(demam pair ini!) 😈🕵️♂️
Hiruma memutar knop pintu, melepas sepatu, lalu berjalan menuju ruang utama, langkah terhenti saat melihat Marco tidur di sofa. Hiruma jalan mendekatinya.
Hiruma berdecak sebal, dia seharian kuliah sementara Marco tidur dengan nyenyaknya dan menyuruhnya untuk membeli makanan.
"Oi bulu mata sialan, bangun."
Marco masih tidur, sepertinya cara membangunkan seperti ini tidak ampuh.
Seringai lebar menghiasi wajah Hiruma, dia menjatuhkan kantong plastik di tangannya tepat di atas perut Marco. Cara itu langsung membuat Marco bangun dan menegakkan badan.
"Urrghh ... ada apa?" Marco merintih kesakitan, dia menyingkirkan kantong plasti dari atas perut ke meja.
"Cih, enak sekali kamu tidur disini, ah iya, aku udah beli makanan yang kamu minta, makan dan tidur."
"Hiruma engga makan?"
"Tidak, aku sudah." Hiruma membalikkan badan, lalu berjalan menuju kamar.
"Ayo makan bersama, aku tidak mungkin menghabiskan semua ini."
"Aku tidak suka makan-makanan konbini."
Marco menghela nafas panjang, padahal dia meminta Hiruma membeli banyak makan dan juga snack untuk dimakan berdua.
Marco beranjak dari sofa dan berjalan ke kamar.
"Hiruma makanlah sedikit."
"Tidak."
"Hiruma~."
"Kalau kamu bikin sesuatu akan aku makan."
"Bukankah kamu bilang masakanku tidak enak?"
Hiruma menengok ke Marco. "Kapan aku bilang begitu?"
"Eh?"
Jadi Hiruma tidak pernah niat bilang makanan buatannya itu tidak enak?
"Aku tidak pernah bilang begitu, aku mau tidur. Makanlah sampai kenyang."
"Iya deh iya."
Sesaat Marco membalikkan badan untuk kembali ke ruang utama, Hiruma tiba-tiba menarik tangannya, menarik Marco ke belakang, mendekap tubuh Marco dengan erat. Marco mati kutu, dia mulai panik, firasatnya buruk, kalau Hiruma sudah memeluknya pasti akan terjadi hal buruk selanjutnya.
"Marco."
Hiruma memanggil namanya.
Bulu kuduknya merinding, Hiruma sangat jarang memanggilnya dengan nama Marco.
"A ... apa?"
"Setelah lulus ... kamu akan ke Universitas Saikyoudai kan?"
"Eh? Soal itu ... aku tidak tahu."
Setelah jawaban itu terucap, Marco tidak mendapat balasan lagi dari Hiruma, namun dia bisa merasakan Hiruma menenggelamkan kepalanya di pundak Marco.
"Aku ... aku akan usahakan ke Saikyoudai."
Setelah itu kedua tangan Hiruma yang melingkar di pinggang Marco semakin erat memeluk.
"Aku tidak akan kemana-mana kok."
Suasana hening melanda keduanya.
"Hiruma ... aku mau lanjut makan."
"Hn."
Dahi Marco mengkerut, jawaban itu harus Marco translasi menjadi kata apa? Ya atau tidak? Masalahnya Hiruma masih memeluknya dan kayaknya tidak ada niat untuk melepaskannya.
"Hiruma ...."
"Hn."
"Hahhh ...."
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro