Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

21 - Jomlo Berbahagia

Hujan tiba-tiba datang tanpa diundang. Menyerbu hebat tanpa melalui proses gerimis cantik lebih dulu, sampai membuatku dan Damar harus berlarian mencari tempat berteduh. Untungnya kami berdiri enggak begitu jauh dari deretan kios penjual oleh-oleh khas Thailand. Namun, tetap saja. Derasnya rintik air telanjur menciptakan noda-noda gelap di seluruh permukaan kardigan berwarna pink pudar tipis yang membalut tubuh rampingku. Keadaan Damar juga sama. Kaus dan celana jinnya basah di beberapa bagian.

"Hah ... seharusnya bawa jaket tadi," Damar bergumam pelan, tetapi terdengar olehku.

Sambil menggosok-gosok cepat kedua lengan hingga bahu, aku menoleh ke arahnya. Mulutku gatal, ingin bertanya apa dia merasa kedinginan atau enggak. Akan tetapi, aku takut dikira lagi melancarkan modus. Kalau sampai kejadian kan, gawat.

Aku harus bagaimana, dong? Tanya apa enggak, ya?

"Abella?"

"Ya, Mas?" jawabku cepat. Gerakan tanganku melambat saat menyadari kalau Damar sedang menatapku begitu dalam.

Duh. Tatapan ini. Kayak mau ...

Tuh, kan.

Aku menelan ludah saat Damar mulai mengangkat sebelah tangan dan meletakkannya di sisi kiri bawah wajahku. Kehangatannya segera menjalar ke seluruh tubuh. Efek sentuhan Damar memang luar biasa. Dipegang begini saja sudah berhasil bikin jantungku seperti mau meledak.

"Kamu kedinginan?" tanyanya lembut.

"Ng, nggak kok, Mas."

Aduh. Kenapa jadi terbata-bata begini sih, Bell?

"Tapi ..." Damar menjeda ucapannya. Matanya pun perlahan turun dan berhenti di bibirku. Ibu jarinya bergerak mengusap bibir bawahku dengan kecepatan super lambat. Selama dia melakukannya tadi, aku enggak menarik napas sama sekali. Sentuhan Damar kali ini berhasil mencuri semua atensi. Aku enggak bisa berpikir jernih.

"Dari tadi bibir kamu komat-kamit terus. Aku kira, kamu lagi menggigil."

Argh! Kenapa suara dia mendadak jadi seksi kayak begini, sih? Aduh ... jantungku ...

"Nggak, kok. Biasa, aja," elakku pura-pura kuat. Padahal keadaan kedua kakiku sudah seperti jeli. Sepertinya aku bisa pingsan kapan saja.

Buru-buru kuarahkan pandangan ke bawah. Memutus tatapan intens yang baru saja kembali tertuju padaku, hingga membuat suasana berubah canggung dalam sekejap. Damar juga melepaskan tangannya. Bahkan, dia bergeser satu langkah dan ikut membuang muka.

Damar berdeham. "Hujannya deras banget."

Aku segera mengangkat kepala saat mendengar suaranya. Ternyata Damar tengah memandang lurus ke depan. Setelah aku amati, sorot matanya seolah sedang menyusuri langit malam yang sesekali dihiasi oleh kilatan petir. Sempat ada rasa takut akibat suara yang terus menggelegar. Namun, sekarang rasa takut itu sudah hilang tanpa sisa. Yang terasa hanya bahagia.

Aku tersenyum, kemudian mengikuti arah pandangnya. Kesepuluh jariku kini bertautan. Saling meremas untuk menghadirkan rasa hangat.

"Banget. Padahal, dari kemarin-kemarin panas terus. Sekarang tiba-tiba hujan deras. Mana aku nggak bawa payung lagi."

Damar tertawa pelan, dan tawanya segera menular padaku.

"Kamu tahu, nggak?" tanyanya tanpa menolehkan kepala. "Tadinya aku sempat mengeluh, karena kehujanan dan terjebak di sini tanpa tahu kapan bisa pulang."

Ah, ini juga yang aku khawatirkan. Toko-tokonya sudah banyak yang tutup lagi. Semoga hujannya cepat mereda, deh. Dingin ...

"Tapi, sekarang aku malah bersyukur dengan keadaan ini."

Penjelasan tambahan darinya semakin membikin suhu tubuhku memanas. Aku tersipu malu saat mendapati lelaki yang selalu membuat dadaku berdebar, tengah menatap sambil menyunggingkan senyum. Sorot matanya tulus. Aku bisa merasakan kalau dia enggak bercanda dengan ucapannya barusan. Damar senang berada di dekatku.

Ah, Damar bisa saja, deh.

"Kamu masih ingat nggak, waktu tiba-tiba aku memperkenalkan diri di depan Wat Arun?" tanyanya lagi.

Aku mengiakan dengan sebuah anggukan.

"Kalau aku minta kamu melakukan hal yang sama, mau nggak?"

Aku menimbang sebentar. "Boleh aja, sih. Sebentar, aku susun kata-katanya dulu."

"Spontan aja. Nggak usah terlalu persiapan."

"Hm... Ya, udah."

Kujulurkan tangan kanan yang segera dia sambut tanpa buang waktu. Lelaki berambut basah yang sedang menggigil samar, terlihat berseri-seri. Matanya berbinar-binar. Menjelaskan betapa enggak sabarnya dia mendengar sesi perkenalanku.

"Kenalin. Namaku, Abella Chiara. Umur 21 tahun. Pekerjaan sekarang, masih pengangguran. Baru lulus kuliah dan lagi menunggu hari wisuda. Hobi menonton film, dengar musik, dan mengobrol. Terus ... makanan favorit, pasta yang enggak pedas, cheesecake juga boleh. Kalau minuman kesukaan, teh manis hangat sama teh susu gula jawa pakai toping jeli kopinya Janji Jiwa. Status, jomlo yang lagi berbahagia."

Aku geli sendiri mendengar kalimat terakhir tadi.

Damar terkekeh sambil mengulum senyum. "Ciee ... jomlo bahagia," godanya dengan alis terangkat.

Aku mencebik sembari menyipitkan kelopak mata. "Memangnya ... Mas nggak bahagia, gara-gara ketemu aku?"

Sumpah ya, Bell. Kamu genit juga ternyata.

"I do feel the same, kok," jawabnya tanpa ragu.

Senyum mulai terulas menghiasi wajahku yang merona. Pipiku sudah mengembang maksimal dan setiap jengkal kulitnya terasa menghangat. Tangan kiriku yang sedang menganggur, jadi punya pekerjaan. Menyibak helaian rambut yang terurai ke depan, lalu memeriksa suhu tubuh dengan menetap di bagian mukaku yang paling lebar.

Aku enggak tahu bagaimana perasaan Damar yang sebenarnya, tapi yang jelas, pipinya juga sedang memerah sekarang. Kurasa apa sedang kami rasakan enggak jauh berbeda. Sama-sama bahagia, meski belum tahu bagaimana ke depannya.

"So, apa Abella mau mengenal Damar lebih jauh?" dia bertanya dengan begitu lembut.

Maulah! MAU BANGET MAS, YA AMPUN!

"Mau, Mas Damar," jawabku sebelum menunduk karena tersipu malu untuk yang kesekian kali.

Saat kukira sesi berjabat tangannya bakal berakhir, lelaki beraroma hujan di hadapan malah menarikku secara perlahan. Dia seakan meminta izin lewat gerakan lambatnya dan memberi kesempatan padaku jika ingin menolak masuk ke dalam pelukan. Tentu saja aku enggak menghindar. Dekapan hangat darinya sudah masuk ke dalam bucket list Abella sekarang.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro