Chapter 1
Hai hai selamat datang di Chapter 1
Flash back dulu ya
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tolong tandai jika ada typo
Thanks
Happy reading everyone
Hope you like it
❤❤❤
______________________________________________
I can't be perfect by Simple Plan
______________________________________________
Working 16 hours a day
7 days a week
52 weeks a year,
And people are still calling me LUCKY
-Joker : Why so serius
______________________________________________
Jakarta, 3 Juli
19.10 WIB
Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benakkku bahwa rangkaian kalimat tanya yang tersusun atas kata-kata sederhana bisa mengubah hidupku menjadi 180 derajat berbanding terbalik, drastis. Dari semua kebutuhan yang tercukupi bahkan lebih-sebab aku anak pemilik sekaligus pemimpin perusahaan perabot Heralt yang termasuk kategori perusahaan gendut di dunia, kini menjadi hidup lontang lantung di jalanan. Kehidupan yang kelak menuntunku menjadi seseorang yang lain.
Meskipun tidak pernah kekurangan dalam segi materi, sayangnya, aku tidak bisa menggunakan seluruh uang yang kumiliki untuk membeli cinta, kasih sayang, dan juga perhatian seorang Allecio Michelle, a.k.a papaku.
Tidak hanya itu saja. Orang-orang disekelilingku sering kali meremehkan soal bakatku, entah itu akademik mau pun non akademik. Mereka selalu memandang sebelah mata karena aku merupakan anak dari orang yang memiliki kedudukan serta kekuasaan, yang otomatis bisa membuat para orang kepercayaan papa untuk memenuhi impian-impianku tanpa perlu menggerakkan tubuh sekalipun.
Papa dan mereka tidak tahu bahwa selama ini aku berusaha mati-matian untuk menjadi anak cerdas dan jenius. Segala macam kursus kulakoni untuk mencapai semua itu. Mulai dari kursus pelajaran, bela diri, hingga alat musik. Namun, tidak ada satu pun yang dapat menggugah hati papa dan mereka.
Saat berumur 17 tahun, aku mendapat nilai sempurna pada salah satu mata pelajaran tersulit di sekolah. Rasa bangga bernaung dalam diriku. Maka, tidak sungkanlah aku memamerkan itu pada papa. Kau tahu bagaimana reaksi beliau ketika mengetahuinya?
"Kamu nggak nyontek atau nyuap guru kan?" tanya pria berumur setengah abad lebih itu dengan nada tidak percaya. Kemudian mengubah nadanya menjadi tinggi. Kedua alis tegas itu pun sedikit berkerut. "Kasih tahu nama guru yang bikin nilaimu jadi seratus!"
Aku pun lantaran sadar. Tidak peduli seberapa keras usaha yang kulakukan untuk membuat papa terkesan, beliau semakin tidak percaya. Hal tersebut sangat berbeda dengan saudariku bernama Jameka Michelle. Kendati kenyataannya ia tidak memiliki segudang prestasi akademik atau bakat yang menonjol, akan tetapi karena kebribadiannya yang unik, ia mampu merenggut semua perhatian papa.
Rasa iri tentu ada. Namun, aku tidak pernah membeci Jameka karena hal itu. Ia bukan seorang penjilat apabila ingin mendapat perhatikan papa. Jameka is Jameka. She just be herself. Irit bicara tetapi sekalinya membuka mulut kata-katanya pedas. Meski demikian, kami saudara yang akur. Bahkan, kakak perempuanku yang terpaut tiga tahun lebih tua dariku itulah yang sering menenangkanku menggunakan kata-kata bijak.
"Jay, dari awal lo salah niat. Harusnya niat dan usaha itu buat diri lo sendiri dulu, bukan buat orang lain. Kalau apa yang lo perjuangin buat diri lo udah terpenuhi, itu secara nggak langsung kebanggan dari diri lo bisa ngaruh dan nular ke orang-orang sekitar. Papa pasti bangga kok, Jay. Tapi rasa bangganya mungkin diungkapin pakai cara lain. Apalagi gue-" Jameka menghentikan kalimat untuk menunjuk dirinya sendiri, "bangga banget punya adek kayak lo. Udah pinter, cakep, berprestasi. Kurang apa coba?" imbuhnya. Kemudian memelukku yang saat itu baru saja keluar dari ruangan papa dalam keadaan murung. Kupikir, Jameka dapat menerankan peran pengganti mamaku yang baru saja meninggal akibat kanker darah dengan baik.
Kala itu, aku mengatakan pada diriku bahwa selama ada Jameka di rumah, semua akan baik-baik saja meski tanpa perhatian papa. Rupanya, sekelumit kelegaan itu pun harus segera lenyap sebab tidak lama kemudian, papa menikah lagi dan Jameka kabur ke Belanda dengan alibi kuliah.
Kesunyian di rumahku terasa semakin menjadi-jadi. Meski mama tiriku memiliki anak laki-laki yang usianya beberapa tahun dibawahku-yang seharusnya bisa berbaur denganku, kenyataannya kami tidak cocok. Jordan jelas terlalu berbisi untuk mendapatkan sesuatu-mungkin, aku juga bisa melihat cerminan diriku dalam dirinya untuk mengambil hati papa. Yang membuatku tidak percaya sekaligus iri tak kira-kira pada kenyataannya adalah, guratan-guratan senyum di wajah papa yang menandakan Jordan sukses merebut perhatian beliau melalui prestasi akademik atau pun non akademiknya.
Jangan membandingkanku dengan cerita Cinderella. Itu menjijikkan. Aku hanya memikirkan sejenak tentang hidupku di dalam rumah bersama keluarga baru, yang nyatanya malah menjadikanku sebagai orang asing di rumahku sendiri.
Aku tidak tahu hidupku yang semula sudah hancur semakin remuk-redam hanya karena mendengar gosip para pekerja di rumah tentang mama tiriku bernama Gamelita. Sebagai orang terpelajar dan memiliki martabat, tentu aku tidak akan semudah itu percaya terhadap omongan orang lain. Jadi, untuk menuntaskan rasa penasaran sekaligus memastikan kebenarannya, aku menanyakan hal tersebut pada papa. Sangat disayangkan, reaksi beliau di luar dugaanku. Dan inilah yang kusebut kalimat sederhana yang mampu menjungkirbalikkan hidupku dalam sekejap mata.
"Pa, apa benar tante Gamelita itu mantan pacar papa waktu kuliah dulu?" tanyaku setelah masuk di ruang kerja beliau. Menggunakan nada hati-hati, sebab ingin pembicaraan ini berlangsung ringan. Sebagaimana aku sadar hubunganku tidak dekat dengan papa.
Mendengar itu, papa menghentikan kegiatannya yang berkutat dengan beberapa berkas di meja kerja untuk mendongak dan menatapku, dengan pandangan yang seolah-olah aku baru saja meludahi wajah tampan beliau.
"Dari mana kamu dengar itu?" Papa bertanya dengan suara sedikit tersinggung.
"Nggak penting," jawabku logis.
"Kalau nggak penting, ngapain kamu tanya?"
Dadaku mulai bergemuruh. Jadi, aku mengungkapkan apa yang kurasakan. Meski demikian, tetap berusaha menjaga nada suaraku sedatar mungkin tanpa diselipi emosi.
"Kalau bukan ada sangkut pautnya sama Mama, aku juga nggak bakalan tanya, Pa."
"Mamamu udah meninggal, Jay. Salahkah Papa nikah lagi?"
"Apa waktunya nggak terlalu cepat? Segampang itukah Papa gantiin posisi Mama? Atau emang benar kalau Papa nggak cinta sama Mama dan ada main di belakang sama tante Gamelita selama Mama masih hidup dalam keadaan sakit? Makanya Papa bisa langsung nikah tanpa rasa bersalah?" tuduhku yang sudah mulai tersulut emosi. Aku jarang bicara panjang lebar, baru kali ini saja.
"Jaga bicaramu, Jay! Kamu itu nggak ngerti apa-apa!" geram papa.
"Makanya aku tanya, dan Papa tolong jelasin biar aku ngerti! Biar nggak salah paham!"
Papa berdiri. Bersamaan dengan itu, pintu ruang kerja papa tiba-tiba dibuka. Gamelita masuk dan dengan manjanya bergelayut memeluk lengan papa. Aku pun semakin meradang dan mual karena jijik atas tingkah laku wanita itu.
"Sayang ada apa? Kok marah-marah? Suarannya sampai kedengeran keluar, loh?" tanya wanita itu dengan suara dilembut-lembutkan. Aku yakin 1000 persen apabila kau mendengarnya, kau akan muntah detik itu juga.
Aku paling benci wanita seperti ini. Mirip rubah yang menyembunyikan watak aslinya.
Tidak menghiraukan kelakuan Gamelita, papa kembali membentakku. "Keluar kamu dari rumah ini kalau kelakuan sama omonganmu kayak gini!"
Mendengarnya dari mulut papa sendiri, rasanya seolah ada sesuatu tak kasat yang menghantamku ulu hatiku. Tidak percaya, hanya karena sebuah pertanyaan dan jawaban yang seharusnya sangat sederhana, papa malah mengusirku.
"Ternyata emang benar gosipnya," celetukku dengan nada setengah mengejek. Jangan salahkan aku bila langsung memberi kesimpulan seperti itu. Papa sendiri yang membuatnya demikian. Tidak ada penjelasan masuk akal yang membenarkan atau menyalahkan pertanyaanku sama sekali.
Tudingan papa mengarah padaku dan mengayun ke arah pintu. "Anak kurang ajar! Pergi kamu!"
"Dengan senang hati," kataku sambil tersenyum. Senyum yang dapat dipastikan tak sampai ke mataku.
Sekali lagi pria itu mengayunkan tudingannya. "Nggak usah balik kalau perlu!"
"Ok."
Aku segera berjalan menuju pintu keluar ruang kerja papa. Sejengkal kakiku melewati daunnya, aku berhenti sebab mendengar suami istri itu berbicara mengenaiku.
"Sayang, kamu kok gitu sama Jay? Gimana kalau dia pergi beneran?"
"Entar juga balik lagi. Anak kayak dia, nggak bakalan bisa hidup tanpa embel-embel nama belakangku, lihat aja," jawab papa. Dan detik itu juga, aku membanting pintu ruang kerja tersebut.
Tidak bisa hidup tanpa embel-embel nama belakang papa? Hahaha sialan! Papa pikir bagaimana perjuanganku selama ini menggunakan embel-embel nama Michelle? Tidak! Sama sekali tidak!
Penuh emosi, tidak peduli malam hari, aku segera mengemasi barang-barang yang kuperlukan untuk keluar dari rumah. Mulai dari seragam sekolah SMA, berkas-berkas seperti akta kelahiran, ijazah selama sekolah, KTP dan kartu kredit tanpa limit yang kujejalkan dalam satu ransel besar. Para pekerja yang melihatku berusaha mencegah. Namun, aku tidak mengacuhkan mereka.
Semenjak saat itu aku hidup lontang-lantung di jalanan. Aku tidur di warung-warung yang berbaik hati memberiku tempat tidur meski hanya sebatang kursi panjang. Berhubung bagiku pendidikan sangatlah penting, aku tetap masuk sekolah. Dan walau membawa kartu kredit, aku masih belum menggunakannya karena harga diri. Itu hanyalah sebuah alat untuk berjaga-jaga apabila aku tidak sanggup mencari uang untuk sekadar makan. Hingga aku memiliki alasan untuk menggunakannya saat bertemu beberapa preman di suatu malam.
"Heh anak orang kaya nih. Jam tangannya boleh juga," celetuk salah satu preman yang bertato lumayan banyak di lengannya. Kulitnya sawo matang.
Aku hanya mengumbar tawa setan dalam hati. Kebetulan, aku membutuhkan pelampiasan untuk mengeluarkan kekesalanku terhadap Allecio dan strategi hidup selanjutnya. Tidak melulu harus tidur di warung. Preman biasanya memiliki markas untuk tempat tinggal. Lebih baik bila aku mengambil alihnya. Jadi, preman-preman ini jelas target yang renyah.
Saat salah seorang preman akan merampas jam tangan hadiah Jameka, kugunakan jurus dolryeo jireugi (Pukulan mengait dalam seni bela diri taekwondo) hingga ia mengerang akibat kesakitan.
"Lo mau malak gue? Sorry, lo salah orang," desisku.
Senyum jemawa masih tersungging ketika anak buah mereka datang berlima. Aku malah semakin tertawa, kalap menghajar mereka hingga babak belur. Para preman itu pun akhirnya berbalik memohon ampun supaya aku tidak memelintir kepala mereka dan membagi tubuh mereka menjadi dua dengan tangan kosong.
"Ampun, jangan bunuh kami. Kami hanya orang yang butuh uang untuk makan," kata salah satu preman yang bernama Tito.
"Berdiri dan ikut gue kalau kalian cuma butuh makan! Nggak cuma makan sekali, tapi kalian bakalan bisa makan selamanya," titahku tegas dengan nada yang kupikir pasti sangat menyeramkan. Terbukti dari raut wajah mereka yang ketakutan. Lalu kuajak mereka makan di restoran mahal sepuasnya.
Sesuai prediksi dan rencanaku. Setelah selesai makan, mereka menjadi lengket padaku. Strategiku berhasil, mengumpulkan preman-preman yang kerjanya memalak orang agar ikut denganku. Ya. Aku membentuk kawanan atau orang menyebutnya geng. Aku yang membiayai makan mereka dengan uang Allecio menggunakan kartu sakti yang masih kubawa.
Tidak hanya itu. Saat mereka menunjukkan tempat tinggal tak layak huni mereka di gedung tua yang terletak di tepi kota, aku meminta mereka mencari pemilik gedung itu untuk bernegosiasi membelinya. And now, that building is mine.
Aku juga meminta mereka memperbaiki ruangan-ruangan dalam gedung supaya menyerupai rumah. Ada kamar-kamar untuk mereka tidur, dapur, ruang keluarga dan lain sebagainya tanpa mengubah tampilan luarnya. Karena aku jelas ingin bersembuyi dari Allecio dan beberapa anak buahnya yang kemungkinan besar akan mencari atau menguntitku-mungkin ini hanya kepercayaan diriku semata yang rupanya tidak terbukti. Dan kami pun menyebut tempat itu sebagai basecamp.
Dengan preman-preman yang kunafkahi dan kuberikan tempat tinggal, mereka menjaga dan melindungiku secara suka rela. Mereka juga tidak kuperkenankan memalak uang atau menindas orang-orang lagi.
Sebagai gantinya, aku mengajari mereka cara bertahan hidup dengan balapan. Tentu saja mereka tidak tahu aku telah menyisipkan unsur politik pada kedua belah kubu supaya keuntunganku menjadi lebih besar. Sehingga hasil dari balapan itu bisa kubelikan apartemen pribadi, Hummer, Duccati Scrambler, dan mobil musteng hitam tua yang kumodif sedikit.
Jangan remehkan soal penghasilan balapan liar. Mereka yang ikut tentu sangat menjunjung tinggi harga diri dan bertaruh dengan uang dalam jumlah banyak.
Beberapa kali kami pernah bentrok dengan geng yang lain. Namun, tidak ada yang mampu menandingi kekuatanku-maksudku, pelampiasanku pada mereka. Maka dari sanalah aku semakin ditakuti dan disegani. Dan semenjak saat itu pula, mereka yang berada dalam genggamanku memanggilku Bos, dan aku pun mengganti nama belakangku dari Michelle menjadi Wilder.
Jameka benar, aku harusnya bangga pada diriku sendiri. Seharusnya aku memang hidup selayaknya Jayden. Bukan untuk memberi kesan pada Allecio atau orang lain, melainkan untuk kepuasan diri sendiri. Hidup bebas sesuai apa yang kuinginkan, bukan apa yang mereka ingin lihat.
Ngomong-ngomong soal kakak perempuanku, aku masih marah padanya. Dan entah sejak kapan kami tidak saling berkomunikasi. Ditambah sekarang aku hidup di jalanan dan membeli ponsel baru serta ganti nomor, entahlah aku jadi tidak tahu kabarnya dan jarang memikirkannya sebab terlalu fokus pada apa yang kucapai saat ini.
Tidak terasa sudah setahun lebih aku menjalani kehidupan jalanan seperti ini. Menjadi bad boy yang ditakuti para preman, menjadi bandar balapan liar, menjadi perokok berat, kadang juga sering kali mabuk hingga pingsan dan selebihnya Tito yang akan mengurusku.
Namun, aku tetap belajar giat. Bahkan lulus dengan nilai tertinggi sehingga Universitas bergengsi menerimaku dengan senang hati tanpa susah payah masuk melaui jalur tes. Aku mendapatkan beasiswa penuh selama kuliah, itu karena hasil kerja kerasku sendiri. Tanpa campur tangan dan embel-embel nama belakang Michelle.
Dan apa kau tahu? Gara-gara si Tua Bangka itu, aku menjadi beranggapan bahwa cinta hanyalah sebuah fantasi belaka, dan melakukan hubungan fisik merupakan suatu kebutuhan yang valid.
Namun, presepsi itu timbul sebelum aku bertemu dengan Berlian Melody-ku.
______________________________________________
Thanks for reading this chapter
Jangan lupa vote, komen, add to library, share, dan rekomendasi ke seluruh media sosial yang kalian punya jika kalian suka ceritanya
Makasih juga yang masih bertahan baca karya saya
See you next chapter teman temin
With Love
Chacha Nobili
👻👻👻
Post : 20 September 2019
Repost : 10 Juli 2021
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro