Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 13

Selamat datang di chapter 13

Tinggalkan jejak dengam vote dan komen

Tandai jika ada typo

Thanks

Well, happy reading everyone

Hope you like it

❤❤❤

_____________________________________________

Hallowen by Cradle of Filth

_____________________________________________

Every beauty needs her beast to protect her from everything but him

N.R. Hart
______________________________________________

Musim dingin
Summertown, 18 Desember
21.07 p.m.

Dalam beberapa waktu yang sedikit panjang, kami tetap mendekap satu sama lain. Udara musim dingin seolah sirna oleh kehangatan yang ditawarkan pelukan ini. Aku menunduk, menyembunyikan wajah di sela-sela rambut yang tergerai pada ceruk lehernya. Kugunakan kesempatan itu untuk mengisi seluruh paru-paruku dengan aroma Vanila khas tubuh Melody. Dan memastikan setiap bagiannya tidak ada yang terlewat.

Tidak lama kemudian, tubuh dalam dekapanku yang semula menangis tersedu-sedu pun memekik, “Jayden, aku benci kamu! Kamu pikir move on dari kamu itu gampang, hah? Di waktu aku udah move on, kamu malah seenaknya datang dalam kondisi kecelakaan kayak gitu! Bikin gamon aja!”

“Gamon?” Kedua alisku mengernyit dan menjauhkan diri untuk melihat wajah wanita itu, tetapi Melody tidak sudi jauh-jauh dariku. Pertanda dari lingkaran tangannya yang semakin erat membalut tubuhku. Jadi, aku pun melanjutkan, “Apaan?”

Wanita itu malah semakin membenamkan kepala pada dadaku yang berdetak kencang. Sambil memukuli punggunggku, ia mendengungkan kalimat, “Jayden bodoh! Oon! Nggak gaul! Aku benci kamu!”

Kepalaku menggeleng dan kedua sudut bibirku secara praktis tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Entah kenapa saat mengataiku seperti ini malah membuat dadaku seperti disusupi percikan api kecil. Hangat dan menenangkan. Mungkin, karena gaya bicaranya yang seperti dulu saat kami masih pacaran. Bukan Melody versi dewasa yang memperhatikan setiap ucapan dan tindakan seperti yang baru kutemui belakangan ini.

Mengabaikan soal gamon, salmon, atau apalah itu, sambil memegangi kepala Melody menggunakan tangan kanan, aku membubuhkan kecupan demi kecupan pada puncaknya diselingi ajakan, “Ayo, aku antar pulang.”

Dengan sangat disayangkan, kami akhirnya mengurai pelukan dan hawa dingin kontan mengelilingiku kembali. Aku menurunkan Melody dari meja kerjaku, lalu membimbingnya keluar ruangan.

“Ke sini naik apa?” tanyaku.

“Mobil kuning,” gumamnya.

Tanpa sadar satu decakan lolos dari bibirku. Jangan katakan itu Mini Cooper yang tidak mampu menampung kaki panjangku. Kenapa pula mobil itu harus dibawa kemari? Dan sudah berapa tahun ia tidak mengganti mobil—kalau memang benar dugaanku?

Syukurlah, rupanya itu hanyalah kecemasanku belaka. Karena Melody mengimbuhkan, “Mobil kuning yang ada tulisannya taksi, maksudku. Dan Jayden, aku mau digendong! Aku mau jadi koala yang nempel di punggungmu. Aku nggak mau naik mobil atau kendaraan lain! Pokoknya kamu harus jalan kaki sambil gendong aku sampai apartemenku!”

Garis bibirku semakin membentang bertepatan dengan kami yang berhenti di depan pintu ganda utama gedung ini.

“Tapi sekarang salju lagi turun. Lihat, kamu nggak pakai mitten, nggak pakai parka. Entar bisa sakit.” Bukan maksudku menolak. Lagi pula, siapa yang sanggup menolak permintaan sederhana itu? Dengan senang hati, aku pasti akan mengabulkannya. Pengecualian untuk sekarang yang memang sedang kurang mendukung dengan turunnya salju walau tidak lebat. Udaranya juga sangat dingin dan aku jelas tidak ingin mengambil risiko.

“Aku mau digendong sampai apartemenku! Titik!” kukuh Melody.

Aku menghela napas. Uap tipis keluar melalui hidung dan mulut. Netraku kembali mengamati sekitar lalu kendongak untuk memastikan lebih terperinci seberapa lebatnya salju yang melayang-layang di udara sebelum akhirnya mencium tanah.

Aku melirik jam tangan dan mendapati pukul sembilan malam lebih. Biasanya pertokoan yang terbentang di sekitar kiri dan kanan Summertown tutup pada pukul sepuluh. Mungkin kami bisa mampir ke salah satunya untuk membeli komponen penghangat tambahan untuk Melody. Jadi, pada akhirnya aku menyetujuinya.

“Ya udah, entar kita beli parka sama mitten dulu.”

Sebelum berjongkok di depan Melody yang seakan-akan bisa roboh kapan saja kalau berdiri sendiri, secara lancang, aku mengambil dompetnya untuk memeriksa alamat di kartu identitasnya. Dan walau sedikit kesusahan, ia bisa naik ke punggungku usai tas selempangnya kulingkarkan di leherku. Beberapa orang klan Davidde secara praktis mengikutiku jalan kaki dengan jarak-jarak tertentu. Berhubung sudah menjadi kebiasaan, jadi aku mengabaikan keberadaan mereka untuk fokus pada Melody.

Sekeluarnya dari area The Black Casino and Pub, kakiku langsung singgah pada toko pakaian pertama yang kulihat lalu membeli yang kubutuhkan serta memakaikannya ke Melody, kemudian menggendongnya lagi untuk lanjut mengantarnya pulang.

Astaga betapa bucinnya diriku! Lagi-lagi senyum yang terukir di wajahku memyertai gelengan kepala akibat kekonyolan ini.

“Jayden, aku suka punggungmu.” Gumaman Melody membuat langkahku berhenti akibat kaget dengan pengakuannya yang ini.
Pantulan bayangan kami terlihat di kaca depan toko dan aku mendapatinya terpejam sambil tersenyum riang.

“Dari dulu, sebelum kita pacaran. Sejak kamu jemput aku naik motor di sekolahku. Ingat nggak?” tambahnya. Membuat senyumku lebih mengembang, dengan debar jantung yang mengentak kian kencang karena benakku membawaku pada kenangan tersebut. Aku pun memutuskan meneruskan langkah dan beberapa saat kemudian, Melody kembali mengoceh, “Jayden ... pipimu kenyal.” Melengkapinya dengan menowel-nowel pipiku.

Oke, senyumku mulai sedikit terkikis.

“Hidungmu mancung kayak prosotan TK, aku juga pengin punya hidung kayak gini,” lanjut Melody yang sudah mengganti daerah towelannya menjadi di hidungku.

Senyumku kini sudah hilang, berganti dengan wajah datar.

“Rambutmu bagus, panjang dan berantakan.” Komentar disertai jambakan membuatku terhenyak. Aku menegakkan tubuh kembali sambil membenarkan posisi gendongan Melody yang masih rajin menjadi koala di punggungku.

“Jayden ..., aku mau ngepang ini.”

Ya, ya, terserah.

Aku diam saja sambil menyusuri trotar dan berbelok ke gang dengan suasana yang sama. Kanan dan kiri banyak toko dan restoran yang mengapit jalan.

“Jayden, kamu tambah jelek.”

Terserah.

Namun, ketika ia menyibak rambut di sekitar leherku, kerah kemeja dan mantel hitamku lalu meracau, “Jayden, aku pengin ngunyah lehermu.”

Alarm dalam benakku langsung menyala: tidak! Jangan leherku! That’s my sensitive area.

Baby, jangan lakuin itu,” desisku dengan suara yang mulai serak karena bersusah payah menelan saliva ketika merasakan bibir Melody yang dingin menyentuh dan benaman gigitan kecil di leherku.

“Lehermu hangat, nyam ... nyam.”

Stop. You have to stop doing that or we will check in hotel near here,” ancamku yang tentu saja percuma. Mengingat wanita ini sedang mabuk, kesadarannya jelas tidak penuh, tetapi daya hayalnya tinggi.

Di saat ia menyertai gigitan itu dengan isapan kuat, aku mengeram. Sementara Melody melakuakn selebrasi keberhasilannya dengan tawa gembira. “Horee! Aku masih ingatt cara bikin hickey. Haha ... lihat lehermu, Jayden! Merah, sama kayak leherku!”

Astaga! Kenapa wanita ini parah sekali ketika mabuk? Demi Neptunus! Aku harus tetap fokus!

“Aku suka mabuk .... Feel free yeeeyyy ....”

Take a deep breath .... Take a deep breath ....

“Jayden ....”

Apa lagi kali ini?

“Jayden, aku mau ... hhhoooeeekkk ....”

Aku terperanjat ketika Melody muntah di leherku. Muntahannya jelas mengenai rambut gondrongku, kerah kemeja hitam, juga lengan mantel hitam yang kukenakan.
Secara spontan, aku menurunkannya supaya ia bisa melanjutkan acara muntah di pinggir jalan. Persetan dengan orang-orang yang melihat kami dengan pandangan jijik.

Melody menunduk dan mengeluarkan semua isi perutnya. Sedangkan aku membantunya memegangi rambutnya agar tidak terkena muntahan dan memijit bagian pangkal lehernya. Setelah itu, ia yang terkulai lemas kuangkat tubuhnya ke sisi lain aspal agar tidak menduduki muntahannya.

Orang-orang klan Devidde dengan sigap membantuku melepas mantel dan membawakan sebotol air mineral untuk membasuh rambut, kerah kemeja dan lengan mantelku.

“Bawa Rubicon-ku ke sini. Aku ingin mengantarnya,” titahku dan salah satu dari mereka segera melaksanakan perintah tersebut.

Setibanya di sebuah bangunan berbaya modern berlantai lima, aku turun dari mobil dan menekan interkom yang tertera di pilar persegi pengapit pagar. Untuk minta dibukakan pintu oleh pemilik gedung dengan alasan Melody sedang mabuk. Pengunci pagar pun terbuka, aku melebarkannya dan membawa Rubicon dobel kabinku masuk, lalu memarkir di halaman.

Menahan dingin yang menusuk tulang karena hanya mengenakan kemeja, aku menutup pagar kembali dan kembali ke mobil untuk mengambil Melody.

“Ayo turun, kita udah sampai,” ucapku agar wanita itu bisa sedikit menggerakan tubuh sehingga memudahkanku menggendongnya.

Beruntungnya apartemen Melody berada di lantai paling bawah dan memiliki akses mudah. Jadi, aku tidak harus berjalan lama. Setibanya di depan pintu, aku menggunakan sidik jari Melody yang mitten-nya audah kulepad untuk membukanya.

Pintu terbuka. Membiarkan lampu dan penghangat ruangan menyala, aku meletakkan Melody di sofa beludru putih gading ruang tamu minimalis tetapi elegan lebih dulu untuk mencari kamar mandi. Lalu tiba-tiba ada anjing yang kuduga adalah Max berlari ke arahku sambil menjulurkan lidah dan mengibas-ngibaskan ekornya.

Aku mengelus kepala Max sambil menggumamkan terima kasih karena telah menemani sekaligus menjaga Melody—sesuai tugas yang kuberikan selama aku tidak ada. Anjing ras besar ini tumbuh dengan baik. Kendati penasaran apakah ia sudah dikawinkan dan memiliki anak-anak yang lucu, kusimpan pertanyaan itu dalam kepala dan menegakkan tubuh kembali untuk melanjutkan apa yang tertunda.

Setelah menemukan kamar mandi yang kuyakini di kamar Melody, aku mengambil sweter tebal, celana dalam dan celana hangat untuk wanita itu dalam lemari dinding. Berhubung kerah kemejaku kuguyur air untuk melunturkan muntahan basahnya sudah menyebar, jadi aku melepasnya dan meletakannya di keranjang cucian kotor. Lalu membasuh bagian-bagian tubuhku yang terkena muntah menggunakan air hangat. Barulah membantu Melody mandi.

Ha! Jangan tanya bagaimana tersiksanya aku karena menahan diri  wanita tanpa sehelai kain yang harus kugosok seluruh bagian tubuhnya menggunakan sabun lalu membilasnya hingga bersih. Aku mendoktrin diriku sendiri bahwa betapa tidak seksinya Melody karena tubuhnya masih seperti dulu. Bedanya, dadanya lebih besar.

Sial!

Setelah beberapa menit yang selamanya dan benar-benar menyiksa, aku membantu Melody menggosok gigi, memakai baju, dan mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan hair drayer di meja riasnya, barulah merebahkan wanita itu di kasur serta menyelimutinya.

“Dasar, sok mabuk-mabukan. Teker juga ‘kan!” hardikku dengan suara pelan sambil mengusap puncak kepala Melody yang tidak merespons sebab sudah terlelap.

Akibat masih bertelanjang dada, aku mulai kedinginan. Gemeletuk gigiku dapat kudengar sendiri. Ingin mencari sweter di lemari Melody, tetapi aku yakin tidak ada ukurannya yang pas denganku. Jadi, tanpa pikir panjang, aku ikut merebahkan diri di sebalah wanita itu dan memeluknya. Ketika mataku baru akan terpejam, ia mengigau, “Mom ....”

Lagi-lagi tentang ibunya, seperti dulu saat ia sedang sakit.

“Mel capek, Mom. Semuanya berantakan gara-gara nenek sihir itu."

Nenek sihir? Dasar! Ada-ada saja.

Musim dingin
Summertown, 19 Desember
05.30 a.m.

Sudah pernah kukatakan bahwa tidur sambil memeluk Melody selalu bisa membuatku nyenyak. Kendatipun lenganku terasa kebas lantaran digunakan sebagai bantal, tetapi aku menyukai pemandangan yang kudapatkan ketika pertama kali membuka mata di pagi hari ; wajah cantik dan manis Melody. Dan meskipun air liur di pipinya sedikit menganggu, tetapi aku bahagia.

Kuciumi kening wanita itu sambil merapatkan pelukan dan menarik selimut agar kami tidak kediginan. Mungkin karena terganggu dengan gerakan-gerakan tersebut, Melody mengernyit lalu secara perlahan menjauhkan diri untuk membuka mata.

“Pasti mimpi,” guamamnya, bersuara serak khas orang bangun tidur dan mengerjap-ngerjapkan mata sambil menguceknya.

Morning, ternyata kamu masih ngiler kayak dulu,” ucapku sambil menahan senyum geli saat melihatnya memelotot, refleks bangun dan menjauhkan diri sambil memegang pipinya yang basah lantas mengelapnya.

“Kkyyaaa .... Ke-kenapa kamu bisa ada di kamarku?” teriaknya terbata-bata sambil melihat bajunya sendiri. “Si-siapa yang gantiin baju?”

“Anjing itu,” kataku datar sambil menunjuk Max yang rupanya bisa membuka pintu kamar dan masuk, kemudian duduk di sebelah Melody yang berdiri. Kuduga ia kaget karena mendengar majikannya berteriak. What a good boy.

Melody melihat Max sekilas lalu kembali melihatku yang masih di setengah tiduran kasur. “Mana bisa?” pungkasnya.

“Ya berarti—” aku sengaja memotong kalimat untuk menunjuk diriku sendiri.

Sekali lagi ia memelotot dan ternganga lalu mengerjapkan mata beberapa kali. Mungkin sedang mencerna semua yang terjadi.

“Nggak usah khawatir aku tergoda, badanmu masih kayak bocah kok. Ya meskipun boobs-mu tambah gedean diki—aduuhhh.”

“Dasar gilaaaa! Pergi!” teriaknya sambil memukuli pundakku menggunakan bantal secara membabi buta dan bertubi-tubi. “I hate you! Nggak ingat kemarin-kemarin kamu mau ngapain aku? Terus sekarang kamu bilang nggak tergoda? Bullshit!”

“Maaf soal itu. Buktinya semalam aku nggak ngapa-ngapain kamu. Kemarin cuma emosi aja,” ucapku disertai gerakan defesif, menepis semua pukulan bantalnya sambil terheran mendapati wanita yang baru saja mabuk semalam dengan kondisi luar biasa barbar, tidak pusing atau tidak merasa perutnya pengar.

“Max, kenapa kamu biarin orang ini masuk? Kenapa diem aja? Gonggongin orang ini! Gigit kalau perlu!” pekik Melody lagi, tetapi Max tidak beranjak, hanya melihat kami dengan lidah terjulur dan ekor yang dikibas-kibaskan seperti tadi.

Aku membalik badan, memamerkan punggung bertato sayap malaikatku yang menjadi favoritnya. “Nih, lihat ini aja. Katanya suka,” godaku.

Melody akhirnya berhenti sejenak lalu bertanya, “Gi-gimana kamu bisa tahu kalau aku suka punggungm—ekhm, ekhm! Udahlah! Pergi!” Dan pukulan bantal itu sudah berpindah ke punggungku.

“Tapi berhenti dulu mukulnya,” pintaku sembari beringsut lalu berdiri.

Melody menuruti perintahku. Ketika aku melihatnya, ia membuang mukanya yang merah dengan napas ngos-ngosan dan juga bantal yang masih berada dalam pelukannya.

“Kenapa nggak pakai baju?” tanya wanita itu dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Namun, aku yakin itu hanya pengalihan isu untuk menutupi rona merah pada pipinya.

“Semalam ada yang muntahin mantel sama kemejaku,” balasku datar. Ia pun mendelik.

“Ekhm! Kenapa juga nggak pakai perban?”

“Perbannya basah, jadi aku buang.”

You know, sebagai dokter ..., ekhm ..., aku nggak bisa lihat kayak gitu. Aku bantu perban lukanya yang dijahit,” kata Melody yang jelas tidak mau repot-repot menunggu balasanku. Ia melempar bantal ke kasur dan berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil sebuah kotak medis.

Not because you’re worry about me?” tanyaku polos sambil duduk di kasur lagi.

“Tiap dokter pasti khawatir sama kondisi pasiennya atau orang yang lagi luka dan lukanya nggak dirawat bener-bener,” jawab wanita itu dengan nada tenang dan terkendali. Nada Melody dewasa, bukan kekanakan seperti saat mabuk tadi malam atau barbar ketika baru bangun tadi. She tries to be a professional doctor.

Kenapa aku kecewa?

Melody ikut duduk di kasur dan mulai melakukan kegiatannya. “Bekas jahitannya udah lumayan kering, tapi masih harus dikasih bedak anti bakteri biar lukanya nggak lengket di plester. Ini plester anti air, jadi aman. Harusnya hati-hati, jangan banyak gerak dulu, takutnya jahitannya belum sembuh sempurna, terus khawatir kebuka lagi,” terang wanita itu, literally layaknya dokter kepada pasien.

Kuperhatikan raut wajah seriusnya saat menempelkan plester anti air pada jahitan di dadaku pasca menaburkan bedak anti bakteri.

“Boleh pinjam HP bentar?” Aku menemukan diriku bertanya pada Melody yang sedang mengemasi peralatan medisnya lalu menatapku. “Mau ngirim pesan ke teman. HP-mu di tas, tasnya aku taruh gantungan depan semalam.”

“Nggak,” balasnya singkat dan datar lantaran mengembalikan kotak medis ke tempatnya, lalu menggeser pintu lemari dinding untuk mengambil jumper hitam. “Pakai ini aja dan buruan pergi dari sini.”

“Ngusir?”

“Ya.”

Aku menghela napas. Sesuai prediksi, Melody yang dalam keadaan sadar pasti akan menghindariku. Jadi, kuterima dan krentangkan jumper hitam itu lalu mengernyit. “Ini jumper-ku bukan?”

Melody hanya bergumam sebagai jawaban. Dan itu malah membuatku senang. Kupikir, jumper itu sudah dibakar atau dibuang. Rupanya masih ia simpan, bahkan aampai dibawa ke sini.

Sebenarnya aku tidak ingin pergi. Ingin terus bersama Melody walaupun segala sikap antisipasi selalu ia lakukan untuk tidak henti-hentinya mengusirku setelah memakai jumper hitam bergambar tengkorak besar. Ia bahkan berhasil mendorongku hingga mencapai depan pintu apartmennya agar aku segera keluar.

Saat Melody hendak menutup pintu, aku menahannya sebentar untuk mengecup bibirnya kilat lalu mengatakan, “Makasih, perban dan hickey-nya.”

Tak lupa menunjukkan hasil karya yang kumaksud sekilas diselingi smirk smile, aku pun berjalan mundur beberapa langkah dengan tangan-tangan yang kumasukkan saku jumper, sebelum berbalik dan meninggalkan wanita itu yang mematung di depan apartemennya dengan pintu masih terbuka.

_____________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo

Kelen luar biasa

Bonus foto Jayden

See you next chapter teman temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Post : 31 Oktober 2019
Repost : 11 Oktober 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro