Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

85. Ingin Kembali

            Haruskah Drew menghajar saja Will untuk segala sikap kecurangannya? Belakangan, Drew selalu kebagian untuk menemani Mami ke acara-acara resmi. Tidak hanya mengganggu beberapa rencananya, tetapi juga membuatnya jengkel karena terjebak lagi bersama Mami.

Drew juga menyalahkan Mami. Kenapa setiap kesempatan harus ditemani ke sana- kemari? Tidak bisakah beliau hadir bersama rekan sesama pebisnis atau siapa pun?

"Itu sudah kebiasaan Mami dari dulu." Will menguak fakta ketika Drew sengaja datang ke apartemen untuk melayangkan protes. Abangnya lalu menghadapkan tiga jari. "Kamu baru menemani Mami dalam kurung enam minggu ini. Berhentilah merajuk."

"Lain kali," Drew menudingkan telunjuk. Dia kesal. Benar-benar kesal. "Meski magmu kambuh atau tergelincir dari kamar mandi untuk kedua kalinya, aku enggak akan lagi membantu." Dua alasan yang Will utarakan sebelum ini. Bodohnya Drew karena begitu mudah percaya. Dia khawatir pada kondisi abangnya sampai lupa kejadian terakhir bersama Mami yang tidak menyenangkan.

Kenangan bahagianya bersama Mami hanya terjadi di masa kanak-kanak yang sepertinya hanya sebentar. Selebihnya, Drew mendapati rumah begitu sepi. Mungkin jika dia tak memiliki saudari seperti Agnes dan Will, hidupnya sungguh suram.

"Jangan mendoakan agar aku mendapat kesialan." Will menguap. "Pulanglah. Sudah waktunya bagi kita berdua untuk beristirahat."

Drew melepas tuksedo kemudian menyampirkan ke bahu. Lalu, dia melemparkan tatapan jengkel dan berlalu. Mungkin, dia bisa mendiamkan Mami sepanjang menemaninya hingga mengantarkan beliau pulang. Namun, di saat-saat tertentu, beliau selalu saja menggiring pada topik yang sulit dihiraukan olehnya. Misal ketika Mami tiba-tiba mengenalkannya pada seorang influencer seksi. Mami tidak mengacuhkan keengganan Drew dalam menyambut perjumpaan tersebut.

Pada kesempatan lain, Mami mengomentari keengganan Drew untuk menyantap menu daging tertentu. Karena jengkel, Drew membalas dengan ketus, "Bukannya Mami harus tahu hal ini sejak dulu?"

Agnes yang mendengar celotehan Drew beberapa hari kemudian, langsung menyorongkan tangan untuk menoyor kening lelaki yang hendak meneguk minum tersebut. "Pantaslah Mami berkoemntar, dia enggak tahu, Drew."

"Makanya, dia enggak perlulah sejulid itu."

"Sensian banget kamu. Bukan berarti Mami julid, bisa aja dia kaget. Kamu pengin Mami sadar dengan kesalahannya, tapi kamu selalu menutup kemungkinan untuk kalian menjadi lebih dekat."

Gara-gara Agnes menanyakan perasaannya, Drew kembali menceritakan keluhan yang malah berakibat fatal. Alih-alih diberi penghiburan, dia justru diberikan wejangan membosankan. "Sepertinya, kamu mulai enggak menyenangkan."

"Drew, apa sekalipun enggak ada yang memberitahu kalau kamu selalu mengingat kesalahan orang lain dan sulit untuk memberi maaf? Mami akan selalu menjadi ibu kita."

Rekza dan Sha begitu tahu sifat Drew satu ini. Bungkamnya pada pertanyaan Agnes membuat suasana hening sementara waktu. Drew yang masih duduk tak jauh di samping kakaknya, menatap pigura yang menunjukkan betapa menggemaskannya Jian. "Beri tahu aku, gimana kamu bisa melupakan dengan mudah."

"Itu enggak mudah, kok, Drew." Agnes menumpukan tangan di bahu adiknya dan menepuk-nepuk pelan. Pandangannya menerawang. "Will yang mengajariku. Dia ingin menciptakan hubungan harmonis seperti keluarga lainnya. Menunggu Mami untuk menyesal lebih dulu, rasanya sulit. Makanya, Will yang memulai. Dia mencoba membangun kedekatan dengan Mami. Menuruti segala keinginan Mami hingga menjadi anak kepercayaan di antara kita."

"Ah, bentuk keihklasanmu saat harus menerima Adrian, kan?"

"Enggak, ya!" Agnes menggeram jengkel. "Aku udah jatuh cinta sejak pertama bertemu Andrian. Sebetulnya, aku bersyukur banget sama Mami karena dijodohin sama Adrian, Drew. Oke, aku enggak akan mengenang awal kehidupan romantisku tanpa liku-liku sama kamu. Intinya, selagi kita masih punya kesempatan, aku ingin memperbaiki apa yang pernah hilang. Jangan selalu menganggap kami memaksa, ini kebaikan kita bersama, Drew."

"Aku lapar. Kamu ingin memasakkan sesuatu?" Drew lantas mengerang ketika mendapatkan lembaran bantal sofa dari saudaranya. "Agnes!"

"Menghindar aja terus."

"Mendengar ocehanmu enggak akan ada artinya kalau aku kelaparan," Drew menggerutu. Tak ada yang perih. Kepalamya baik-baik saja. Namun, Agnes selalu saja memperlakukannya seperti anak kecil.

"Pikirkan ucapanku ini baik-baik, Drew."

Drew sekadar menggangguk demi menghindari lagi topik tersebut. Meski begitu, ucapan Agnes terus saja bercokol di benak. Di saat-saat sedang rehat atau melamun, Drew akan mengingat lagi percakapannya dua hari yang lalu. Mami tidak mengetahui banyak hal tentangnya, seperti dirinya pada Mami. Dia juga terkejut ketika mendapati Mami begitu berbinar ketika menyantap lobster dan beberapa hal lain yang mengejutkan.

Jam makan siang, Drew menerima ajakan Alby untuk beranjak menuju ke kantin. Beberapa waktu, tempat itu dihindarinya. Ingatan akan Sha akan terus mengusik dan menyentil dengan segala macam kenangan, membuatnya makin terpuruk. Alby, lelaki di sampingnya yang menebar senyumnya ke mana-mana itu, sudah menyerah untuk menyuruhnya mencari pengganti.

Alby menunjuk sebuah tempat kosong ketika berada di kantin sementara Drew bergegas menuju area pemesanan. Dia menyebut dengan cepat menu-menu yang mereka inginkan lalu menoleh. Ketika berbalik, dia memang mengedarkan pandang demi mencari-cari keberadaan seseorang.

Harapan Drew sepertinya terkabul. Di sayap kanan ruangan ini, dilihatnya sesosok yang sudah lama dirindukannya. Eisha. Senyum yang menguak itu masih sama cantiknya. Drew menoleh pada Alby yang melambai. Namun, dia segera berpaling pada meja lain. Dia mengembuskan napas dan bergerak lebih cepat.

Drew berupaya untuk memaksa hatinya mengenyahkan nama perempuan tersebut. Celakanya, dia tidak mampu. Perempuan cantik yang Mami kenalkan tak pernah bisa menggantikan posisi Eisha. Perempuan yang senantiasa masih menguak senyum di sana, pernah membuatnya berjanji agar hanya menganggap hubungan singkat itu tidak berarti apa-apa. Drew sulit memenuhinya.

Kehadiran Drew ternyata disadari lebih dulu oleh Eisha. Senyumnya perlahan-lahan meredup. Sepasang matanya mengerjap. Drew bisa melihat ada kerinduan yang tersimpan di sana. Lalu, dia melontarkan sapaan. "Halo semuanya."

Eisha belum bereaksi. Gerak tubuhnya tidak menunjukkan apa pun. Lelaki jangkung yang menghadap di depannya, lalu menoleh. Gio mengernyit. "Drew?"

"Aku boleh bergabung dengan kalian?" Drew mendengar kesiap di antara pengunjung di meja. Tanpa menunggu jawaban, Drew lantas menuju ke tempat kosong di samping Eisha. Dia menoleh dan mendapati keterkejutan perempuan yang belum mampu mengucapkan sepatah kata. "Aku enggak mau pura-pura enggak melihatmu."

Gio berkomentar. "Semestinya, kamu memilih tempat yang lebih aman, Drew." Gio berdengkus. Ucapannya disusul persetujuan oleh sesosok perempuan di samping lelaki jangkung tersebut. "Orang-orang akan kembali bergosip–"

"Kali ini, aku enggak akan tinggal diam seperti dulu." Drew menoleh. Tatapannya melekat pada Eisha. "Omong-omong, aku mendengar kamu berhasil menggantikan posisi Indri." Dia menjulurkan tangan. "Congrats."

Eisha membuka mulut. Kehadiran Drew membuatnya syok. "Makasih," ucapnya lirih.

Sebelum Drew hendak membalas, kontan uluran tangan tampak di depannya. Perempuan satu lagi yang belum dikenalnya. "Aku Sandra. Temannya Sha."

Drew membalas uluran tangan tersebut. Setelahnya, dia kembali pada Eisha. Wajah perempuan itu sedikit tirus. Alisnya melekuk ketika bertanya, "Kok kurusan?"

Perempuan yang memejam sekian detik tersebut, kini mengembuskan napas dan menggosok kening. "Drew... Ini..." embusan napas lagi dari Eisha.

"Trust me! Aku enggak akan membiarkan orang-orang menyakitimu lagi, Sha."

Sandra berdecak ketika Gio berdeham. "Apa yang membuatmu terang-terangan melakukan ini, Drew?"

Tanpa ragu sedikit pun, Drew berucap sembari menatap Eisha. "Karena aku masih menginginkan Eisha."

***

Pinrang, 28 November 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro