Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[04]

Makasih untuk yang sudah baca sampai part 3 dan silakan lanjut kalo suka sama Hino dan Tania.

🏓🏓🏓

Hino mengerjabkan matanya begitu merasakan guncangan hebat di pundak. Suara berat memanggil nama Hino. Berbeda dengan cara Mami membangunkan, yang ini lebih kasar dan terburu-buru. Hino membuka mata dan terkejut melihat wajah merah Aldy di depan matanya.

“Bang Aldy? Kok bisa ada di sini?”

Hino memperhatikan raut wajah Aldy yang keras. Tidak biasanya Aldy memasang raut seakan Hino menjadi tarsangka korupsi di Farely milik Aldy.

“Segera bereskan diri kamu dan keluar dari rumah ini! Nanti setelah ini saya akan datang ke rumah orang tua kamu.”

Hino kemudian terpaku melihat pintu yang tertutup. Hino mengalihkan arah pandangan pada sekelilingnya. Ini kamar siapa? Hino melihat tubuhnya yang dibungkus selimut cokelat. Hino memang biasa tidur dengan bertelanjang dada, tapi kali ini kenapa ia tidak memakai ....

“Apa yang telah terjadi?”

Hino memegang kepalanya yang pusing lalu coba mengingat kejadian semalam. Sumpah Hino tidak memiliki jawaban kenapa dirinya dengan keadaan seperti ini dan berada di tempat asing? Kamar ini sangat feminim. Tentunya kamar ini kamar perempuan kan?

“Kamu sudah bangun? Tunggu di sini dulu. Aku ambilkan pakaian kamu,” ucap Tania.

Tania berjalan keluar kamarnya menuju ruang tamu. Aldy dan Lafila sedang duduk di sana. Tidak seperti mereka biasanya yang selalu tampak mesra. Kali ini mereka bersebelahan sambil melihat ke arah Tania.
Tania hanya akan memungut pakaian Hino dan langsung kembali ke kamar. Aldy dan Lafila pun tidak membuka suara. Mereka seolah mengerti belum waktunya memberi bom pertanyaan kepada Tania. Setelah mendapatkan seluruh pakaian Hino, Tania segera berbalik menuju kamarnya.

“Ini baju kamu,” ucap Tania.

“Apa yang terjadi?” tanya Hino jelas sekali ia kebingungan.

“Penjelasannya setelah kamu membereskan dirimu. Silakan gunakan kamar mandi di sana.” Tania menunjuk sebuah pintu yang berada di sudut kamarnya.

Hino berjalan munuju kamar mandi dengan memeluk pakaiannya yang dibawakan oleh Tania. Oh Hino lupa bahwa di balik selimut tadi ia tidak menggunakan apa-apa. Tania memerah melihat pemandangan itu yang membuatnya kembali mengingat adegan tadi malam. Saat ini pikiran Tania sedang penuh. Tania belum bisa memikirkan sebab dan alasan mengapa ia bisa melakukan perbuatan itu.

“Aku bingung. Kenapa aku masih ada di sini? Eeer ... Apa terjadi sesuatu dengan kita?” tanya Hino. Saat ini Hino sudah memakai seluruh pakaiannya dan juga lebih segar setelah mencuci wajah.

“Kamu nggak ingat apa-apa?” tanya Tania.

Hancur. Bagaimana bisa hanya Tania saja yang mengingat semuanya? Kenapa Tania tidak seperti Hino saja yang dapat melupakan semuanya? Dada Tania serasa diremas dengan begitu kuat memikirkan nasibnya setelah ini. Tidak akan ada yang percaya lagi kepadanya. Hilang sudah dirinya sebagai gadis baik-baik. Siapa yang mau menerimanya setelah ini? Dan bagaimana dengan Argio? Tania tidak menyadari air mata telah mengalir di pipi putihnya.

“Kamu kenapa, Tan?” tanya Hino.

“Sebaiknya kamu pulang. Hari ini aku ada tamu dan mereka sudah menunggu di ruang tamu,” ucap Tania seraya menyeka air matanya.

“Baiklah. Aku pulang,” ucap Hino ragu-ragu dan keluar dari kamar Tania.

“Hino, duduk dulu!” ucap Aldy singkat.

“Ehm.” Hino pun duduk di bangku yang berseberangan dengan Lafila dan Aldy.

“Jadi bisa kamu jelaskan kenapa kamu bisa ada di rumah Tania?” tanya Aldy.

“Aku nganter titipannya Nagita, Bang,” jawab Hino.

“Lalu?” tanya Aldy lagi.

“Hino, pulang!” Tania terdengar tidak bisa dibantah.

“Tapi—”

“Pulang sekarang!” Tania saat ini sangat mengerikan.

“Bang aku balik, ya. Lain kali kita lanjutkan,” ucap Hino lalu keluar dari rumah Tania.

“Maafkan aku, Kak.”

Tania kembali menangis. Gadis itu terisak di hadapan orang yang paling ia segani. Ia menyesal karena telah membuat Aldy kecewa. Aldy adalah seorang kakak yang kepadanya Tania selalu ingin menunjukkan prestasi dan keberhasilan.

“Aku nggak tahu kenapa aku bisa melakukannya, Kak. Aku nggak tahu,” ucap Tania dalam tangisnya.

“Kita harus menemui Om Ben dan Tante Dewi,” ucap Lafila kepada Aldy dan Tania membelalakkan mata.

“Nggak, Mbak! Semua ini hanya kita yang mengetahuinya. Nggak usah melibatkan orang lain!” cegah Tania.

“Masalah ini harus diselesaikan secepatnya,” kata Aldy.

“Kak, aku mohon. Jangan memperbesar masalah. Anggap aja itu one night stand.”

Tania masuk ke dalam kamar meninggalkan Lafila dan Aldy. Tania mencakar tangan, wajah, dan seluruh tubuhnya. Kotor. Kini Tania adalah gadis—oh tidak, Tania bukanlah seorang gadis lagi setelah tadi malam ia menjelma menjadi hewan yang binal. Berani melakukan hal terlarang dengan seseorang yang baru dikenal. Tidak hanya sekali, mereka melakukannya berulang kali. Bahkan setelah di sofa ruang tamu, mereka pindah ke kamar Tania melanjutkan perbuatan terkutuk itu. Apa yang Tania pikirkan semalam hingga ia tidak mengingat akibat perbuatan yang akan ditimbulkan? Bagaimana jika Tania hamil?

“Aaahhh!” Tania menjambak rambutnya sendiri dan meraung serta memekik. Tania menarik-narik kaus oblong yang ia kenakan. Seharian Tania mengurung dirinya di kamar.

***

Hino berangkat ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II diantar oleh Pak Joko. Hino sudah mewanti-wanti Mami agar tidak ikut ke bandara. Setelah dua tahun kuliah dan ratusan kali bolak balik Bandung-Palembang, Dewi masih tetap akan melakukan perpisahan dengan dramatis. Memeluk Hino, memberikan nasihat, dan yang paling memalukan adalah mencium kedua pipi Hino serta kening. Bukankah Dewi Sinta adalah sosok seorang ibu yang terlalu memanjakan anaknya? Hino malu dengan kelakuan super lebay sang Mami. Jadi lebih baik Hino menerima semua perlakuan itu di rumah.

Setelah menyelesaikan segalanya, Hino pun duduk tenang di pesawat. Hino memakai kacamata hitam. Ia ingin tidur selama di pesawat karena sangat mengantuk. Rasanya Hino memiliki tidur yang cukup, tapi kenapa kelopak matanya bagai ditarik ribuan jarum?

Ada sesuatu yang rasanya ia lupakan. Hino berusaha mengingat namun kepalanya menampilkan berbagai gambaran yang tidak jelas. Sewaktu mandi, Hino melihat luka cakaran di pundaknya. Hino tidak ingat kapan ia mendapatkan luka itu. Sekarang di saat dirinya nyaris jatuh ke alam mimpi, Hino melihat sebuah gambaran yang sangat jelas. Hanya satu. Dan kenapa gambaran itu bisa ada?

Hino menghentikan taksi di depan gedung apartemennya. Dengan menggendong sebuah ransel seolah dirinya baru pulang dari kampus, Hino melangkahkan kaki ke pintu apartemen di lantai 18.

Klik. Pintu terbuka secara otomatis setelah Hino menggesekkan sebuah kartu di samping pintu. Hino masuk ke apartemen dan disambut oleh keheningan. Berbeda sekali jika Hino pulang ke Palembang, ia akan disambut dengan antusias oleh Mami.

Ah, Mami. Hino ingat ia harus memberitahu Mami bahwa Hino sudah tiba di apartemen.

“Mami,” sapa Hino setelah Dewi mengangkat telepon darinya.

“Assalamualaikum, anak  Mami,” balas Dewi.

“Waalaikum salam , Mi. Hino baru aja sampai,” ucap Hino.

“Ya syukurlah. Kamu jangan langsung tidur. Mandi dulu dan jangan lupa makan,” pesan Dewi.

“Iya, Mi. Hino mandi dulu ini,” tukas Hino.

Hino ke kamar mandi lalu membuka kemeja hitamnya. Ia memperhatikan luka di pundaknya dan berusaha mencari sebab hadirnya luka itu. Hino menyentuh lukanya dengan jemari lamat-lamat. Anehnya luka itu tidak sakit, namun terasa pas berada di sana? Hino menggelengkan kepala mengingat sekilas gambar yang muncul sebelum tertidur di pesawat. Hino melihat wajah Tania yang penuh keringat berada di bawahnya, menatap Hino dengan mata penuh kabut. Aaa ... Hino bahkan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang Tania.
Gadis itu bukan sosok gadis yang ada dalam imajinasi Hino selama ini. Tania terlalu biasa, terlalu sederhana dan cantik alami. Hino membuang jauh penilaian terakhirnya. Mengingat Tania membuat sesuatu bangkit dari dalam dirinya. Hino segera menyiram seluruh tubuh untuk menghilangkan khayalan-khayalan konyol tentang Tania.

Paginya Hino sudah melupakan semua pikiran yang membuat kepalanya pusing. Di kantin sudah menunggu dua sahabat lelakinya minus Nagita.

“Oleh-oleh dari kampung, Bro?” tanya Mario.

“Udahan lah ngeledekin anak mami kita!” sindir Jason.

Sebenarnya kedua sahabat Hino ini sama saja. Lebih senang mentertawakan nasib Hino yang memang agak memalukan di usia mereka. Hino juga tidak bisa mencegah maminya untuk memanjakan karena anak Mami kini bisa dibilang hanya dirinya.

Hino merupakan putra kedua Dewi Sinta. Anak pertama Dewi dari pernikahan pertamanya dengan Argo Assasi adalah Argio Assasi. Saat proses perceraian dan kepemilikan hak asuh anak, Argo yang mendapatkan hak asuh atas Argio. Argio yang saat itu tidak ingin berpisah dengan sang Mami menangis begitu hebat. Hingga sekarang Argio menyalahkan Dewi kenapa dulu ia tidak membawa Argio.

Dewi berusaha ikhlas atas nasibnya yang dibenci oleh anak sulung yang ia cintai. Ketika menikah dengan suami keduanya, Ben Alendra, lalu lahirlah Hino, Dewi sangat memanjakan putranya itu. Sampai usia Hino saat ini, Dewi masih memperlakukan Hino seakan Hino masih berusia sepuluh tahun. Hino juga berusaha mengerti sang Mami. Hino menuruti permintaan Dewi untuk pulang sebulan sekali dan menerima perlakuan istimewa Mami.

“Halo cowok-cowok kesepian.”

Ketiga lelaki yang disapa menoleh kepada seorang perempuan bertubuh kecil dengan ransel besar di depan mereka sedang memamerkan gigi putihnya.

“Pada bengong. Hello nggak kenal lagi sama aku yang cantik ini? Eh, ini tu Nagita Rayanna yang pamornya sedikit di bawah Natasya Wilona ....”

Nagita duduk di sebelah Mario yang sedang menusuk-nusuk bakso di mangkuknya.

“Nggak napsu makan? Nggak dapat jatah semalam?” tanya Nagita kepada Mario.

Tuk.

“Aduh.” Nagita memeriksa kepalanya yang diketuk dengan sendok bakso oleh Hino.

“Bisa diam bentar nggak? Lo makan apaan sih di panti sampai punya mulut petasan lebaran?” tanya Hino.

Yang ditanya hanya tersenyum dua belas senti. “Ye aku kan mewakilkan baby Jason. Ya nggak, Beb?” tanya Nagita sambil mengalungkan tangan di bahu Jason yang sedari tadi hanya diam.

“Apa-apaan sih, Mario!” Nagita kesal sebab Mario menurunkan tangan Nagita dari bahu Jason.

“Oh iya, No, titipan aku kamu anter dengan aman kan? Sumpah waktu itu kalau kamu belum berangkat juga ke rumah Kak Tania, aku bakalan mutilasi kamu saat ini,” ucap Nagita membuat Jason melotot kaget. Nagita yang melihat ekspresi Jason langsung mengelus wajah Jason.

Puk.

“Aduh. Apa-apaan sih Mario?!” kesal Nagita karena mendapat pukulan di punggung tangannya yang berada di pipi Jason.

“Udah gue anter dengan selamat. Lo ngasih alamat nggak bener. Tulisan udah kayak rambut gak dikeramas setahun. Sampai tiga kali putar gue nyari tuh rumah. Oh iya, gue juga ikut makan makanan lo,” ucap Hino sambil tersenyum.

“Kutu! Kalau aku yang ngasih dengan sukarela, kenapa kamu kayak alergi banget sama makanan aku? Eh eeh tunggu! La kampret! Itu udah aku jatah buat Kak Tania, Nono!” sungut Nagita.

“Mana gue tahu, kan ditawarin ama tuan rumah,” kekeh Hino. “Lo jadi masukin pendaftaran untuk belajar di Perancis, Gi?”

“Setahu gue udah dibuka pendaftarannya,” kata Jason untuk pertama kalinya.

“Uuuh Baby Jason perhatian banget sama Nagi ....” ucap Nagita kembali heboh.

“Jadi gimana? Masih mau belajar sama chef di sana?” tanya Hino.

“Aku akan usahakan, No. Aku harus mencontoh keberhasilan Kak Tania yang kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Aku akan sehebat Kak Aldy dan akan secantik Bu Niza hihihi.”

“Tinggi amat khayalan lo, tapi gue dukung yang terbaik.” Hino tersenyum lembut. Kemudian menatap Jason yang balik menatapnya dengan datar.

Sementara itu, Nagita mulai melantur ke mana-mana membuat ketiga lelaki di depannya pura-pura sibuk mencari kegiatan lain agar tidak perlu mendengarkan bualan Nagita Rayanna.

***

Bersambung ...

Muba, 19 Januari 2021

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro