Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[11]

“Kalau Tania pindah, Mami pasti kesepian,” kata Dewi Sinta dengan sangat sedih.

Mami dan Papi kini duduk di sofa yang berhadapan dengan Hino dan Tania. Tania pun sebenarnya belum siap jika harus hidup berdua saja dengan Hino. Alasannya sudah jelas karena pernikahan mereka yang dirahasiakan. Jika tinggal di sekitar Hino, besar kemungkinannya mereka akan terlihat oleh teman-teman Hino.

“Tania sedang hamil, Mi.”

“Kamu kan kuliah, terus Tania sama siapa?” tanya Dewi.

“Hino juga kan nggak seharian di kampus. Lagian kalau Tania di sini Hino nggak tenang, Mi.”

Akhirnya dengan berat hati Dewi mengizinkan Tania untuk tinggal bersama Hino di Bandung. Untuk pekerjaan Tania di Alendra, sejak hari Tania pingsan Ben telah 'memecat' menantunya itu.

Tania kini tengah berbaring tak nyaman di ranjang mereka. Hino baru saja keluar. Saat sedang memikirkan kepindahannya itulah, Tania mendengar ponselnya bergetar.

“Hay, Gi,” jawab Tania.

“Apa kabar, Kak Tania? Udah mau tidur?” tanya Nagita.

“Belum. Kamu sehat, Gi? Kuliah kamu gimana?”

“Kuliah biasa aja sih, Kak. Kakak gimana sama Kak Gio?”

Hening.

Tania terdiam cukup lama. Tania mengembuskan napasnya sebelum menjawab Nagita, “Kita baik-baik aja kok,” jawab Tania tepat saat itu Hino masuk ke kamar mereka.

“Tuh kan bener. Kak Gio bohong. Aku nggak percaya dia,” dumel Nagita.

“Dia ngomong apa sama kamu?” tanya Tania.

Hino duduk mendekat di samping Tania begitu melihat wajah gadis itu waspada. Tania menggigit kecil bibir bawahnya bersiap untuk mendengarkan jawaban Nagita.

“Masa Kak Gio bilang Kak Tania udah nikah!” Tania terkesiap.

“Di-dia bilang gitu ke kamu?” tanya Tania dengan gugup. Jelas sekali Tania sedang berusaha santai.

“Nggak sih. Sebenarnya Kak Gio itu nanya apa bener Kak Tania udah menikah.”

“Hhha. Ya enggaklah. Nikah sama siapa juga, kan ... Nggak mungkin aku nggak ngasih tahu kamu.” Hampir saja Tania mengatakan bahwa tidak mungkin ia menikah kalau bukan dengan Argio. Tetapi melihat Hino yang sedang memperhatikan percakapan Tania, gadis itu merasa takut salah omong.

“Ya udah sih. Nggak usah dipikirkan. Kita ada masalah dikit aja kok sebenarnya,” tandas Tania.

“Iya, Kak. Syukurlah kalau enggak. Aku sempat takut juga sih, Kak, kalau berita dari Kak Gio itu emang bener. Tapi aku percaya sama Kak Tania,” ucap Nagita.

Pembicaraan mereka terputus. Tania mengembuskan napas lega. Tiba-tiba pikiran Tania berputar pada kejadian malam sial itu. Apa yang membuatnya kehilangan kontrol? Apa mungkin makanan atau minuman yang dikirim Nagita?

“Gimana kalau Nagita tahu, No? Kalau aku ikut kamu, mungkin Nagita bisa saja melihat aku.”

“Nggak akan. Nagita nggak tahu apartemen baru kita,” ucap Hino.

Hino memang telah mencari apartemen yang lebih besar dari sebelumnya. Itulah sebabnya ketika Hino mengatakan bawa ia meninggalkan Tania di rumah Mami sementara ketika ia mengurus sesuatu, sebenarnya Hino sedang mencari apartemen yang layak. Hino sama sekali tidak berniat tinggal berjauhan dari Tania sebab Hino membutuhkan Tania untuk urusan dalam tanda kutip. Sejak malam itu yang memang ia lupakan dan setelah tahu bahwa ia pernah melakukannya dengan Tania, Hino menjadikan Tania candunya. Seperti saat ini Tania tidak jadi mengutarakan keberatannya sebab ia harus melayani Hino lagi.

***

Saat ini Tania sedang menyusun baju di kamarnya yang baru. Tidak banyak baju yang Tania bawa sebab sebentar lagi baju itu juga tidak muat lagi. Untuk malam ini, Tania cukup memakai daster tidur doraemon kesayangannya.

“Kamu udah minum susu, Tan?” tanya Hino begitu masuk ke kamar.

“Nanti aja sebelum tidur.”

Tania nampak sibuk mengatur pakaian mereka. Tania tadi juga membawa pakaian Hino ke apartemen ini.

“Kamu masih sama pacar kamu?” tanya Hino.
Tania berhenti dari kegiatannya. Tania lalu menggeleng tanpa melihat Hino.

“Kamu ngasih tahu dia?” tanya Hino. Jelas saat ini mereka baru memulai pembicaraan serius yang selama ini mereka hindari.

“Aku harus mengatakan yang sebenarnya sama dia. Jujur lebih baik,” walau menyakitkan.

“Dia menerima gitu aja?” Hino tidak tahu jika ia berada di posisi pacar Tania. Sepertinya Hino akan merebut apa yang menjadi miliknya.

“Dia nerima kok,” jawab Tania.

“Dan kamu?” tanya Hino.

“Aku menjalani apa yang sudah digariskan dalam hidupku,” jawab Tania.

“Maaf,” ucap Hino lirih.

Tania melihat Hino menunduk. Ia mendekati Hino.

“Nggak ada yang perlu dimaafkan Hino.”

“Andai malam itu aku nggak .... Maaf karena kamu harus mengalami semua ini,” ucap Hino melihat mata Tania.

“Aku nggak apa-apa kok. Aku senang apalagi sekarang aku nggak sendiri lagi,” kata Tania menyentuh perutnya.

Hino melihat arah tangan Tania. Hino tertarik untuk melakukan hal yang sama. Selama ini Hino belum pernah menyapa anaknya yang sedang bertumbuh di rahim Tania. Hino menggerakkan tangannya ke perut Tania.

“Hai, anak Papa. Kamu nggak nakal kan di sana?” tanya Hino. Tania terharu melihat ayah anaknya menyapa anak mereka. Tania mengelus rambut Hino yang berada di perutnya.

“Aku nggak nyangka udah menikah dan sebentar lagi udah dipanggil Papa,” ucap Hino.

“Hhem. Aku juga. Aku nggak kebayang gimana nanti dia lahir ke dunia ini. Apa dia cewek atau cowok?” balas Tania.

“Cewek atau cowok yang penting sehat. Anak aku,” ucap Hino tersenyum.

“Anak aku,” balas Tania.

“Iya anak Papa dan Mama,” kata Hino menambahkan.

Maka malam inilah kebersamaan mereka mulai tampak dekat. Mereka tertidur setelah lama mengobrol tentang hal-hal ringan yang membuat keduanya cukup nyaman. Seperti malam biasanya saat ada Hino, Tania tertidur dalam pelukan suaminya itu. Entah apa sebabnya Tania merasa tenang begitu pula dengan Hino.

***

Hino terbangun saat mendengar suara Tania di kamar mandi. Hino berlari cepat ke arah istrinya yang saat ini sedang menunduk di toilet. Tania nampak kepayahan memuntahkan isi perutnya. Hino memegang rambut Tania agar tidak terkena muntahan. Sebelah tangannya yang bebas mengelus punggung Tania. Kini Tania berhenti muntah, tetapi kelihatannya Tania begitu lemah. Hino pun memapah Tania ke ranjang. Hino tidak tahu bahwa morning sickness akan sangat menyiksa seperti ini.

Baru saja mereka duduk, Tania sudah berlari lagi ke kamar mandi. Tidak ada yang dapat Tania muntahkan. Yang keluar hanya cairan kuning. Tania kembali lagi ke ranjang bersama Hino yang tadi mengikutinya ke kamar mandi.

“Kita ke rumah sakit?” tanya Hino.

“Nggak usah. Kata Dokter Sita ini normal,” jawab Tania.

“Kalau gitu kamu tidur lagi ya. Aku mau nyari sarapan keluar. Kamu mau makan apa?” tanya Hino.

“Terserah kamu aja. Aku lagi nggak nafsu makan.” Tania membaringkan tubuhnya kembali.

“Kalau gitu aku keluar bentar ya.”

***

Dea mengetuk kamar Argio dengan tidak sabaran. Lalu sebuah kepala menyembul dari balik pintu jati.

“Rusuh banget sih pagi-pagi!” bentak Argio dengan mata masih merah dan wajah kusut bangun tidur.

“Ini udah jam sepuluh, Abang! Cepet mandi! Temenin ke rumah Tante Dewi!” kata Dea.

“Aaaah ... Ngapain sih ke sana?” tanya Argio.

“Ngapain aja pokoknya cepat siap-siap! Aku tunggu sepuluh menit!”

Pukul sebelas Argio dan Dea sudah masuk ke pekarangan rumah Alendra. Dea begitu antusias bertemu dengan mama tirinya langsung keluar dari mobil. Argio mengikuti dengan malas-malasan. Malas bertemu Mami yang banyak menuntut. Menuntut Argio segera menikah dan memberikan cucu.

“Tante!” Dea memekik lalu memeluk tubuh kurus Dewi Sinta yang sedang berjalan menuju mereka.

“Aduh aduh. Tenaga kamu kuat banget!” ujar Dewi membalas pelukan Dea.

“Apa kabar, anaknya Mami Dewi?” tanya Dewi. Meskipun Dea memanggil tante, Dewi tetap menyebut dirinya mami kepada Argio dan Dea.

“Sehat, Tan. Tante apa kabar?” tanya Dea melepaskan pelukannya untuk memberikan kesempatan kepada Argio.

“Baaik dong. Apalagi dikunjungi sama anak-anak yang ganteng dan cantik. Gio sehat kan?” tanya Dewi lembut.

Sebenarnya Dewi sangat ingin memeluk putra sulungnya itu. Rindu sekali ia kepada Argio. Tapi Argio tetap sama seperti dulu, berjarak dan kaku. Argio hanya menjawab dengan anggukan.

“Duduk dulu, Nak. Oh kalian mau minum apa?” tanya Dewi.

“Biar Dea buat minumnya, Tante,” ucap Dea lalu berlalu ke dapur.

Dea berlari-lari kecil. Tante Dewi yang malang, pikir Dea nelangsa. Kasihan sekali ibu Argio itu karena anaknya menatap Dewi dengan wajah datar. Padahal ada rindu yang menumpuk di hati Dewi. Dea tahu itu sehingga selama ini Dea selalu menceritakan Argio kepada Dewi.

Sementara itu, di ruang tamu kedua orang yang duduk berhadapan sedang bertransformasi menjadi patung. Argio bersandar di punggung sofa sambil melihat ke lantai dua, sedangkan Dewi menyerap raut wajah putra sulungnya, Argio. Dewi begitu bahagia sebab Argio mau datang ke rumahnya. Bahkan dalam acara-acara keluarga yang dihelat oleh Assasi atau pun Alendra, Argio tidak mau berdekatan dengan Dewi. Dewi sangat rindu mendengar kata mami keluar dari bibir Argio.

“Gio sedang ada masalah?” tanya Dewi lembut sambil menatap wajah tampan keturunan Assasi ini.

Argio mendongak dan mendapati tatapan intens dari ibunya. Kenapa harus heran, seorang ibu jelas tahu perasaan anaknya bukan? Cukup dengan melihat raut wajah Argio sudah menjelaskan segalanya. Namun, masalah apa yang dihadapi Argio?

“Nggak ada masalah,” jawab Argio tanpa melihat mata Dewi.

“Kamu pasti bisa mengatasi kesulitanmu, Gio. Mami tahu, kamu anaknya pintar dan bijaksana. Kamu bisa mengambil keputusan dengan benar. Hadapi, Gio!” kata Dewi. Sementara Argio hanya melihat kosong ke meja tamu.

“Tadaa ... Ini minuman segar untuk kita menyambut siang terik nanti.”

Dea kembali ke ruang tamu membawa baki kuning yang berisi tiga gelas dan satu teko kaca. Dea menuangkan cairan hijau ke masing-masing gelas yang terlihat segar sekali.

“Kok wajahnya pada sedih gitu?” tanya Dea.

Argio mendelik tajam kepada Dea, sedangkan Dewi hanya tersenyum. Dea belum cerita kabar terbaru Argio. Dewi bertanya lewat mata dan Dea mengisyaratkan kata nanti.

“Nggak usah pada gosip deh. Apa lo, kagak usah ikut campur urusan orang!” ketus Argio yang tahu bahwa ibu dan adiknya akan menjadikan Argio objek gosip.

“Hihihihi.” Dea memberikan tanda peace dengan dua jari.

“Yaelaah yang ditinggal kawin.” Dea terkekeh mengolok nasib malang percintaan sang kakak.

“Pacar Gio menikah dengan orang lain?” tanya Dewi melihat Argio dengan prihatin.

“Gue ingetin lagi, apa tujuan lo ke mari?” tanya Argio.

Siapa sih yang tidak kesal jika urusannya dicampuri orang lain. Argio tidak senang ada orang yang mengasihaninya. Seperti tatapan Dewi saat ini. Membuat sisi lemah Argio ingin mencuat ke permukaan. Bagi Argio tidak ada waktu untuk memperlihatkan kelemahannya di hadapan Dewi. Argio yang Dewi kenal selama ini adalah seorang anak yang kuat dan tidak tersentuh. Namun berbeda kali ini karena hati Argio benar-benar berada di titik terendah. Jika Argio terus diingatkan tentang Tania, bisa saja Argio akan menumpahkan tangisnya. Tidak lucu melihat seorang Argio menangis. Terlebih di hadapan Dewi Sinta.

“Ih iya. Hampir aja aku lupa kan!” kata Dea menepuk kening mulusnya.

“Apa?” tanya Dewi.

“Tante, kita melihat Hino bawa cewek keluar dari ruangan dokter kandungan. Kita tahu dari Dokter Sita kalau Hino—”

“Kandungannya nggak apa-apa kan?” tanya Dewi panik. Raut cemas begitu terlihat dari wajah Dewi.

“Kami nggak tahu Tante. Dia siapa Tante?”

***

Besambung

27-01-21

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro