Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

38. Menggoda

Romance Act ⚠️
(Yang baper pegangan pasangan masing-masing)
🤣🤣🤣

Vote dulu dong, baru baca 👀

Happy Reading

***

Suara tawa riang terdengar dari balkon saat Danish baru saja pulang, suara itu mengundang senyuman pria itu. Tawa siapa lagi kalau bukan tawa istrinya?

"Assalamualaikum?" Danish mengucap salam.

"Walaikumussalam!" Nara menjawab dengan suara lantang.

Danish berjalan ke balkon yang pintunya terbuka, tampak berderet kandang kucing yang sudah bersih, hampir semua kucing sudah dimandikan, asyik meminum susu dan makan. Tinggal satu kucing yang sedang dimandikan, kucing paling badung yang Nara beri nama Kapten.

Kucing itu menolak mandi, sampai membuat baju Nara basah karena cipratan air dari bak.

"Dieem, nggak! Bentar doang ini loh! Biar cakep kayak yang lain!" Nara berusaha keras memasukan Kapten ke bak, tapi Kapten berontak.

Danish berdiri bersandar di pintu balkon, memperhatikan pergelutan antara 'babu' yang sedang berusaha memandikan 'majikannya'. Kapten mengerang marah, tak mau kalah Nara juga sama. Mengerang sebal.

"Perlu bantuan, nggak, Ra?"

"Nggak perlu, Kak. Ini anak emang minta dibuang di pasar!" Nara menarik tali Kapten yang berusaha kabur, mengguyurnya dengan gayung.

Semakin basah, semakin berontak. Talinya lepas dan hampir saja Kapten melompati pembatas balkon jika Nara tidak gerak cepat menariknya, meski pada akhirnya dia yang tercebur di bak. Basah kuyup semuanya.

Danish tertawa menyaksikan pemandangan brutal antara kucing dan manusia itu, kemudian dia mendekat. "Sini, aku pegangin talinya."

Danish jongkok di depan Nara, memegang tali Kapten agar tidak kabur. Sementara itu Nara berusaha keras untuk membasuh bulu Kapten yang banyak sabunnya. Meski dicakar beberapa kali, membuat Nara semakin gemas. Kecintaannya pada kucing memang sudah dilevel, bekas cakaran adalah sebuah tanda sayang.

Senyuman Danish terus terukir melihat Nara mengomeli Kapten, pipinya yang mengembung terlihat menggemaskan sekali. Jika Nara gemas pada kucingnya, Danish malah gemas pada Nara.

"Gimana tadi terapinya?" tanya Nara saat mengeringkan bulu Kapten dengan hairdriyer, "Maaf, ya, nggak bisa ikut. Nyebelin banget Mbak Sofie tiba-tiba nyuruh aku ngerjain semua laporan harus selesai hari ini juga."

"Nggak apa-apa, Ra. Tadi antre lama banget, aku bersyukur kamu nggak ikut. Pasti bosen nunggunya."

"Kalau nunggunya sama kamu, mana bisa bosen?"

Jika dulu Danish akan memicing sebal dengan gombalan Nara, kini pria itu tertawa kecil. "Terapinya lancar, kok. Katanya seminggu lagi bisa dilepas arm sling-nya, katanya dokter juga boleh dilepas di rumah biar nggak tergantungan kalau nanti udah lepas total."

"Nggak ada masalah, kan, Kak?"

"Alhamdulillah, nggak ada." Lengang sebentar, "Sofie sering nyuruh-nyuruh kamu, ya?"

"Nyuruhnya yang wajar-wajar aja, kok."

"Kalau disuruh kunjungan survei jangan mau, itu tugasku sama Sofie. Bukan tugasnya anak magang."

"Iyaaaa ..." Nara tersenyum.

"Kamu udah makan?"

"Belum, tadi nunggu kamu sekalian. Aku masak kari kepiting." Nara tersenyum lebar ke Danish.

"Oh, ya? Kamu suka banget, ya, sama kari kepiting? Kata Papi kamu sering minta masakin menu itu. Apa jangan-jangan lagi kangen sama Papi?"

Nara terdiam sejenak, mematikan hair driyer setelah memastikan bulu Kapten kering semua. Ia mencabut kabel dan memasukan Kapten ke kandang, lalu berdiri "Kangenlah, besok malam minggu mau nginep di rumah papi, ya, boleh?"

"Boleh, dong." Danish ikut berdiri.

Nara bersorak kegirangan, "Yeay! Aku mandi dulu, ya, habis ini makan bareng," ucapnya sembari berjalan ke pintu.

"Iya, Sayang. Aku tunggu."

Nara berhenti melangkah, tadi Danish memanggilnya apa?

Gadis itu menoleh, "Kamu tadi manggil aku apa?"

"Kenapa?"

"Coba panggil sekali lagi."

Danish menahan senyum sembari mendekat, kemudian merunduk ke telinga Nara. "Sayang..."

Blush! Pipi Nara langsung semerah tomat matang. Gadis itu terlihat salah tingkah, matanya mengerjap-ngerjap menatap Danish yang menatapnya dengan tersenyum.

Kemudian tiba-tiba Nara menarik tengkuk leher Danish dan mengecup pipi pria itu. "Muach!" Detik selanjutnya melesat berlari ke dalam meninggalkan Danish yang tersenyum sembari menyentuh bekas kecupan dari istrinya, kini giliran pria itu yang tampak salah tingkah.

Usai makan malam dengan menu kari kepiting kesukaan Nara, keduanya bersantai di depan televisi. Danish sedang fokus membaca berita politik yang memasuki babak baru, pengumuman Pemilihan Gubernur di mana sang ayah menjadi kandidat sebagai calon gubernur Jakarta. Candra benar-benar berani mengambil gebrakan untuk terjun ke dunia politik.

Semakin tinggi posisi sang ayah, akan semakin hancur nanti jika semua kejahatannya terungkap. Pria 30 tahun itu tersenyum miring sembari terus membaca visi misi yang dirancang oleh Candra untuk maju ke pemilihan. Benar-benar topeng kemunafikan.

Sementara itu di samping Danish, Nara asyik menyelam di dunia webtun, serial webtun kesukaannya baru saja mengunggah episode terbaru. Sudah lama gadis itu tidak membaca webtun sejak deretan masalah hadir di hidupnya. Kini ia kembali bisa melanjutkan, tampak bersemangat menggulir bacaan bergambar tersebut.

"Haaah!" spontan ia terkejut, bibirnya melongo.

Danish menoleh, "Lagi lihat apa, sih? Seru banget dari tadi kelihatannya."

"Nggak—bukan apa-apa, cuma serial webtun."

"Tentang?"

"Nggak usah kepo." Nara kembali melanjutkan menggulir, tepat di panel 'panas' tiba-tiba ponselnya direbut oleh Danish. "Kak! Sini, nggak!"

Danish menjauhkan ponsel dari jangkauan tangan Nara, "Astagfirullah, Naraaa... kamu bacaan apaan ini?"

"Siniiii!"

Danish bangkit dari sofa, Nara mencoba menggapai tangan Danish yang tingginya harus naik ke atas sofa.

"Itu lagi seru-serunya, tahu!"

"Hah? Seru?" Danish mengintip layar ponsel Nara di tangannya, gambar pahatan perut peran utama terlihat jelas. Pria itu menatap Nara dengan sorot tak percaya. Seakan-akan pandangan itu berkata, ternyata kamu tidak sepolos itu.

"Apa? Kenapa ngeliatnya kayak gitu? Sini, nggak, hapeku?!"

"Hahaha," Danish tertawa sumbang. Masih tidak habis pikir, Nara yang ia kira gadis polos dan jauh dari hal sedewasa itu ternyata salah. "Nara, astagfirullahazim, nggak boleh lihat kayak gini. Nanti Allah cabut cahaya dari wajahmu. Allah jauhkan rejekimu, gimana?"

"Kak, itu cuma ..."

"Cuma apa?" Danish kembali menggulir sedikit, panel menunjukkan adegan dewasa antara tokoh utama. Semakin terkejut mata Danish melihatnya, pria itu kembali tertawa sumbang sambil geleng-geleng kepala.

Gadis itu mendengkus sebal, ia membanting dirinya ke sofa sembari melipat tangan di dada. Melirik Danish dengan picingan mata.

"Kamu emang suka ya, bacaan kayak gini?"

"Enggak, itu kemarin dikasih tahu sama Veve. Katanya bagus," jawab Nara, diakhiri dengan lirih, "Buat belajar."

"Buat apa?" Danish turut duduk di sofa, "Coba bilang sekali lagi, buat apa?"

"BUAT BELAJAR!" Nara bergerutu, "Lagian aku udah 25 tahun, bukan anak kecil. Aku seorang istri, ya, Pak Danish, kalau Anda lupa."

Danish melumat bibirnya sendiri sejenak, kemudian tersenyum sembari mengacak rambut istrinya. "Iya, lupa."

"Ish!"

"Terus kalau kamu seorang istri, kenapa nggak belajar bareng suamimu? Hm?" Danish menatap Nara dengan senyuman tipis.

Mati kutu, rasanya Nara ingin lenyap detik ini. Tatapan dan senyum Danish membuatnya semakin ciut. Harusnya tadi ia tidak menjawab jujur soal itu, harusnya ia berbohong saja. Kini seperti menelan kejujurannya sendiri. Kejujuran yang membuatnya buntu, mati kutu.

"Hm?" Danish semakin menggodanya. Memojokkan Nara.

Ah, apa boleh buat, hadapi saja.

"Oke, ayo belajar." Nara mengangkat dagunya, menantang. Daripada harus mati kutu kepalang malu, lebih baik diterobos saja. Membalikkan keadaan. Nara naik ke pangkuan Danish.

Kini Danish yang menahan napas. Menelan ludah dengan pelan.

"Jadi, gimana?"

Danish masih terdiam karena terkejut dengan serangan Nara yang tiba-tiba. Pria itu sama sekali tidak menyangka jika istrinya akan senekat ini.

"Kamu memang tidak sepolos seperti yang aku pikirkan," ucap Danish sembari menahan senyum.

Garis senyum Nara melembar, menunjukkan barisan giginya putih. Mengiyakan kalimat Danish barusan. Ia meletakkan tangannya di dada Danish, turun ke perut. Membuat Danish menahan napas. Kerjapan matanya yang intens menunjukkan ada pergolakan yang jika dibiarkan semakin tidak terkontrol.

Danish menghentikan pergerakan tangan Nara tepat di atas dadanya, "Stop."

"Kenapa?"

"Tanganku masih sakit."

"Kan, kita lagi belajar. Bukan lagi ... itu."

Danish tersenyum, sedikit terkekeh. Menutupi hawa panas yang semakin lama menjalar ke seluruh tubuhnya. "Turun, Sayang."

Nara menggeleng. Malah semakin mendekat, menyentuh ujung hidung Danish dengan hidungnya. Membuat Danish menarik napas dan mengembuskan napas kencang.

"Turun, Ra." Nadanya seperti menahan sesuatu. Seulas senyum sudah lenyap dari bibir Danish, sorot matanya pun berubah. Seperti mata lapar saat melihat sepiring makanan lezat. "Nara... please."

Tak menghiraukan peringatan Danish, Nara semakin menggoda. Mengecup leher suaminya.

"Shit!" umpat kecil Danish sembari melepas kaitan arm sling-nya, membebaskan tangan yang terkurung itu untuk meraih pinggang kecil Nara.

Panas. Seperti teratur untuk dimulai.

Namun, tiba-tiba.

Nara beranjak dari pangkuan Danish, "Tanganmu masih sakit. Kita sabar, ya."

Gadis itu melesat ke ruangan kerja sambil tertawa.

"NARAAAA!"

"Aku mau ngerjain laporaaaan!" Terdengar gadis itu tertawa puas.

Danish mengembuskan napas panjang, seraya memasang arm sling kembali. Kemudian tersenyum sembari menggeleng-geleng, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia lupa kalau istrinya itu cegil ugal-ugalan, sebuah pemikiran yang sia-sia selama ini saat mengira Nara adalah gadis yang polos dengan pikiran yang suci. Gadis itu ternyata sedikit 'liar'. Warna baru untuk dirinya yang selama ini menjalani hidup dengan datar.

***

Nara menekan-nekan tombol di atas mesin foto kopi, tak lama mesin itu menyala mengerjakan tugasnya untuk menyalin dokumen. Sementara menunggu mesin foto kopi menyelesaikan tugasnya, Nara berdiri sembari menyesap yoghurt yang dibelikan suaminya tadi pagi.

"Nggak, gue nggak bisa! Lu aja kali yang ke sana, Ji!" suara Sofie mengalihkan perhatian Nara pada mesin foto kopi, gadis itu menoleh ke arah kubikel.

"Ini tugas lu juga, ya, Sof. Lu asisten manager, Pak Danish nggak bisa karena baru keluar dari rumah sakit. Jadi lu yang gantiin." Jian, pria itu tampak kesal di balik kubikelnya.

"Gue tahu posisi dan job gue. Tapi, gue nggak mau ketemu sama Pak Wibis. Anak magang ajalah yang ke sana."

"Lu mau kena SP lagi dari Pak Marvin? Waktu itu lu nyuruh Nara ke sana!"

"Pokoknya gue nggak mau!"

Karena namanya disebut, Nara mendekat dan berdiri di tengah-tengah antara jarak Sofie dan Jian yang sedang berdebat. Sepertinya mereka membicarakan kunjungan kedai ke Pak Wibis atau yang mereka kenal dengan Tuan Krab, kedai di Sentul yang sering 'menyiksa' tim pusat waktu kunjungan.

"Ke Pak Wibis, ya? Aku aja nggak apa-apa, Kak."

"Lu jangan gila, ya? Lu anak magang, lu juga pernah kena, kan? Gue nggak mau diomelin suami lu," sahut Jian. "Pokoknya harus Sofie yang kunjungan. Itu tugasnya. Titik."

"Ngajak ribut emang lu ya, Ji?" Sofie tidak terima.

"Gue nggak ngajak ribut, gue cuma minta lo buat ngerjain job lo. Lo itu dibayar, ya!"

"Kak, Kak, udah, udah." Nara melerai, "Nggak apa-apa biar aku aja."

"Lo mau gue yang kena marah suami lo?" tanya Jian, pria itu sedikit melotot ke Nara. Sejak Nara menikah dengan Danish, Jian tidak seramah awal-awal mereka kenal. Bahkan saat acara resepsi Nara dan Danish, pria itu tidak datang beralasan sakit.

"Pak Danish, kan, lagi rapat sampai nanti jam tiga. Kayaknya keburu deh sebelum jam tiga aku pastiin udah balik ke sini."

"Nara, Pak Danish itu bukan cuma atasanmu, tapi juga suamimu," ujar Veve. "Kalau dia tahu, dia pasti marah banget sama kamu."

"Asal nggak ada yang bilang aku yang ke sana, insyaallah pasti aman."

"Problem solved!" sahut Sofie, gadis itu kembali duduk mengikir kuku-kukunya yang baru saja di-nail art. "Nara yang berangkat."

Tatapan Jian memicing ke arah Sofie, sebalnya terasa di ubun-ubun. Terasa muak dengan sikap Sofie yang seenaknya sendiri. Lalu tatapan Jian beralih ke Nara, gadis itu sama saja.

"Kak Jian?"

"Serah lo!" Jian beranjak dari mejanya, melewati Nara dengan sedikit menyenggol bahu gadis itu, kasar. Jian keluar dari ruangan.

Nara mendesah pelan, kemudian berjalan kembali ke mesin foto kopi. Menyelesaikan tugasnya.

Veve mendekat, "Ra, beneran kamu yang berangkat? Nanti kalau Pak Danish tahu gimana?"

"Nggak bakal tahu. Aku udah paham gimana ngadepin Pak Wibis sekarang, jadi tenang aja."

"Kalau tiba-tiba Pak Danish datang terus tanya kamu, gimana?"

"Nggak, nggak bakal. Dia jadwalnya padet hari ini di luar kantor. Kamu tenang aja."

"Ya, udah, hati-hati. Kabarin kalau ada apa-apa."

Nara mengacungkan jempolnya. Setelah tugas menyalin puluhan dokumen selesai, gadis itu bersiap untuk pergi ke Sentul. Membawa semua keperluan survei dan berangkat memesan ojek online untuk pergi ke stasiun terdekat.

"Insyaaallah, aku bisa selesaiin dengan cepat."

Tiba di stasiun, Nara langsung naik ke kereta, ia mengirim pesan ke suaminya terlebih dahulu.

"Kak, aku nanti makan siang di luar sama temenku. Kamu jangan lupa makan siang, ya. I love you."

Kereta perlahan melaju kencang meninggalkan Jakarta.

***



Jangan lupa vote sama komen, ya.

Versi AU terbaru Hello, Jodoh di tiktok dianafebi_

See you next part 💞

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro