Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

82. Setitik Harap

"Ya ampun!" Sha menyeru dengan kesal. Dia langsung mematikan musik yang Anne setel. Sahabatnya tahu-tahu menoleh, kedua alis naik serta kening mengerut. Sha kemudian menyahut, "Kenapa, sih menyetel lagu patah hati segala?"

Anne terbahak. "Baper, ya?"

"Tadinya, sih, enggak."

"Makin kamu bertekad buat move on, upayamu bakal sia-sia. Santai aja, sih." Anne membelokkan mobil. Sehari setelah mereka baikan, yang penuh drama dan air mata, Anne bersikap seperti tidak terjadi masalah besar di antara mereka. Dia langsung datang menjemput ketika Sha membutuhkan tebengan.

Baru setengah perjalanan, Sha merasakan telinganya berdenging gerah karena semua musik mendendangkan patah hati, seolah mengejeknya karena mati-matian untuk tegar. "Kamu pengin aku murung aja sepanjang waktu, gitu?"

Anne memutar bola mata. "Padahal, maksud aku enggak gitu, ya. Kamu boleh aja bersedih, itu wajar, kok, tapi jangan berlebihan. Gitu juga sebaliknya, jangan berlagak kamu bisa sepenuhnya melupakan cowok itu dalam hitungan hari."

"Namanya Drew, Ne."

"Meskipun kita baikan, aku belum mau maafin si cowok berengsek itu sepenuhnya, ya."

Saat Anne datang meminta maaf, temannya itu tetap menyalahkannya karena berhubungan dengan Drew diam-diam. Hingga mereka berakhir saling menyalahkan untuk berapa waktu. Namun, Anne tetap mengulurkan tangan dan meminta maaf. Dia begitu bersalah karena begitu egois. Hanya mementingkan rasa sakitnya tanpa mencoba memikirkan posisi dan perasaan sahabatnya. Dia mengaku bukan sahabat baik dan seterusnya hingga Sha malas lagi mendengar dan memeluk sebagai tanda mereka sudah berbaikan.

Ternyata, Anne memang serius ketika mengatakan belum bisa memaafkan Drew. Mungkin dia akan melakukan sesuatu agar Anne maupun Drew bisa melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Atau, itu tidak akan pernah terwujud. Sha hanya menjadi mantan Drew yang perlu beberapa waktu untuk bertemu dan bersikap biasa pada lelaki itu.

"Aku pengin nanya sesuatu." Anne memelankan mobil ketika jalanan mulai padat. Matanya mengawasi laju keeempat mobil di depannya. "Drew belum melakukan sesuatu yang serius sama kamu, kan?"

"Iseng banget, sih, kamu, Ne!" Sha kesal mendengar pertanyaan menyepelekan itu. "Meski Drew sering banget datang ke apartemen, aku punya aturan ketat, dia enggak boleh menginap."

"Itu bukan yang aku maksud."

"Anne, aku belum tidur sama Drew. Puas?"

Perempuan berkucir tinggi itu seketika memberikan acungan jempol. "Karena kamu kayaknya sulit banget gitu melupakan si berengsek satu itu. Kalian cuman pacaran selama dua bulan lebih, itu, kan, cukup singkat."

"Bagimu, kesalahan Drew cukup fatal, aku berusaha memahaminya. Tapi, aku kurang suka mendengar kamu mengumpatinya." Sha memperhatikan kedua tangan lalu menyahut, "Aku melakukan banyak hal sama Drew, Ne. Dia enggak hanya menjadi pacar, tapi juga teman saat aku merasa sendirian."

"Maaf."

Sha berdecak. Dia melirik Anne yang cemberut. "Udah berlalu juga. Bisa jadi, aku pun bakal melakukan yang sama kalau sahabatku malah pacaran sama cowok yang pernah melecehkanku." Laju mobil kembali stabil ketika Anne berbelok. Macet di awal pagi memang menjadi pemandangan lumrah di kota Bandung. "Anne, kamu beneran udah enggak cinta sama dia, kan?"

"Idih!" Anne bergedik lalu memelototi Sha. Menurut Sha, meski kesal atau marah, wajah bulat itu sama sekali tidak kehilangan cantiknya. "Yang ada aku malah ilfil. Makanya pas kamu ketahuan pacaran, aku langsung syok. Kamu dikejar cowok di mana-mana, tapi malah milih Drew. Dia tuh modal ganteng doang."

"Enak aja modal tampang doang."

"Rekza tuh yang potensial banget. Sayangnya udah ada yang punya." Anne melemparkan desah panjang. "Yang disisain cowok-cowok bobrok kayak..." Matanya membola karena Sha mendelik. "Lupaian dulu tentang obrolan ini, aku lebih penasaran sama calon pengganti bosmu."

"Jangan tanya aku." Sha menyandarkan tubuhnya yang mendadak lemah. "Aku udah enggak berharap lagi."

"Sha, putus cinta kok bikin kamu secengeng ini, sih?" Anne menggeleng seraya mendecakkan lidah. "Apa enggak menyedihkan, udah putus cinta, karier pun gagal."

"Gara-gara masalah kemarin, aku kurang fokus dan kerjaanku agak ngasal." Sha menertawaan raut murung Anne saat ini. "Bukan salahmu. Kayaknya, aku memang enggak seprofesinal itu. Aku keukeuh ngomong cinta cuman buang-buang waktu doang. Terbukti saat kepincut Drew dan enggak bisa memilikinya, aku menjadi... hancur."

"Kamu rela kehilangan semuanya?"

Sha mengedikkan bahu saat pandangannya menyapu kendaraan di sekitar mobil Anne. "Aku enggak mau. Tapi, aku mencoba realistis, sih. Pengumumannya mungkin besok atau lusa."

Anne menepuk bahu temannya yang tidak membalas tatapannya. "Kelar pengumuman, kita happy-happy, yuk."

Mungkin, Sha harus mempertimbangkan ajakan temannya yang sedang berusaha menebus kesalahan ini. Mendengar keputusan Mbak Indri akan kembali membuatnya putus asa dan bersedih. Andai masih ada waktu, dia pasti berusaha memperbaiki keteledorannya kemarin.

Putus cinta sekaligus batal mendapatkan promosi, apa lagi yang lebih buruk dari itu? Sha terenyak dari lamunannya. Apakah dia pasrah saja? Dia bisa mencoba untuk... Ya, mengemis-ngemis pada Mbak Indri bukan tabiatnya dan akan menjatuhkan harga dirinya. Lagi pula, beliau memilih yang terbaik, tentulah Sha sudah kalah sejak awal. Lalu, apakah dia menerima saja cintanya kandas karena ucapan menyakitkan dari Liani?

Untuk sementara, Sha enggan memikirkannya ketika sampai di kantor. Dia langsung ke kubikelnya dan memulai aktivitasnya seperti biasa. Mengoreksi naskah-naskah penulis dan mengecek agenda lainnya. Ketika makan siang di taman, Sha mempertimbangkan jika bisa menemui Liani. Penawaran apa yang bisa diajukannya? Dia tidak punya kelebihan apa pun. Dia memilikinya, tetapi wanita karier dengan wajah rupawan itu takkan menganggap penting kemampuan dan kemandiriannya. Dia berasal dari desa. Keluarganya sedang memulai usaha di desa. Memang mustahil jika dia mencoba untuk menemui Liani.

Kamis berikutnya, Sha mengetuk pintu Mbak Indri untuk mendiskusikan keberangkatannya pada grand launching produk terbaru sebuah brand lokal. Atasannya itu mempersilakannya duduk, lalu lebih dulu memulai obrolan. "Aku sudah bicara mengenai promosi ini sama Gio kemarin."

Sha yang tidak siap pada kabar tersebut, mendadak merasakan tubuhnya lemas dan hanya sanggup mengatakan, "Oh?" begitu keluar dari ruangan ini, Sha berjanji akan langsung menghubungi Anne untuk mengajaknya ke tempat paling menyenangkan yang belum pernah mereka kunjungi. Apakah dia harus keluar kota saja? Surabaya atau Jakarta, mungkin? Hirup pikuk dua kota besar itu mungkin bisa meredakan sedikit rasa kecewanya.

Aneh. Dia berulangkali mengatakan siap menerima segala keputusan Mbak Indri, tetapi malah ingin meneteskan air mata karena sedih. Sebaiknya dia mengganti rencana. Gio yang harusnya ditemui lebih dulu. Ucapan selamat dan traktiran kecil-kecilan akan menunjukkan dukungan pada sahabatnya tersebut.

"Sha, kamu melamun lagi?" Mbak Indri meninggikan suara. Cukup ampuh mengejutkan Sha. Dia menggeleng jengkel. "Jangan membuatku menyesal karena memilihmu untuk menggantikanku di sini."

Mbak Indri harusnya tak boleh menyesal karena sudah... Sha langsung menegak dan berkedip berulang kali. Dia menelengkan kepala dan bertanya. "Menggantikan apa, ya, Mbak?"

"Selamat, kamu menjadi senior editor." Jari-jari gemuk itu terulur di udara. Sementara Sha, hanya membisu. "Ya, aku memilihmu. Aku heran kenapa kamu masih terdengar enggak percaya."

"Mbak!" Sha menegak lalu menjerit putus asa. "Belakanga, aku enggak konsentrasi. Aku benar-benar payah. Sikap yang semestinya enggak aku tunjukkan."

"Memang. Apa pun situasinya, kamu harus tetap profesional, Eisha." Mbak Indri bangkit dari kursinya. Hela napasnya terembus. "Tapi, siapa pun yang berada di posisimu pasti akan melakukan hal yang sama. Orang-orang membicarakan kejelekanmu sepanjang waktu. Aku bersyukur kamu masih datang di kantor."

Sha bergerak gelisah di kursinya, "Mbak Indri serius milih aku?"

"Eisha Faranisa, penulis dan editor mumpuni yang semenjak awal sudah aku tahu kemampuannya. Aku enggak menilaimu dari beberapa waktu ini aja, Sha. Kamu terpilih, tapi kalau kamu pengin menyerahkannya pada Gio, kurasa itu lebih masuk akal."

Dengan mantap, Sha menjawab dengan suara lantang, "Aku janji bakal lebih baik dari ini, Mbak." Kemudian, dia bangkit dan bergerak mendekati atasannya. Dia tak ragu sedikit pun memeluk perempuan yang tampak terkejut itu. Dia menggumam kecil, "Makasih banget, lho, Mbak."

***

Pinrang, 25 November 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro