Winter Wish
AUTHOR POV
Hyuri, salah satu teman Jinseong berjalan pelan ke arah ruang rapat.
Belakangan ini ia menjadi semakin sibuk karena persiapan acara pesta natal nanti. Ia kebagian tugas untuk merancang seluruh acara natal tahun ini.
Dan kata 'merancang' terdengar tepat untuk kepribadiannya yang selalu tenang, pendiam, dan tak berekspresi. Ia memang cocok dengan merancang segala sesuatu. Kepribadiannya yang tenang membuat rancangan yang ia karang selalu berjalan dengan baik.
Ia kebagian tugas dengan Baekhyun. Ia bingung mengapa Baekhyun terpilih menjadi perancang acara. Dari sifat dan kelakuan, ia tak percaya Baekhyun bisa merancang acara dengan baik.
Ia memasuki ruang rapat dan terkejut karena ialah orang pertama yang sampai di ruang rapat.
Oh, tidak. Ia salah lihat, ternyata sudah ada seorang lagi.
Baekhyun.
"Annyeong!"tegur Baekhyun kepada Hyuri yang baru masuk.
Apa karena ia tak mau, malas, atau memang benar-benar tak peduli, ia hanya membalas dengan anggukan.
Benar-benar muka datar, pikir Baekhyun.
Alih-alih mengamuk atau apa, Baekhyun tidak marah sama sekali atau merasa tersinggung maupun cemberut. Ia hanya tersenyum karena teman sekelasnya yang satu ini memang antik.
"Teman-temanmu belum datang?"tanya Baekhyun. Hyuri tahu bahwa yang ia maksud adalah Hyoomin dan Jinseong.
Ia hanya menggeleng karena tak mau suaranya yang menurutnya jelek, terdengar oleh orang lain kecuali kedua sahabatnya. Bahkan di depan sahabatnyapun ia jarang mengeluarkan suara.
Benar-benar pendiam.
Walaupun begitu, Baekhyun tetap mengajaknya berbicara, tanpa merasa terganggu karena hanya membalasnya dengan anggukan atau gelengan. Sesekali ia mengeluarkan suara walaupun kecil. Dan hal itu membuat Baekhyun senang. Karena bisa mendengar suara yeoja yang selama ini ia sukai.
===
HYURI POV
Aku baru saja berjalan untuk pulang, tiba-tiba saja tanganku ditahan oleh tangan yang menurutku, tangan yang kuat.
Aku berbalik badan dan melihat Baekhyun. Jantungku berdebar keras karena tahu ternyata ia yang mencekal tanganku.
Jeez, ada apa dengan jatungku?
Aku menunduk untuk melihat tanganku yang masih dicekal oleh Baekhyun dengan tatapan lepaskan-sekarang-juga.
Dan sepertinya ia mengerti karena langsung melepasnya dan berkata, "Mian.."ia melanjutkan, "Kau mau pulang?"
Aku mengangguk.
"Mau pulang bersama?"tawarnya dengan senyum lebar.
Kali ini aku menjawab, "Aniyo."
Dan kulihat wajahnya setengah senang, dan setengah sedih. Aku tahu ia senang karena aku mengeluarkan suara. Dan sedih karena aku menolak ajakannya.
"Wae? Ayolah kali ini saja~"
"Mian. Tapi aku harus buru-buru."
Ia berkedip kagum. Mungkin karena aku mengucapkan kalimat yang menurutku panjang lebar itu.
Jeez, aku salah bicara ya? Harusnya aku hanya menjawab, "Tidak perlu." Atau kalau perlu tak menjawab dan langsung pergi. Tapi itukan tak sopan!
Aku berbalik badan dan beranjak pergi untuk pulang.
Dan aku mendengar Baekhyun berkata pelan namun cukup terdengar,
"Kau memang yeoja datar."katanya dengan nada geli, ia bahkan hampir tertawa.
===
"Hyuri-ah!"Hyoomin memanggilku saat aku baru saja mau masuk ke kamar.
Aku menengok dan menunggu ia untuk berbicara.
Karena ia tak berkata apa-apa, aku bertanya, "Ada apa?"
"Hehe tidak. Aku hanya mau mendengar suaramu. Bye~"ia masuk ke kamarnya.
Jeez, aku dijebak.
Akupun masuk ke kamar dan menutup pintunya. Akupun mandi untuk membersihkan seluruh tubuhku.
Aku menonton televisi sebentar untuk mengetahui apakah ada berita terbaru atau tidak. Aku merebahkan tubuhku di kasurku yang empuk dan menutup mataku.
Jeez, aku lelah.
===
Keesokan harinya aku dan Baekhyun sudah mulai merancang segala acara yang akan diadakan saat pesta nanti.
Kami merancangnya di ruang kelas kami. Agar tak mengganggu kegiatan yang lainnya.
"Ayo kita mulai, poker girl."ia menyunggingkan senyumnya. Jeez! Ia sangat tampan jika tersenyum seperti itu!
Aku menggangguk dengan sorot mata lihat-saja-nanti.
Dan ia sepertinya sadar. "Ups, jangan marah begitu! Mukamu makin cantik loh~"
*BLUSH*
JEEZ! Kenapa ia sanggup membuatku berdebar tak keruan dan merona merah begini sih?!
"Daripada banyak bicara, lebih baik langsung kerja."ucapku panjang-lebar. Jeez.. Kenapa kalau di depan ia ucapanku tak bisa kukendalikan sih?
"Arasseo! Poker Lady!"ujarnya sambil menjulurkan lidahnya.
Aku hanya memutar bola mataku. Padahal dalam hati aku ingin sekali tersenyum melihatnya yang super imut.
Tidak tidak! Manusia batu sepertiku tak boleh menunjukan ekspresi seperti itu!
Kamipun mulai mengerjakan tugas kami. Dan aku tidak menyangka sama sekali ternyata ia sangat bisa diandalkan dalam merancang susunan acara.
"Bagaimana ada acara dansa dengan pasangan-pasangan yang akan kita tentukan?"
Astaga! Idenya sangat brilian!
Tapi aku tak menunjukan ekspresi takjub atau kagum, aku hanya menjawab "Boleh saja."
Ada juga ide-ide seperti memberi surat kepada orang yang kita kasihi, tanpa memberi identitas siapa diri kita.
Dan lagi-lagi aku menyutujuinya.
Ia yang menemukan ide, dan aku yang menyusun susunan acara itu. Kami seperti sudah cocok saja.
Memikirkan itu, pipiku jadi mendadak merah.
Jeez! Bisa-bisanya aku merona di depan Baekhyun?! Kuharap ia tak melihatnya..
"Hei, wajahmu merah. Apa kau demam?"aku terkejut saat ia menyentuh keningku dengan punggung tangannya. Tapi aku kan manusia batu, tak mudah untuk menunjukan ekspresiku.
Aku bersyukur telah mempunyai sifat seperti itu.
Aku hanya menepiskan tangannya dengan halus.
"Aku tidak apa-apa."jawabku halus namun ekspresiku tetap datar.
"Hm.. Memang sulit menebak pikiran Poker Lady sepertimu."katanya. "Ya sudahlah kita kerja kembali."ia berkata dengan nada kesal.
Uh-oh.. Aku jadi merasa bersalah..
Kami mengerjakan pekerjaan kami dengan diam. Sesekali tercetus ide, Baekhyun hanya menyampaikan dengan to-the-point.
Tanpa kusangka-sangka, saat aku sedang menulis sesuatu, tangan kami tak sengaja bersentuhan dan membuat sekujur tubuhku merinding.
Bukan merinding karena takut, melainkan karena aku terkejut dan rasanya badanku penuh dengan setrum saking kagetnya.
Jeez! Aku benar-benar kaget sekaligus senang! Wah, otakku tak waras rupanya..
Akupun melanjutkan pekerjaanku tanpa berkata apa-apa, dan tanpa menunjukan ekspresi apapun.
Padahal dalam hati aku berteriak-teriak girang.
===
"Holaa~"suara Hyoomin terdengar dari luar pintu kamarku.
Memang aneh anak ini. Seharusnya masuk dulu baru bilang "Hola." Bukan saat megetuk malah bilang "Hola."
Jeez.. Aku menggeleng-geleng sambil menahan senyum.
Aku membukakan pintu untuknya, dan kulihat wajah riang Hyoomin dan wajah dingin Jinseong.
"Kami mau makan bersama di sini."ucap Jinseong tanpa basa-basi.
Jeez! Cewe ini memang benar-benar dingin!
"Boleh kan? Ya? Ya? Ya?"ucap Hyoomin dengan puppy eyesnya.
Sayangnya, hatiku tak tergerak karena wajahnya yang imut. Tetapi tentu saja aku tetap mengizinkan mereka. Kalau tidak, aku bisa dibentak habis-habisan oleh manusia es ini.
Aku memberi mereka jalan masuk untuk mengisyaratkan bahwa aku mengizinkan mereka untuk makan bersama di sini.
"Di sini hangat~"ucap Hyoomin.
"Memangnya di kamarmu tidak?!"ucap Jinseong ketus.
Dasar, hati es.
"Hangat sih, hehe."alih-alih cemberut atau apa, Hyoomin malah cengar-cengir tak karuan.
Aku hampir mengeluarkan senyum geliku. Tapi aku tahan karena aku tak mau diledek habis-habisan oleh kedua temanku ini.
"Aku sengaja membelikan kalian ini."ucap Jinseong sambil menyodorkan beberapa makanan hangat.
Wow! Hebat! Putri es bisa menaruh perhatian juga akhirnya?
Tapi memang belakangan ini ia telah berubah, sedikit. Yap, sedikit. Mungkin ia mau bertobat dan mencairkan es di hatinya itu.
"Waah~ Ice Princess akhirnya bisa perhatian juga nih?"ejek Hyoomin yang membuat Jinseong mendengus kesal. Pikiranku dan Hyoomin sama!
"Sudah baik aku belikan. Kalau tidak gimana?!"bentaknya yang menurut telinga kami, sudah sangat biasa. Jasi kami tak akan bisa sakit hati.
"Ya, kami tinggal beli sendiri. Ya kan, Hyuri?"
Aku hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum penuh kegelian.
JEEZ! Bisa-bisanya aku mengeluarkan ekspresi!
"Waahh hari ini memang hebat! Putri es jadi perhatian, manusia batu jadi tersenyum! Hebat sekali deh!"ia bertepuk tangan.
Aku heran, mengapa ia betah sekali berteman denganku dan Jinseong. Bayangkan saja, kalau orang ceria yang normal, tak akan mau berteman dengan orang dingin seperti Jinseong. Setiap ditanya atau diajak bicara, pasti membalasnya dengan ketus bahkan setengah membentak. Dan denganku? Aku kan benar-benar cuek. Aku memang benar-benar malas untuk membuka suara untuk hal-hal tak penting, bahkan ekspresiku hanya satu:datar. Dan ia masih bisa bertahan dengan dua sahabatnya yang aneh ini?
Hebat memang.
"Jangan banyak bicara! Makan dulu!"terlihat di sorot mata Jinseong, ia sedang menahan senyum dan tersipu malu. Tapi ia menutup itu dengan bentakan. Hebat orang ini.
"Iya peri es."saat menyadari ucapannya salah, Hyoomin langsung mengoreksi, "Eh maksudku, putri es."
Jinseong hanya mendengus dengan sinis. Sedangkan aku hanya diam menahan tawa.
Diam-diam aku menikmati saat-saat ini.
===
Lagi-lagi aku berjalan tergesa-gesa karena tahu aku akan terlambat.
Aku memasuki ruang kelas yang akan kami gunakan untuk menyusun acara, dan di sana, di salah satu kursi paling belakang, duduklah Baekhyun sambil sibuk mengerjakan sesuatu. Ia duduk membelakangiku.
Sepertinya ia tak menyadari kehadiranku.
"Hyuri lama sekali. Ke mana dia sih?"
Wah, dia benar-benar tak menyadari kehadiranku ya?
"Aku cari saja deh."
Aku bergerak mundur ketika ia beranjak dari kursinya, berbalik badan dan melihatku berdiri di hadapannya.
"AAAARRRGGHHH!"ia berlari ke arah dinding, lalu memeluk dinding tersebut.
Apa yang ia lakukan sih?
"Astaga! Kupikir kau hantu!"wajahnya sudah pucat pasi.
Ohh rupanya begitu. Diam-diam aku tertawa dalam hati. Tapi ekspresi yang kutunjukan hanya senyum kecil.
Semoga ia tak melihatnya..
"Kau jangan mengagetkan aku begitu dong!"ia kembali ke posisi duduknya dengan pout. "Kalau datang bilang-bilang! Aku kaget tahu!"ocehnya yang membuatku tak bisa menahan tawa kecil.
"Maaf."kataku masih berusaha menahan tawa.
"Dan satu hal lagi. Jangan menutup matamu dengan rambut hitam panjangmu itu! Bisa-bisa kau dikira hantu sungguhan!"
Jinjja? Apakah benar mataku tertutup rambutku? Aku meraba-raba rambutku dan..
Yap! Ternyata benar. Sepertinya tertiup angin saat aku berjalan cepat melalui koridor sekolah.
Lagi-lagi aku menahan tawaku dengan menggigit bibir bawahku.
Akupun duduk di sampingnya dan mulai mengerjakan tugas kami, sambil berusaha menahan senyum.
===
"Ke mana sih, tempat pensilku itu?!"Baekhyun mencari-cari tempat pensilnya di ruang kelas yang sudah sepi ini.
Aku berjalan ke sampingnya lalu menyodorkan tempat pensil yang kutemukan di bawah kursiku.
"Yang ini?"tanyaku dengan suara rendah.
Ia menengok ke arahku dan lagi-lagi,
"AARRRGGHHH! JEBAAAAL!"ia berlari menjauh dariku. Ke pojok kelas.
Dan lagi-lagi aku berusaha menahan tawa karena kelakuannya yang lucu.
"Kenapa kau bisa muncul tiba-tiba begitu sih?!"ia berkata dengan nada kesal. Yang membuatku geli setengah mati. Rasanya aku ingin sekali tertawa.
"Apa kau bisa teleport?"jawabnya shocked.
Aku tak kuat menahan tawaku.
Akupun tertawa kecil. "Mana bisa."kataku akhirnya.
"Jangan lagi seperti itu! Aku kaget bukan main, kau tahu?"
Aku mengangguk geli.
"Kau menemukannya di mana?"ia berjalan ke arahku dan mengambil tempat pensilnya.
"Di bawah kursiku."
"Oh dasar aku ceroboh. Terimakasih ya!"katanya. "Hei, mau pulang bersama tidak?"
"Ani. Terimakasih."
"Arasseo. Aku pulang duluan ya."
Akupun menggangguk.
===
Hari ini adalah hari di mana pesta natal tiba. Dengan gugup aku memakai dress yang menurutku sangat tidak cocok untukku.
Aku memakai dress putih panjang(hei, bukan yang untuk menikah loh ya), memakai bedak secara tipis, lipblam yang nyaris tak terlihat, eyeliner yang mempertajam mataku, dan sepatu hak yang sama putihnya dengan dress. Bahkan sepatunya pun tak terlihat karena dressku yang terlalu panjang.
Aku seperti hantu yang mengambang. Sungguh.
Bukannya aku mengada-ada. Tapi rambut hitam panjang sepinggangku, dan dress putih, serta merta mataku yang tajam dan kulit yang super pucat, aku semakin terlihat seperti hantu.
Dengan canggung aku menyisir rambut hitam panjangku yang sampai ke pinggang. Bagian poninya sudah panjang, sehingga bisa saja menutupi sebelah mataku(atau lebih parahnya, kedua mataku) kapan saja.
Belum lagi banyak angin.
Aku berjalan keluar dari kamar apartku dan menunggu teman-temanku keluar dari kamar masing-masing.
Aku berdiri memunggungi pintu mereka, dengan begini aku bisa melihat pemandangan kota Seoul pada malan hari yang indah. Karena dinding apart kami terbuat dari kaca yang tebal.
Akupun berbalik badan lagi untuk menunggu kedua temanku itu.
Pintu nomor 7 terbuka dan terlihatlah Jinseong keluar dengan anggun memakai dress merah yang menawan.
Saat melihatku iapun,
"Aaakkhh!"ia menjerit melihatku.
Sudah kuduga. Penampilanku di malam natal bukannya anggun, malah semakin suram.
"Aigoo! Kupikir kau hantu!"decaknya sebal. Aku tertawa tanpa suara.
"Daritadi aku juga berpikir begitu."
"Pikir apa?!"tanyanya sewot, kesal karena sudah kukageti.
Tapi tetap saja, aku tidak mengagetinya loh. Ia yang kaget sendiri, kan?
"Bahwa penampilanku seram."
"Kenapa kau dandan seperti ini sih? Bisa-bisa kau dikira hantu sungguhan loh!"katanya sinis.
Aku tersenyum miring. Iapun melihatnya.
"Nah! Apalagi kalau kau senyum seperti tadi!"ia mengusap-usap tangannya tanda bahwa ia merinding.
Lagi-lagi aku menahan tawa.
Pintu nomor 8 terbuka dan menunjukan Hyoomin yang keluar dengan dress hijau panjang dengan pita di sisi pinggangnya. Ia tampak cute.
"Hal- KYAAAAA! J-Jin.. Di sa-sampingmu.."
"Hyuri. Awalnya kupikir ia juga hantu. Sudahlah, ayo cepat! Kita harus berjalan kaki menggunakan dress ini! Kita harus cepat!"bentak Jinseong.
"Kupikir kau hantu."bisik Hyoomin disampingku. Aku tertawa tanpa suara lagi.
Hyoomin dan Jinseong berjalan di depanku. Dan aku di belakang mereka.
Seperti penguntit.
Tidak. Tepatnya seperti hantu yang mengikuti 2 yeoja cantik.
Bahkan ada beberapa orang yang terkejut dan mengiraku hantu.
"AKKHH! HANTUU!"
"H-Hei.. Belakang kalian ada.. hantu.."tentu saja mereka berbicara pada Jin dan Hyoo.
Dan teriakan-teriakan lainnya yang menunjukan mereka ketakutan.
Hihi. Kadang saat-saat seperti ini asik juga.
Saat tiba, aula sudah ramai dan dipenuhi banyak orang.
Aku mencari-cari Baekhyun dan mendapatkannya sedang meminum sirup berwarna merah bersama kesebelas teman lainnya.
Saat pandangan kami bertemu, wajahnya mejadi pucat pasi. Ia terpaku melihatku. Seperti melihat hantu.
Chanyeol yang melihatnya langsung bertanya dengan khawatir, "Baek, kau pucat. Kau tak apa?"
Baekhyun tersadar dan mengalihkan pandangannya ke Chanyeol.
"Ah-Oh.. Y-Ya aku tak apa.. Sepertinya aku hanya salah lihat."
Aku berjalan mendekati mereka.
"Atau tidak?"ucap Baekhyun yang siap lari tunggang langgang.
"Hai."ucapku kepada mereka semua.
Mereka semua melihatku dan menatapku dengan tatapan horor.
Jeez, sepertinya mereka tak salah menatapku seperti itu. Karena aku yakin senyumanku barusan seperti orang yang mau membunuh. Aku tak bisa senyum secara alami!
"Ha-Hantu.."namja yang kukenal sebagai Chen itu tergagap.
"Aku bukan hantu."untuk yang kesekian kalianya dalam hari ini, aku menahan tawa.
"H-Hyuri?"kali ini Baekhyun yang bertanya. "Astaga Hyuri! Kupikir kau hantu yang menatapku dari kejauhan! Astaga.."
"Kau seram sekali sih!"kata namja berwajah angelic atau biasa disebut Luhan.
"Maaf. Tapi aku memang begini."kataku sambil tersenyum.
"Jangan tersenyum seperti itu!"kata Chanyeol keras-keras. "Seram, tahu!"
Jadilah aku bermuka datar kembali.
"E-Eh.. Tapi jangan datar begitu juga! Semakin seram, tahu!"kata namja bermata panda atau biasa dikenal Tao.
JEEZ! Wajahku harus bagaimana? Datar salah. Senyum salah. Apa aku harus menangis? Atau kalau perlu tertawa tanpa alasan?
Ah sudahlah. Abaikan saja.
Tapi.. Aku tak bisa mengabaikan penampilan Baekhyun malam ini.
Ia mengenakan jas hitam dengan dasi hitam yang membalutnya dengan sempurna. Ia mengenakan eyeliner yang membuat matanya semakin keren. Dan rambutnya.. disisir ke atas.
Jeez.. Dia tampan sekali malam ini!
"Uhm, Baekhyun sebenarnya aku-"
"Aku tinggal sebentar ya."ucapanku terpotong okeh namja bernama Suho. Ia berlari kecil ke arah.. Jinseong?
Oh ya, memang belakangan ini merrka semakin akrab.
"Aku mau bertanya, apakah kau sudah ada partner dance?"tanya Baekhyun, yang sebenarnya pertanyaan yang akan kutanyakan padanya!
Astaga! Astaga! Astaga!
Aku senang bukan main!
"Belum."jawabku dengan wajah sedatar mungkin, dan hati yang sesenang mungkin.
"Maukah kau menjadi partnerku?"tanyanya dengan senyuman yang menawan. "Partner dance maksudku."tambahnya salah tingkah.
Dengan senang aku menjawab, "Boleh."
"Baiklah kalau begitu ayo kita ke depan panggung!"bukan dari mulut Baekhyun suara itu. Tapi dari Chanyeol. Ia menunjuk panggung yang membuatku kaget bukan main.
Jinseong dan Suho sudah ada di atas panggung.
Kamipun segera berlari ke arah panggung, Hyoominpun mengikutiku.
Lalu kulihat Suho berlutut si hadapan Jinseong.
"Aku tahu ini memalukan. Tapi aku akan melakukannya di sini, dan sekarang juga. Aku akan menanyakan kembali, apa kau bersedia menjadi pasanganku?"
Teriakan-teriakan histeris memenuhi ruang aula.
Hyoomin juga ikut-ikutan berteriak, "Terima!". Sementara aku tak bisa menyembunyikan cengiranku yang lebar.
Akhirnya dengan pasti Jinseong menjawab, "Aku bersedia."
Suho berdiri dan beranjak memeluknya.
Dan yang membuatku dan Hyoomin tercekat, dengan gerakan cepat ia mencium bibir Jinseong yang sama terkejutnya dengan kami.
"Saranghae.."bisiknya pelan tapi terdengar di seluruh aula. Karena aula kini sudah sunyi senyap, setiap orang menyaksikan mereka berdua.
"Saranghae too."bisiknya lembut. Terdengar membahana di ruangan yang sepi ini.
"Woohooo! Akhirnya putri es jadi meleleh!"Hyoomin berteriak di sampingku. Aku tersenyum karena ia berani mengucapkan itu di tengah-tengah kesunyian begini.
"Selamat ya!!"teriakan mulai memenuhi aula lagi.
Kulihat, merekapun beranjak dari panggung dan sepertinya mencari tempat yang lebih sepi.
Acarapun kembali berjalan.
Kulihat Jinseong masuk kembali ke aula dengan Suho di sampingnya.
Mereka berdua saling bergandengan tangan.
Jeez.. Kapan aku bisa begitu dengan Baekhyun ya..?
HA? Apa otakku sudah gila?!
"SELAMAAATTT!"Hyoomin beranjak memeluk Jinseong dan menyalami Suho. "Selamat bro. Jaga ia baik-baik. Tapi hati-hati, terkadang ucapannya bisa setajam pisau."
Suho tertawa dan Jinseong memberi Hyoomin death glare.
Aku mendatangi mereka dan memeluk Jinseong. "Selamat ya. Kuharap hubungan kalian awet."
"Terimakasih."ucap Jinseong dengan malu-malu.
Tiba-tiba Baekhyun dan kawan-kawannya datang.
Dan yang membuatku terkejut adalah, Baekhyun melingkarkan tangannya padaku dan berkata,
"Kita kapan seperti mereka nih?"
*BLUSH*
Dengan wajah memerah aku berkata, "Mana kutahu?"lalu aku melepaskan tangannya.
"Cieeee. Ternyata kalian juga berpasangan?"Hyoomin menyemprot kami dengan ejekan.
"Eh-Oh bu-bukan.. Kami hanya.."
"Partner dance."sambungku geli melihat Baekhyun yang tergagap.
Diam-diam aku melihat Hyoomin melirik pada... Sehun?
Ia menghela nafas lalu berkata, "Iya nih. Aku juga kapan ya.."katanya sambil melirik Sehun sekali lagi.
Jeez! Apa ia menyukai Sehun?
Bukan masalah kok bagiku jika ia menyukai Sehun.
Sehun yang sadar dilirik olehnya berkata, "Mungkin tidak akan pernah."dengan dinginnya.
"Kau lihat saja nanti, Oh Sehun!"katanya lalu menjulurkan lidahnya ke arah Sehun. Sehun hanya memutar bola matanya jengkel.
Aku tidak sadar ketika Baekhyun tiba-tiba menarikku mendekat padanya.
"Agar tak seram lagi.. Ini!"ia menyingkpakan poniku yang menutupi mataku lalu menjepitnya dengan jepitan yang sama putihnya dengan dressku.
Dan sesaat kulihat pandangan Baekhyun terpaku padaku. Dan lambat laun wajahnya berubah merah.
"Apa kau demam?"aku menyentuh wajahnya.
Jeez! Kenapa aku melakukan ini dihadapan kedua temanku ini sih? Kan aku bisa dieledek habis-habisan..
"Oh.. Ah.. T-Tidak. Hanya saja.. Kau cantik."
Oke, sepertinya kini giliran untuk pipiku yang memerah.
"Terimakasih.."jawabku pelan.
"Sungguh. Kalau saja kau mau menjepitnya, kecantikanmu semakin bertambah!"
Bisa tidak sih ia tidak terus-menerus membuat pipiku memerah?
"Uhhuuuuyy~"pasti Hyoomin. Mereka menyadari apa yang kami berdua bicarakan! Astaga. Gawat.
"Sebentar ya kawan-kawan."Baekhyun menarik lenganku.
"Mau ke mana?"tanyaku penasaran.
"Taman."jawabnya jujur.
"Mau apa?"
"Aku mau menyampaikan sesuatu."
DEG. Apakah ini hanya firasatku? Atau hanya sekadar harapan?
Bahwa aku ingin sekali selalu berada di sisinya.
===
AUTHOR POV
Mereka berdua duduk di kursi taman yang sepi.
Tanpa berbasa-basi, Baekhyun berkata sambil menghela nafas, "Aku lelah menyimpan semua ini, Hyuri. Aku lelah tidak berani mengatakan ini padamu. Bahwa aku mencintaimu."
===
HYURI POV
"..Bahwa aku mencintaimu."
Seketika duniaku berhenti berputar. Apakah ia baru saja mengutarakan perasaannya padaku?!
Oh astaga! Rasanya aku mau menari-nari, meloncat-loncat, dan mengubur diri(lah). Pokoknya semua kegiatan yang membuatku senang deh.
"Sejak kau menjadi anggota OSIS, aku selalu memperhatikanmu diam-diam. Aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan sambil bertanya-tanya, kapan aku bisa bersamamu? Atau setidaknya, berbicara denganmu."
"Maka itu aku minta bantuan dari Suho agar aku bisa menjadi pain dan bisa bertugas dibagian yang sama denganmu. Yaitu menyusun acara. Mengetahui aku lemah sekali dalam hal tersebut, aku mau apa lagi? Yang penting aku bisa bersamamu."
Oke, sepertinya apa yang kudengar bukanlah mimpi. Kenyataan yang membuatku meloncat-loncat girang. Dalam hati tentu saja.
"Sekarang pertanyaanku, apakah kau mau menjadi pacarku?"
Jeez! Inilah yang kutunggu-tunggu! Selama musim dingin ini, memang inilah yang kuharapkan! Sekarang impianku tercapai dan rasanya aku ada di langit ke tujuh.
"A-Aku.."
"Kau bisa menjawab-"
"Aku mau."aku sudah mengatakannya!
"Jinjja?"tanyanya dengan mata berlinang air mata. Oke, kok aku jadi ikut terharu?
"Ya."jawabku mantap. "Aku juga mencintaimu.."jawabku pelan dengan wajah merah.
Ia menatap mataku dengan lekat. Dan tanpa kusangka-sangka menciumku lembut di kening, lalu di pipi, dan terakhir di bibir.
Ciuman yang terakhir membuatku semakin terbang saja.
"Saranghae.."
"Aku juga."kataku dengab senyum tulus.
"Sebaiknya kita ke depan."
Aku mengangguk.
"Wah wah, ada dua pasangan yang official nih sekarang? Aku kapan ya?"tanya Hyoomin ketika kami mendatangi mereka.
"Sepertinya sebentar lagi."ucap Sehun dengan smirk.
===
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro