
Sebuah Surat
"Apakah kamu tidak mau berkenalan dengan temanku?" tanya Viozil lagi yang membuat Viora mengembuskan napas panjang.
"Emangnya, pohon ini bisa berbicara?" tanya Viora tak yakin.
"Bisa, lah!" sahut pohon manggis itu yang membuat Viora terkejut.
"Kau–"
"Sebaiknya, kamu harus lebih mengenal Dunia Tewan lagi, Viora. Memang, di dunia ini ada yang aneh tidak sama dengan duniamu di masa depan." Viora mengangguk singkat mendengar penjelasan Viozil.
"Baiklah."
"Kau berasal dari dunia apa, Nona Manis?"
"Dunia Tefan."
"Apakah kau mengenal Sugo? Laki-laki biasa yang selalu menemani Pangeran Faren."
Jantung Viora langsung berdetak sangat cepat mendengar nama itu. Ia menatap pohon itu dengan serius.
"Far–maksudnya, Pangeran Faren?" tanya Viora mengulang.
"Iya. Putra Kerajaan Yongyon. Sugo asisten pribadi Faren, apakah kau kenal?"
"Tentu saja aku mengenalnya. Faren kekasihku, sedangkan Sugo suka menggangguku saat aku berduaan dengan Faren."
"Asal kau tahu, Sugo adalah diriku di masa depan."
Mata Viora melotot tak percaya jika pohon di hadapannya sekarang adalah laki-laki yang suka mengganggunya di masa depan. Sugo menjadi pohon di masa lalu? Viora ingin tertawa terbahak-bahak sebenarnya, tapi tidak enak dengan pohon di hadapannya itu. Viora takut melukai hati pohon mangga. Eh, apakah pohon juga memiliki hati? Entahlah, jangan tanyakan itu pada Viora, karena ia juga tidak tahu jawabannya.
"Apakah kau mengenalku?" tanya Viora pada pohon itu.
"Tidak. Jika aku sebagai Sugo di masa depan, mungkin aku akan mengenalmu."
Viora mulai memahami maksud pohon itu. Jadi, diri di masa depan berbeda dengan diri di masa lalu. Seperti, Sugo yang menjadi pohon. Namun, kenapa dirinya di masa lalu sama saja di masa depan? Viora beralih menatap Viozil.
"Kenapa wajah kita sama?" tanya Viora pada Viozil.
"Kamu lupa? Kamu adalah putri Kerajaan Nigela, sampai kapan pun, kamu akan menjadi Putri Nigela," sahut Viozil.
Viora melihat telapak tangannya yang kosong, tidak memiliki apa-apa. Ia seperti menjadi yang terlemah berada di sini. Viozil meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Viora.
"Anggap saja kita saudara," ucap Viozil tersenyum. Viora segera menoleh menatap Viozil.
"Aku tak percaya, bisa bertemu dengan diriku yang dulu," ucap Viora. Gadis itu lalu memeluk Viozil yang langsung dibalas oleh gadis masa lalu itu.
"Kalian pelukan berdua saja, aku tidak dianggap," lirih sebuah suara. Viora dan Viozil terkekeh pelan lalu beralih memeluk pohon manggis itu.
"Kau juga temanku Sugo," ujar Viora.
"Jangan panggil aku Sugo. Panggil Suga, saja."
"Namamu bukannya Sugo, ya?" tanya Viora.
"Sekarang aku menjadi pohon. Namaku bertukar menjadi Suga, Sugo Mangga."
Viora terbahak, ia tak sanggup lagi menahan gejolak di dalam dirinya yang memberontak untuk tertawa. Sejak tadi, Viora sudah menahan, tapi sekarang tidak bisa lagi.
"Maaf aku tertawa, kamu pohon paling lucu yang aku temukan," ucap Viora.
"Tidak masalah, aku memang suka menghibur manusia."
"Ya udah. Vio, kita pulang, yuk!" ajak Viozil yang diangguki Viora.
"Eh, tapi pulang ke mana?" tanya Viora.
"Ke istana," jawab Viozil.
"Jadi, di sini juga ada istana?" tanya Viora tak percaya.
"Ada."
***
Istana yang dimasud oleh Viozil ternyata adalah perumahan yang disatukan dalam satu tempat lapang. Rumah paling besar di antara yang lain merupakan rumah anggota kerajaan.
"Zil, nama kerajaan ini, apa?" tanya Viora sambil menggeledah seluruh ruangan dengan matanya.
"Istana Nigela. Sama seperti di Dunia Tefan."
"Oh, apa bedanya?" tanya Viora.
"Bentuk bangunan, wilayah, fasilitas, dan orangnya tentu saja berbeda. Persamaannya hanyalah kerajaanya yaitu Kerajaan Nigela."
"Oh, iya."
Viozil membawa Viora masuk ke dalam ruangan pribadinya. Untung saja, Viozil berhasil membawa Viora masuk ke istana tanpa sepengetahuan satu orang pun.
"Kamu bisa beristirahat di sini," ucap Viozil.
"Tapi, jika ada yang tahu aku di sini, bagaimana?"
"Kita pikirkan nanti, yang pasti, mereka akan menganggap kamu adalah aku."
Viozil mengeluarkan pakaiannya di lemari lalu memberikan kepada Viora.
"Pakailah! Biar semua orang mengira kamu adalah aku."
Viora mengambil pakaian yang disodorkan kepadanya, gaun khas kerajaan berbentuk zaman dahulu sekarang berada di tangannya. Apakah Viora harus memakai pakaian seperti itu mulai detik ini?
"Baiklah," ucap Viora menerima pakaian lengkap itu.
"Ya sudah, aku mau ke luar sebentar," ujar Viozil yang diangguki oleh Viora.
"Jangan ke mana-mana, tetap di sini sampai aku kembali!" tegas Viozil.
"Iya."
Viozil berlalu dari sana dan menutup pintu, Viora memastikan Viozil benar-benar sudah pergi, ia lalu mendumel kesal. Ternyata, dirinya di masa lalu sangat cerewet, pikir Viora.
Gadis itu berangsut naik ke tempat tidur yang jauh dari kata empuk. Hanya ada papan dengan matras di atasnya. Tidak seperti kasur Viora di masa depan. Viora jadi rindu melompat-lompat di atas spring bed-nya.
Viora menggeser bantal menyesuaikan di kepalanya, tapi ada sesuatu yang terpegang oleh Viora. Gadis itu mengerinyit menemukan secarik kertas yang terlipat di bawah bantal.
"Ini surat?" tanya Viora.
Ia dengan lancang mengintip isi surat itu.
Aku tunggu nanti malam di taman belakang istana.
~R
"Ini surat dari siapa, ya?" Viora semakin bertanya-tanya.
Rasa penasaran Viora semakin menjadi-jadi, pantatnya sudah gatal ingin bangkit, kakinya sudah geli untuk melangkah ke luar kamar ini. Namun, mengingat pesan Viozil tadi, Viora mengurungkan niatnya. Ia mengembuskan napas pelan, lalu kembali merebahkan badannya.
***
Viozil duduk di sebuah ayunan tua sembari menunggu seseorang. Matanya menatap hmparan luas di depannya dengan banyak bunga yang tumbuh di sekitar.
Tiba-tiba, ada yang menutup matanya dari belakang. Viozil tersenyum mengetahui siapa pelakunya. "Aku tahu itu kamu," ucap Viozil. Pria di belakangnya terkekeh pelan lalu mulai mengayunkan ayunan itu pelan.
"Sudah lama menunggu?" tanya pria itu.
"Iya. Tapi, jika menunggu kamu, aku tidak keberatan." Laki-laki di belakang Viozil tersenyum lalu mengacak-acak rambut gadis itu.
"Maaf, ya. Aku datang terlambat."
"Apa dulu alasannya?"
"Tentu saja, karena membelikanmu ini alasannya," ucap pria itu melangkah ke hadapan Viozil, lalu menyodorkan setangkai bunga ke arah gadis itu.
"Aku tidak butuh bunga, aku hanya butuh kamu."
"Anggap saja, bunga ini sebagai simbol cintaku," ucap pria itu kembali menyodorkan bunga kepada Viozil.
"Ya udah, aku terima." Viozil mengambil bunga itu lalu menciumnya.
"Terima kasih," ucap Viozil hampir melupakan kata itu.
"Sama-sama, Tuan Putri."
***
Viora membalikkan badannya ke kanan dan kiri, mencoba mencari rasa kantuk yang tidak ada padanya. Viora sejak tadi tak kunjung tertidur. Beradaptasi dengan tempat baru memang terasa sulit jika ingin tidur. Lagi pula, Viora merasa bosan karena sudah berjam-jam ia ditinggalkan oleh Viozil. Gadis itu tak kunjung kembali.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka menampakkan Viozil yang masuk sembari tersenyum. Alis Viora bertaut melihat Viozil sepertinya tengah berbahagia, apalagi melihat sentangkai bunga di tangannya.
"Ada apa? Sepertinya, kamu bahagia sekali," tanya Viora.
"Iya, aku sedang bahagia," aku Viozil masih tersenyum lebar.
Viora hanya menatap datar lalu mengembuskan napasnya, ia ingin menghirup udara segar di luar.
"Ya udah, mumpung kamu sudah kembali, aku pengin ke luar," ujar Viora.
"Silakan," jawab Viozil mempersilakan saja.
"Oke."
Sebelum ke luar, Viora mengganti pakaiannya dahulu menyamakan dengan pakaian yang dipakai oleh Viozil. Setelah bersiap, Viora membuka pintu kamar lalu berlalu dari sana. Ia ingin berkeliling melihat istana.
Langkah Viora membawanya ke taman belakang istana yang tampak sangat menyejukkan dengan hamparan rumput hijau menyegarkan mata.
"Hei ...." Langkah Viora terhenti mendengar sebuah suara dari belakang seperti memanggilnya.
"Bukannya kamu sudah aku antar pulang? Kenapa kembali lagi?"
Viora terdiam tak berani menoleh ke belakang. Pria itu malah menarik tangannya yang membuat Viora terkejut, lalu membalikkan badannya. Ternyata, pria itu adalah ....
***
Hallo! Hai hai!
Aku comeback hihihi. Semoga ada yang nungguin! Ah, emang ada? Semoga, Bambannk!
Semoga terhibur ya, emang agak aneh gitu ceritanya, tapi tenang, nanti aku bungkus keanehan itu biar kalian gak bingung hihihi.
Jangan lupa vote and comment ya!
Muncul dund di komentar! Hihihi
Makasih semuanyaa, sayang kaliaan!
Thanks
~Amalia Ulan
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro