Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 11

Selamat datang di chapter 11

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo

Thanks

Well, happy reading everyone

Hope you like this

❤❤❤

______________________________________________

The beast in me - Johny Cash

______________________________________________

You’re the who had created a beast in me

Jayden Wilder
______________________________________________

Musim dingin
Summertown, 18 Desember
16.30 p.m.

“Ini dia tempatnya,” pungkas Alfred seberhentinya Rubicon dobel kabin hitam doff yang kami tumpangi di tepi jalan Woodstock.

Kepalaku meneleng ke luar jendela dan memperhatikan bangunan bergaya victoria yang berdinding bata-bata. “Kau yakin dia tinggal di sini?” tanyaku begitu menemukan keraguan lantaran melihat pilar setinggi setengah badan orang dewasa yang berdiri tegak di samping kanan dan kiri pintu masuk bangunan tersebut seperti kurang terawat. Beberapa dindingnya juga retak dan berjamur, di beberapa tempat pun tampak kehitam-hitaman.

“Ya. Kami sudah menyelidinya, Boss,” jawab Alfred.

Lima detik kulalui sebelum memutuskan, “Oke, aku akan turun.”

“Baik, kami akan mengawasi dari sini.”

Angin musim dingin yang menusuk tulang mengiringi langkahku menuju bangunan bertingkat tiga tersebut. Aku merapatkan mantel hitam yang kukenakan, menjejalkan kedua tanganku yang telanjang ke sakunya dan berusaha menyeret langkah demi langkah menuju pintu utama yang tidak berpagar meski diapit pilar.

Kata Alfred, sistem interkom apartemen ini sudah dimatikan orang-orang kami sehingga aku bisa langsung masuk dan menuju lantai dua. Dan meskipun juga bisa langsung masuk kamar yang menjadi tujuanku, aku memilih mengetuk pintunya.

Ketukan demi ketukan kulakukan, tetapi belum mendapat tanggapan. Dalam kasus biasa, kesabaranku pasti terkikis sedikit demi sedikit lalu habis, dan aku pasti akan membuka pintu tersebut. Teruntuk kali ini, dengan bekal niatku, kukatakan pada diri sendiri untuk setia menunggu. Dan selama hampir dua menit berlalu, penghalang itu akhirnya resmi dibuka. Kesabaranku pun dibayar dengan kalimat sinis dari penghuninya saat mendapati akulah yang bertamu. Namun, itu reaksi wajar.

“Ngapain lo kesini? Gue pikir lo udah mati,” sindirnya, yang hanya menyebulkan kepala dari balik pintu.

“Sorry.” Dan satu kata singkat tersebutlah yang menjadi awalku berucap sebab memang itulah tujuanku datang kemari, yakni meminta maaf.

Keheningan tercipta di antara kami. Aku berwajah datar, sementara ia semakin menyipit dan sepertinya tidak ada niatan untuk membalas. Jadi, kutambahkan, “Lo pasti tahu gue nggak ada maksud kayak gitu kamarin.”

Mata beriris hitam di hadapanku  memejamkan sejenak, lalu berdecak, lantas diam, seolah meneliti setiap huruf yang terangkai menjadi kata yang kuucapkan—mungkin, untuk memastikan kesungguhanku.

“Kasino sepi. Cewek-cewek pada nyariin lo.” Aku berkata lagi.

“Kalau lo minta maaf cuma biar gue bisa ngeramein kasino lo lagi, mending lo pergi aja,” jawab Tito yang mempertegas kalimatnya dengan mendorong pintu, tetapi dengan sigap kutahan.

“Ck! Lo tahu sendiri gue selalu kesusahan bilang maaf ke lo. Lo mestinya juga paham kalau gue minta maaf, itu tandanya gue sungguh-sungguh!” sungutku. Namun, entah kenapa Tito malah mengudarakan tawanya.

“Hahaha Iya, iya, gue tahu,” ucap pria itu di sela tawanya. “Nah gitu dong. Itu baru Boss yang gue kenal!”

Pintu yang kutahan, sekarang sudah kulepaskan. “To, gue minta tolong cariin lakasi tunangannya Mel.”

“Ya elah! Belom juga gue maafin udah main perintah aja lo, Boss! Jangan-jangan itu tujuan lo minta maaf ke gue? Emang das—”

“Apa?” tantangku yang secara praktis memotong kalimat Tito. “Kalau cuma nyari orang, Alfred, Liam, Spencter, Dahlia, atau yang lain juga bisa! Jadi, buruan!”

Tito meringis. “Bentar ... sabar ..., gue lagi anu, Boss .... hehehe.”

“Anu? Maksud lo?”

Tito tidak menjawab dengan omongan. Melainkan dengan ringisan yang disertai gerakan menutup pintu setelah mengacungkan tangan, sebagai tanda isyarat agar aku menunggu.

Kupikir, ia akan mengambil mantel atau sejenisnya. Namun, apa kau tahu apa yang kudengar setelah itu? Erangan erotis seorang wanita yang terus-menerus dikumandang menembus dinding kamar apartemen mungil ini sehingga membuatku memilih menunggu di mobil.

Dasar playboy cap kadal buntung! Awas saja! Ingatkan aku untuk mengulitinya hidup-hidup setelah misi membunuh tunangan Berlian Melody selesai! Kurang ajar sekali Tito menyuruhku menunggunya menuntaskan aktivitas dewasa yang mungkin sempat terganggu oleh kedatanganku tadi.

“Emang, lo gagak takut kena HIV atau penyakit kelamin lain?” Aku mengeram sewaktu Tito naik Rubicon dobel kabin ini pasca hampir tiga puluh menit kemudian.

Sembari bergerak ke kasino, si Kadal itu meringis. “Ya gue pilih-pilih dong. Pokoknya bukan dari prostitusi. Gue juga pakai pengaman terus dan selalu ngecek kesehatan ke dokter kok. Abis nananina juga dibersihin sampai keset. Lagian kagak tiap jam juga kayak yang lo bilang kemarin, Boss. Cukup tiga hari sekali. Sehat. Tapi, sejak lo kecelakaan, gue sama sekali belum nananinain cewek. Baru ini tadi. Hehehe ....”

Demi Neptunus! Seandainya Tito bukanlah sahabat yang baru saja berbaikan denganku, kupastikan sudah kutendang pria itu hingga keluar dari mobil ini. Sekarang, aku hanya bisa berharap suatu saat ia berhenti bermain-main dan menemukan wanita yang cocok, yang membuatnya menjadi budak cinta—dalam artian bagus.

Ha! Lucu sekali aku bisa berharap demikian di saat kehidupan asmaraku saja tidak memiliki jalan mulus.

“Terus ngapain lo malah pindah apartemen kumuh kayak gitu?”

Tito menjawab, “Bukan pindah, Boss. Ya emang gue gitu. Kalau bawa cewek pasti sewa apartemen. Itu juga nggak kumuh kok, luarannya aja yang begitu. Dalemnya kagak. Pokoknya, jangan sampai cewek-cewek tahu di mana tempat tinggal gue yang sebenarnya.”

Memang dasar pemain profesional!

Well, lima belas menit kemudian, kami tiba di tujuan. Sekarang memang masih sedikit sore, jadi kasino belum buka. Meski demikian, tempat ini sering dijadikan basecamp orang-orang kami.

“Bay the way, ngapain lo nyari tunangannya?” tanya Tito yang duduk di depanku, sedang mengetik sesuatu di laptop dalam kantor kasinoku. Sedangkan Alfred ada di luar ruangan ini.

“What should people like us usullay do,” jawabku malas.

“Maksud lo?” Tito menghentikan aktivitasnya dan menatapku dengan wajah serius bertanya.

Ya beginilah efek nananina, hukum-hukum mafia kuno yang menjadi makanan kami sehari-hari pun terlupakan olehnya.

Aku tidak menjawab sebab sengaja membiarkannya berpikir keras. Beruntungnya tidak lama kemudian, tiba-tiba ia membelak dan mengacungkan kedua tangan pertanda ingatan tentang hukum kuno itu menjejali benaknya.

“Wow ... wow ... wow .... Jangan gegabah, Boss! Lo mikir kagak perasaan Mel bakalan kayak gimana kalau sampai tahu jalan pintas lo itu?”

“Jangan sampai dia tahu.”

Alis Tito mengernyit. Lalu menutup laptop di meja dan bersedekap. Tidak lupa mencondongkan tubuh tanda benar-benar serius, ia memastikan, “Jadi, lo mau bunuh tunangannya Mel, terus datang kayak pahalawan kesiangan buat nyelametin hidupnya gitu?”

Melihatku mengangguk, Tito tersenyum mengejek sambil menggeleng, lalu melanjutkan, “Terus lo pikir Mel bakalan berpaling ke lo dengan semudah itu, gitu?”

“Harusnya.”

“Masalahnya, rencana lo itu gampang ditebak, Boss. Apa lagi buat ukuran orang secerdas Mel. Pasti dia tahulah kalau itu perbuatan lo. Emang lo kagak mikir apa, kalau akibat tindakan lo itu malah bisa bikin dia makin benci sama lo?”

Apabila orang lain yang mengatakan membenciku dan selama itu hanya omongan belaka—tidak melakukan tindakan-tindakan berbahaya untuk melenyapkanku dari muka bumi, kupastikan ia tidak akan mendapatkan kepedulianku barang secuil pun. Teruntuk Melody—yang mungkin memang sudah membenciku, aku perlu memikirkannya seribu kali. Jadi, tidak akan kubiarkan ia membenci diriku lebih dalam lagi.

Harus kuaui bahwa playboy cap kadal buntung di depanku ini memang cerdas dalam urusan wanita. Dan ucapannya ada benarnya juga. Jadi, sejujurnya aku menganggap ini merupakan suatu pendapat tentang jalan untuk meluluhkan hati wanita itu lagi dalam jangka waktu kurang dari tiga bulan. Aku tahu ini tidak keren sama sekali. Namun, entahlah. Setelah hampir mati konyol dengan niatan bunuh diri dan mendapat ceramah dari Alfred kemarin, aku merasa Berlian Melody memang patut kuperjuangkan.

“Gini ya ... dia bukan masokis dan lo udah buktiin sendiri kemarin-kemarin. Jadi, cara kasar jelas bukan pilihan tepat. Ngerti kagak lo?”

Aku memutar bola mata malas sambil mengangguk. Membiarkan Tito dengan pendapatnya sendiri. Padahal, aku tahu betul bagaimana reaksi tubuh Melody ketika aku menyentuhnya walau dengan cara kasar kemarin. Bukan berarti wanita itu ada bakat menjadi masokis. Melainkan, kupikir itu reaksi yang cukup normal karena merindukan sentuhanku.

Sekali-kali percaya diri untuk menenangakn diri sendiri tidak apa-apa ‘kan?

“Terus, gue harus beliin seribu mawar plus cokelat, gitu?” Sebenarnya itu adalah pertanyaan iseng dan ejekan. Namun, Tito malah mengangguk semangat, seperti anjing yang diberi tulang.

“Lo pikir dia masih ABG?” Emosiku tersulut dengan cepat sehingga memicu pita suaraku untuk membentuk kenaikan oktaf dalam nada bicaraku. “Tiga bulan lagi dia nikah, To! Lo kira dia bakalan luluh kalau gue kasih begituan?”

“Siapa tahu ‘kan? Gue selalu berhasil pakai cara itu, Boss. Buktinya lo tadi juga udah lihat sendiri,” katanya enteng.

Dasar playboy cap kadal buntung! Aku merutuk dalam hati dan beranjak dari kursi kerja ruang kasinoku secara tergesa-gesa karena muak dengan cermahnya. Ralat! Aku salah besar kalau menyimpulkan mendapat pencerahan terhadap tindak-tanduk yang akan kulakukan uuntuk menjerat Melody melalui Tito.

“Loh, Boss. Mau kemana?” teriak pria itu, tetapi tidak berusaha mengejar.

“Ke neraka. Mau ikut lo?” balasku tidak kalah berteriak.

“Somplak! Terus ini jadinya gimana woi?”

Brengsek! Kenapa saran yang mereka berikan tidak ada yang benar? Sekali lagi aku merutuk dalam hati lalu memikirkan cara lain. Beberapa saat kemudian sebuah gagasan terlintas di otak superiorku.

Jadi, tanpa ingin menundanya lagi, kuhampiri salah satu klan Davidde yang menjadi pendamping sopirku untuk memintanya meneleponkan Alfred supaya memberikan lokasi keberadaan kakakku sekarang. Meski kemungkinannya sangatlah kecil, akan tetapi, mungki saja sekarang Jameka sedang bersama Melody. Tidak ada salahnya mencoba bukan?

Sembari menunggu hasil laporan, aku minta diantarkan ke minimarket terdekat untuk membeli rokokku yang habis dan hanya benda itu satu-satunya yang bisa kuandalkan sebab aku belum meminum alkohol.

Setelah Rubicon ini menepi, aku turun dan berjalan di trotarnya sebelum memasuki minimarket tersebut. Namun, baru saja tiga langkah, kakiku berhenti dengan sendirinya ketika kedua netraku tidak sengaja menemukan wanita yang kucari sedang bersama ... Zain Malik?

Aku mengerutkan kening lalu mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat bersama wanita bak Barbie yang kutolak kemudian berusaha menguras dompetku. Dan pria itu adalah orang yang sama dengan yang kami temui di taman Summertown.

Kenapa Melody bersama Zain Malik?

Apa jangan-jangan dulu aku tidak sedang delusi ketika menyadari suara wanita bertopi yang mengucapkan terima kasih lalu menggandeng Zain Malik itu adalah Melody? Dan lagi, bukankah tunangan Melody itu dokter? Apa aku salah dengar dari suster Diana atau salah membaca tulisan yang menempel di ruangan dokter beberapa waktu lalu?

Bunyi klakson kendaraan yang berlalu-lalang pun menarikku dari lamunan. Aku kembali memperhatikan Melody dan Zain Malik yang duduk di kursi minimarket dengan posisi sama-sama menghadap jalan raya.

Aku tidak ingat bagaimana membuka pintu minimarket, membeli rokok dan membayarnya. Tahu-tahu, langkahku sudah berhenti beberapa kaki dari mereka yang duduk membelakangiku, dengan tangan menggenggam sekotak rokok. Dan pendengaranku pun secara otomatis kusetel lebih tajam untuk mencuri dengar percakapan mereka.

Honey, aku cuma pengin tahu alasan yang sebenarnya kenapa kamu jadi pendiam belakangan ini. Just it, susah ya jelasin ke aku? Sebentar lagi kita nikah loh, kenapa masih ada yang kamu tutup-tutupin dari aku?” tanya pria itu pada Melody. Dan langsung dapat bisa kupastikan ia merupakan tunangan wanita itu yang sama-sama berasal dari Indonesia. Bukan Zain Malik. Mereka hanya kebetulan mirip. Sebut saja Zain Malik KW atau pecundang.

Melody masih diam sambil mengaduk mie instan cup yang berada di meja depannya.

“Tiga bulan lagi, dan kamu masih introver ke aku,” desak si Pecundang itu.

Kepala wanita itu menoleh ke arah tunangannya, lalu menjawab, “I just ..., you know, tired. Kamu tahu sendiri bentar lagi aku ujian proposal tesis dan salah satu pengujinya profesor Benedict Anitson? Dosen killer.”

Lagi-lagi, aku tidak menyadari sudah duduk di sebelah Melody, meletakkan kotak rokokku di meja dan berkata dengan bahasa serta aksen British. “Well, kenapa kau tidak menjelaskan padanya tentang caramu mendesah dan bagaimana basahnya kau saat kusentuh dan kucumbu kemarin pada calon suamimu, Miss Berlian Melody?”

Jujur saja, hatiku meradang mendengar obrolan mereka dan tindakan itu seperti diluar kendali otakku.

Mereka pun kaget, lantas bebarengan melihat ke arahku. Melody masih menikmati kekagetannya sedangkan pria itu bertanya, “Kenapa ada mantan kamu di sini? Dan apa? Mendesah, bercumbu? Apa-apaan ini?”

“Mantan?” Aku mengulang menggunakan bahasa Indonesia sebelum ada tanggapan dari Melody. Lalu mengudarakan tawa. “Hahaha ... emang kita pernah putus, Baby?” lanjutku bertanya pada wanita itu.

Melody terhenyak dan berdiri lalu menggeret tangan si Pecundang. Sayangnya, ditepis kasar oleh pria itu yang seolah jijik. “Honey, jangan dengerin dia. Kamu tahu sendiri kayak gimana ‘kan?”

“Maksudmu, waktu aku ngerancap kamu dan kamu minta diajarin cara ngerancap aku sebelum aku pindah ke sini itukah? Udah lama ternyata, makanya tubuhmu ngerespons waktu aku sentuh kemarin ya? Seandainya kamu nginep lagi di penthouse-ku kayak dulu, Baby. Aku yakin kamu bakalan lebih puas. You let me fucked you yesterday, didn’t you?”

“Cukup!” bentak Melody sambil menunjukku. Lalu beralih ke si Pecundang yang kini berdiri. “Honey, please, jangan dengerin omongan dia.”

“Bung, kalau nggak percaya, coba lihat lehernya. Gue berani taruhan masih ada bekas hickey gue di sana.”

Si Pecundang itu menarik tangan Melody dan berusaha menyingkap kerah sweter turtle neck putih gadingnya, tetapi mendapat berontakan dari wanita tersebut. “Nggak, please. Kamu jangan dengerin omongan dia, Honey.”

“Kasih lihat! Nggak perlu takut kalau dia cuma omong kosong!”

Dengan wajah kacau, wanita itu diam ketika tunangannya menyibak kerahnya lalu pria itu menganga begitu melihat maksud ucapanku.

“Sebenernya di dadanya juga banyak, Bung. Ssshhh ... gue jadi bayangin rasanya nyiksa puncak-puncak merah muda tunangan lo yang ngerespons jadi keras pakai gigi-gigi gue. Lo pasti tahulah kayak gimana rasanya.”

Pria itu memandangku bengis, jelas terpengaruh omonganku. Lalu menggeleng pelan saat menatap Melody yang emohon padanya. “Honey ... aku bisa jelasin. Tapi nggak di sini. Please, jangan dengerin omongan dia. Percaya sama aku, Honey. Kamu salah paham.”

Si Pecundang itu selalu berusaha melepaskan diri dari raihan tangan Melody. “Kita sama-sama dokter dan tahu cara ngilangin hickey kayak gitu dalam waktu lima detik. Kenapa sih, kamu nggak ngelakuin itu buat aku? Aku percaya sama kamu selama ini tentang dia. Tapi bukti nyata ini—”

“Udah aku bilang kamu salah paham,” potong Melody.

“Salah paham? Kalau kamu khawatir aku bakalan salah paham, kenapa nggak kamu hapus hickey itu? Lebih baik aku nggak tahu apa-apa.”

Melody hampir menangis dan tidak menjawab, sehingga tunangannya kembali bersuara. “Diemmu ini bikin aku lebih paham sekarang. Jujur aku kecewa sama kamu. Maaf, aku nggak sanggup maafin kamu yang udah ngelakuin hal kayak gitu sama dia di saat kita masih ada hubungan yang nggak main-main. Kita udahin aja sampai sini.”

Wanita itu merengek, “Honey ... No, please ... No .... Please .... Kamu beneran salah paham.”

“Kalian berdua pantes kok bareng. Soalnya sama-sama menjijikkan,” ucap si Pecundang itu sambil menunjukku dan Melody lalu melepas cincin di jari manisnya. Setelah meletakkannya di meja, ia berjalan keluar.

Melody meraih cincin itu dengan cepat lalu mengikuti si Pecundang sambil terus merengek, “Honey, kamu salah paham! Dengerin aku dulu, Honey!”

Aku pun mengejar Melody dan menarik tangannya. “Urusan kita belum kelar,” kataku penuh penekanan.

“Lepasin gue, berengsek!” Kepala Melody lantas melihat ke mantan tunangannya. “Honey! Tunggu bentar. Aju mau jelasin!” Ia menyentak tangannya hingga terlepas dari genggamanku untuk mengejar si Pecundang itu yang sudah mencegat taksi. Wanita itu menggedor pintu kacanya, tetapi dihiraukan. Kendaraan umum tersebut pun melesat begitu saja, meninggalkannya yang sudah terisak.

Sebagian hatiku sangat senang, baru kukerjai sedikit si Pecundang itu sudah kalah telak. Hubungan mereka bubar tanpa perlu repot-repot mengeluarkan revolver. Namun, ada sebagian hatiku yang berkata lain. Kenapa aku malah membunuh karakter wanita itu?

Sekarang, Melody mendorong dadaku dengan keras, dengan amarah dan air mata yang mengalir deras. “WHAT’S WRONG WITH YOU? I DON’T KNOW YOU!”

Saat kupegang tangannya ia menarik diri. “DON’T YOU DARE TO FUCKING TOUCH ME, JERK! YOU’RE A MONSTER! A BEAST! A TERRIBLE BEAST! I HATE SO MUCH!”

“But, you’re the who had created a beast in me! So, who’s the beast now?” balasku dengan nada penuh penekanan.

Wajah kacau di hadapanku itu menggeleng dan berkata lirih, “Aku harap kita nggak akan pernah ketemu lagi dan jangan coba-coba nyari tahu di mana aku!” Lalu mencegat taksi dan pergi dari hadapanku.

Bagaimana ini? Wanita itu malah semakin membenciku.

______________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo

Kelen luar biasa

Btw, apa komentar teman temin dengan chapter ini?

Ada yang kangen sama Mel?

See you next chapter teman temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Post : 25 Oktober 2019
Repost : 9 Oktober 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro