Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[13]

Hino menggenggam jemari Tania menuju mobilnya. Meskipun perasaan Hino saat ini tidak baik, ia memperlakukan Tania dengan lembut. Hino tidak ingin mereka semua celaka hanya karena emosinya.
Hino membuka pintu mobil untuk Tania begitu mereka tiba di baseman. Lalu Hino masuk ke sisi pengemudi.

“Nggak bisa chat atau telepon aku dulu sebelum pergi?”

“Maaf. Aku tadi nonton terus—”

“Iya. Kamu bisa bilang kan kalau pengen apa itu yang kamu lihat di tv dan minta aku belikan,” sela Hino.

“Aku lupa,” bela Tania. “Aku pengen makan itu. Kamu nggak di apartemen, kamu nggak bisa langsung datang,” kata Tania.

“Kamu kan tahu, aku kuliah,” ucap Hino gusar.

“Aku bosan di apartemen, Hino. Aku mau jalan-jalan!” ucap Tania jengkel.

“Iya. Kan bisa sama aku. Kalau sendirian, bahaya buat kalian,” ucap Hino menasihati dengan sabar.

“Itu yang lebih bahaya lagi,” ucap Tania. Dia melipat tangan di depan dada dan bersungut-sungut.

“Kok kamu yang marah sih?” tanya Hino bingung.

“Aku nggak jadi makan itu,” ucap Tania dengan mengembuskan napas.

“Makan?”

“Iya. Aku kan pengen makan puding yang di tv tadi. Sial. Kok kamu bawa anak itu ke sana sih?” tanya Tania.

“Anak sia—Nagita?”

Tania mengangguk.

“Kamu mau jelasin apa ke dia?” tanya Hino.

Tania menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Apa yang harus dia katakan kepada Nagita? Tania belum bisa jujur kepada Tania.

“Aku percaya sama Kak Tania.”

Perkataan Nagita kembali terngiang di kepala Tania. Untuk saat ini, Tania belum bisa bertemu dengan Nagita. Tidak sanggup jika ia harus membohongi Nagita.

“Dia nggak akan ketemu aku,” jawab Tania singkat.

“Kamu ngindarin dia?”

“Aku nggak mau bohong sama dia,” jawab Tania.

***

Argio kehilangan Tania. Setelah mengatakan bahwa ia sudah menikah, Tania pergi begitu saja. Tidak ada yang mengetahui ke mana Tania pergi. Bunda di panti apalagi, beliau tidak mengetahui kabar pernikahan Tania. Argio sudah bertanya kepada Nagita soal pernikahan Tania, tetapi gadis itu yang lebih syok mendengar kabar tersebut. Jadi tidak ada yang bisa memberikan kebenarannya.

“Nagita nggak mungkin nggak tahu apa-apa.”

Argio bergegas menemui Nagita di Bandung. Tempat tinggal Nagita sudah ia kantongi dari Bunda Panti Melayu. Beberapa bulan yang lalu saat Argio menghubungi lewat telepon, Nagita mengatakan tidak tahu, tapi suara bisa saja berbohong. Argio akan menggunakan cara satu-satunya dengan menekan Nagita untuk mengaku.

Argio sampai di sebuah jalan kecil. Mobilnya tidak bisa masuk ke gang sempit ini, sehingga Argio meninggalkan mobilnya di jalan besar dan memilih berjalan kaki. Sepanjang jalan Argio merasakan tatapan ingin tahu dan takjub dari orang-orang yang dilewatinya. Bahkan ada yang mengintip dari pintu kamar mandi umum.

Lima belas menit kemudian Argio sampai di sebuah rumah bertingkat dua. Di pagar rumah ada kertas bertuliskan menerima kost putri. Argio menggeser pagar yang tidak terkunci. Setelah berada di dalam, ia menutup pagar kembali. Ketika ia berbalik menghadap ke rumah, saat itulah Argio melihat Nagita yang tampak terkejut. Gadis itu cepat-cepat berlari ke dalam rumah.

“Nagi!” Argio berteriak sebelum tubuh Nagita hilang di balik daun pintu.

Nagita pasti melihat Argio. Lalu kenapa Nagita terburu-baru masuk lagi? Hanya satu alasan yang Argio pikirkan. Nagita menghindari Argio karena Tania. Argio lalu duduk di teras kos-kosan Nagita. Sudah banyak wanita yang keluar masuk, tapi bukan Nagita. Setiap wanita yang lewat di depan Argio melihatnya malu-malu. Tapi jelas mereka berusaha menarik perhatian Argio.

Dua jam duduk di depan rumah yang berisi sekumpulan makhluk berisik membuat Argio lelah. Argio memutuskan untuk pergi. Biarlah lain kali Argio memburu Nagita lagi.

Argio tiba di mobilnya. Ia duduk di bangku pengemudi sambil melihat mulut gang yang tadi dilewatinya. Argio belum menyerah menanti Nagita. Itu tadi hanya siasatnya saja agar Nagita mau keluar. Argio akan menunggu di dalam mobilnya sampai Nagita datang.

Tara ...

Nagita berjalan tergesa-gesa keluar dari mulut gang. Gadis itu tidak memperhatikan sebuah mobil mewah telah siap memangsanya. Tiba-tiba matanya terbelalak kaget begitu pintu mobil itu terbuka. Seorang pria bak dewa adonis tengah menyeringai kepadanya. Nagita terperangah sesaat sebelum kesadarannya kembali muncul. Nagita pun berlari ke pinggir jalan, tapi malangnya hanya tiga langkah, Nagita tidak dapat berjalan lagi akibat tarikan Argio pada pergelangan tangannya. Nagita menggoyangkan tangannya dan mengibas-ngibaskan sekuatnya. Argio sama sekali tidak tergoyahkan. Argio menarik Nagita masuk ke mobilnya dengan paksa. Gadis itu masih berusaha bertahan dengan memegang pintu mobil.

“Masuk, Nagi!” paksa Argio. Nagita menggeleng. Dengan usaha kuat akhirnya tangan Nagita terlepas dari pintu mobil Argio. Argio pun mendorong Nagita masuk ke bangku penumpang. 

Argio memutari mobil untuk duduk di bangku pengemudi. Baru saja Argio membuka pintu mobil, Nagita juga membuka pintu mobil yang lupa ia kunci. Gadis itu berlari bak kesetanan. Argio segera berlari menyusul Nagita.

Hap.

“Aaaaah. APA-APAAN INI? TURUNIN! TOLOOONG!”

Argio memeluk pinggang Nagita dari belakang lalu mengangkat gadis itu ke mobilnya. Nagita berteriak sambil menendang-nendang udara. Jari kecil gadis itu mencubit tangan Argio. Sakit, tapi tidak ia hiraukan. Dengan sebelah tangan Argio membuka pintu mobil di sisi pengemudi. Argio menurunkan Nagita di jok lalu mendorongnya. Ia pun masuk dan segera melajukan mobilnya ke sebuah lapangan rumput.

Mereka kini berdiri berhadapan di tengah-tengah padang rumput. Angin menerbangkan rambut keduanya. Argio menyimpan tangannya dalam saku. Ia menatap gadis pendek di hadapannya yang sedang menyusun kata-kata. Mulut Nagita sesekali terbuka lalu menutup lagi.

Nagita menengadah untuk melihat mata Argio.

“Aku nggak tahu apa-apa, Kak,” ucapnya pelan. “Aku baru tahu,” sambungnya.

“Jadi benar?” tanya Argio penuh intimidasi. Gadis itu mengangguk lalu menunduk.

“Di mana dia sekarang?” tanya Argio tanpa menghilangkan aura intimidasinya. Gadis kecil itu semakin menciut.

“Udah matanya serem, tubuhnya gede banget lagi!” pikir Nagita.

“Aku nggak tahu tempat tinggal Kak Tania di sini. Waktu itu aku nggak jadi ikut dia pulang.”

“Tania tinggal di Bandung?”

“Iya. Kak Gio jangan ganggu Kak Tania, ya!” cicit gadis itu.

Argio tersenyum miring. Dia tidak mungkin mengganggu Tania. Dia hanya ingin membawa Tania pulang. 

***

Usia kehamilan Tania sudah masuk enam bulan. Tubuhnya semakin berisi seiring dengan nafsu makannya yang naik. Tania mulai sering keluar rumah. Dokter menyarankan agar Tania banyak berjalan. Kegiatan Tania di apartemen tidak berubah. Namun kini setelah ia selesai masak dan membersihkan rumah, Tania akan keluar dan jalan santai di taman dekat apartemen. Jika ada Hino, Hino ikut bersamanya.

Sampai saat ini hubungan mereka masih datar. Belum ada cinta dalam rumah tangga mereka. Tania sedang berusaha untuk menumbuhkan rasa itu. Ia yakin kebersamaan mereka selama ini akan menumbuhkan rasa cinta walaupun prosesnya lama. Apalagi dengan perhatian Hino selama ini. Suaminya itu terlihat berusaha sabar dan memenuhi segala keinginan Tania.

Tania juga tidak mengerti, sejak hamil ia menjadi aneh. Kadang setelah Hino memenuhi keinginnya, Tania baru menyadari bahwa permintaannya tidak masuk akal dan sangat menyusahkan.

Tania duduk di bangku taman. Ia mengelus perutnya pelan sambil melihat ibu-ibu yang sedang mendorong stroller bayi. Melihat pemandangan itu membuat Tania terharu.

“Kamu yang sehat ya, Nak.” Tania merasa buah hatinya bergerak. Tania pun tersenyum penuh haru.

***

Sebulan lamanya Argio mengelilingi Kota Bandung. Ia mencari Tania ke seluruh sudut dan penjuru. Kini usahanya membuahkan hasil. Argio sudah menemukan Tanianya.

Argio melihat Tania dengan pedih. Gadis itu begitu rapuh dengan kehamilannya namun wajah Tania memancarkan kekuatan. Argio tertegun di tempatnya melihat Tania mengajak calon anaknya berbicara. Mata Argio terasa panas. Sambil menyeret langkahnya, Argio mendekati Tania.

“My Tan,” ucap Argio.

Tania menegang di tempatnya. Gadis itu memeluk perutnya dengan defensif. Hal itu semakin membuat hati Argio teriris. Ia tidak mungkin menyakiti gadis ini.

“Kamu di sini, My Tan.” kata Argio dengan pelan. Menahan suaranya yang membengkak.

“Mau apa kamu ke sini?” tanya Tania datar.

“Aku nyari kamu ke mana-mana. Aku ingin ketemu kamu lagi. Kamu belum jelasin apa alasan kamu ninggalin aku. Kamu cuma bilang kata putus dan tiba-tiba kamu bilang kamu udah menikah. Aku nggak percaya waktu itu, My Tan. Tapi waktu aku mau mendengar penjelasan kamu, kamu udah hilang. Sekarang aku—”

Argio menitikkan air mata yang sejak tadi sudah berkumpul di matanya. Mudah sekali ia menangis. Itu pasti karena Tania sangat berharga. Separuh jiwanya. Mendapatkan hati Tania ia membutuhkan waktu yang lama. Hanya sesaat Tania sempat membalas perasaannya, lalu Tania pergi kepada pria lain.

“Kenapa kamu melakukan ini sama aku, Tan? Apa aku nggak ada arti apa-apa? Selama ini, semuanya nggak ada artinya?” tanya Argio.

Tania ikut menangis. Tania sadar bahwa ini adalah salahnya. Tania yang menghancurkan Argio.

“Maafin aku, Gio.”

“Kenapa, My Tan? Aku salah apa?” tanya Argio.

“Maafin aku. Aku nggak bisa jelasin alasannya.”

“Kamu sekarang bahagia?” Tania mengangguk.

“Apa kamu mencintainya?” Tania membesarkan bola matanya. “Kamu masih mencintai aku?”

Kali ini Tania hanya diam saja.

***

Tania tidak dapat memejamkan matanya malam ini. Pertemuan kembali dengan Argio membuat Tania resah. Tania belum memahami hatinya. Apakah masih ada Argio atau sudah tidak? Yang jelas jika ia masih mencintai Argio, ia harus segera menghapus rasa itu. Hati Tania ikut sedih melihat Argio menangis. Apakah artinya Argio masih di hatinya?

“Tan?”

Jantung Tania berdetak kencang mendapati wajah Hino di atas wajahnya. Lelaki itu berbaring miring ke arah Tania dan menumpukan badannya di siku. Hino memperhatikan wajah Tania yang terkejut. Tania mendorong kening Hino, sehingga lelaki itu kembali berbaring lurus di samping Tania.

“Kamu nggak tidur?” tanya Hino. Kali ini ia hanya mengubah posisi menghadap Tania tanpa mendekat.

“Belum bisa tidur,” jawab Tania singkat.

“Kamu mau cerita kenapa kamu nggak bisa tidur?” tanya Hino.

“Nggak ada yang penting,” jawab Tania.

Hino pun tidak mendesak Tania lagi untuk bercerita. Tapi Hino yakin, Tania sedang memikirkan sesuatu.

***

Hino merasakan ada yang menggigit hidungnya. Begitu ia membuka mata, kedua maniknya menemukan mata Tania yang berwarna cokelat. Mereka saling bertatapan sekian lama. Hingga Tania meringis sakit lalu giginya meninggalkan hidung Hino.

“Kenapa?”

“Perut aku keteken,” jawab Tania. Hino langsung duduk lalu mengelus perut istrinya.

“Kita ke dokter, ya,” kata Hino.

“Nggak apa-apa deh kayaknya. Sekarang udah nggak sakit lagi. Aku tadi lupa kalau perutnya gede,” ucap Tania tersenyum malu.

“Makanya jangan suka ngejailin suaminya,” kata Hino.

“Makanya kamu juga kalau dibangunin cepat bangunnya!” ucap Tania sewot.

Hino lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Tania. Ia mengecup bibir Tania cepat. Lalu berjalan ke kamar mandi.

“Lain kali banguninnya begitu!” teriak Hino di balik kamar mandi. Pipi Tania bersemu oleh perlakuan Hino barusan.

“Tapi aku lebih suka yang pakai kekerasan!” bisik Tania.

Semenjak hamil, Tania lebih suka menjahili Hino. Setiap Hino harus kuliah pagi, Tania selalu menggigit tubuh Hino untuk membagunkannya. Tania tidak suka berteriak. Saat ini Hino sudah mulai peka dengan gigitannya, sehingga tidak perlu menggigit kuat-kuat seperti dulu yang membuat Hino kesakitan.

Setelah sarapan bersama Tania, Hino pergi ke kampus. Tania tadi minta izin pergi ke swalayan yang berada di gedung apartemen. Hino mengizinkan tentu saja karena Tania tidak mungkin selalu berada di apartemen seperti pesakitan.

Hari ini Hino mempunyai dua kelas pagi. Setelah menyelesaikan kelasnya, Hino menuju kantin seperti biasa. Di sana sudah ada kedua sahabatnya, Mario dan Jason.

“Lo ngeliat gue kayak ngeliat hantu,” komentar Hino.

Jason menurunkan tatapannya. Ia melempar kacang ke kepala Hino.

“Lo kenapa? Dia kenapa?” tanya Hino kepada Mario. Lelaki itu hanya mengangkat bahu.

“Lo tinggal di mana sekarang?” tanya Jason.

“Iya. Perasaan lo nggak ngasih tahu kita apartemen lo yang sekarang,” sambung Mario.

“Nggak penting banget lo pada tahu,” kata Hino.

Jason melihat ada sesuatu yang disembunyikan Hino. Lalu lelaki itu mengangguk-angguk dan tidak bertanya lagi.

“Ngeri,” ucap Hino lalu berjalan keluar kantin.

Jason langsung bergegas mengejar Hino diam-diam. Ia meninggalkan Mario sendirian yang sedang sibuk menghabiskan baksonya.

“Baby Jason,” teriak Nagita. Jason langsung memberikan kode untuk tutup mulut. Ia menarik tangan Nagita untuk berjalan bersama.

“Baby, kita mau ke mana?” tanya Nagita dan merasakan detak jatungnya menguat akibat sentuhan tangan Jason.

“Ikut aja,” jawab Jason.

***

Bersambung ....

Muba, 28 Januari 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro