
71. Keputusan Sulit
Langit bukanlah sesuatu yang menarik bagi Drew. Namun, bentangan biru yang kadang-kadang dilapisi awan berbagai bentuk itu, sudah menjadi objek yang kerap dilihat beberapa hari ini. Mungkin karena tiap kali melihat ke atas sana, dia akan mengingat lagi semua momen menyenangkannya bersama Eisha.
Sungguh, Drew merindukan perempuan yang menjadi lebih sering mengisi kepalanya. Untuk menemui perempuan tersebut, dia perlu menyelesaikan masalahnya satu persatu-satu. Usai menerima omelan Shaselfa, tak ada lagi keraguan baginya untuk memutuskan hubungan dengan Rissa. Setelah ini, dia akan menjadi lelaki paling berengsek sedunia. Akan tetapi, dia tidak bisa lagi mundur.
"Aku makin khawatir sama kamu, Drew."
Suara lembut Rissa membuka hening yang sudah lama menemani. Drew berpaling dan mendapati Rissa memegang dua cangkir. Siang ini, dia memang menerima undangan Rissa untuk makan bersama sekaligus ingin membicarakan hubungan mereka lebih lanjut. Ketakutan demi ketakutan menghantuinya. Jika dia menahannya lebih lama, mereka akan semakin tersiksa.
"Kamu sekalipun enggak terlihat bahagia semenjak pertunangan kita." Rissa mengulurkan minuman yang kepulan asapnya menari-nari di udara. Dia duduk di ujung birai jendela yang kacanya menutup. "Beberapa hari ini, aku ingin berpura-pura buta. Mungkin, itu efek syok karena Mami begitu cepat melangsungkan pertunangan kita. Makin ke sini, aku enggak bisa mengabaikannya."
"Maafkan aku, Ris." Drew lantas menutup mulut. Sebagai respons awal, ucapan itu sudah berartinya banyak hal. Sementara waktu, dia menahan diri untuk mengutarakan semuanya secara langsung.
"Kamu terlalu sering minta maaf." Rissa membuang desah yang panjang dan ikut mengamati langit polos di atas sana. "Itu... membuatku ketakutan setengah mati. Drew, aku selalu menyesalkan keputusanku karena memutuskan hubungan kita sebelum ini. Hanya setahun dan kamu berubah banyak."
"Jangan pernah berpikir kalau aku sedang menghukummu." Drew meneguk minuman. Kopi hitam tersebut mengaliri kerongkongan yang kering. Dipandanginya perempuan berwajah cemberut itu. Kesedihan begitu jelas di mata hitam pekat Rissa. "Aku mencoba untuk terus memupuk perasaanku untukmu. Aku enggak pernah menyangka, perasaan itu pelan-pelan lenyap. Awalnya, aku mencoba mengejar seseorang yang kelihatan menarik." Saat itu, Drew hanya berpikir mengalihkan pikirannya dengan mengencani seseorang. Nyatanya, cukup berhasil. "Lalu, aku bertemu Eisha," suaranya pelan-pelan mengecil. Tanpa memandang Rissa, dia melanjutkan ucapannya, "Dalam waktu singkat itu, aku begitu mudah jatuh cinta dengannya." Dipejamkan mata dan segala kenangannya dengan perempuan itu teraduk-aduk di kepala. "Sampai sekarang, aku masih mencintainya."
Detik berikutnya, keduanya dilingkupi keheningan. Sesekali, Drew akan mengintip demi mengukur reaksi perempuan yang memegang erat gelasnya. Rissa senantiasa menunduk. Helai-helai rambutnya kini jatuh ke sisi wajahnya. Drew membuka mulut. Celaka, dia sulit melontarkan satu kata pun. Apakah karena kini dia diserang rasa bersalah? Apakah lebih baik menarik kembali kalimatnya? Tentu saja ucapannya pasti melukai Rissa.
"Tapi... tapi kamu hanya menghabiskan sedikit waktu dengan Eisha, Drew." Rissa menatap. Tak ada air mata yang mengalir di wajah cantik nan seduh tersebut. Namun, bola matanya menguarkan rasa pahit tak tertahankan. Drew hendak menyongsong tubuh itu agar bisa memeluk Rissa dan mengurai rasa sedihnya. Keinginan yang tak terwujud karena dia tetap memaku tubuhnya di ujung birai. "Waktu sedikit itu semestinya enggak berarti apa pun dibandingkan waktu yang kita berdua lewati."
Segala yang Rissa ucapkan memang benar. Eisha bisa saja dilupakan dengan mudah. Semakin harapan tersebut diucapkan, semakin perempuan itu sulit dilupakan. "Ya, kamu satu-satunya perempuan yang berhubungan denganku cukup lama."
"Apa perempuan itu jauh lebih baik dariku?"
"Bukan seperti itu, Ris."
Rissa mengernyit tidak mengerti. Dia membasahi bibir bawah. Lalu, dia berkomentar, "Tentu saja dia enggak lebih baik dariku. Aku satu-satunya perempuan yang mengetahui jauh lebih baik dari pada semua mantanmu. Tapi, aku masih enggak mengerti kenapa kamu masih memikirkannya?"
Drew menunduk. Dia tak memiliki pembelaan apa pun. "Karena–"
"Kamu enggak bisa memutuskanku lagi demi perempuan itu, Drew!" serunya tak terima. Rissa lantas mengelap setetes air mata yang luruh ke pipi. "Kamu yakin akan bahagian dengannya? Perempuan itu saja sudah mendepakmu!"
Drew menelengkan kepala ke kanan seraya melekukkan alis. "Siapa yang mengatakannya padamu?"
"Aku mencoba mencari tahu sedikit informasi tentangnya."
"Sekarang, kamu persis kayak Mami," cetus Drew kesal. Dia tak suka semua detail mengenai Eisha sudah dipegang oleh Rissa. "Apa kamu berniat menjatuhkannya?"
"Apa aku sejahat itu, Drew?" Rissa tampak terluka. "Mungkin, aku bukan pasangan paling baik bagimu, tapi aku enggak akan menyakiti orang lain dengan sengaja. Aku menyelidikinya semata-mata demi kebaikanmu."
Drew menggeleng dan bangkit. Tubuhnya berbalik untuk menghindari tatapan marah Rissa. "Mami menyelidiki sepanjang waktu untuk menekanku, Ris. Kamu memang enggak akan menyakiti siapa pun, aku percaya itu, tapi aku tetap enggak suka kamu memata-matai Rissa."
"Kamu berniat memutuskanku, trus apakah akan sepadan dengan yang kamu dapatkan, Drew?" Rissa mencoba bersikap tenang lagi.
"Aku hanya perlu meyakinkan Eisha," jawabnya pendek. Drew belum mematangkan rencana. Sebagai permulaan untuk mengakhiri hubungannya saja dengan Rissa, sudah sangat menyiksa. "Kalau aku membutuhkan waktu lebih lama, itu enggak masalah."
"Mungkin kamu lupa Mami enggak menyutujui hubungan kalian. Atau sebenarnya, kamu ingin putus karena ingin menentang Mami?"
"Rissa..." Drew menyugar rambut. "Tolong, lepaskan aku."
Perempuan yang masih di posisinya, lekat memandang pada Drew. Suara lirihnya begitu tajam menusuk. "Padahal, kamu bisa menolak pertunangan ini, Drew. Lalu, kenapa sekarang? Kamu memang ingin balas dendam padaku!"
"Aku enggak pernah berpikir seperti itu, Rissa. Waktu itu... waktu itu..." Drew memejam lagi. Kepalanya hendak pecah saja. Dia marah dan kecewa oleh sikap Eisha. Dia ingin menghukum perempuan itu. Alih-alih berhasil, justru Drew yang menderita karena ulahnya.
"Aku cuman jadi pelarian sesaatmu, kan?" Rissa bangkit dan memelesat kea rah Drew. Dia mengayunkan kepalan tangannya di dada bidang lelaki tersebut. "Tega kamu, Drew. Tega kamu jadiin aku pelarian demi perempuan yang kamu kenal dalam waktu dekat ini?"
Drew enggan bergerak selangkah. Dia merasa pantas menerima makian dan pukulan dari Rissa karena sikap egois dan plin-plannya.
"Seenggaknya, kamu memperlakukanku lebih baik dari ini!" tangan Rissa yang melemah akhirnya jatuh di samping tubuhnya. Dia menundukkan kepala dan terisak. "Seenggaknya, kamu masih memikirkan perasaanku, Drew."
Tak mampu merespons lebih jauh lagi, Drew bergerak dan memeluk perempuan yang sudah tersedu-sedu di dekapannya. Dia memang sangat egois. Rissa tak pantas mendapatkan perlakuan kejamnya.
"Kenapa aku enggak bisa lagi menjadi orang yang kamu cintai?"
Katakan, bagaimana Drew harus menjawabnya? Dia tak memiliki jawaban yang bisa mengobati sakit hatinya sekarang. Gantinya, dia memeluk erat perempuan ini.
"Drew, aku pasti akan begitu sakit karena kamu meninggalkanku demi perempuan lain."
"Maafkan aku, Ris. Maaf.
Untuk kali pertama semenjak mereka berkenalan, baru kali ini Rissa terisak begitu dalam seperti ini.
***
Pinrang, 14 November 2022
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro