Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 28

Selamat datang di chapter 28

Well, tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (biasanya suka banget gentayangan, heran, padahal uda koreksi bolak balik masih aja adaaa LOL)

Thanks

Happy weekend, happy reading everyone

Hope you like this chapter

❤❤❤

_______________________________________________

Marry you by Bruno Mars

______________________________________________

Walau tentu saja ketika kita meminta, kita harus selalu siap dengan jawaban yang diberikan

—Jayden Wilder
______________________________________________

Jakarta, 21 Fabruari
16.45 WIB

Semenjak mama meninggal, aku dan Jameka sulit mengekspresikan perasaan melalui raut wajah. Apalagi setelah itu masalah datang dari berbagai arah dan secara bertubi-tubi. Aku pun semakin sulit menarik garis bibir membentuk senyuman kecuali smirk smile dan kesinisan.

Kata orang, ekspresi bisa dilihat dari berbagai macam sisi, termasuk dari tatapan mata seseorang. Dan kata mereka yang mengenalku, tatapan mataku juga tidak bisa selalu sukses menggambarkan bagaimana isi hati atau pikiranku.

Namun, ketika datang hari di mana aku mengenal Melody, aku bisa sedikit-banyak mengekspresikan isi kepala atau hati melalui senyum tulus yang sampai ke mata. Sayang sekali, sore ini aku hanya ingin menampilkan wajah datar, meski sedikit kerutan di alisku menjadi pertanda hatiku dongkol setengah mati.

Bagaimana tidak? Kegugupan yang sudah berusaha kusingkirkan—meski datang lagi—untuk melamar Melody secara tidak romatis pun akhirnya digagalkan oleh semua orang.

Kini aku bersedekap, duduk di meja makan, menunggu bocah-bocah tengil: Brian, Tito, Lih, dan Alfred, membilas badan serta menukar celana renang mereka dengan baju santai. Dan setelah Melody menelepon Karina, tidak lama kemudian, sahabat wanita itu bersama suami serta anaknya datang bergabung.

Berikutnya, seperti murid nakal yang dihukum berdiri di depan kelas oleh guru, semua orang yang ada di meja menyuruhku dan Melody berdiri di depan meja paling ujung. Tujuannya, untuk menyaksikanku melamar Melody.

Apabila diizinkan protes, aku akan berteriak kencang-kencang bahwa ini melanggar privasi pasangan. Sayangnya, aku tidak bisa dan tidak akan mengizinkan diriku mendapat jeweran dari tante Amanda lagi. Jujur saja, telingaku masih berdenyut, dan kupikir pasti warnanya merah.

Kukatakan pada diriku sendiri bahwa ini demi Melody, kemaslahatan dan kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi, juga di dunia persilatan. Jadi, kami menuruti titah semua orang.

Aku melihat berbagai ekspresi raut wajah yang mereka tampilkan. Ada yang serius seperti suami Karina, om Baldwin yang lebih memilih sibuk dengan mocktail, wajah datar Jameka, tetapi mulutnya sarkas, selebihnya menahan tawa. Mungkin karena mereka pikir berhasil mengerjaiku yang jelas tidak dapat melawan. Sebab apabila aku melakukan pemberontakan—selain mendapat jeweran maut tante Amanda—aku yakin seribu persen mereka tidak akan merestuiku untuk menikahi Melody.

Aku bahkan dapat melihat papa menggigit bibir dengan punggung naik-turun, tanda menahan tawa. Beliau lantas menutupi mulut menggunakan kerah kaos polo putih untuk mencegah tawa yang siap meledak kapan saja. Hanya tinggal menunggu ada yang memencet tombol pemicu, maka, tawa beliau pasti langsung meluncur ke mengudara. Namun, ada yang lebih menyebalkan dari semua itu. Yakni Brian. Tawa pria itu paling keras sampai terbatuk-batuk sambil menggebrak-nggebrak meja.

Kurang ajar si Jelmaan Srigala itu! Selalu paling bahagia melihatku menderita. Senadainya pria tersebut bukanlah calon kakak ipar yang harus kumintai restu—walau ia adalah orang pertama dari pihak keluarga Melody yang memberikannya di rumah sakit tempo hari, pasti sudah kulumuri mulutnya dengan bon cabe level lima belas! Atau akan kugunakan senjata andalannya ;  menjadikannya pakan piranha di akuarium tetangganya!

Aku tahu, kau pasti akan mengolok -ngolokku payah, cupu, cemen, dan berbagai ungkapan pecundang lain sebab mengira Boss mafia sepertiku kenapa tidak menggunakan cara-cara selayaknya orang-orang kami bekerja untuk menyelesaikan masalah, bukan? Seperti misalnya, kalau dalam kasus ini, kawin lari.

Berikurnya pasti muncul pertanyaan pendapat: di mana letak kegarangannya? Kekejamannya? Aura intimidasi sebagai pimpinan organisasi hitam, bila aku hanya menurut seperti kerbau yang dicocok hidungnya? Iya ‘kan?

Namun, kau salah besar apabila memiliki pemikiran seperti itu. Mafia memiliki arti lebih dalam dan lebih luas dari yang kebanyakan orang sangka tentang kami, yang hanyalah tukang pembuat onar dan melakukan tindakan ilegal yang licin hukum. Mafia juga berarti pria sejati. Dan pria sejati tidak akan bersikap layaknya pecundang seperti memaksakan kehendak wanita ; sebut saja penculikan atau kawin lari. Pria sejati seharusnya bisa memahami dan menghormati pilihan wanita, meski itu sebuah penolakan.

Lalu bagaimana denganku yang dulu ingin menghancurkan hubungan Melody dengan pecundang itu dan menyeretnya kembali padaku?

Kuakui aku begitu gegabah karena dikuasai amarah yang sudah kutahan bertahun-tahun dan baru bisa kusalurkan melalui cara tersebut. Itu bukan sikap pria sejati, mafia.

“Ekhhm.” Aku membuka omongan dengan berdehem sekali agar semua orang fokus menatapku. “First of all, I want to say thanks for everyone who always bothering me and Melody in every single situation.” Kuharap, mereka memakan sindiranku sampai kenyang.

“Hahaha ... kasian amat, si Boss.” Tawa playboy cap kadal buntung kontan membahana tepat satu detik aku menutup mulut.

“Diem lo kadal sawah!” teriak Jameka sambil mengacungkan garpu saladnya pada Tito. “Ngerusak momen aja lo!”

“Iye ..., maap Yang Mulia Ratu Jameka.” Tangan pria bertato banyak itu memohon ampun pada Jameka. Tontonan yang membuat semua penghuni meja tertawa, kecuali aku—tentu saja.

“Lanjut, Jay!” titah kakakku. Gantian mengacungkan garpu ke arahku.

Well—” Aku menggantung kalimat untuk menggeser pandangan dari mereka ke Melody.

Rasa jengkel yang bersemayam dalam diriku karena celotehan Tito dan Jameka, tiba-tiba menguap ke udara. Berganti rasa gugup setengah mati yang seolah-olah membekap tubuhku begitu melihat wanita yang menatapku menyunggingakan senyum menawan. Aku bahkan sempat ragu antara harus berdiri atau berjongkok seperti pangeran di film-film ketika akan mengucapkan kalimat lamaran untuknya.

Tenggorokanku kering akibat  berusaha menelan ludah berkali-kali sebelum memulai lagi. “You know, we had passed hard time. Dan setelah aku pikir-pikir, selama ini aku belum pernah ngomong seuatu yang harusnya udah aku omongin dari dulu secara langsung ke kamu, Baby. Tanpa lewat perantara Max atau siapa pun.”

Aku membasahi bibir sebelum melanjutkan kalimatku, dan orang-orang yang tadinya cengengesan kini telah diam menyimak.

Maybe you can guess what, but I ... definitely have to say—” Begitu gugup, sampai-sampai aku malah ngomong berputar-putar.

That ... that ... I do love you, Berlian Melody.Satu tarikan napas, kalimat itu keluar dari mulutku dengan lancar. “Dari dulu,” tambahku.

Memilih untuk berusaha jongkok dengan gerakan kaku, moonstoned alchemist dalam kantung celana kuambil, kubuka, lalu kuucapkan, “Will you—”

“YES!”

Belum sempat kalimatku lengkap, Melody sudah menjawab. Otomatis rasa gugupku hilang berganti dengan dengkusan.

“Belum kelar ngomong, Baby,” ungkapku datar bernada kesal.

“Tapi aku udah tahu kamu mau ngomong apa, Jayden,” kilah Melody dengan senyum tiga jarinya.

Ah ... tawanya selalu menyejukkan. Namun, bukan itu topik utamanya sekarang.

“Sok tahu kamu itu. Emang apa yang mau aku omongin?” tantangku. Masih betah berjongkok, meski leherku mulai pegal karena mengdongak terus.

Dan dengan polosnya, Melody menjawab, “Will you marry me?”

Semua orang di meja makan sontak tertawa. Wajah bingung Melody sukses mengubah rasa kesalku menjadi geli bercampur gemas. Sumpah demi apa pun, aku ingin menggigit pipinya sekarang.

Alih-alih melaksanakan ide gila dalam otakku, aku berusaha bangkit, lantas menunjuk Melody. “Look, she proposed to me,” ucapku bangga, pamer pada hadirin yang menonton. Gelak tawa pun semakin membahana membanjiri suasana senja sore ini. Sinar jingga yang menyirami wajah bahagia semua orang merupakan perpaduan sempurna.

Sekelebat mata memandang, Melody tampak tercengang. Lalu sambil memelototiku, ia memukuli lenganku. “Ih! Kan harusnya kamu yang ngelamar aku! Kenapa jadinya aku yang ngelamar kamu? Itu tadi cuma tebakan kok!” protesnya dengan wajah merah merona. Mungkin sadar dengan kekonyolnya.

Aku menangkap kedua tangan gadis itu menggunakan satu tangan yang bebas dan menatapnya intens, tetapi seulas senyuman masih tersungging di wajahku. “Makanya jangan main potong aja, Oneng!” hardikku, tidak lupa menowel kepalanya menggunakan jari telunjuk. Wanita ini boleh kugigit tidak ya? Gemas.

“Aduh ... sakit, Jayden! Kamu itu kebiasaan kayak kak Brian! Kalau gitu cepet lamar aku!” pintanya sembari mengusap kepala bekas towelanku. Mulutnya jadi cemberut mirip patuh bebek.

“Maksa banget minta aku lamar,” godaku, menahan diri untuk tidak terbahak atau menggendongnya menuju kamarku.

“Jayden .... Come on! Coba aku pengin denger lamaran romantismu,” desak Melody sambil mencibir. Rupanya ia tidak ingin kalah.

“Hati-hati, kamu bakalan klepek-klepek denger lamaranku.” Aku balas mengejeknya. Argumen kecil ini membuatku senang.

Namun, tentu tidak semua orang setuju dengan pendapatku. Contohnya, Karina yang sedari tadi memangku bayi laki-laki gembulnya, mencoba melerai kami. “Hei kalian! Bisa nggak sih seriusan dikit? Ini penonton setia butuh dipuasin loooh.”

“Terserah deh siapa yang mau ngelamar! Buruan! Gue udah laper!” Brian ikut menimpali. Dan seketika semua orang ikut berargumen. Kini mereka malah asyik sendiri, ramai seperti pasar, saling melempar komentar satu sama lain.

Aku memejamkan mata lalu menghembuskan napas perlahan dan menghadap Melody. “Biarin aja mereka rame sendiri.”

“Iya bener,” jawab calon orang yang kulamar sambil tersenyum. Tampak menunggu-nunggu aku bicara alasan kami berdiri di sini. Dan aku pun dengan senang hati mengabulkannya.

“Berlian Melody?” Aku memulainya dengan memanggil nama lengkap wanita itu.

Sementara Melody sendiri mendongak, menatapku. “Ya, Jayden?” tanggapnya.

“Will you marry me?” ucapku lancar, mirip jalan bebas hambatan lantaran sudah tidak gugup. Tentu dengan menghiraukan penonton yang ngedumel sendiri dan menjadikan ini sebagai kualiatas waktu berdua di tengah keramaian.

“Emang kamu mau aku tolak, Jayden?” balas Melody dengan wajah merah merona. Getsture-nya rikuh sampai-sampai berulang kali mendekatkan jarinya ke mulut—kutebak untuk mengunyah kukunya, tetapi tidak jadi. Ia lantas menunduk, melihatku mengulurkan moonstoned alchemist yang terbuka. Memperlihatkan sebuah cincin dalam batu bulan tersebut.

“Kali ini aku nggak maksa, jadi apa jawabanmu?” tanyaku super duper serius.

Dan ia menjawab tanpa jeda dan tanpa ragu walaupun singkat. “Iya.”

“Iya apa?” Aku balas bertanya, lega sekaligus berniat menggodanya sedikit.

“Iya, aku mau nikah sama kamu, Jayden,” jawab Melody lebih mengeraskan suaranya.

Namun, tidak berarti aku puas dengan jawaban itu. “Apa? Kurang keras, nggak denger, mereka terlalu berisik!”

“AKU MAU NIKAH SAMA KAMU, JAYDEN WILDER!” teriak Melody selantang-lantangnya. Sampai-sampai grasak-grusuk dari meja makan berhenti untuk menoleh ke kami selama sedetik, lalu melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda. Seolah-olah itu adalah hal biasa. Yang kewajarannya tidak memberikan efek dramatis.

Cih! Dasar human! Kalau tidak memperhatikan kami, apa gunanya memintaku melamar Melody di depan mereka? Sialan, mereka memang hanya niat mengerjaiku saja!

Iya aku juga tidak kaget dengan  jawaban Melody. Meski demikian, tidak ada yang bisa mencegahku dilumuri rasa lega lantaran berhasil memastikan dan mendengar dari mulut wanita itu sendiri bahwa ia memang mau menikahiku bukan karena aku mendesaknya, melainkan secara sadar menentukan pilihan murni dari hatinya. Tanpa ada beban atau tuntutan apa dan siapapun.

Aku mengambil cincin dari batu bulan tersebut lalu menambil jari manis tangan kiri Melody. Tangannya hangat. Aku lantas menukas, “Ini cincin mendiang mama. Soalnya acara lamaran ini dadakan. Bukannya nggak ada niat pengin nikahin kamu. Aku pengin banget dari duli. Cuma aku belum persiapan beli cincin. Tahu sendiri aku baru keluar rumah sakit sore ini. Jadi, jangan protes kalau cincinnya nggak pas. Dipakai ya? Daripada aku karetin jarimu.”

“Dasar!” hardiknya, “sebenernya kita nggak perlu pakai cincin lagi, Jayden. Kita udah punya tato cincin. Ingat? But I’m appreciating.” Dapat kulihat, Melody mengungkapkan perasaannya sampai membuatnya berkaca-kaca, dengan senyum tulus merekah. “Sekarang aku baru mikir dan sadar kalau kamu udah ngikat aku pakai tato cincin ini dari dulu, sampai nggak bisa lepas dari kamu, Jayden.” Bukannya berhenti, ia malah menangis dan tertawa secara bersamaan.

“Emang. Kamu pikir ini cuma cincin yang aku bikin kayak anak alay gitu?” Aku mengatakan hal itu sembari mengusap air matanya menggunakan punggung tangan.

“Kamu tato aja sakit. Mana bisa disamain kayak anak alay, Oon!” protesnya kesal, masih menangis dan juga tertawa secara bersamaan. Berlian Melody penuh ekspresi.

“Oon, oon gini kamu mau nikahin aku loh,” balasku sembari mengusap puncak kepalanya. “Uda nangisnya, jelek tuh.”

“Jelek-jelek gini kamu juga mau nikahin aku ‘kan?” sungutnya sembari mengelap air mata dengan tangan kiri.

Lalu aku berbisik, “Sebenernya tato itu aku guna-guna biar kamu inget aku terus.”

Melody terkikik. “Pantesan ..., tapi aku udah ngira dari dulu sih.”

Pandangannya tidak beralih ketika aku menyematkan cincin tersebut pada jari manis tangan kanannya. Agak kebesaran sedikit, tetapi masih tergolong cukup pas untuk dipakai. Sedangkan batu bulan tempat cincin itu sendiri sudah kumasukkan saku celana lagi.

“Astaga,” gumamku sambil meraih tubuhnya dan membawanya ke pelukanku. Lanjut mencium puncak kepalanya berkali-kali dan membiarkannya menenggelamkan wajah di dadaku sambil membalas rengkuhanku.

I do love you too, Jayden Wilder,” ucapnya. Walau suaranya berdengung, tetapi cukup jelas tersampaikan di telingaku.

Mendengar Melody mengatakan itu membuat jantungku berdebar lebih cepat dari ritme normalnya. Dadaku pun menghangat.

I know,” kataku sembari mengeratkan pelukan. “Guna-gunanya bener-bener sakti dan efektif njerat kamu.” Melody kembali tertawa kecil dan menambahkannya dengan memukul punggungku. “Hei, Baby.”

“Ya?”

May I kiss you?

“Sejak kapan kamu minta dan butuh izin buat nyium aku, Jayden?”

Aku tertohok maksimal, tetapi memilih untuk stay cool. “You know me so well,” pungkasku lalu melepas pelukan dan tidak sengaja melirik penonton yang ternyata diam menatap kami. Bahkan aku dapat melihat Karina sudah membidik kami menggunakan handy cam-nya.

“Apa? Cuma mau nyium calon bini. Kalau mau nonton ya nonton aja. Didokumentasi malah lebih bagus,” kataku santai lalu meraih dagu Melody on the way Wilder menggunakan tangan kanan. Sedangkan tangan kiri meraih pinggangnya agar merapat sehingga dapat lebih intim mencium bibir merah mudanya.

Kami pun saling menautkan bibir. Menyalurkan kasing sayang mading-masing, meski hanya sebentar karena ada yang lebih penting dari ini. Yaitu meminta restu om Baldwin. Oleh sebab itulah, sambil merangkul pinggang Melody, aku memandang pria paruh baya yang—rasa-rasanya—sejak tadi menampilan ekspresi tidak dapat kubaca. “Om Baldwin, Melody udah setuju nikah sama saya. Jadi, saya boleh ‘kan nikahin putri Om?”

Aku bangga pada diri sendiri sebab bisa meminta izin pada om Baldwin, meski dari pertanyaan itu ada keheningam yang diciptakan. Lalu ....

Sorry, Jay. Om belum kasih izin.”

“Gimana, Om?” tanyaku, berharap pendengaranku keliru dalam menafsirkan arti kata-kata itu. Walau tentu saja ketika kita meminta, kita harus selalu siap dengan jawaban yang diberikan.

Dan om Baldwin dengan senang hati mengulanginya. “Om belum kasih kamu izin nikahin Melody, Jay.”

What the ....

______________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang uda vote dan komen

Well, bonus fotonya Mel

Bang Jay juga dong pastinya

See you next cahpter teman temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Post : 11 Januari 2020
Repost : 19 November 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro