh dukung siapa-siapa! Duduk aja yang bener di sofa situ!” perintah Brian sembari memindah telunjuknya pada sofa krem di tengah ruangan.
Wajah Melody yang semula sudah ditekuk semakin cemberut. Kelihatan sekali tidak ikhlas menuruti perintah kakaknya yang sudah melanjutkan menjelaskan peraturan pertandingan tersebut.
Secara garis besar, akan diadakan tiga babak pertandingan dengan ketentuan skor tertinggi maka dialah pemenangnya. Ya sudah, aku menurut saja. Apabila tidak, aku yakin pria paruh baya yang tingkahnya mirip anak SD itu—yang on the way menjadi mertuaku—tidak akan merestuiku menikahi anak gadis beliau.
Sumpah, ini momen teralay, terlebay, dan terkampret yang pernah kualami. Membuang jauh-jauh harga diriku yang tinggi untuk mengantongi restu dengan cara kekanakan. Demi Berlian Melody.
“Oke, pegang stick game-nya masing-masing!” Brian memberi aba-aba. Lalu memencet tombol main.
Satu ....
Dua ....
Tiga ....
Aba-aba pada layar dimulai, aku dengan lihai memainkan stick gim di tanganku. Mencoba berkonsentrasi penuh pada layar ketika semua orang menciptakan kegaduhan dengan sorak-sorai untuk mendukung om Baldwin. Tidak satu pun yang mendukungku. Termasuk papa dan kakak kampretku. Tidak apa-apa, aku akan berusaha menangkannya.
And see? Babak pertama aku yang memenangkan pertandingan itu secara sportif. Kemudian, kami melanjut babak kedua. Sayangnya, kali ini om Baldwin yang memenangkannya sehingga Brian memberi pengumuman skor kami seri. Tinggal satu babak terakhir sebagai penentu.
“Kalau sampai kamu menang, Om bakalan nikahin kalian besok!” sungut om Baldwin dengan mengacung-acungkan stick gim ke arahku dan Melody.
“Beneran ya, Om?”
“Iya, pria itu yang dipegang omongannya, Jay,” jawab om Baldwin bijaksana. Menambah kobaran semangatku untuk memenangkan permaian ini.
Aku tahu, seharusnya aku tidak merasa senang dulu ketika menerima tantangan mudah ini. Sadar betul kalau semua orang tua pasti akan menguji calon menantunya dengan sungguh-sungguh. Itu terbukti ketika aku sudah hampir mencetak golku yang kelima—dua poin lebih unggul dari pada om Baldwin—beliau melihat Melody lalu memekik,“Sweety? Mukamu kok gitu? Kamu masih sakit? Udah periksa diri sendiri apa belum?”
Konsentrasiku mendadak buyar. Khawatir dengan Melody. Dari layar, pandanganku pun beralih ke calon istriku. Wajah wanita itu merah padam. “Kamu nggak enak badan, Baby?”
Hampir saja aku meletakkan stick gimku dan menuju ke sana, tetapi Melody buru-buru berseru, “Jayden! Jangan lihatin aku! Konsen aja sama pertandingan! Aku nggak apa-apa kok. Cuma lagi sebel aja!”
Oh! Buru-buru pandanganku kembali pada layar. Namun, baru saja sedetik mencernah keadaan PES, suara gim itu dengan labtangnya mengatakan, “Game Over.” Dan yang memenangkannya adalah om Baldwin!
Sialan! Orang tua ini berhasil mengelabuhiku!
“Wah ini curang namanya, Om! Nggak bisa gitu! Kita harus tandingan ulang!” protesku kesal. Berusaha menahan diri agar tidak membanting stick ke lantai atau melemparnya ke dinding sampai pecah berhamburan.
“Mana sih Om curang?” tanya Om Badlwin tanpa rasa dosa. Tangan-tangan yang semula terbuka lebar itu kini menepuk dada bak samson, bangga karena menang.
“Itu tadi ngibulin saya pakai alibi ngomong Mel sakit. Kan jadinya saya noleh. Curang!” sungutku.
“Di mana letak curangnya, Jay? Masa ngomong khawatir sama anak sendiri nggak boleh? Lagian emang ada peraturan yang ngelarang ngomong sama anak sendiri selama pertandingan? Kan nggak ada, jadi Om menang dengan sportif!”
Kami berdua masih sama-sama ngotot. Adu cakap diwasiti Brian yang tertawa bahagia. Sementara tanpa sadar Melody sudah berdiri di dekat kami dan merengek, “Daadd. Kenapa sihhh? Daddy kayak gitu banget? Tujuan Jayden itu baik loh, mau nikahin aku! Kenapa susah banget sih dapet restu? Kenapa sampai curang gitu?”
“Kayak gitu gimana sih, Sweety? Curang gini gimana? Kan Dad cuma ngawatirin kamu yang wajahnya merah padam gitu. Jangan-jangan kamu sakit. Ternyata cuma sebel,” bela om Baldwin.
“Ya tapi kan jelas-jelas mukaku merah kayak gini gara-gara kesel. Dad pasti sengaja biar Jayden ngelihatin aku, biar Jayden kalah. Padahal, dikit lagi Jayden menang! Tanding ulang pokoknya, Dad!”
“O ... nggak bisa, jelas Dad menang dan kalian belum dapet restu Daddy.”
Sumpah! Proses mendapatkan restu ini memakan seluruh hatiku. “Jadi saya mesti gimana buat dapet restu dari Om?” tanyaku putus asa. Benar-benar menyedihkan!
“Karena kamu gagal memenuhi tantangan gampang, jadi Om kasih yang lebih gampang deh,” jawab om Badlwin. “Naikin provit Heratl papamu sebesar sepuluh persen dalam waktu enam bulan, baru Om nikahin langsung,” imbuh beliau yang kontan membuatku memelotot.
“Om pasti bercanda, sepuluh persen itu banyak banget, Om. Dan itu nggak gampang dalam kondisi pailit kayak gini. Apalagi dalam waktu enam bulan,” terangku logis, dengan nada yang sangat menyedihkan.
Aku melirik papa, mengode meminta bantuan, tetapi beliau malah mengendikkan bahu dan mengangkat tangan tanda tidak ingin ikut campur dalam urusan ini. Membuatku menduga ini pasti ada campur tangan antara papa dan om Badlwin juga.
Ck! Demi neptunus! Heratl Company itu perusahaan papa! Dan gara-gara siapa perusahaan itu jadi bangkrut? Hah?
“Anybody please?” Aku bertanya, sembari mengedarkan pandangan ke orang-orang agar mau membantuku. Namun, tidak ada yang peduli. Mereka malah pura-pura mengobrol satu sama lain.
Fix. Mereka memang sekongkol untuk menguji kesabaranku!
“Ya udah kalau gitu lima bulan, Jay.”
“Om!”
“Empat bulan.”
“Astga, Om!”
“Tiga bulan.”
“Oke! Enam bulan!”
“Deal!”
Aku mendesah keras dan om Baldwin kontan tersenyum sinis bin meremehkan. “Kenapa? Nggak sanggup? Mau nikah sama Mel nggak?”
“Sanggup! Iya sanggup! Emang saya mau naikin provit perusahaan papa. Tapi pelan-pelan. Nggak langsung sepuluh persen dalam waktu enam bulan juga,” ceritaku jujur, setelah mengusap wajah frustasi.
“Nah bagus itu, logikanya ‘kan lebih cepet lebih baik, Jay. Lebih cepet nikahin anak Om juga. kata om Baldwin lantas menepuk pundakku. “Selamat bekerja anak muda,”
Ck! That old man!
_____________________________________________
Thanks for reading this chapter
Makasih juga yang udah vote dan komen
Well, this is Mel
Dan Bang Jay yang lagi ngambek soalnya saya siksa terus
See you next chapter teman temin
With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻
Post : 15 Januari 2020
Repost : 23 November 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro