
25 - Perpisahan Sementara
Begitu membuka mata ketika mentari belum menunjukkan sinarnya, sosok Maria yang tengah membereskan baju-baju di dalam koper segera membuat hati ini mencelus dalam. Diam-diam aku mengamatinya. Menahan tetesan air mata yang seakan berlomba ingin menunjukkan eksistensinya. Kembali kututup tubuh dengan selimut tebal hingga menyembunyikan wajah yang mulai sembab.
Sejak awal aku sudah tahu, kalau ini semua bersifat sementara. Namun, sekuat apa pun menghipnotis diri sendiri, ketidakrelaan tetap enggan bersedia pergi. Berpisah dengan Maria saja, mampu membuatku begitu sedih. Bagaimana nanti sewaktu harus pulang sendiri dan berjauhan sama Damar? Mungkin, aku bakal jadi gadis paling kesepian di muka bumi.
Saat menyantap sarapan, aku terus mengarahkan pandangan ke arah Maria. Menu yang sering kali mampu membuat suasana hatiku baik di pagi hari, kini enggak berpengaruh apa-apa. Kegiatan sarapan pun berjalan lebih hening dari biasanya. Hanya diisi oleh suara dari televisi di seberang sana, juga bunyi peraduan dari sendok dan garpu.
“When are you leaving?” tanyaku setelah menelan gigitan kedua.
Wanita yang sangat terlihat kurang bersemangat, segera menjawab pertanyaanku.
“After I finish my breakfast.” Kemudian dia mengembuskan napas lemah.
Edric meraih punggung tangan Maria yang berada di sebelahnya, lalu mengucapkan kata-kata semangat. Lelaki dengan rambut terurai sebahu, kelihatan jelas sedang mencoba mencairkan suasana kelabu yang menyelimuti. Setelah wanita berponi itu tersenyum, kepalanya pun berpaling. Meski berusaha menghibur semua pihak, aku bisa menangkap kesedihan yang sekuat tenaga tutupi Edric.
Di mana-mana, perpisahan itu selalu menyesakkan. Kalau bisa meminta, aku ingin mimpi ini terjadi lebih lama. Aku sama sekali enggak keberatan terjebak lebih lama di Bangkok. Asal ditemani oleh Damar dan para orang asing yang kehadirannya mampu menghangatkan hatiku. Untuk pertama kalinya, aku bisa merasakan banyak hal baru. Pengalaman juga kemalangan yang berhasil menguatkan.
Sentuhan lembut di pundak, membuatku menoleh ke sisi kiri. Damar memberitahu lewat lirikan mata, kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberikan hadiah yang kubeli kemarin malam pada Maria. Aku mengangguk, kemudian merogoh saku celana dan mengeluarkan amplop kecil dari dalamnya.
“Maria, this is for you. From me and Damar,” kataku pelan. Kudorong bungkusan berwarna cokelat terang hingga tiba di dekat piringnya.
Wanita cantik yang pagi ini mengubah gaya berpakaiannya menjadi lebih kasual, membulatkan kedua mata. Telapak tangan mungilnya saling bertautan dan dia letakkan di sebelah pipi yang bersemu merah.
“Thank you, Guys.” Maria menatapku dan Damar secara bergantian, dengan mata berkaca-kaca.
Dia meraih pemberian, bergerak hati-hati ingin membuka tanpa merusak pembungkus yang sebetulnya enggak spesial. Butuh waktu kira-kira dua menit, sampai isinya bisa dikeluarkan. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk matahari yang dihiasi berlian kecil di tengahnya. Tentu bukan berlian asli. Makin banyak nanti utangku ke Damar.
“Wow... So pretty!” pekiknya riang. “Edric, help me,” pintanya sementara bergerak memunggungi. Lengan langsingnya bergerak gesit, mengumpulkan setiap helaian rambut untuk mempermudah Edric memakaikan kalung pemberianku.
Aku terdiam, memandanginya tanpa berkedip. Berusaha sekuat tenaga untuk enggak merusak momen yang sudah mencair. Namun, niatku terhalang gerombolan air mata yang menyerang serentak. Kutarik napas panjang dan setenang mungkin.
Ketika pandangannya bertemu dengan mata sembabku, Maria membeku dalam sekejap. Enggak perlu bilang, kalau aku akan merindukannya nanti. Buktinya, wanita ramah ini segera menarik pundakku dan memaksa berpelukan.
“No need to cry, Abella. You can visit me to Busan, or I can visit you to Bandung,” ucapnya sembari mengelus lembut pundakku.
Aku mengangguk, lalu memejamkan mata. Tanpa diminta, otakku sudah memutarkan adegan perkenalan dengan Maria yang terjadi minggu lalu. Tawa serta canda yang tercipta ketika mengobrol. Juga perhatian dan kasih sayang yang dia berikan padaku, meski kami baru saja saling mengenal. Sejak kecil, aku selalu menginginkan seorang kakak perempuan. Mungkin karena itu, semuanya terasa berbeda dan sangat membekas.
Setelah beberapa saat larut dalam kesedihan, aku melonggarkan pelukan kemudian mengangguk padanya.
“Sure. I'll come to you.”
Meskipun aku enggak yakin, A Abi bakal bersedia jadi sponsor apa enggak. Palingan, aku harus menabung dulu nanti.
“Now, let's finish our breakfast,” putus Edric menyudahi isakan tertahan dari aku dan Maria. Inilah yang terjadi ketika dua perempuan disatukan dalam satu tempat. Entah itu bahagia atau sedih, pasti ada saja yang dramanya.
***
Tawaran untuk pergi berkeliling langsung kutolak tanpa pikir panjang. Damar pun terpaksa stand by di hostel. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk enggak perlu khawatir. Tetapi, kayaknya memang bukan aku doang yang butuh ditemani. Ada Edric yang tengah meratapi nasib, sembari menyenandungkan lagu-lagu sedih dengan diiringi oleh suara petikan dari gitar yang sedang Damar mainkan. Sedikit banyak, keramaian ini juga menghiburku.
Beberapa jam yang terlewati dalam hidupku terasa seperti siput yang sedang berjalan. Permasalahan hidup yang menumpuk, berhasil menyita seluruh perhatian. Damar sampai harus mengingatkanku untuk salat, saking asyiknya melamun. Ini semua terjadi setelah aku mendapati jumlah sisa uang di amplop jauh lebih sedikit daripada yang aku perkirakan.
Perasaan, setiap kali pergi aku selalu membawa uang dalam jumlah tertentu, deh. Kenapa bisa tinggal seribu baht lagi, ya? Boro-boro buat beli tiket pesawat. Ini mah, buat makan tiga hari saja kayaknya enggak bakal cukup.
“Abella, cari makan malam, yuk!”
Ajakan Damar membuat kepala menoleh secepat angin berembus.
“Mas!” kutarik lengan Damar hingga dia terduduk paksa di tepi kasur.
“Masa uangku tinggal seribu baht lagi, Mas! Padahal dua hari yang lalu masih seribu lima ratusan kalau enggak salah,” keluhku enggak terima. Damar mengernyitkan dahi.
Setelah menatapku beberapa detik, dia mendesah panjang, lalu tersenyum penuh arti.
“Kayaknya ada yang pelupa, nih,” sindirnya sambil memicingkan mata.
“Eh? Maksudnya?” Sungguh, aku lupa banget!
Damar berancang-ancang akan memberi penjelasan. Dia menumpukan kedua tanganku di atas lututnya yang tertekuk.
“Hampir tiap hari kamu beli cemilan di minimarket. Belum lagi jajan di tempat wisata. Mungkin jumlahnya sedikit, tapi lama-lama jadi banyak, kan? Kita juga sering jalan-jalan dan harus bayar tiket BTS. Mungkin sebelumnya kamu kurang teliti. Jadi, pas tadi menghitung ulang, kamu kaget,” jelasnya panjang lebar.
“Masa, sih ....” aku berkata sembari mengingat-ingat sampai berujung menggantungkan kalimat di udara.
“Wajar. Namanya juga lagi liburan,” sahutnya menghibur.
“Harusnya Mas Damar ingetin, kalau aku mulai kelepasan jajan-jajan,” protesku sambil merengut. Damar kelihatan bingung dan enggak menyangka kalau aku akan menyalahkannya.
“Eh, maaf maaf. Aku enggak bermaksud nyalahin, Mas.”
Buru-buru kuralat kalimat barusan, sebelum menutup mulut dan menunduk.
Telunjuk Damar, tiba-tiba menyentuh daguku. Dia menarik hingga wajah yang sedang merona kembali terangkat, dan pandangan kami bertemu.
“Ini nih, yang kumaksud sama 'you look like a stray puppy'. Jangan sering-sering merengut gitu, dong. Bikin pengin kubawa pulang ke rumah, tahu nggak?” katanya dengan nada biasa saja, tapi sudah sukses bikin pipiku terbakar.
“Untuk masalah tiket pesawat—”
Ucapan Damar terputus karena ponsel miliknya berbunyi kencang. Sementara dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, aku bergeser untuk mengikis jarak. Hingga aroma parfum yang sama dengan pertama kali bertemu dengannya, menguar tanpa celah. Memanjakan, sekaligus membuat hasrat untuk memilikinya semakin besar. Perhatianku sekarang cuma tertuju padanya. Dari samping pun, dia begitu menggoda.
“Abella.”
“Ya?”
“Ini,” sambung Damar seraya menyerahkan benda pipih yang masih meraung-raung.
Fakta bahwa nama Abinaya tertera di layar yang sedang menyala, seketika mengejutkanku yang tengah melamunkan banyak hal. Kutelan ludah lamat-lamat. Damar meremas lututku. Membuat kepala segera menoleh ke arahnya.
“Mau ditinggal dulu, atau aku temenin di sini?” tanyanya penuh perhatian.
Sekarang aku sudah enggak ragu lagi untuk mengatakan isi hati.
“Jangan pergi. Di sini aja. Temenin,” pintaku sungguh-sungguh.
Dia terlihat agak terkejut, menerima sorot mata yang kuarahkan padanya. Sudah bukan sedikit banyak lagi. Kini, kehadiran Damar seakan menjadi kebutuhan utama. Untungnya lelaki baik hati ini enggak menolak permintaanku.
“I'm not going anywhere, Abella.”
Sederhana, tapi menguatkan. Berbekal dukungan darinya, aku menerima panggilan. Lalu, sebuah suara berat yang kemarin membentak serta berteriak, kini memanggil namaku dengan begitu lembut.
[Abella... Maafin Aa.]
Detik berikutnya, tangisku pecah enggak tertahankan lagi.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro