
3
Hamlin Murai, di usianya yang masih lima tahun waktu itu, pernah mendengar rumpian ibu-ibu tetangga di tukang sayur keliling. Kala itu ia sedang mengejar kucing kembang telon yang konon katanya amat jarang dan apabila jadi peliharaan kita, bakal membawa berkah banyak. Ia berhenti ketika mendengar namanya disebut-sebut. Kira-kira begini, "Nah itu dia Hamlin Murai. Jabang bayi yang dulu kelahirannya membuat orang-orang pada pingsan."
Lain waktu ia pernah mendengar juga, "Apakah Hamlin Murai terkena kutukan ya?"
"Dengar-dengar, Bik Muyah dulu sempat takut mau bantu kelahirannya."
Hamlin Murai yang polos, pulang ke rumah dan menanyakan proses kelahirannya. Adalah sang ayah yang menceritakan semuanya tanpa menghadirkan kebohongan sedikit pun. Bahkan termasuk wangsit Bik Muyah yang meresahkan. Ayah Hamlin memberi penjelasan yang membuat tenang, "ayah yakin, Gusti Pangeran menciptakan makhluk hidup tidak dengan sia-sia. Berprasangka yang baiklah kepadaNya. Niscaya, kau akan selalu kembali kepadaNya. Ingat jalanNya. JalanNya adalah jalan kebaikan. Apa yang orang-orang anggap kutukan, bisa jadi dimaksudkan oleh Gusti Pangeran sebagai anugerah. Engkau, Hamlin Murai, gunakanlah segala hal yang ada di dalam dirimu untuk kebaikan semata."
Ayah dan anak itu berbincang di samping kuburan murai kesayangan. Ayah Hamlin tak lupa menceritakan perihal murai sayang itu. Seiring Hamlin Murai tumbuh, setiap tiga hari sekali, akan ada burung murai yang bermain ke rumah. Beberapa ada yang menetap untuk dipelihara, beberapa hanya ikut bernyanyi bersama Hamlin Murai. Di bukit itu, lima burung murai turun dan hinggap di tubuh Hamlin Murai. Kelimanya tidak ingin jadi peliharaan. "Terbang bebaslah kalian!" kata Hamlin Murai seusai berkicau bersama.
Mengilhami cerita kelahirannya dulu, Hamlin Murai berusaha mengendalikan emosinya. Ayahnya bilang, "jagalah emosimu. Ayah kurang tahu menahu, tapi bisa jadi, emosi yang meledak adalah yang memicu lengkingan suaramu yang mematikan itu." Maka pilihannya adalah, Hamlin Murai mengabaikan suara-suara miring tentangnya yang datang dari pengerumun tukang sayur. Lebih baik ia bernyanyi dan berkicau menirukan suara aneka burung.
Menirukan suara adalah satu bakat yang disadarinya secara penuh. Ia bahkan bisa menirukan suara ibu dan ayahnya. Pernah Hamlin Murai iseng, ketika lewat ia sengaja menirukan suara salah satu ibu yang pernah berbicara miring tentangnya, "Hamlin Murai itu suaranya merdu lho." Yang hadir di tukang sayur keliling, langsung menoleh kepada ibu itu, heran, perasaan kemarin bicaranya bernada negatif. Hamlin Murai tertawa, lari dengan loncat-loncat senang.
Kelebihan yang dimiliki Hamlin Murai kecil mengundang banyak anak sebaya untuk bermain bersama. Hamlin Murai unjuk kebolehan dengan menirukan suara sapi, ayam, kalkun, angsa, bahkan penyanyi-penyanyi favorit teman-temannya. Mereka banyak bermain di bukit, di sana Hamlin Murai menunjukkan kuburan murai sayang. Ada lima teman baik dan dekat Hamlin Murai yang tak pernah absen mengajak Hamlin Murai pergi sore-sore ke bukit. Mereka suka bermain ular naga panjang bukan kepalang, lompat tali, dan adu lompat jauh. Hamlin Murai, selalu menang di setiap tim yang diikutinya. Yang paling membuat teman-temannya senang adalah kedatangan puluhan burung murai untuk memeriahkan permainan ular naga. Teman-temannya itu suka sekali hingga suka menggotong Hamlin Murai bak raja untuk diantar pulang ke rumah.
Tapi semua itu perlahan menyingkir ketika di ulang tahun ketujuh, Hamlin Murai sakit panas selama tujuh hari tujuh malam. Ibu dan ayahnya khawatir kalau-kalau anaknya bakal meledak lagi jeritannya. Tapi untunglah itu tidak kejadian. Bik Muyah dipanggil untuk membantu mengobati Hamlin Murai. Dukun serba bisa itu membuatkan ramuan tumbuk untuk dioleskan ke dahi Hamlin Murai. Setiap malam, Hamlin Murai menggigil hebat. Selusin selimut tidak cukup untuk mengusir dingin menggigit tulangnya. Ayah Hamlin membuat secara dadakan tungku api di sebelah kasur Hamlin Murai. Menyedihkannya lagi, sakitnya Hamlin Murai itu berdampak juga ke burung-burung murai peliharaan. Mereka mati satu per satu setiap harinya. Ibu Hamlin cemas bukan kepalang. Bik Muyah selalu datang pagi hari selama tujuh hari yang mencemaskan itu untuk memeriksa kondisi Hamlin Murai. Baru kali itu ia menghadapai penyakit macam itu. "Aku tidak tahu apa yang menyerang anakmu ini. Sama sekali aku belum pernah menangani yang seperti ini. Ini bukan penyakit biasa."
"Ada wangsit tertentu yang Bik Muyah dapatkankah?" tanya ayah Hamlin hati-hati.
"Baru kali ini kau menganggap wangsitku penting. Tidak. Tidak ada wangsit apa-apa, sudah bertahun-tahun ini aku tidak mendapat wangsit sama sekali."
Bik Muyah ada di tempat waktu Hamlin Murai tahu-tahu sembuh. Keningnya tidak panas lagi. Padahal malam sebelumnya, panas yang terasa di keningnya itu kiranya bisa buat merebus telur. Tapi ada yang beda dengan Hamlin Murai. Ia bangun dengan mata memicing seperti kena silau. Ia menutup telinganya erat-erat. Orang yang pertama dihampirinya adalah ibu. Ketika akhirnya mendarat di pelukan hangat sang ibu, kulit Hamlin Murai berangsur-angsur berubah warna, itu bahkan terjadi pada rambutnya juga. Hamlin Murai tiba-tiba berubah jadi albino.
"Bik Muyah, ada apa dengan anakku?" tuntut ayah Hamlin.
Bik Muyah pun sama herannya dengan siapa pun yang melihat perubahan Hamlin Murai. "Aku tidak tahu. Coba kau tanya kepada Gusti Pangeran." Bik Muyah yang gundah, pulang ke rumah. Untuk waktu yang lama kemudian, tak pernah ia menginjakkan kaki ke rumah keluarga Hamlin.
Tak peduli dengan perubahan yang terjadi, ibu dan ayah Hamlin sudah cukup bahagia dengan Hamlin Murai yang turun panasnya. Mereka tak peduli. Mau kulit putih atau cerah umum, Hamlin Murai tetap anak mereka. Mereka akan menyayanginya tanpa dikurangi sedikit pun. Namun warga Ndoroalas berubah sikap dan pandangan kepada bocah Hamlin Murai. Tak satu pun, sebelum Hamlin Murai, ada warga yang berkulit putih albino begitu. Mereka jadi aneh dan risih. Karena keanehan yang terjadi itu, serta hasutan para orangtua yang tak nyaman, teman-teman Hamlin Murai makin menjauh. Mulai dari situ, Hamlin Murai bermain sendirian di bukit. Hanya burung-burung murai yang setia menemaninya. Dan untuk mengembalikan murai-murai yang mati, Hamlin Murai membawa pulang dua belas ekor murai untuk dipelihara. Uniknya, murai yang dibawa Hamlin Murai, tak memerlukan sangkar. Mereka tak akan kabur, begitu kata Hamlin Murai.
"Kau tahu dari mana, nak?" tanya ibunya.
"Aku tahu saja. Aku tahu betul."
"Anak ibu tak pernah bosan-bosannya membuat ibu kagum."
"Tapi membuat orang-orang cemas," kata Hamlin Murai getir.
"Kau jangan pikirkan itu terlalu berat. Mereka akan menerimamu, suatu saat nanti. Yakinlah."
"Harapan dan keyakinan, itu yang penting dipegang buat masa depan ya Bu?" pertanyaan itu disampaikan dengan nada getir yang sama. Ibu Hamlin jadi sedih mendengarnya, ia mendekap Hamlin Murai. Mencoba memberinya harapan dalam hangatnya pelukan ibu.
"Segalanya akan baik-baik saja, nak."
Perubahan wujud itu membuat Hamlin Murai jadi anak pemurung. Ia sudah lama tidak berkicau selayaknya murai. Bahkan murai-murai yang dibawanya pulang terasa seperti murai bisu. Mereka diam saja. Kemurungan Hamlin Murai seolah menulari mereka. Makin hari kemurungan Hamlin Murai makin menguasai isi rumah. Ia mulai berontak tak mau makan. Dipikirnya, dengan tidak makan akan mengembalikan warna kulit dan rambutnya yang dulu. Ayah Hamlin sampai marah, ia mengikat Hamlin Murai dan memaksanya makan. "Kau bisa mati nak kalau tidak makan."
Hamlin Murai membisu saja. Ia tak berani dengan ayahnya, maka ia makan demi menghormati ayahnya. Tertular oleh aksi murung Hamlin Murai, murai-murai yang dulu diajaknya pulang, ikut tidak makan dan akhirnya mati satu per satu. Itu membuat sedih ibu Hamlin. "Mungkin kita berhenti saja memelihara murai." Sore itu, ibu Hamlin membakar sangkar di halaman belakang, beserta bangkai-bangkai murai.
Yang dikhawatirkan oleh ibu dan ayah Hamlin adalah kalau-kalau anak mereka kelepasan emosinya. Lepasnya emosi bisa mengakibatkan lepasnya jeritan mematikan. Meski sudah bertahun-tahun mereka menanamkan sikap sabar, ketakutan itu masih tetap ada. Batas kesabaran seseorang, paling sulit ditebak. Meski itu adalah anak sendiri. Mereka lahir dengan membawa sikap sendiri. Orangtua tak bisa ikut campur dalam hal ini.
Di malam-malam sunyi, Hamlin Murai masih ingat deritanya saat sakit tujuh hari tujuh malam. Telinganya begitu sakit, seperti ada gerombolan sirkus memaksa masuk melalui lubang sekecil itu. Segala suara, segala bunyi, memampat masuk ingin mengadakan pesta. Pesta yang tanpa ijin tuan rumah. Suara-suara itu amat sangat menyakitkan, datang tanpa henti, mencoba mendobrak isi dalam otak. Selama penderitaan itu, Hamlin Murai tak ingin kelepasan menjerit. Ia takut kehilangan kedua orangtuanya. Ia menjerit dari dalam. Dalam pikiran. Dan itu berkali lipat menyakitkannya. Tujuh hari tujuh malam ia bertahan dalam kondisi demikian. Mungkin jeritan dari dalam itu yang membuat kulit dan rambutnya berubah warna, pikirnya.
Ada perubahan satu lagi yang baru disadarinya setahun kemudian. Pada saat itu kondisi hatinya sudah tak semuram sebelumnya. Hamlin Murai menerima apa yang terjadi pada dirinya dengan ikhlas. Ia ikhlas kehilangan teman dan murai. Pada hari ulang tahun kedelapan, ia bercermin, dan menyadari ada yang berubah dengan matanya. Dahulu, pupilnya berwarna hitam. Kini, warnanya berubah kejinggaan. Ibu dan ayahnya menyadari pada pagi hari saat Hamlin Murai mencium tangan menyambut hari baru. "Matamu berubah, nak," kata ibunya.
"Lebih baik atau lebih buruk?" tanya Hamlin Murai, harap-harap cemas. Orangtuanya kini adalah pegangannya untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
"Ayah pikir, jadi lebih keren," ayahnya mengamati kagum.
"Kalau begitu, Hamlin tidak perlu khawatir."
Harusnya ia khawatir.
Sejak saat itu Hamlin Murai bisa melihat apa yang orang tidak biasa lihat. Kejadian pertama ketika Hamlin Murai sedang duduk sendiri di teras. Di sini, teror penampakan macan dan kalong gaib sedang hangat-hangatnya. Ayah Hamlin pun sedang dalam jadwal jaga malam. Bulu halus di lengannya berdiri tegak. Hamlin Murai sampai terkejut. Di kejauhan ia melihat si macan gaib. Bukan sebagai bayangan seperti yang sering ditangkap mata oleh warga, melainkan dalam wujud nyata. Hamlin Murai ingin menyampaikan hal ini kepada ayahnya. Barangkali akan jadi petunjuk. Tapi nyatanya, Hamlin Murai jatuh terjerembab oleh kemampuannya yang satu itu. Malam itu ia menggigil. Suara-suara geraman kemudian memenuhi telinganya. Mendadak kepalanya pusing kembali. Ia menahan sakit itu. Makin bertambah sakit ketika macan yang dilihatnya, diikuti oleh penampakan bola mata api besar. Panas apinya terasa sudah menjilat kulit Hamlin Murai.
Teror macan atau kalong itu sudah berlangsung selama sebulan. Selama itulah Hamlin Murai mencoba menanggulangi ketakutannya. Ia harus ceritakan kepada ayah. Tapi ia takut tidak dipercaya. Entah bagaimana, itu ia dapat ketahui. Seperti ada yang mewanti-wantinya. Ada suara yang datang terlebih dahulu sebelum ia berniat memberitahu itu. Rasanya aneh sekali. Lagipula, Hamlin Murai perlu ikut jaga malam apabila ia ingin menunjukkan keberadaan macan atau kalong gaib itu. Itu sudah pasti akan dilarang oleh ayahnya. Entah bagaimana, dari pertemuan pertama Hamlin Murai dengan macan itu, ia dapat merasakan keberadaan peneror itu. Kegelisahan dan pertentangan batinnya semakin menjadi-jadi tatkala teror makin menggila. Macan itu sekarang mengincar manusia. Bik Muyah adalah korban pertama. Dini hari terdengar suara gaduh dekat bukit, tempat di mana rumah Bik Muyah berada. Orang-orang yang sedang berjaga langsung menuju tempat kejadian. Saat diketemukan, bahu Bik Muyah terdapat bekas gigitan taring macan. Darahnya mengucur.
Di saat sudah genting dan merasa sudah tak ada pilihan lain, Hamlin Murai muda mengambil tindakan. Ia menyelinap keluar malam-malam. Matanya terasa dalam kondisi paling maksimal. Dari pantulan kaca rumah, pupil matanya menyala bak api. Hamlin Murai beraksi tanpa membawa apa-apa. Ia ingin tahu tempat bersembunyinya si macan kalau siang hari. Diarahkan oleh nalurinya, Hamlin Murai menuju hutan dekat bukit. Dari kejauhan ia bisa melihat bola mata api itu menggantung di udara. Hamlin Murai mengendap, bersembunyi di balik pohon satu ke pohon lain. Ada suara geraman, itu pertanda si macan berada tidak jauh. Hamlin Murai mengintip cepat, benar si macan sedang mendongak ke arah bola mata api. Hamlin Murai pernah mendengar perkataan warga tentang bola mata api itu. Kata mereka, itulah penampakan jin dalam wujud yang sesungguhnya. Dan orang yang mengaku pernah melihat jin dalam wujud itu, sakit lama sekali. Ini membuat Hamlin Murai berpikir, apakah dirinya jauh perbedaannya dengan orang-orang? Buktinya, sudah lama ia mengintai bola mata api itu, belum ada tanda-tanda ia akan pingsan. Mereka bergerak. Hamlin Murai memberi jarak aman. Baru ia ikuti dengan mengendap. Bola mata api dan macan itu menuju pekarangan rumah Bik Muyah. Di samping kiri rumah. Mereka lenyap begitu saja setelah sampai sana.
Sebelummelakukan aksi ini, Hamlin Murai memikirkan kemampuan yang lama ia pendam.Jeritan mematikan itu. Apakah dapat mengusir macan gaib dan bola mata api itu?Pemikiran itu membuat Hamlin Murai menggigil. Jika ia melakukannya, risikomembuat orang lain pingsan juga hadir. Mungkin ia perlu melatihnya dulu. Ditempat yang jauh dari keberadaan orang-orang.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro