Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

27. Terjebak Lagi

"Mami pasti ngamuk kalau kamu enggak pergi, Drew."

Wadah berisi sereal itu tampak tak berkurang karena Drew hanya menyuap sesekali. Telepon dari Agnes yang berusaha meyakinkannya agar hadir di acara ulang tahun pernikahan orang tua mereka. Padahal, tanpa memaksanya pun, Drew tetap akan pergi. Bukan demi Mami, melainkan kesempatan yang bisa saja terlewat bertemu relasi baru. "Aku pasti pergi."

"Beneran?"

"Kalau Mami mengundang banyak pebisnis, aku pasti hadir. Jadi, kamu bisa menutup telepon dan membiarkanku menyelesaikan makanan."

"Udah pukul sembilan dan kamu baru sarapan?"

Barangkali jika Naura tak berbaik hati membukakan pintu unitnya, Drew sudah kelaparan menunggu orderan makanan. "Aku bangun agak telat."

"Karena baru pulang dari kelab pas subuh, kan?"

Drew bahkan tidak pernah lagi ke tempat seperti itu semenjak kasusnya. Mami yang memberikannya ultimatum untuk membatasi diri sementara waktu. Setidaknya, Jumat malamnya tidak mengenaskan, ada Siska yang menemaninya mengobrol hingga dua jam lebih. Usai mencerikan perlakuan menyebalkan Mami, Drew tertidur cukup pulas. Saat bangun, perutnya kelaparan dan dia tidak mampu menunggu lebih lama. Dia menelepon Naura, tetapi si tuan rumah langsung pergi setelah menyiapkan sarapan seadanya.

"Aku bakal diomelin lebih lama lagi, ya?"

Agnes terkekeh. Tidak sedikit pun merasa bersalah sudah menyita waktu Drew lebih banyak. "Tolong, deh, kamu ambilin gaunku di butik langganan kita, Drew. Tante Enno ada di butiknya pukul sepuluh, kamu enggak boleh telat. Tahu sendiri beliaunya sesibuk apa. Oke, Drew. Love you more."

Akhirnya percakapan mereka berakhir juga. Drew mulai menyantap sereal kemudian memindai pandangannya pada wadah lain berisi buah dan segelas air putih. Drew berdengkus. Dia bergerak ke lemari pendingin demi memastikan sendiri apa betul di sana tak ada minuman berkarbonasi.

Rak-rak lemari pendingin lebih banyak terisi sayuran dan buah yang tak lagi segar. Lalu, botol air mineral yang sebagiannya nyaris habis. Dalam beberapa hal, Drew selalu lebih baik daripada rekannya yang kini sudah pacaran.

Pada akhirnya, Drew beranjak kembali pada tempatnya semula. Tepat ketika dia menempatkan tubuhnya di kursi, matanya menangkap pemandangan di luar tatkalau hujan turun begitu derasnya. Padahal dia berencana ke CRIMSOM usai sarapan. Sendok dalam genggamannya urung menyendok sereal ketika tiba-tiba bel berdentang. Siapa tamu yang sedang mengunjungi Naura saat ini? Drew enggan bergerak untuk membuka pintu. Menghabiskan sarapannya jauh lebih penting. Namun, dentang bel itu tak juga berhenti.

Karena berjanji akan menjadi tamu baik hati, Drew akan mengecek pengunjung di luar. Saat membuka pintu dan menemukan seseorang di baliknya, dia sedikit menyesal tak mengintip terlebih dahulu agar bisa membuat Eisha yang memelotot karena terkesiap, berdiri lebih lama.

Sebelum melontarkan sepatah kata, Drew menarik dan mengembuskan napas. "Kamu lagi."

"Percaya, deh, aku juga malas ketemu sama kamu."

Di kusen pintu, Drew menyandar lalu mengangkat ujung bibir. "Oh, ya? Kamu bisa angkat kaki sekarang juga."

Eisha mengerjap. Apa pun urusan perempuan berambut sebahu ini dengan Naura, Drew tak peduli. Dia yang sekarang menjadi tuan rumah jadi tak perlu merasa bersalah untuk mengusir Eisha. "Aku... aku pengin ketemu dengan Naura." Perempuan itu melongok ke belakang Drew. "Naura di dalam? Tapi, sebentar, kalian pacaran?"

"Apa setelah tahu informasi mengenai kami, kamu bakal menyebarkannya di kantor?"

"Enggak juga. Aku pengin tahu aja." Eisha masih berusaha mencari keberadaan Naura dengan terus melongok sembari berjinjit. Usaha yang sia-sia. "Panggilkan aku Naura, dong."

"Dia tertidur." Cetus Drew, tidak mengacuhkan bagaimana Eisha menunjukkan dengan jelas keterkejutannya. "Aku membuatnya sibuk tadi."

"Euw, aku enggak perlu petunjuk apa yang sedang kalian lakukan. Tapi begini, aku bela-belain datang buat mengambil sesuatu. Jadi, kamu bangunkan dia sekarang."

Harusnya Drew tak mengarang cerita tadi. Pembicaraan antara dirinya dan Eisha akan melebar ke mana-mana jika mengaku sedang berbohong. "Akan kusampaikan saat Naura bangun, sekarang pergilah."

"Drew, begini." Eisha menjilat bibir. Tindakan yang menarik Drew menatap bibir pink lembut itu sekilas. "Ponselku bermasalah karena jatuh saat turun dari taksi online tadi." Tangannya bergerak membuka tas selempang kecil dan menarik bungkusan rapi berwarna cokelat saat berkata, "Pinjami aku ponsel dong. Dan ini, titipan buat Naura."

"Semestinya kamu menyuruh taksi tadi untuk menunggu. Kenapa perempuan selalu ribet begin?"

Tampak tidak terima, Eisha berseru, "Mana aku tahu supirnya sudah menerima orderan lain? Drew, kalau kamu enggak pengin membantu, biar aku yang ke dalam."

"Mau ngapain?"

"Bangunin Nauralah." Seraya menaikkan dagu, Eisha berbicara ketus. "Kamu toh enggak bisa diandelin, kan?"

"Tujuanmu ke mana?" Drew masih mencekal lengan perempuan yang senantiasa ingin bergerak ke dalam. "Biar aku yang memesankan grab."

Alih-alih menjawab, Eisha justru menudingkan tuduhan lain. "Drew, kamu khawatir banget kalau aku masuk. Naura tidur di sofa?" diarahkan matanya demi menilik penampilan lelaki berpakaian turtle neck di depannya.

"Kamu tunggu di sini!" Drew tak memberikan jawaban apa pun atas tuduhan yang berkelebat cukup jelas dalam pandangan perempuan ini. Semua bermula dari kebohongannya. Sekarang, dia kelabakan.

Mulanya, Drew berniat mengisengi Eisha. Dia tak menyangka akan menjadi rumit karena perempuan yang memilih berkunjung di pagi ini malah membutuhkan ponsel. Begitu ponselnya berada dalam genggaman, dia membelalak saat menyadari pukul sembilan lewat. Drew lantas mengambil pir di wadah kemudian bergegas ke depan.

"Tadi, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu bakal ke mana?" Drew membuka aplikasi agar bisa memesan grab. Setelah ini, dia akan meninggalkan Eisha di sini. Jika sungguh telat sampai di butik, Agnes akan menelepon tak henti.

"Ke kantor."

Drew melangkah ke luar dan menarik pintu di belakangnya. "Kebetulan, aku juga pengin ke sana. Kita bareng aja." Dia harus bergegas kembali ke unitnya. Langkahnya panjang-panjang sementara di belakang, Eisha berusaha mengonfirmasi apa yang baru saja Drew katakan. "Ya, Eisha, aku berencana pengin ke kantor saat kamu muncul di depan unit Naura. Jangan khawatir, Naura bukan tipe pencemburu."

Saat di mobil, Eisha tidak banyak mengobrol, fokusnya tercurah pada Ipad. Begitu lebih baik hingga perjalanan ini akan lebih singkat. Namun, suara perempuan itu terdengar ketika Drew berbelok. "Bukankah jaraknya bakal lebih jauh kalau kita lewat rute ini?"

Tatapan Drew tetap terpusat di depannya. Hujan belum juga berhenti, sepertinya makin deras saja. "Aku harus singgah ke suatu tempat." Sedetik kemudian, telinganya menangkap embus napas lelah. "Ini akan lebih cepat kalau kamu kembali sibuk, Eisha."

"You gotta know, aku juga capek ngomong sama kamu."

Meski hujan tengah membasahi sebagian wilayah Bandung, bangunan megah yang Drew kunjungi tak terlihat sepi. Dinding cermin pada kedua sisi butik memperlihatkan aktivitas di dalamnya. Beberapa pasangan tengah memperhatikan rancangan baru dari desainer sekaligus pemilik butik ini. Dan, sebelum Drew mengulurkan tangan demi membuka pintu, sesosok perempuan berambut bob yang tampak ramah terlihat.

Senyum Drew mengembang ketika menyapa Tante Enno. "Tante, Agnes mengutuskan untuk mengambil gaun pesannanya."

Namun, Tante Enno lebih tertarik meneliti sosok di belakang Drew. "Siapa perempuan cantik yang kamu bawa ke sini, Drew? Dia butuh gaun juga, ya?"

Drew menahan diri agar tak meringis. "Dia rekan kerja."

"Halo," Tante Enno sepertinya tak terpengaruh pada ucapan Drew. Beliau menjulurkan tangan yang segera Eisha balas. "Aku yang seringnya ditunjuk Drew dan keluarganya jika membutuhkan pakaian untuk acara-acara tertentu. Beberapa sampel pakaian yang kudesain bisa kamu lihat sendiri." Perempuan cantik dan mungil ini kembali pada Drew. "Sementara aku ke dalam, kamu bisa menemani rekanmu melihat-lihat."

"Aku bahkan enggak perlu mendekat buat memastikan gaunnya memang detail dan mewah." Eisha lantas menunjuk beberapa yang ada di display. "Omong-omong, Agnes siapa lagi, Drew?"

Diabaikan pertanyaan Eisha karena teralih pada coat pink di salah satu hanging chair. Tangannya menyentuh coat lembut tersebut dan senyumnya mencuat. Dia sepertinya ingin menghadiahkan pakaian ini pada seseorang.

Bersamaan dengan itu, Tante Enno muncul. Senyum di wajahnya memang tak pernah redup. "Oh, kamu beruntung melihatnya lebih dulu, Drew."

"Tolong, simpankan ini. Aku perlu detail yang jelas sebelum memberitahu apa perlu meminta Tante untuk melakukan sedikit perombakan atau lebih dari itu."

Coat itu semoga cocok untuk Siska. Atau setidaknya, Tante Enno tak perlu mengubah detail yang banyak. Kini, Drew bergerak ke sisi kanan hanging chair. Eisha berdiri di sana, tetapi memancangkan perhatian ke luar butik. Drew melangkah, tetapi ponsel yang bergetar pertanda chat yang masuk membuatnya beralih fokus.

Agnes menanyakan posisinya sekarang. Drew memutar bola mata, baru saja akan memotret bungkusan dengan tulisan butik langganan mereka, lalu suara denting kaca serta jeritan kecil menyelanya.

Kejadiannya cukup tiba-tiba. Drew melengak dan mendapati Eisha yang bergerak ke belakang tanpa rem. Kalau dia tak sigap membentangkan tangan, perempuan yang akhirnya masuk dalam pelukannya ini, pasti akan menabrak lantai yang mereka pijak.

Pecahan cangkir terserak di lantai. Seorang pria tua mendekat pada Drew lalu beralih pada Eisha. "Maafkan kecerobohan saya."

"Kamu enggak apa-apa, Eisha?" Drew lantas mendapati bekas kemerahan di lengan perempuan yang sedang meringis ini. "Hei, lenganmu!"

Eisha berkali-kali mengatakan dirinya baik-baik saja pada pengunjung pria tadi. Tante Enno sigap memanggil asistennya yang segera memberikan bantuan dengan mengoleskan salep. Drew ingin protes pada pengunjung pria yang sudah menyebakan insiden kecil ini, tetapi Eisha malah menahannya.

"Cuman luka ringan, kok." Eisha menunjukkan perban yang membalut lengannya. "Semestinya enggak perlu dibeginiin."

Mereka masih berada di ruang tengah. Minuman hangat dan camilan tersedia di meja. Sekilas, Drew melirik pada dinding kaca di belakang. Jalanan sudah cukup basah karena hujan sepertinya akan lama. "Sejak tadi, kamu selalu bilang enggak apa-apa, tak perlu dibesarkan karena hanya luka kecil, tapi aku melihatmu hampir menangis tadi."

Bibir perempuan yang terbuka itu rupanya tak melontarkan kalimat sanggahan. Eisha melengak dan memandang cukup lama. "Omong-omong, aku berutang budi sama kamu. Makasih."

"Maksudnya, saat aku memelukmu?"

Tak seperti sebelumnya, Eisha malah menyunggingkan senyum yang begitu manis. Drew malah terheran-heran karena sikap aneh tersebut. "Kurasa enggak ada yang kamu lewatkan, kan?" ucapnya sinis.

"You got my point." Drew takkan membiarkan perempuan itu menang. Maka, "Dibandingkan aroma valina saat bertemu di supermarket, aroma citrus ini lebih cocok untukmu. Lime bassil and mandarin, is that true?" Drew lega ketika wajah datar Eisha berubah semringah. "Oh iya, Naura dan aku enggak seperti yang kamu kira. Dia langsung pergi setelah menyiapkan sarapan untukku."

***

Pinrang, 28 September 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro