
6. Green
Prompt: aku jatuh cinta dengan alien
.
.
.
Kala itu Hanna mencoba untuk tertidur. Kaki kecilnya sedikit memanjat untuk menaiki ranjang sebab dirinya terlampau pendek untuk anak berumur sepuluh tahun, dan ranjangnya terlalu tinggi untuk orang bertubuh mungil.
Hanna menarik selimut, tidak lupa dia mematikan lampu tidur lalu memejamkan mata dan--- BOOM! Sebuah suara ledakan besar terdengar sangat nyaring. Hanna terlonjak dari tempatnya, dengan takut dia mencoba memeriksa dari manakah asal suara tersebut.
Kaki kecilnya berbalutkan sepatu tidur bulu-bulu putih, keluar dari dalam rumah dan menatap kegelapan di luar sana. Rumah Hanna merupakan rumah dengan lahan ladang yang luas, dia tidak punya tetangga dan saat ini orang tuanya juga sedang tidak ada di rumah. Nihil, sejauh matanya memandang hanya kosong yang diliatnya--- tapi mendadak terlihat sekilas cahaya jauh di ujung lahan ladangnya. Ada sesuatu disana, dan Hanna tidak tahu pasti apa itu.
Mencoba memberanikan diri, Hanna melangkah lebih jauh. Dirinya semakin mendekat, matanya menyipit tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kapsul melesak dan menghancurkan beberapa wilayah ladang, mengepul dan seperti hendak terbakar. Kapsul tersebut mendadak terbuka, menampilkan sesosok yang tampak seperti manusia dengan kulit hijau menyala. Sosok itu tampak tidak sadarkan diri, dan dengan memberanikan dirinya kembali Hanna mencoba bergerak mendekat dan menyentuh sosok tersebut.
"Argh..." sosok itu lantas mengerang kesakitan.
Sontak Hanna nyaris berteriak dan terjatuh ke belakang.
Sosok tersebut membuka matanya, hitam jernih bagai permata yang baru diasah. Sosok itu dengan spontan mengotak-atik mesin kapsulnya sambil berbicara dengan bahasa yang aneh, lalu mendadak terdiam sejenak dan kemudian berkata, "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut."
Hanna melotot. "K-kau... k-kau mengerti bahasaku?"
Sosok itu mengangguk. Dia keluar dari dalam kapsulnya, berdiri di hadapan Hanna. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Hanna. "Aku Van." Sosok itu mengulurkan tangan.
Hanna masih melihatnya dengan tatapan aneh, tapi Hanna menyambut uluran tangan tersebut dan anehnya saat kulit mereka bersentuhan, kulit Van seketika menjadi senada dengan Hanna.
"H-hah?!" Hanna sangat kebingungan. "B-bagaimana bisa?"
Van tersenyum lebar, terlihat kaku seolah-olah ini adalah pertamakalinya dia tersenyum. "Aku bisa beradaptasi dengan spesies kalian, untuk sementara," katanya. "Nah, sekarang bantu aku sembunyikan pesawatku, sepertinya mereka yang kau sebut orang tua akan terkejut melihatnya."
Dan begitulah pertemuan pertama mereka.
Hari berganti, bulan berganti, tahun pun berganti, Van kini hidup berbaur dengan manusia. Hanna membantunya untuk lebih berbaur dengan sekitar, terkadang Van akan membantu keluarga Hanna dalam berladang atau terkadang Van akan pergi memancing membantu anak-anak setempat.
Hampir tujuh tahun Van menetap di bumi, tidak ada tanda-tanda untuknya bergegas pulang ke planet asalnya. Sewaktu dia mendarat di bumi, pesawatnya yang berbentuk kapsul itu mengalami kerusakan parah dan butuh waktu yang sangat lama untuk memperbaikinya--- mungkin itu alasan Van masih belum pulang. Tapi Hanna senang dengan hal itu, jika demikian bukankah Van akan menetap lebih lama lagi, dan mungkin mereka bisa bersama selamanya--- berasmaa sebagai pasangan.
Hanna menyadari ada yang lain pada dirinya sendiri. Sejak setahun yang lalu cara pandangnya terhadap Van berubah total--- lebih seperti seoran gadis yang menatap pujaan hatinya. Hanna menyukai Van, dia jatuh hati pada Van dan tidak memerdulikan apakah Van merupakan manusia ataupun makhluk luar angkasa.
Jadi... pada suatu hari yang sudah Hanna siapkan dengan matang, Hanna mencoba mengungkap perasaannya pada Van. Hanya saja, bukan respon bagus yang Hanna terima. Bahkan sebelum mengungkapkan perasaannya, Van sudah menjatuhkan bom yang membuat hati Hanna hancur berkeping-keping.
"Aku akan pulang, sebentar lagi. Persiapan pesawat hampir selesai." Begitulah jelasnya. Van hendak pulang. Pesawat yang rusak, yang selama ini Van coba benarkan seorang diri akhirnya bisa memberinya tiket pulang ke planet tercinta.
Pahit. Rasanya pahit bagi Hanna. "Wah..." Hanna mencoba tegar. Dia tersenyum hambar. "Kau pasti sangat merindukan orang-orang rumah." Dan begitu pula hari itu berakhir dengan kegagalan Hanna mengungkap perasaannya.
Di malam hari, Hanna mencoba untuk tertidur, tapi pikirannya tidak tenang. Dia tidak terima dengan pernyataan Van yang sebentar lagi akan berpulang ke planet tercinta. Jadi Hanna bangkit dan mengambil senter penerang, dia keluar dari rumah menuju tempat pesembunyian pesawat milik Van--- itu berada jauh dari ladang milik keluarganya, hampir masuk ke dalam hutan. Sesampainya Hanna di sana, Van ternyata ada di tempat itu juga--- sedang berkemas.
"Kau mau pergi sekarang juga?!" Suara Hanna naik tinggi. Emosinya mendadak membuncah. "Kau tidak hendak berpamitan padaku?!"
Van menjawab dengan tenang, "Bukankah aku sudah bilang sejak tadi?" pertanyaannya terdengar retoris, "Tadi... saat kau mau menyatakan perasaanmu tapi teralihkan."
Hanna terdiam. Jadi Van tahu tentang perasaannya? Meski begitu Van tetap akan pergi?
Tak dapat dipungkiri, bulir air mata menetes begitu saja.
"Hanna," panggil Van. "Aku bisa membaca pikiran orang, jadi aku bisa tahu itu dengan mudah," jelasnya. "Tapi, kau harus sadar dengan jelas... dunia kita berbeda."
Hanna menggeleng cepat. "Tidak. Kau bisa tinggal di sini, Kita bisa melakukannya."
"Hanna..." panggil Van sekali lagi. "Aku pun berharap begitu, tapi terlalu lama di bumi tidak baik juga untukku. Aku punya keluarga yang mengkhawatirkanku."
Pahit, lagi-lagi pahit.
Hanna sadar bahwa Van punya kehidupan lain sebelum dirinya. Alangkah egois jika Hanna menahan Van hanya demi keuntungan dirinya semata. Hanna punya hati dan perasaan, demikian juga dengan Van dan 'apapun' itu yang menantinya di planet lain.
Jadi... dengan terpaksa Hanna merelakan Van pergi.
Van menghadiahkannya dengan sebuah pelukan hangat, kemudian dia masuk ke dalam pesawat dan terbang melesat jauh.
Bersamaan dengan itu, Hanna terdiam di tempat. Hening beberapa saat, sebelum sebuah kalimat terlontar, "Astaga, ini di mana? Kenapa aku bisa di sini?" Kenangan yang sengaja dihapus Van, agar hidup Hanna tetap seperti sedia kala. []
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro