Chapter 25
Akhirnya setelah hiatus ribuan tahun saya update lagi si Jay
Selamat datang di chapter 25
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tolong tandai jika ada typo (biasanya suka gentayangan)
Well, happy reading everyone
Hope you like this Chapter
❤❤❤
______________________________________________
The Ace of spades - Motorhead
______________________________________________
Memaksakan kehendak wanita tidaklah akan membuat wanita itu serta merta langsung jatuh cinta pada kita, melainkan bisa jadi kebalikannya ; sangat mungkin akan membeci kita
-Tito si Kadal Sawah Buntung
______________________________________________
Jakarta, 11 Januari
15.48 WIB
Melody keluar dari rumah sakit hari ini. Sembari menunggu Brian mengepak barangnya ke mobil, ia berkunjung ke kamar inapku. Kami pun mengobrol tanpa menyinggung pertemuan dua keluarga yang akan mereka lakukan.
"Kata om Allecio, kamu bantu Heratl," ungkap wanita itu.
Dasar papa! Hobinya membocorkan sesuatu yang bahkan tidak ingin kuceritakan pada siapa pun. Karena menurutku itu tidaklah penting. Sejatinya sebagai seorang pria memang harus bekerja dan sebagai anak yang mulai ingin berbakti kepada orang tua, aku harus membantu. Walau demikian, aku tetap menjawab jujur. "Ya, gitulah."
Petir menyambar. Kami kompak menoleh ke luar jendela yang menampilkan mendung. Hanya sesaat, sebab kami kembali melanjutkan obrolan. "Berarti kamu bakal tinggal di sini 'kan?"
Aku berpikir hingga tiga detik untuk memilih jawaban. "Sebenernya aku punya bisnis di Inggris yang butuh diperhatiin juga. Beberapa hari ini aku izin. Jadi ..., ya harus balik sana."
"Oh ya? Bisnis apa?" tanya wanita itu penasaran. Mata besar imutnya melebar, berkilat senang dan senyumnya mengembang. Namun, segera mengernyit. "Tapi Heratl gimana?"
"Cuma bisnis kecil-kecilan aja," jawabku santai. "Di Heratl cuma kasih saran aja. Kalau bener-bener penting baru turun tangan."
Tidak mungkin 'kan aku menjawab memiliki bisnis kotor seperti perjudian yang dilegalkan dengan cara menyuap aparat polisi? Berteman dengan wartawan untuk menutupi berita buruk yang berkaitan denganku atau klan Davidde? Jangan lupakan jajaran Makamah Agung yang menjadi relasi kami supaya tidak terjerat hukum. Belum lagi baru-baru ini aku bekerja sama dengan Fayard dalam mengekspor-impor miras. Bagaimana kalau Melody menjauhiku karena hal tersebut? Tidak akan kubiarkan itu terjadi hanya gara-gara ia mengetahui pekerjaanku.
"Jadi, setelah keluar rumah sakit, rencananya kamu bakal di sini berapa lama, Jayden?"
Aku berpikir sejenak. Kalau Dahlia bisa menuntaskan penyelidikan anak buah bedebah Cavez itu dalam waktu dekat, mau tak mau, aku harus segera kembali ke Inggris. Banyak orang bergantung padaku. Tidak mungkin aku lari dari tanggung jawab atas tugas yang kuberikan.
"Kondisional," jawabku setelah berpikir beberapa saat.
Aku baru akan menanyakan bagaimana dengan Melody sendiri, tetapi Brian terburu datang dan mengajaknya pulang. Pria itu bahkan menambahkan gaya I'm watching you tanpa sepengetahuan adiknya. Dasar srigala!
Jakarta, 12 Januari
06.40 WIB
Pintu diketuk secara konstan. Atensiku yang semula tertuju pada buku dalam genggamanku pun teralihkan. Aku menutup serentetan daftar bacaan strategi jitu dalam membangun bisnis yang bangkrut tersebut dan mendapati Melody masuk dengan turtle neck kuning, jin hitam, dilengkapi sepatu kets dan tas selempang kecil yang melilit di lengan kurusnya. Rambutnya dikucir satu menyerupai ekor kuda. Pada pangkalnya lurus, bagian ujungnya bergelombang. Wajah manisnya tampak segar dan berbinar.
Aku pikir, ia seperti gadis SMA yang dulu kupacari. Terbukti, waktu beberapa tahun ini tak melahap usia fisiknya.
Kuletakkan buku di nakas ketika Melody mencapai ranjangku dan berkata, "Hei, good morning. How's your feeling this morning?"
"Not bad," balasku yang memperhatikannya menarik kursi, tetapi tidak jadi duduk. Gestrure-nya berubah khawatir. Komplit dengan senyum yang semula terpasang, kini surut.
"Apa maksudmu lumayan? Ada yang sakit?" tanyanya.
Aku hanya bergumam.
Melody lantas membuka tas untuk mengambil stetoskop. Dan tanpa tedeng aling-aling membuka tiga kancing teratas baju pasienku lalu menempelkan bagian bundar alat tersebut pada dadaku setelah ujung-ujungnya ia tancapkan di kedua rungunya.
Tanpa ia sadari, perlakuan secara tiba-tiba itu membuat jantungku hampir lepas dari engselnya.
Wanita itu bertanya, "Belum ada visit ya?"
"Udah."
Kernyitan alis Melody bertambah kadarnya. "Kok detak jantung kamu kenceng banget? Lebih dari normal." Melody membuka kancingku hingga ke perut. "Maaf ya, permisi," imbuhnya.
Sementara ia menekan-nekannya menggunakan stetoskop dan lanjut menggunakan tangan, pikiranku kontan mengembara ke mana-mana, membayangkan yang iya iya. Aduh!
"Ekhm, dokter yang lagi meriksa, cantik dan manis. Makanya grogi." Jawabanku membuat Melody mendengkus pelan sambil mencibir. Kemudian melepas tangannya dari perutku dan mengancingkan semua kancing baju pasienku.
Sambil melepas ujung-ujung stetoskop dari kedua telinganya sehingga alat itu bergelantungan di leher, ia meminta, "Sekarang hadap sana. Aku pengin lihat jahitan di punggungmu bentar."
Aku menurut. Merasakan ujung baju pasienku disingkap, aku menggodanya. "Hati-hati."
"Tentu. Aku cuma penasaran lukanya udah kering atau belum. Tapi aku yakin udah sih. Bilang ya kalau sakit?"
Aku menahan tawa sampai punggungku naik-turun dan Melody menepuk pundakku. "Ngapain kamu ketawa-ketawa?"
"Cuma ngarep kamu ngiler lihat punggungku. Suka punggungku 'kan? Jangan-jangan itu cuma alibimu biar bisa megang punggung favoritmu ini." Aku menggerak-gerakkan punggungku, secara harfiah memprofakasinya supaya ngiler betulan.
"Ih!" dengkus Melody lagi seirama pukulannya di pundakku. Dengan cepat, tetapi hati-hati, ia menurunkan ujung bajuku. "Ge er banget sih kamu!"
Aku melihatnya duduk. "Tumben pakai turtle neck?" tanyaku. Pagi ini memang mendung, tetapi Jakarta tidaklah panas.
"Em, sebenernya aku mau ke Oxford pagi ini. Pesawatku jam sembilan empat puluh. Mungkin delay bentar soalnya lagi mendung," jawabnya kikuk. Lalu menyingkap lengan tutrle neck-nya untuk melihat jam tangan.
Dan aku merasakan sebuah dorongan untuk memintanya tinggal, menemaniku sepanjang hari. Namun, sadar tidak memiliki wewenang tersebut.
Kalau boleh jujur, aku ingin mengklaimnya telak menjadi milikku. Akan tetapi, setelah mendapat pelajaran berharga dari insiden penthouse dan si Kadal Buntung yang berceramah bahwa memaksakan kehendak wanita tidaklah akan membuat wanita itu serta merta langsung jatuh cinta pada kita, melainkan bisa jadi kebalikannya ; sangat mungkin akan membeci kita. Dan aku jelas tidak ingin mengambil risiko Melody membenciku.
Jadi, aku mengatakan sesuatu yang standar saja, seperti: "Hati-hati."
Melody tersenyum masam sambil mengangguk. "Ya. Well, aku harus ngurus izin kuliah soalnya beberapa hari lalu belum sempat gara-gara buru-buru ke sini. Untung udah sempet nitipin Max di penitipan hewan. Jadi, aku mau ngambil dia. Mungkin cuma beberapa hari sampai urusanku beres di sana. Terus balik lagi ke sini sambil bawa Max."
"Jadi iri sama Max," celetukku implusif.
Melody malah tertawa pelan. "Emang kamu mau jadi anjing?"
"Nggak gitu konsepnya."
"Terus?" todongnya, masih terkikik.
"Max lebih diperhatiin daripada aku. Padahal itu aku yang ngasih."
Dehaman Melody bergema di kamar inap ini untuk memadamkan tawanya. Katanya, "Makasih ya, Jayden. Aku belum sempet ngucapin itu. Walau udah basi banget, tapi ... tetep aja, aku pengin bilang makasih."
Salah satu sudut bibirku tertarik ke atas membentuk smirk smile. "And do you think Max is free?"
Aku mendengarnya mendengkus. "Really? After in ages, why are you bothering about it now? That's radiculas. Max was my seventeenth birthday gift. So, he's absolutely free."
Dari dulu aku selalu berpikir Melody yang berargumen sangatlah menggemaskan. Ingin rasanya kugigit pipinya, kupeluk, kuuyel-uyel lalu kujadikan guling. Dan di saat asyik membayangkan itu, ia menyela khayalanku. "Ngomong-ngomong, aku udah beli HP baru. Soalnya HP-ku ketinggalan di Heratl, terus nggak tahu gimana nasibnya. Jadi, boleh minta nomormu?"
Sayang sekali, aku tidak menggunakan alat komunikasi berupa ponsel. Sudah pernah kukatakan bukan, kalau mendiang ayah asuhku bernama Benigno Davidde tidak akan pernah memperbolehkanku berbicara lewat telepon sebab khawatir disadap?
Bukannya ingin menyombongkan diri. Sudah pernah kukatakan juga bahwa kenyataannya aku ini orang dengan posisi terpenting dalam bisnis kami. Jadi, semua bentuk komunikasi yang berkaitan denganku haruslah lewat Alfred. Bisnis atau non bisnis.
Namun, aku tidak bisa mengatakanya. "Aku baru sadar HP-ku juga ilang. Entar komunikasi lewat Alfred aja ya? Dia kayak lintah kok. Ke mana-mana nempel aku."
"Ih! Kamu ini, bisa-bisanya ngatain orang kayak lintah!" omelnya.
Enak sekali Alfred dibela Melody. Setelah iri pada Max, sekarang aku iri pada pria itu.
"Aku hubungi kak Jameka aja ya?" usul Melody, membuyarkan lamunan singkatku tentang melempar Max atau Alfred ke kolam tetangga Brian yang memelihara piranha.
"Jameka nggak selalu nempel aku."
"Ya udah, kalau gitu entar aku hubungin kamu lewat Alfred." Anggukan disertai senyum masam kembali melukis wajah Melody. Ia menarik napas lalu mengeluarkannya seusai mengecek jam di pergelangan tangan. "Kayaknya, aku harus berangkat. Takut kena macet. Get well very soon, Jayden."
"Thanks. Hati-hati, kabari lewat Alfred kalau udah sampai. Jangan ngilang lagi kayak dulu."
"Nggak bakal!" balasnya setengah berteriak ketika mencapai pintu. Setidaknya, aku merasa lega atas jawaban tersebut.
Sepeninggalan Melody, hari-hari yang harus kulewati di rumah sakit membuatku bosan setengah mati. Aku menjalankan rutinitas yang sama setiap hari. Bahkan mulutku sudah pahit gara-gara kangen rokok. Papa dan Jameka rutin menjenguk dan mengobrol banyak hal termasuk posisi CEO Heratl yang sementara ini digantikan beliau. Papa pun ingin posisi tersebut dialikan padaku.
Kukatakan, "Jameka aja, Pa. Aku cuma bantu ngasih saran atau masukan. Mentok kalau penting banget baru turun tangan. Bisnisku di Inggris. Nggak mungkin bolak-balik Jakarta-Inggris."
"Loh, emang kamu punya bisnis apa di sana, Jay?" tanya papa, kaget campur penasaran. Jameka pun seperti biasa, memasang pendengaran secara maksimal untuk menguping.
"Bisnis kecil-kecilan," balasku.
"Bisnis apa?"
"Biasalah. Tongkrongan."
Papa menjentikkan jari. "Jay, justru karena bisnismu masih kecil-kecilan, bukannya skala prioritasnya lebih kecil juga? Jadi, kamu bisa fokus aja sama Heratl," usul beliau.
"Justru yang di sana yang harus aku perhatiin bener-bener. Persaingan di sana ketat banget. Tapi, sebenernya semuanya juga harus diperhatiin bener-bener 'kan?" balasku logis.
Jameka yang duduk di sofa pun menghadap kami. "Emang lo mau balik ke Inggris langsung abis keluar dari sini?"
"Balik ke sana 'kan emang harus. Tapi nggak tahu kapan. Kondisionallah." Malas juga mengulang-ulang jawaban atas pertanyaan yang sama kendati pada orang yang berbeda.
"Tapi kamu belum sembuh total, Jay," sela papa, "pulang ke rumah Papa aja dulu, Jameka juga. Biar rumah Papa rame. Emang di sana nggak ada yang ngurus?"
"Ya ada. Tapi 'kan nggak kayak kalau ada aku," jawabku pada papa.
"Ya udah, sementara serahin ke pegawaimu. Masa mereka nggak bisa ngerti kalau kamu lagi sakit?"
Kurang lebih seperti itu. Minus bahasan soal lamaranku pada Melody. Tampaknya papa mulai memerankan sikap orang tua yang pengertian.
Berhubung bosan setengah mati di kamar, setiap hari, pada jam-jam non visit dokter, aku berkeliling ke taman rumah sakit yang ada kolam ikannya bersama Alfred, Tito atau Lih, dan lagi-lagi kami membicarakan bisnis.
"Ada perkembangan?" tanyaku pada Alfred sambil memberi makan koi-koi di kolam. Aku membeli pakan di kios kecil dekat kolam itu.
Kolam itu sendiri tidak memiliki atap alias outdoor. Banyak pasien, terutama anak kecil yang berkunjung untuk melihat atau memberi makan ikan. Ada beberapa bangku taman di atas rumput sintetik hijau. Ada juga batu-batu kolam yang disusun berderet, biasanya digunakan para lansia untuk berjalan di sana.
"Informasi yang kita dapatkan dari Dahlia, klan Donzalo mulai melirik bisnis miras yang kita serahkan Fayard," jawab Alfred, sedang mengutak-atik tablet yang selalu dibawanya.
"Ck, mau buat ulah apa lagi mereka? Tapi, selama itu tidak ada kaitannya dengan kita, biarkan saja," jawabku. Alfred menyanggupi sehingga aku melanjutkan, "Ngomong-ngomong, apa sebaiknya aku punya ponsel untuk keluargaku? Maksudku untuk papa, Jameka, Melody, Brian, Kau, Tito, Lih .... Yah ... orang-orang khusus. Yang dekat saja."
Aku melemparkan pakan ke kolam lagi dan koi-koi itu menyerbunya secara ganas. Suara tawa anak kecil yang melihat ikan-ikan makan menarik perhatian Alfred yang tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Bisa saja, Boss. Tapi harus dengan identitas palsu kalau tidak ingin kita kena dampak masalahnya."
Aku mengangguk setuju. "Kalau begitu, sebaiknya pakai nomor Indonesia saja." Kulempar pakan terakhir dalam genggamanku lalu menepuk-nepuk tangan supaya remahan itu rontok.
"Ikannya mau dikasih makan lagi ...," rengek bocak laki-laki yang sedari tadi melihatku melempari pakan.
Kami menoleh serempak. Ketika bocah dengan selang infus itu melihatku, sambil menunjunku, ia malah menangis. "Om itu seram, Mama ...."
Aduh! Kacau!
Aku berniat kembali ke kamar, tetapi Alfred berjalan menuju kios penjual pakan, membeli beberapa bungkus untuk diberikan pada anak itu. "Ini, kamu bisa memberi makan ikan-ikan itu. Tapi jangan banyak-banyak, ya? Nanti ikannya kenyang dan air kolamnya jadi keruh," kata pria tersebut menggunakan bahasa Indonesia belepotan.
Dan Ibu bocah itu berseri-seri mendengar logat khas bule-bule baru belajar bahasa Indonesia Alfeed sampai tatapannya mengikuti punggung pria itu yang bergabung denganku. Ia kemudian bergumam, "I just remember my Son."
Jakarta, 18 Januari
00.00 WIB
Akhirnya aku punya ponsel dengan nomor Indonesia untuk menghubungi keluarga dan teman dekat. Setelah beberapa tahun tidak memilikinya, tidak kusangka rasanya bisa seluar biasa ini. Haha. Aku jadi mirip manusia gua yang baru mengenal teknologi bernama ponsel pintar.
Setiap hari aku dan Melody bertukar kabar lewat WA. Namun, aku masih menolak untuk melakukan panggilan daring. Menurut Alfred, Tito, dan Lih, tidak apa-apa, tetapi aku masih terlalu paranoit.
Khusus hari ini Melody jarang membalas pesanku. Katanya ia sibuk. Namun, tidak disebutkan sibuk apa. Aku lantas menduga-duga ia pasti sibuk dengan pertemuan keluarga itu. Dan praduga itu terbawa sampai larut malam. Aku mencoba menghitung penghasilan Heratl dengan awang-awang dan mata terpejam. Dengan harapan melupakan urusan mereka, suntuk, malas, muak, lalu mengantuk dan tidur. Namun, tidak terjadi.
Hingga tiba-tiba derit pintu yang dibuka mengusikku. Mataku masih terpejam, sengaja memaksimalkan fungsi pendengaran untuk menduga siapa itu. Sempat berpikir itu mungkin dokter dan perawat yang berkunjung untuk pemeriksaan rutin. Namun, sangat aneh tidak ada suara roda-roda troly alat medis yang didorong. Apalagi ketika mendengar seseorang mematikan saklar lampu kamar dan menyalakan korek api. Jangan-jangan, ulah klan lain yang berniat menghabisiku setelah berhasil melewati orang-orang yang menjagaku?
Sembari mendengarkan, aku menyusun beberapa strategi untuk bertahan dengan senjata atau segala benda yang ada di sekitar.
Ketika mataku sengaja kubuka sembari duduk, aku tercengang mendapati wajah Melody yang terang karena cahaya lilin yang tertancap di kue. Sembari menuju ranjangku, ia sontak bernyanyi dalam bisikan. "Happy birthday to you ... happy birthday to you ... happy birthday Dear Jayden .... Happy birthday to you."
Desahan lega sekaligus terharu keluar dari mulutku. "Kamu ...."
"Make a wish sebelum lilinnya ditiup, Jayden," katanya dengan senyum lebar.
Aku menurut. Tak banyak harapanku, hanya ingin wanita ini menjadi istri yang akan mendampingiku hingga akhir hayat dan kami bahagia bersama semua keluarga, teman, serta klan Davidde.
Aku meniup kue dan cahaya lilin itu padam, digantikan cahaya temaram sinar rembulan yang mengintip dari celah jendela. Melody memintaku memegangi kue selagi ia menyalakan lampu kembali.
"Kamu masih inget ulah tahunku. Orang-orang aja nggak ada yang inget," pungkasku sambil memandangi kue berbentuk silinder dengan baluran cokelat polos yang agak berantakan di antara lilin-linin silver panjang. Sama persis seperti kue ulang tahunku waktu dulu yang dibuat Melody. Untuk memastikannya, aku bertanya, "Ini kue bikinanmu sendiri?"
"Iya, mana bisa aku lupa ulang tahunmu. Jangan mikir negatif dulu, mungkin pagi atau siang mereka bakal ngucapin. Bay the way, maaf. Nggak ada perkembangan sama sekali soal kemampuan masakku," aku Melody yang berwajah rikuh. Pipinya memerah.
Aku menatapnya intens dan ia hampir salah tingkah. Lalu beralih mengambilkan pisau kue, piring kertas silver, dan garpu plastik kecil senada dari tas selempangnya. "Sini aku pegangin kuenya biar kamu bisa motong, Jayden."
Melody menerima kuenya. Aku pun mengambil benda-benda yang tadi ia letakkan di nakas lalu memotong kue itu sedikit dan menaruhnya di piring dan menancapkan garpu. "Mau?" tawarku.
Melody tersenyum sambil mengangguk dan membuka mulut untuk menerima kue yang aku suapkan. Aku juga mencoba kuenya. Rasanya sama persis seperti dulu. Walau kue ini agak kering, aku menyukai cara ia berusaha untuk membuat kue ini. Aku jadi merasa dicintai olehnya sepenuh hati.
Sebenarnya, banyak pertanyaan yang bercokol dalam benakku tentang bagaimana bisa Melody berada di sini? Mengingat jam besuk telah usai beberapa jam lalu. Sejak kapan ia berada di Jakarta sehingga bisa-bisanya membuat kue ulang tahun ini? Apa keluarganya tahu? Apakah masalah dua keluarga itu sudah selesai?
Namun, tak ada satu pun yang bisa kutanyakan sekarang. Sebab setelah kami minum air mineral, Melody berkata, "Jayden, aku mau nyulik kamu. Jadi, ayo ikut aku sekarang."
_______________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks for your vote and comment
Bonus fotonya Mel
Bang Jay juga dong
See you next chapter teman temin
With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻
Post : 26 Desember 2019
Repost : 15 November 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro