Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

15. Mengenang Cinta

            Kudapan dan sebotol minuman ada di meja. Drew menempatkan dirinya di kursi dengan ujung tumit di birai balkon. Sepulangnya dari kantor, dia mandi lalu rehat sejenak dengan bermain game di ponsel. Keheningan yang mengisi apartemen ini mendatangkan kenangan lagi mengenai kemunculan Rissa.

Pukul delapan lebih sedikit, Drew memutuskan menelepon Siska. Perempuan itu teman curhat yang menyenangkan. Namun, terlalu dini mengungkap semua keresahannya. Jika di kemudian hari percakapan mereka tidak berakhir membosankan, mungkin dia akan menyewa jasa perempuan itu jauh lebih lama.

Telepon terhubung dalam waktu cepat. Suara Siska muncul, "Selamat malam."

Sapaan yang menurut Drew kelewat formal. Dibalasnya dengan, "Malam, Siska. Semoga hari yang kamu lalui siang tadi menyenangkan."

"Hei, kamu jangan nyuri kalimatku, dong!"

Tangan kanan Drew menjangkau stoples dan membukanya. Kukis bertabur cokelat diraihnya. "Dengar, kalimat barusan itu enggak boleh kamu ucapkan padaku." Lalu, dia menggigit ujung kukis. Kudapan ini pemberian Rissa tempo hari. Baru sekarang Drew mencicipinya.

"Formal banget, ya?"

"Nah." Omong-omong, kukis ini enak. Gurih, tidak terlalu manis, dan cokelatnya bukan jenis yang terlalu banyak menggunakan pemanis. Ah, perempuan itu memang sangat tahu selera Drew. "Aku punya keluhan."

"Kamu butuh sarang, enggak?"

Stoples yang ada di meja, kini dipindahkan Drew ke pangkuannya. Matanya lurus menatap pemandangan malam Bandung. Gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Lalu, saat memandang ke bawah, kerlip lampu ada di mana-mana.

"Ya, persis kayak gitu."

"Ini masalah kerjaankah?"

"Aku ahli dalam kerjaanku." Drew sedikit menyombongkan diri. Hambatan yang ditemuinya tidak lantas membuatnya mengeluh. Orang-orang mengenalnya seperti itu. "Ini masalah pribadi yang semestinya bisa kuatasi, tapi aku bingung."

"Jangan-jangan, soal cewek."

Tebakan yang tepat sasarannya. Drew sampai melepas senyum ketika dengan mudahnya Siska menjawab. "Sekarang aku yakin, sebagian klienmu mengeluhkan hal yang sama."

Namun, Siska malah bertanya, membuat Drew semakin sulit mengatakan hal tersebut. "Masalah pelik apa yang sedang membuatmu bingung?"

Kemunculan Rissa menjadi beban lain yang belum menemukan solusi. Apakah mereka tidak bisa menjadi teman saja? Lalu, sebuah kukis kembali digigit Drew, sebelum dia menjawab. "Mantanku muncul."

Rupanya Siska tak langsung menjawab. Jeda yang berlalu ini menciptakan hening yang terasa panjang. Drew sempat memastikan layar, mungkin panggilan mereka terputus. Sinyal ponsel lancar dan panggilan ini terus berlanjut. "Andi, maaf. Aku belum paham letak masalahnya. Kamu menjalin hubungan dengan seseorang lalu mantanmu muncul? Begitu?"

"Untungnya, enggak ada drama seperti itu. Sebutlah namanya Clara, dia pengin kami menjalin hubungan seperti yang dulu." Drew mengembuskan napas. Kini, dia menarik kakinya dari birai kemudian melipatnya. "Clara perempuan sempurna. Aku pernah sangat mencintainya." Drew bahkan tak masalah jika seringkali diolok bucin oleh Alby. "Lalu, semuanya pelan-pelan berubah. Kami jadi sering bertengkar dan akhirnya sepakat menyudahi hubungan itu."

Keputusan yang sungguh-sungguh tak mudah. Drew begitu marah pada Rissa. Tega sekali perempuan itu pergi hanya karena alasan lelah dengan hubungan mereka. Meski Drew sempat sakit hati, tetapi dia bangkit. Dia menyadari satu hal, berpisah adalah hal terbaik yang pernah mereka lakukan.

Drew kembali menyahut. "Aku hanya enggak mau mengulang kembali kesalahan yang sama."

"Atau sebenarnya, kamu udah enggak cinta sama Clara."

"Well, aku masih mencintainya meski kadarnya enggak seperti yang dulu." Mengungkapkan kejujuran ini sedikit mengurangi beban. Ini sungguh aneh. Pada Alby, dia bersikeras sudah melupakan perasaannya untuk Rissa. "Setelah berpisah, Clara menjauh begitu saja. Menyibukkan diri dengan kariernya. Lalu, setahun lebih kepergiannya, dia kembali."

"Aku enggak tahu apa kamu trauma pada hubungan yang pernah kalian jalani atau enggak. Aku menebak, kamu enggak bisa sepenuhnya jujur dengan Clara."

Perempuan ini kenapa begitu mudah melemparkan dugaan? Kalau Siska memiliki klien yang banyak, Drew tidak akan kaget. "Aku takut, menolak berarti membuatnya kecewa dan patah hati."

"Clara pasti perempuan yang beruntung memilikimu, Andi." Siska sempat terdiam. Lalu, "Omong-omong, aku salut dengan keberanian Clara. Bertemu lagi dengan mantan setelah berpisah cukup lama pasti canggung banget."

"Dia tipe perempuan yang tahu betul apa yang diinginkan. Salah satu dari banyak hal yang aku suka darinya. Meski begitu, tetap saja aku enggak menyangka akan syok mendengar pengakuannya."

"Clara pasti bisa menebak isi pikiranmu saat melihat reaksimu."

Dan, begitu mudahnya Rissa memudarkan perasaan gamang Drew waktu itu. Kecupannya membawa kenangan indah saat mereka bersama. Bukannya memutuskan jarak, Drew malah menarik Rissa lalu memeluk begitu erat. Keduanya baru memisahkan diri tatkala ciuman itu membuat sesak napas.

"Kalau aku terjebak di situasi yang sama..." Siska menyela isi pikiran Drew. "Aku perlu memastikan dulu perasaanku lalu membuat kesepakatan kalau akhirnya memilih kembali bersama."

"Kesepakatan? Misalnya, kami perlu membuat aturan agar kejadian yang lalu enggak terulang?" posisi Drew yang sekarang agak membuat tubuhnya tegang. Dia bangkit lalu menepi di balkon. Tatapannya berkenala di langit gelap. "Itu opsi yang bagus."

"Lebih ke introspeksi diri, sih, Di." Siska menjawab jauh lebih cepat dari sebelumnya. Terdengar derit pintu di seberang. "Kira-kira, apa yang bikin hubungan kami yang pertama gagal. Itu yang akan kami perbaiki dan enggak akan mengulangnya. Buat apa kembali jika mengulang hubungan yang toksik? Aku mending jomlo aja."

"Walaupun kamu masih benar-benar mencintai seseorang itu?"

"Hubungan akan bertahan jika diperjuangkan dari kedua pihak. Itu menurutku, seseorang yang belum memikirkan satu pun alasan untuk berkomitmen."

Tiba-tiba saja, Drew melepaskan desah sembari berbalik. Pinggangnya menyentuh birai. Satu tangan masuk ke saku celana olahraga yang dikenakan. Mulutnya membuka, tetapi kalimatnya lesap begitu saja.

"Kadang, masalah percintaan memang bisa menjadi masalah paling rumit sedunia."

Untuk komentar Siska, Drew merepons dengan kekehan. "Jangan-jangan, itu yang memengaruhimu untuk enggak berkomitmen dulu."

"Bukan." Siswa mengekeh. "Aku menyaksikan kisah cinta orang-orang terdekat. Sejauh ini, belum ada seseorang yang begitu menarik..." Di seberang, perempuan yang menemaninya sedang berdecak. "Ceritakan tentang Clara kalau kamu enggak keberatan."

Sangat mudah mendeskripsikan Rissa. Namun, Drew tetap memejam demi membayangkan detail sempurna perempuan tersebut. "Dia beneran cantik. Bukan jenis cantik yang membosankan. Karena, sekali menatap Clara, seseorang akan terus ingin melakukannya. Aku belum pernah bertemu dengan perempuan yang begitu mandiri dan penuh tekad."

Mami yang mengenalkan Rissa di suatu perjamuan. Saat itu, Drew sudah bisa menebak tujuan Mami, tetapi kecantikan perempuan itu langsung memerangkap Drew. Dia jatuh dengan mudah, lalu berusaha sekuat tenaga menjadikan Rissa miliknya. Pengejarannya yang panjang membuahkan hasil. Sayang, mereka akhirnya berpisah.

"Siska, aku bisa membicarakan Clara sepanjang waktu. Bisa-bisa, kamu malah jatuh tertidur nanti."

"Lho, enggak apa-apa. Aku janji enggak akan ketiduran. Kamu ngomong seberapa lama pun bakal kuladeni."

"Pasti karena iming-iming bayarannya, kan?"

Siswa tak mampu menahan gelaknya. Sesudahnya, dia berkata dengan serius. "Kamu masih mencinta Clara, Andi. Bicarakan perkara baikan ini dengan kepala yang dingin."

Drew mungkin bisa mempertimbangkan usulan dari Siska. Lagi pula, dia belum menemukan perempuan yang mampu mengalahkan Rissa.

***

Pinrang, 16 September 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro