Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bab 16. Cilok Costum

"Astagfirullah. Ini teh apa, Sri?" Suparmin menunjuk baskom berisi cilok tapi bentuk dan rupanya terlihat tidak biasa.

"Ini teh cilok, Kang." Jawab istrinya tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya tampak sibuk dengan adonan yang ada di hadapannya.

"Tapi kenapa bentuknya aneh-aneh begini, Sri?" Kembali Suparmin bertanya seraya membolak balik cilok di baskom menggunakan sendok.

"Model baru, Kang. Biar gak monoton. Masa iya cilok bentuknya bundar terus. Kali-kali buat yang mirip biji Akang,"

"Biji Akang oge da bulat atuh." Sahut Suparmin. Sejurus kemudian dia membekap mulutnya sendiri sambil berbalik dan menatap suaminya.

"Eh ... maksud Sri, mirip biji salak yang lonjong-lonjong itu, Kang," ralat Sriatun, menunduk malu karena tidak sengaja salah ucap.

"Kamu mah ingatnya punya Akang terus." Kata Suparmin sambil mencubit pipi istrinya. Gemas dengan kelakuan ajaib Sriatun yang sering membuatnya mengelus dada.

Suparmin bergeser dan mulai melakukan pekerjaannya, membuat cilok dan juga bumbu pelengkapnya. Dia tidak lagi menghiraukan istrinya yang tengah sibuk sendiri membuat cilok model terbaru katanya.

Sriatun melirik suaminya yang baru selesai merebus cilok. Lalu dia beralih menatap hasil kerjanya yang terlihat sangat berantakan. Ada perasaan takut dalam hatinya karena melihat sang suami yang terlihat acuh padanya.

"Kang." Sriatun memanggil suaminya.

Suparmin melirik sekilas, kemudian kembali fokus pada wajan. Memilih mengaduk bumbu kacang untuk cilok daripada meladeni istrinya yang sering meminta hal-hal aneh.

"Ish, Akang." Sriatun menghentakan kaki. Berbalik lalu kembali mengaduk-aduk adonan cilok yang masih tersisa separuh.

"Kenapa, Sri? Akang lagi ngaduk bumbu ini." Suparmin menoleh sekilas sambil tangan sibuk mengaduk.

Sriatun mengangkat baskom dan menunjukannya pada Suparmin. Tangan sudah pegal tapi adonan tidak juga habis. Dalam hati merasa kesal melihat sang suami yang datang belakangan tapi justru selesai terlebih dahulu.

"Ya di selesaikan. Masa iya dibuang. 'Kan sayang." Pungkas Suparmin.

Sriatun mendengus, ingin marah tapi tidak berani. Pada akhirnya dia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Sebagian adoanan dibuatnya menyerupai cilok pada umumnya dan sebagian lagi dia buat sesuka hatinya. Mulai yang berbentuk lonjong sampai menyerupai binatang peliharaan.

"Buatnya yang normal saja, Sri. Biar cepat selesai." Kata Suparmin setelah mendengar gerutuan istrinya.

"Memang setiap hari begini ya, Kang?" Tangan Suparmin berhenti mengaduk bumbu. Dia segera mematikan kompor dan berbalik menghadap istrinya.

"Iya. Inilah pekerjaan Akang selama ini. Biasanya Eumak suka bantu-bantu. Tapi sekarang lagi ikut pengajian di rumah Pak RT jadi gak bisa bantuin Akang,"

Sriatun meletakan adonan, sejenak dia menatap wajah Suparmin yang terlihat lelah dan kuyu. Ada rasa kasihan jauh di lubuk hati melihat sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.

"Akang pasti capek."

"Ya, mau gimana lagi, Sri. Ini sudah pekerjaan Akang. Cuma dari berjualan saja selama ini Akang mencari nafkah," papar Suparmin.

Sriatun tampak gelisah, entah kenapa hatinya begitu tidak tenang setelah melihat dan mendengar pengakuan suaminya barusan. Rasa bersalah itu semakin besar terasa.

Lelaki dewasa di hadapannya tampak mengerutkan dahi melihat istrinya gelisah. Ingin hati mendekat dan bertanya, tapi ragu. Keheningan bergelayut menyelimuti dua raga yang sama-sama terdiam mempertahankan ego.

Suara pintu yang dibuka menyadarkan keduanya. Mereka terlihat kikuk, lalu, untuk beberapa saat kelimpungan seolah mencari-cari apa yang hendak di pegang atau di kerjakan.

"Loh, belum selesai, Min?" Eumak datang menghampiri. Bertanya pada putra semata wayangnya yang terlihat sedang menyalakan kompor.

"Iya, Mak, belum," Suparmin tidak berani menatap wanita paruh baya di sampingnya. Dia memilih fokus memperhatikan bumbu kacang dalam wajan besar.

"Ini kok masih ada?" Eumak mengambil baskom berisi adonan cilok dari dekat menantunya. "Ya Allah, iye naon? Siapa yang buat atuh? Kok aneh semua bentuknya." Eumak terus berbicara tanpa menoleh sedikit pun pada Sriatun.

"Tadi ... em, barusan Sri yang buat, Mak." Sriatun memberanikan diri buka suara. Mengakui hasil kerjanya yang memang sangat tidak sesuai standar dunia percilokan.

"Lain kali buat yang bundar saja, Sri. Jangan aneh-aneh begitu. Kecuali kalau buat makan sendiri," kata Eumak dengan suara pelan. Walau bagaiman pun Rumak tidak ingin jika menantunya sampai tersinggung.

"Maaf, Mak,"

"Sudah tidak apa-apa. Nanti rebus saja semua." Pungkas Eumak. Tidak ingin memperpanjang masalah cilok custom buatan menantunya.

Keesokan harinya Sriatun kembali ikut berjualan. Sebelum memulai aktivitas, dia membuka rantang berisi nasi dan lauk pauk yang sengaja di bawa dari rumah. Tidak ingin seperti hari lalu yang nyaris pingsan karena lapar. Bukan tidak ada makanan, tapi karena banyaknya pelanggan membuat dirinya tidak sempat memakan apa pun.

"Kang. Sambil nunggu pelanggan datang, sebaiknya Akang makan dulu." Sriatun menyodorkan rantang berisi nasi pada suaminya.

"Tidak usah, Sri. Kamu saja yang makan," tolak Suparmin. Dia memilih menyiapkan mangkuk dan perlatan makan lainnya. Pikirnya, jika pelanggan datang nanti semua sudah siap dan tidak perlu repot.

"Tapi, Kang, takutnya seperti kemarin, sampai-sampai Akang tidak sempat makan sama sekali,"

"Akang sudah biasa, Sri," kembali penolakan di terima Sriatun. Namun, tidak ingin menyersh begitu saja.

Sriatun menyendok nasi dan sedikit dadar telur lalu menyodorkannya tepat di mulut suaminya. Suparmin terkejut, tapi tak urung mulutnya terbuka dan menerima suapan dari tangan istrinya. Suasana yang semula tenang mendadak canggung, Suparmin mengunyah makanan dengan perasaan nano-nano.

"Sri, biar Akang makan sendiri saja." Tanpa membantah Sriatun menyodorkan rantang berisi makanan pada Suparmin. Dia pun merasa malu karena sudah berbuat demikian. Menurutnya, hal itu sangatlah terasa aneh dan diluar kebiasaan dirinya.

"Kang, nanti Sri mau cilok ya?"

"Mau Akang buatin?"

"Nanti saja. Kalau Akang selesai makan."

Suparmin dan Sriatun kembali melanjutkan makan dalam hening. Hanya suara deru kendaraan dari arah jalan raya yang terdengar. Sampai makanan habis, keduanya tidak sekalipun terdengar bersuara.

Selesai menaruh rantang bekas makannya Suparmin segera menyiapkan cilok pesanan istrinya tadi. Entah kenapa hatinya begitu bahagia. Baru sekali ini Sriatun meminta sesuatu padanya.

Suparmin menyodorkan semangkuk cilok kuah pada istrinya dan langsung di terima dengan binar bahagia yang terlihat kentara dari wajah manisnya. Ya, Sriatun memang sangat manis. Tubuhnya bagus dan berkulit bersih. Memang dia memiliki kekurangan, yaitu cara berbicaranya yang teramat sangat lamban. Tapi semua itu tidak membuat Suparmin mengurangi kadar suka dan sayangnya pada sang istri. Entah sejak kapan, tapi rasa itu sudah bersemai dalam hatinya.

"Gimana rasanya, Sri?"

"Enak, Kang,"

"Alhamdulillah. Akang meraciknya khusus pake bumbu cinta."

Sriatun mengerling mendengar gombalan suaminya. Bunga-bunga seakan bermekaran dalam taman hatinya.

'Pelet Mbah Kohar ternyata sangat manjur, gak rugi aku semedi di makam Nyonya Meneer selama seminggu' batin Sriatun sambil mesem.

"Kok malah di senyumin, Sri? Udah kenyang ya?" Sriatun terperanjat mendengar suara Suparmin. Dia segera menggeleng lalu kembali melanjutkan makan cilok.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro