Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

38 - Rencana Selanjutnya

Sebelum ada Syakira, Melisa merasa berat ditinggal kerja. Sekarang perempuan itu muncul, makin berat pula melepaskan kepergian Candra. Meski takut, bukan berarti ia mudah melarang suaminya pergi. Namanya kewajiban, ya, harus dijalankan. Perasaan orang lain bukan jaminan untuk berhenti.

Habis subuh, Candra berangkat. Melisa memutuskan tidur lagi karena semalam hanya tidur sebentar. Masa bodo dengan Sarina yang akan mengomelinya. Melisa ingin tenang sejenak. Yang penting sudah salat. Masak pun percuma, siapa yang mau makan?

Entah sudah berapa lama Melisa tertidur sampai telinganya mendengar gedoran pintu dari luar. Cahaya dari celah jendela menyilaukan mata. Melisa menguap sebentar, kemudian bangkit. Dengan malas kakinya bergerak ke arah pintu.

"Perempuan, kok, bangun siang!" Suara Sarina menyambut setelah Melisa membuka pintu.

Melisa kembali menguap. Kali ini sengaja supaya Sarina segera enyah dari kamarnya. "Emangnya ada aturan perempuan harus bangun pagi? Lagian, tadi aku udah bangun. Masalah kalo tidur lagi?"

"Pagi itu kamu harus masak!"

"Masak buat siapa? Buat Ibu? Paling ujungnya ditinggalin. Aku butuh istirahat setelah semalam melayani anak Ibu yang ganteng itu."

Sarina mendelik. "Gilani!"

"Nggak usah sok jijik, deh. Ibu, kan, pernah menikah. Pasti tahu, dong, istri harus hebat di ranjang biar nggak ada yang lirik."

"Melisa!"

"Apa Ibu mau denger juga aku bertahan berapa ronde? Atau mau tahu aku pakai baju model apa semalam? Aku kasih unjuk sekarang mumpung belum dicuci."

Masih dengan sorot mata tajam, wanita bersanggul itu balik badan, dan pergi. Melisa mengibas tangannya dan tersenyum cerah.

"Makanya jangan ganggu orang tidur."

Melisa masuk lagi ke kamar. Alih-alih melanjutkan tidurnya, ia melangkah masuk ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelah itu berganti pakaian. Tidak ada dress untuk pagi ini. Melisa kembali ke setelan pabrik, mengenakan kaus yang ditutupi outer. Selesai merias diri, Melisa memesan ojol. Karena sedang malas memasak, ia putuskan untuk langsung pergi ke kantor. Mbak Lala sebentar lagi datang, biar dia saja yang memasak untuk Sarina.

Ojek pesanan Melisa sudah datang. Perempuan itu pergi tanpa berpamitan dengan Sarina. Toh, memang jarang melakukan itu. Melisa tidak perlu mencari muka dengan berlaku sopan santun.

Melisa jadi ingat pertama kali Candra memperkenalkannya pada Sarina. Wanita itu yang lebih dulu menunjukkan raut tidak suka. Apalagi, setelah menikah, Melisa melakukan ini, melakukan itu, tidak ada tanggapan berarti dari Sarina. Lelah diperlakukan seperti itu, akhirnya Melisa menunjukkan sifat aslinya, sampai sekarang.

Sikap Sarina padanya jauh berbeda saat dengan Syakira. Sarina berubah menjadi wanita lemah lembut dan penuh perhatian. Seolah-olah memberitahu bahwa 'ini, lho, menantu yang aku inginkan' pada Melisa. Wajar, kan, kalau Melisa merasakan itu? Wajar, kan, kalau Melisa iri? Belum jadi menantu saja sudah diperlakukan istimewa.

Motor yang berhenti memutus rantai lamunan Melisa. Perempuan itu turun dan memasuki lobi, menaiki tangga menuju ruangannya. Agenda hari ini hanya bertemu dengan Wawan. Setelah itu, ia bisa main-main sebentar ke kafe.

Ketika membuka aplikasi WhatsApp, pesan dari suaminya berada di paling atas. Candra mengabarkan sudah tiba di Surabaya dua jam yang lalu. Ingat kalau suaminya sedang bertugas, Melisa lantas mengetik balasan.

Anda: Ada dia nggak, Mas?

Centang satu. Artinya Candra sedang mengudara. Melisa agak menyesal karena terlambat membuka pesan suaminya. Ia jadi melewatkan kebiasaan saat LDR begini.

Sembari menunggu balasan, Melisa memesan seblak ceker, mi gacoan, es boba, dan bakso bakar melalui aplikasi. Jangan ditanya kenapa ia memesan banyak makanan. Selain karena belum sarapan, setiap kali banyak pikiran, ia selalu ingin makan apa pun.

Melisa memutuskan keluar karena jenuh. Ada satu tempat di lantai dua yang biasa digunakan untuk pertemuan dan perempuan itu memilih singgah di sana. Ruangan outdoor ini cukup nyaman. Melisa bisa melihat orang berlalu-lalang dari atas. Di sini, tidak perlu pakai AC karena angin sudah sangat memanjakan tubuh. Terdapat pot bunga mengelilingi pagar pembatas. Meja dan kursi yang terbuat dari kayu semakin mempercantik ruangan ini. Saat malam hari, lampu-lampu kecil akan menggantikan peran matahari. Sayangnya Melisa belum pernah merasakan.

Di ruangan luas kalau sendirian tidak asyik. Akhirnya Melisa menghubungi Inayah, menyuruh temannya itu naik ke lantai dua. Beberapa menit kemudian, Inayah datang dengan membawa kantung kresek putih.

"Ini punya kamu. Tadi satpam yang kasih." Inayah meletakkan kantung kresek di meja.

"Akhirnya datang juga!"

Dengan semangat, Melisa menyibak kantung tersebut. Ia mengambil mi gacoan dulu.

"Belum sarapan, Mel?"

Melisa mengangguk karena mulutnya terisi mi.

Inayah memperbaiki jilbabnya yang tertiup angin. "Ngapain coba ke sini? Masih pagi juga."

"Kepalaku sakit," jawab Melisa usai menelan kunyahannya.

"Kalo sakit minum obat, Mel."

"Bukan sakit itu, tapi sakit yang lain."

"Ada apa lagi?"

Sebelum menjawab, Melisa menggulung mi menggunakan sumpit, memasukkannya ke mulut. Makanan itu ia kunyah sebentar. "Semalam aku ikut makan malam sama keluarga si pramugari."

"Udah tahap kenalan ceritanya?"

"Ya gitu, deh."

"Terus rencana kamu selanjutnya apa?"

"Habis Mas Candra terbang, kayaknya aku mau minta izin lepas IUD."

Inayah memandang wajah Melisa. "Kamu yakin dia mau?" tanya perempuan itu, merasa sangsi dengan rencana Melisa.

"Sekarang ibunya kayak gitu, semoga aja Mas Candra berubah pikiran."

Melisa menusuk es boba menggunakan sedotan. Menyeruput minuman itu sembari memikirkan rencananya. Jujur, ia juga ragu kalau Candra akan mengubah pikirannya. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba, kan? Siapa tahu kalau dibujuk sekali lagi, Candra akan luluh. Misalnya tidak bisa pun, ia akan menggunakan cara lain.

"Mel, aku beneran nggak ngerti, kenapa kamu sampai segitunya? Maksudnya, kenapa kamu bener-bener berjuang? Kamu, kan, bisa minta pisah, apalagi kalian belum punya anak. Aku rasa akan mudah jalannya. Aku pengen tahu alasan kamu. Karena cinta atau ada hal lain?"

Melisa tertegun. Kata-kata Inayah berhasil merasuki pikirannya. Bukannya berpisah itu mudah? Melisa tinggal menggugat cerai, ikuti prosedur, lalu selesai. Ia akan bebas. Ia tidak perlu menahan sakit akibat ulah Sarina. Kenapa ... dirinya memilih bertahan?

"Aku nggak lagi ngomporin kamu. Cuma aku kasihan sama kamu, Mel. Aku ngerasa apa yang kamu lakuin nggak ada artinya di mata mertua kamu, ditambah suami kamu nggak pro ke kamu. Aku nggak bisa bayangin selama tiga tahun ini kamu menahan semuanya. Mel, kamu berhak bahagia. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."

Tiga tahun memang bukan waktu yang singkat. Antara pahit dan manis tidak seimbang. Segala keringat dan air mata Melisa keluarkan demi mempertahankan pernikahan ini, demi tidak mau kalah dari gempuran Sarina. Kecewa dan marah selalu ia telan sendiri. Melisa merasa hanya dirinya yang berjuang.

"Kamu pikirin dari sekarang, sebelum kamu memutuskan lepas IUD itu. Apa suami kamu layak untuk dipertahankan?"


09 Oktober 2022

•••

Setuju nggak kalo mereka pisah?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro