
35. Keputusan Sulit
Ada bekas luka segaris di dekat hidung Rissa akibat kecelakaan beberapa tahun lalu, yang akan terhat jika tak mengenakan mekap, seperti hari ini. Masa-masa yang menyulitkannya karena harus mengalami perawatan intensif, belum lagi tak mudah melewati masa pemulihan. Setahun kemudian, mereka bertemu. Drew menyadari luka tersebut ketika beberapa kali pertemuan, Rissa tak mengenakan mekap.
"Bisa aja aku menghilangkan bekas luka ini, tapi aku enggak mau. Aku pengin bekas ini terus ada buat pengingat masa-masa sulitku," Ungkap perempuan ini suatu hari. Namun, obrolan mengenai kecelakaan tersebut jarang dibicarakannya. Drew enggan memaksa meski kadang begitu penasaran untuk menggali detail kejadiannya.
Beratapkan pandopo kecil, Drew tengah mengamati pecahan batu dari tebing yang menjadi pemandangan utama di Stone Garden ini. Di sisinya, Rissa berbaring. Oh, bukan, dia tertidur karena kecapekan mendaki sepanjang satu kilometer lebih. Sudah menjadi kebiasaannya padahal berkunjung ke tempat penuh bebatuan purba yang juga memiliki sebutan lain, yakni Kars Citatah, bukanlah kali pertama mereka.
Drew mengecek ponsel. Berada di ketinggian sekitar 700 mdpl menyebabkan gangguan sinyal. Andai pun sinyal tak bermasalah, dia takkan mencoba untuk mengirim chat pada Siska sementara ada Rissa di sini. Helai-helai rambut kemerahan perempuan itu turun menutupi sebagian wajahnya. Cukup pelan, Drew menyingkirkan untain tersebut. Sekian detik setelahnya, pelan-pelan, kelopak beralis lebat nan panjang itu, terbuka.
Rissa menggeliat kecil lalu melenguh pendek. Jemari lentiknya kemudian merangkum tangan Drew. "Aku tidurnya enggak bikin kamu bosan, kan?"
"Sama sekali enggak." Drew menjawil pipi kemerahan alami perempuan berwajah tirus ini. "Aku curiga kamu ketiduran karena lelah habis kerja."
Tak menjawab, Rissa justru bergerak untuk bangkit. Saat rambut panjangnya jatuh berantakan membingkai wajah, Rissa merapikannya segera. "Aku udah ada niat ke sini semenjak balik lagi dari Aussie, tapi belum ada waktu yang pas. Syukurlah kamu enggak menolak saat aku tawari."
"Jangan terlalu memaksakan diri, Ris. Kamu bolak-balik ke suatu tempat, mestinya istirahat cukup dulu." Drew hendak membahas mata panda yang diyakini terlihat karena belakangan ini Rissa pasti sering bergadang. Akan tetapi, dia tidak akan menyebutkan salah satu pemicu perempuan ini menjadi stress.
Dengan posisi tegaknya, Rissa melipat kaki, lalu menguap. "Aku, kan, kalau lagi butuh hiburan bakal ke sini, Andrew. Waktu di Batam, aku bosan banget ke pantai melulu. Di Aussie, cuacanya panas banget. Memang enggak ada yang lebih nyaman selain di rumah sendiri, ya."
Rissa, perempuan paling unik yang dikenalnya. Tipe homesick yang pekerjaannya justru sewaktu-waktu harus berpergian lama ke suatu tempat. Berdandan menjadi salah satu keahliannya, tetapi tidak senang bermekap saat tak bekerja. Orang-orang takkan percaya jika Rissa mengaku memiliki lebih banyak kaus dibanding gaun.
"Jadi, kamu udah ambil cuti?"
"Beberapa bulan." Rissa mengembuskan napas. "Sayangnya, aku enggak tahu mesti ngapain. Maksudnya, aku pengin tetap di rumah, tapi aku pasti bakal bosan enggak punya aktivitas tertentu. Kecuali kamu pengin nemenin aku main gim."
"Kebanyakan artis lagi senang bikin konten. Kenapa enggak kamu coba?" Drew beberapa kali memeriksa channel youtube perempuan kini sedang menatap ke depan, barangkali menikmati pemandangan serta kesejukannya. "Konten tentang outfit sehari-hari itu asyik juga. Liburanmu bakal produktif karena kamu tetap menghasilkan duit."
"Andai ideku lancar jaya." Seraya mengibaskan rambut tebalnya ke belakang, Rissa menambahkan. "Lagian, aku enggak mau terkesan ikut-ikutan. Tawaran endorse produk kecantikan sama makanan masih lancar, kok."
Jeda sejenak. Tak jauh di depan mereka, beberapa pasangan mengambil gambar dengan sejuta pose mesra. Hal yang menjadikan kenangan lamanya muncul. Di suatu tempat di sini, Drew dan Rissa bahkan mengukir nama mereka di sebuah batu. Saat menoleh, matanya menangkap pandangan sendu perempuan di sisinya yang tak berkedip sedikit pun. "Ada apa?"
Tawa kecil Rissa terdengar. "Semua hal yang pernah terjadi di antara kita akan menjadi kenangan. Aku selalu mengira, kita akan menjadi selamanya. Ternyata enggak bisa lagi."
"Rissa..." Drew merasa perih menyadari perubahan murung di wajah cantik perempuan yang menunduk ini. Namun, sulit untuk melakukan penghiburan karena kosakatanya menghilang.
"Selama berpisah, aku terus memikirkan hubungan kita yang bermasalah. Kamu yang enggak mau mengerti tentang segala keputusanku. Kamu yang bersikap semaumu. Tapi kemudian, aku menjadi sadar, itu karena aku yang membuatmu seperti itu." Tangan Rissa menjangkau wajah Drew. Mengusapnya pelan. "Aku masih cinta sama kamu."
"Hal yang tak pernah ingin aku lakukan yakni menyakitimu."
"I knew it. Makanya, aku sesayang itu sama kamu, Drew. Tolong, gimana agar aku bisa melupakan dan berpaling pada lelaki lain."
"Pasti sulit." Drew mengambil tangan Rissa, lalu mengaitkan jemari mereka di pangkuannya. "Menemukan lelaki lain yang lebih hebat dariku."
"Ya, kamu benar."
Drew meringis. Dugaannya, candaan tadi akan menerbitkan sedikit senyum di wajah cantik perempuan berwajah sendu di depannya. "Ris, aku enggak mau mengulang kejadian sebelum ini. Kita bersama karena saling mencintai, tetapi tetap menyakiti."
"Itu murni kesalahanku."
"Bukan." Drew menggeleng. Sikapnya juga memberi andil pada hubungan yang semakin tidak menyenangkan di antara mereka. Dia bersikap tidak acuh ketika Rissa seperti itu. Selama ini, dia juga bersikap egois. "Seandainya aku bersikap lebih dewasa menghadapimu. Aku malah kekanakan. Selalu berusaha mengimbangi sikapmu yang menurutku berlebihan."
Rissa tak ingin menanggapi. Kali ini, dia ingin diam saja. Tautan tangan mereka lepas, kemudian Rissa masuk ke pelukan lelaki yang sudah dicintainya sejak pertemuan pertama mereka.
"Please, jangan menangis."
"Aku lagi enggak pengin menangis," Rissa mengaku. "Udah terlalu sering juga."
Kontan, Drew menegang mendengar pengakuan perempuan di pelukannya. Apakah Rissa menangis karena dirinya? Bagaimana mungkin dia mengakui pernah teramat mencintai perempuan ini jika terus membuatnya menangis?
"Drew, jangan dilepas."
"Kamu enggak khawatir bakal diliatin orang-orang?" Drew memancing Rissa. Semata-mata bukan karena tak menyukai pelukan ini melainkan ingin tahu apa saja yang pernah membuat Rissa tersakiti.
"Ya, semua pasangan itu sibuk sama urusan masing-masing, kok." Suara Rissa teredam. "Serius, aku suka kayak gini. Tapi..." Dia menaikkan kepala demi memandang Drew. "Kenapa, sih, kamu ganti parfum?"
"Aku cuma penasaran," Drew tak menyangka akan menjawab begitu cepat. Parfum ini dipilih karena ucapan Eisha saat bertemu tempo hari. "Kamu suka?"
"Harum. Enak, kok, aromanya." Rissa mengendus kerah T-shirt putih tersebut. "Aku lebih suka yang dulu. Seperti ini aku hanya merasa, kita benar-benar akan pisah dan aku khawatir enggak pernah melihatmu lagi."
"Rissa."
"Ya?"
Drew mengerjap setelah memantapkan hati. "Kita enggak akan berpisah. Aku enggak mau menjanjikan apa pun, tapi gimana kalau kita benar-benar memulai ini dari awal."
Rissa mengangguk cepat. "Aku enggak akan memaksa, kok. Lagi pula, aku ingin memilikimu karena kamu juga mengharapkan hal yang sama. Jadi, kita akan memulainya seperti seorang teman yang baru bertemu." Saat melengkungkan bibir, dia menambahkan, "Sebelum ini, kita enggak punya kenangan buruk bagaimana hubungan kita berakhir."
"Oke."
"Drew, aku tetap boleh bilang aku cinta kamu, kan?"
Drew mengiakan begitu cepat walau sungguh berat melakukannya.
***
Pinrang, 07 Oktober 2022
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro