Vote & comment banyak-banyak 💃
Bab 5. Rencana Awal
Setelah berdebat panjang lebar dan saling tawar menawar harga, akhirnya Eha dan mbah Kohar membuat kesepakatan. Jika ilmu pengasihannya manjur, maka Eha harus membayar mbah Kohar sebesar satu juta rupiah. Dan, jika gagal, maka mbah Kohar harus mau mengganti semua kerugian.
Sriatun menggerutu dalam hati karena harus melakukan ritual yang di anggapnya tidak masuk akal. Bagaimana tidak kesal jika di suruh mandi kembang tujuh rupa pada malam Jumat jam 12 tengah malam di sebuah telaga.
Belum lagi di suruh puasa selama 7 hari berturut-turut. Kata mbah Kohar itu semua untuk memperkuat efek pengasihan yang akan dia berikan nanti.
Mbah Kohar menjelaskan secara terperinci perihal ilmu pengasihan yang akan dia berikan pada Sriatun.
"Sekali lagi Mbah tanya pada kalian, mau pengasihan biar disukai orang banyak atau hanya lawan jenis?" Sriatun menoleh pada Eha.
"Kalau bisa mah keduanya, Mbah," jawab Eha enteng. Mbah Kohar memutar mata jengah mendengar jawaban tamunya.
"Pilih salah satu. Jadi manusia kok serakah bener!" Gerutunya sembari menatap tak suka.
Eha menatap keponakannya lalu memberi isyarat. "Untuk disukai lawan jenis saja, Mbah,"
"Baik. Dengarkan, buka telinga lebar-lebar," kata mbah Kohar. "Ada beberapa jenis pengasihan, dan, salah satunya bisa membuat lawan jenis klepek-klepek. Khusus untuk bisa di sukai lawan jenis dan orang banyak.
Karakteristik dari ilmu pengasihan itu berbeda. Ajian atau amalan yang merupakan gabungan dari amalan dalam agama seperti berpuasa, zikir dan membaca gabungan lafaz tertentu yang di ambil dari ayat Qur'an. Tapi, ada juga ilmu pengasihan yang mantranya berdasarkan ilmu-ilmu kejawen.
Salah satunya yang terkenal sejak Zaman Mataram Kuno adalah ilmu Gendam Asmaradhana. Ilmu itu berasal dari Kidung Asmaradhana yang awalnya berisi mantra atau pitutur leluhur yang biasanya di tembangkan pada pagelaran wayang kulit sampai..."
"Aduh, Mbah, apa penjelasannya masih panjang? Sri ngantuk, Mbah, bisakah di persingkat?" Sriatun menguap lebar berkali-kali sampai mata bulatnya berair.
Mbah Kohar mendelik pada Sriatun karena sudah berani memotong ucapannya tadi. Padahal niatnya baik, hanya ingin menjelaskan secara terperinci.
"Memang gadis-gadis zaman sekarang akhlaknya cuma seujung kuku! Tahu orang tua sedang berbicara, malah menyela. Tidak tahu aturan."
Eha mencubit pinggang Sriatun yang sudah lancang berbicara. "Diem dulu, Tun, jangan asal jeplak,"
Sriatun menunduk. "Maaf," ucapnya lirih.
"Lanjut, Mbah." Tukas Eha. Dia masih penasaran dengan apa yang akan di jelaskan mbah Kohar.
Mbah Kohar membuang muka karena kesal. "Untuk keponakanmu, selain mandi kembang 7 rupa dan puasa selama 7 hari, dia juga wajib bersemedi di dekat makam tua peninggalan Belanda itu," mbah Kohar menunjuk sebuah makam bernisan tinggi dengan tulisan nama seorang Meneer yang tidak jauh dari kediamannya.
Sriatun pucat pasi seketika. Menatap makam dan juga keadaan di sekitarnya. Pohon beringin yang sangat rindang menaungi makam, menambah suasana semakin seram dan horor.
"Mbah, apa gak bisa ya? Cuma puasa ajah sama mandi kembang 7 rupa?" Sriatun bertanya karena nyalinya menciut seketika.
"Tidak bisa!" Ujar mbah Kohar setengah berteriak.
"Walah, Tun, Tun, cuma pengen kawin aja harus sengsara begini," Eha menatap kasihan Sriatun.
"Bi, bagaimana ini?"
"Terserah kalian saja, kalau setuju monggo, tidak setuju silakan keluar dari sini. Jangan lupa bayar biaya konsultasinya. Kalian sudah membuang-buang waktuku,"
Eha dan Sriatun terperangah mendengar mbah Kohar meminta biaya konsultasi.
"Biaya konsultasi?" Keduanya membeo.
Mbah Kohar mengangguk. "Kalian pikir saya apaan? Seenaknya datang lalu mau pergi begitu saja, huh?"
"Ta tapi, Mbah," Eha bingung. "Gimana ini, Tun?"
"Ini nomor rekening saya, silakan langsung transfer. Atau, kalian mau scan barcode? Ada di pintu keluar," mbah Kohar menunjuk pintu yang tadi di lewati Eha dan Sriatun.
Lagi-lagi kedua wanita itu di buat terkejut sekaligus takjub. Sekelas dukun kampung sampai memiliki nomor rekening beberapa Bank, sedangkan mereka saja hanya punya satu. Itu pun isinya bikin miris dan menangis jika dilihat.
"Allahu!" Pekik Eha. "Barcode itu bisa pake lewat hape begini gak, Mbah?" Eha menunjukan ponsel imut dari dalam tasnya.
Pundak mbah Kohar melorot melihat benda yang di sodorkan Eha padanya. "Apa ini?" tanya seraya memperhatikan saksama benda mungil ditangan.
"Ini teh ponsel Noknok, Mbah, peninggalan suami saya dulu,"
Mbah Kohar mengeluarkan benda pipih dari saku celana hitamnya. Ponsel dengan logo nanas di gigit Bajing keluaran terbaru.
Eha mencebik melihat barang milik mbah Kohar. Dalam sekedip mata predikat janda kaya almarhum juragan kambing pun menguap.
"Mbah udah kaya, punya barang bermerek begitu masih saja minta uang konsultasi," gerutu Eha.
"Hidup itu realistis. Kita butuh sandang dan juga pangan, dan, untuk mendapatkan itu kita butuh uang. Ingat, time is money. Kalian lihat itu?" ujar mbah Kohar semakin membuat Eha geram dia menunjuk beberapa foto yang di bingkai apik di dinding rumahnya.
"Memang biaya konsultasi berapa? Terus itu teh foto siapa, yah? Artis?" Eha menatap sekeliling sambil menyahuti ucapan mbah Kohar. Menatap satu persatu foto-foto wanita cantik yang terpasang di dinding.
"500 ribu rupiah saja. Karena kalian seperti orang kesusahan, jadi saya kasih diskon itu. Seharusnya 750 ribu." Mbah Kohar terdiam sejenak. "Itu istri-istri saya," katanya sambil tersenyum. Wajahnya terlihat semringah sewaktu menyebutkan kalimat istri.
Eha terkejut bukan main. Selain terkejut mendengar biaya konsultasi, juga terkejut karena melihat banyaknya istri si mbah Kohar.
"Innalillahi! Itu namanya ngerampok!" Teriak Eha tidak terima. "Tun, lebih baik kamu turuti saja syarat dari mbah Kohar. Dari pada bibi keluar duit cuma untuk bayar ludah yang nyiprat-nyiprat ini," Eha mengusap wajah yang terkena cipratan ludah mbah Kohar.
"Tapi, Bi, masa Sri harus semedi di makam? Apa tidak ada tempat yang lebih baik dari itu?"
"Udahlah, Tun, gak usah bawel. Yang penting kamu bisa kawin sama si Parmin juragan cilok itu,"
Sriatun akhirnya pasrah setelah kembali berdebat bersama bibinya. Rencananya tengah malam nanti mereka akan memulai ritual, ya itu mandi kembang.
Eha mengeluarkan berbagai macam keperluan untuk keponakannya, mulai dari kembang 7 rupa sampai kemenyan.
"Mbah, keponakan saya di mandikan di sini 'kan?!"
"Tidak. Kita akan menuju ke arah hilir kali Honje, pan tadi saya sudah katakan."
Sriatun semakin gemetar dan ketakutan mendengarnya. Kali Honje yang bagian hulu di desanya dan bermuara di sebuah telaga yang terkenal angker.
"Jangan bilang kalau kita mau ke talaga Nyangklok?" tanya Eha setelah melihat reaksi Sriatun yang ketakutan.
"Sudah tahu, masih tanya!" Balas mbah Kohar ketus.
Sementara itu di desa Legok Hangser. Suparmin tengah membereskan mangkok bekas pelanggannya makan cilok kuah. Senyum di wajahnya terus mengembang karena hari ini dagangannya ludes lebih cepat dari biasanya.
"Alhamdulillah, rezeki anak sholeh." Ucap Suparmin seraya menengadahkan tangan dan mendongak.
"Gayamu anak sholeh! Sholat aja Senin Kamis!" Seru sebuah suara mengagetkan Suparmin yang tengah berdoa.
"Heh, Wati! Apa kau kurang kerjaan? Ikut campur urusan orang saja," bibir Wati meleyot mendengar ocehan Suparmin barusan.
"Dengar ya, Suparmin, juragan cilok medit. Mana ada orang sholeh yang koar-koar ngomong kalau dirinya sholeh? Ngimpi kau!"
"Kau bilang aku medit?!"
"Iya. Medit!" Wati kembali mengatai Suparmin dengan kalimat medit alias pelit. Suparmin mendengus kesal, wajahnya memerah karena marah. Di kampungnya hanya Wati seorang yang sering menyebut dirinya medit bin pelit. Sedangkan tetangga lainnya tidak ada yang berani karena mereka takut mendapatkan siraman qalbu dari Eumak.
Padahal, dia kan bukan medit. Hanya berhemat, catet, berhemat.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro